MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode#92 "Nostalgia" part1


__ADS_3

Happy reading guys!


Seminggu sebelum pernikahan Merlin. Khardha sudah pulang ke kampung halamannya bersama suami tercintanya yang selalu rela mengorbankan apa saja untuk membahagiakannya, termasuk harus mengambil cuti disela kesibukannya agar bisa menemaninya.


"Sayang aku hari ini mau bantuin Merlin menyebar undangan untuk semua kenalan & teman-teman kami bolehkan?" Khardha menatap suaminya yang tengah sibuk memainkan smartphonenya agar mau mengizinkannya.


"Kamu mau jalan sama siapa?" Bukannya menjawab Dokter Hasan justru bertanya balik pada istrinya tanpa menatapnya sedikitpun karena dia curiga bahwa Khardha akan berangkat sendiri tanpa mau mengajaknya.


"Aku jalan sendiri naik motor Sayang." Jawab Khardha sambil memakai jaket warna pink favoritnya.



"Aku gak bakal izinin kamu Sayang jika mau pergi sendiri." Dokter Hasan tetap pura-pura fokus dengan handphonenya.


Walaupun sebenarnya dia ingin sekali menatap wajah cantik istrinya namun dia berusaha menahannya karena kecewa merasa diabaikan sejak mereka baru sampai kemarin sore. Sebab Khardha selalu menyibukkan diri membantu persiapan pernikahan Merlin dengan segala macam *****-bengeknya.


"Emangnya kenapa kalau aku pergi sendiri Sayang? Inikan kampung halamanku, gak mungkin juga ada yang mau berniat jahat sama aku, kamu gak usah terlalu berlebihan mengkhawatirkan aku ya." Khardha berusaha memberi pengertian kepada suaminya yang selalu over protektif terhadapnya.


"Kamu itu udah nikah sama aku Sayang, aku gak mau orang-orang berpikiran negatif tentang hubungan rumah tangga kita, kalau mereka melihat kamu jalan sendirian tanpa aku." Kilah Dokter Hasan berusaha menutupi rasa yang berkecamuk dalam hatinya.


"Iya tapi aku kan cuma mau membagikan undangan Sayang, bukannya keluyuran gak jelas." Sergah Khardha tidak mau kalah.


"Kalau ada orang yang mengiranya kamu itu masih single gimana? Atau bisa aja kamu ketemu sama mantan ketika dijalan terus dia maksa kamu untuk balikan, itukan juga bahaya Sayang." Dokter Hasan mulai mengungkapkan kekesalannya.


Khardha tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, sebab dia sudah mengerti arah pembicaraan suaminya yang dalam mode cemburu karena merasa diabaikan olehnya.


"Bilang aja kamu cemburu, apa susahnya sich Sayang?" Khardha duduk disamping suaminya lalu menyenggol lengannya.


"Aku gak cemburu, aku cuma ingetin kamu jadi gak usah dekat-dekat sama aku!" Dokter Hasan semakin kesal dengan sikap istrinya yang seakan tidak mengerti keinginannya.


Dia masuk kedalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya agar tidak tergoda dengan wajah istrinya yang selalu membuatnya tidak bisa marah melihatnya.


"Sayang jangan ngambek ya, masa Dokter cintaku yang ganteng ini sikapnya kayak gini sama istrinya sendiri, nanti kalau beneran ada yang gangguin aku gimana? Aku udah mau jalan loh ini, kamu gak mau ikut ya terserah." Khardha beranjak pura-pura membuka pintu kamarnya.


Dokter Hasan langsung mengintip di balik selimutnya untuk memastikan istrinya berani keluar apa tidak tanpa seizinnya. Ternyata Khardha langsung bergegas keluar karena sudah tidak tahan menahan sakit perutnya, dia segera berlari masuk kamar mandi untuk membuang hajatnya. Dokter Hasan sangat terkejut mengetahui istrinya pergi begitu saja tanpa menunggunya lagi, karena Khardha biasanya selalu patuh dengan apa yang dikatakannya.


"Astagfirullah al azdim Sayang, kenapa kamu pergi tanpa menunggu persetujuanku?" Dokter Hasan mengacak-acak rambutnya karena sangat kesal kepada istrinya.


Dia langsung keluar kamar untuk mencari Merlin berniat menanyakan kepadanya tentang istrinya yang akan membagikan undangan kemana saja, agar dia bisa menyusulnya.


"Merlin tante kamu tadi bilang dia mau membagikan undangan, kemana aja kira-kira?" Tanya Dokter Hasan sembari menatap Merlin yang sedang menulis nama teman-temannya dikertas undangan yang berserakan di atas meja.


"Paling keliling kecamatan Om, emangnya kenapa? Tante kan belum berangkat dari tadi, ini aja undangannya masih ada sama aku." Jawab Merlin dengan mengerutkan keningnya lalu meneruskan kegiatannya.


"Gak papa kamu teruskan saja apa yang harus kamu kerjakan."

__ADS_1


Dokter Hasan kembali masuk kekamar untuk menelpon istrinya, namun ternyata handphone Khardha ada diatas meja riasnya. Dia semakin bingung mencari keberadaan istrinya yang menghilang secara tiba-tiba.


Kamu kemana Sayang? Kenapa gak pamit dulu sama aku? Jangan bikin aku khawatir Sayang." Gumamnya dalam hati sembari menyandarkan kepalanya dikepala ranjang.



Ceklik...Khardha membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum mendapati suaminya yang menatapnya dengan kening berkerut sempurna.


"Kamu kemana aja Sayang? Aku sangat khawatir sama kamu." Dokter Hasan segera menghampiri istrinya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku tadi kekamar mandi Sayang, emangnya kenapa?" Bingung Khardha dengan sikap suaminya.


"Aku kirain kamu udah pergi tanpa menunggu persetujuanku Sayang, aku gak mau kamu jalan sendiri tanpa ada aku disampingmu, aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan." Jujur Dokter Hasan sembari menciumi puncak kepala istrinya.


"Aku gak mungkin pergi bila kamu melarangku Sayang, aku sangat mengerti hukum agama yang melarang istrinya keluar rumah tanpa izin suaminya.


Seperti ayat dibawah ini.



"Syukurlah Sayang kamu selalu mengingatnya. Ya udah yuk kita jalan, aku akan anterin kamu kemana aja untuk membagi undangan." Dokter Hasan langsung menggandeng tangan istrinya keluar.


Setelah mengambil undangan yang akan disebarkannya dari tangan Merlin Khardha langsung masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang yang ada disamping suaminya. Sebab Dokter Hasan sudah standby duduk didepan kemudinya, dengan perlahan tapi pasti mereka menyusuri jalanan dan singgah dari rumah- kerumah keluarga, tetangga, sahabat, juga teman-temannya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 wita, Dokter Hasan memperhatikan raut wajah istrinya yang tampak kelelahan sambil memejamkan matanya.


"Masih banyak lagi undangan yang harus disebar Sayang?" Dokter Hasan memegang tangan istrinya.


"Kita makan siang dulu ya, setelah itu kita sholat zuhur berjamaah baru lanjutin lagi nyebarin undangannya."


"Ok Sayang, kebetulan diseberang mesjid Ar-rahmah ini adalah pasar Rantau lama. Dulu aku sering nongkrong sama teman-teman dilantai atas pasar itu." Tunjuk Khardha menceritakan kenangan masa lalunya.



"Ngapain kamu nongkrong disana? Cuci mata? Cari cowok atau pacaran?" Cecar Dokter Hasan merasa penasaran dengan cerita masa remaja istrinya.


"Semuanya lah namanya juga dulu masih ababil." Jujur Khardha seraya tersenyum mengingat masa lalunya.


"Ababil apa itu Sayang?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya ketika sudah memarkir mobilnya dihalaman parkiran mesjid Ar-rahmah kota Rantau kabupaten Tapin.



"Anak baru gede yang masih labil Sayang." Khardha menyentuh pipi suaminya yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Jadi gimana mau makan dulu apa sholat zuhur dulu?" Dokter Hasan meraih tangan istrinya agar cepat keluar dari mobilnya lalu menggandengnya menuju pintu gerbang.


"Kita sholat dulu ya, nanti aja makannya seusai sholat. Disini banyak banget yang berubah Sayang, dulu mesjid ini tidak sebesar sekarang, lahan parkirnya juga belum ada. Sebab dulu itu lahan parkir ini adalah pasar ikan dan pasar tradisional yang sangat kumuh, namun sekarang aku aja benar-benar takjub dibuatnya. Disini tidak ada lagi bau amis ikan berganti dengan taman kota yang sangat indah dipandang mata." Khardha mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

__ADS_1



Dokter Hasan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sudah benar-benar dewasa menurutnya walaupun terkadang sangat manja kepadanya, namun justru karena itu dia semakin mencintai dan menyayanginya.


"Ya udah yuk kita sholat dulu!" Ajak Khardha sembari menarik tangan suaminya.


Dokter Hasan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah istrinya. Setelah berwudhu mereka melaksanakan sholat zuhur berjamaah mengikuti jamaah yang lain karena kebetulan imam masjid baru mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Seusai sholat berzikir, berdoa dan bersalaman dengan jamaah yang lainnya pasangan suami istri itu langsung menyebrang jalan untuk makan siang di warteg yang ada di pasar lama itu sesuai keinginan Khardha yang ingin ber nostalgia dengan masalalunya.


🌿Kenangan masalalu yang sangat indah


Memang sulit untuk dilupakan


Terkadang hati ini mendambakan


Masa-masa itu kembali datang


Namun seiring waktu yang berjalan


Kedewasaan membuat semuanya


Hanya sebagai pengalaman yang tak terlupakan


Antara aku, kamu dan dia


Cinta, benci dan rindu


Melebur menjadi satu


Sudahilah hati jangan kau ungkit lagi


Kenangan itu


Aku sudah ada yang punya


Begitupula dengan dirinya


Salam manis dari orang


Yang pernah singgah dihatimu


Nostalgia ketika bersama denganmu akan kukenang selalu


🌿By Khardha Love


Bersambung...

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komennya agar aku selalu semangat untuk melanjutkan cerita ini. Salam sayang selalu dari author Khardha Love.


__ADS_2