
Happy reading guys!"
Empat bulan kemudian Dokter Hasan berniat mengadakan syukuran kehamilan istrinya. Ketika menyampaikan niatnya itu kepada sahabatnya Dokter Wahyu dan Dokter Selvi dia justru diajak syukuran bersama dengan tujuh bulanan dan selamatan rumah rumah baru mereka. Di sebuah restoran dengan menu spesial bebek panggang dua pasang suami istri itu mengadakan double date dinner sekalian membahas rencana syukuran mereka.
"Gimana bro rencana syukuran kita kira-kira mau ngundang siapa aja?" Tanya Dokter Wahyu sambil meminum jus alpukat yang ada diatas meja.
"Nanti aja kita ngobrolnya makan dulu dari tadi gue udah ngiler banget liat tuh bebek panggang." Jawab Dokter Hasan sembari mengambil potongan daging bebek dengan garpunya.
"Seharusnya istri lo yang lagi hamil diutamakan bukannya lo makan duluan." Dokter Wahyu melempar tisu ke piring Dokter Hasan.
"Maaf ya Sayang, aku suapin ya." Dokter Hasan langsung menyuapi istrinya yang hanya diam memperhatikannya mengunyah makanannya.
"Kamu juga mau aku suapin Beb?" Dokter Wahyu ikut menyuapinya istrinya.
Tiba-tiba ada sepasang suami istri yang baru masuk kedalam restoran itu dan langsung menyapa mereka.
"Hai semuanya gimana kabarnya?" Tanya pasangan itu yang suaranya sangat familiar menurut Khardha.
Mereka berempat menoleh kesumber suara. Ternyata orang itu adalah Riki dan Rina.
"Ohh kirain tadi siapa, yuk gabung sama kita." Ajak Dokter Selvi sembari menarik bangku yang masih kosong.
"Mbak Selvi kandungannya udah berapa bulan?" Tanya Rina berusaha mengakrabkan diri dengan kakak sepupu suaminya itu.
"Aku udah tujuh bulan, kamu sendiri hamil berapa bulan? Perasaan kalian baru aja menikah?" Dokter Selvi langsung bertanya karena sangat penasaran dengan pasangan itu. Sebab sepengetahuannya Riki tidak mencintai Rina dan sangat bucin dengan mantan terindahna, namun dia tidak tahu bahwa mantan Riki itu adalah Khardha.
"Enam bulan Mbak, kami kan gak mau menunda-nunda untuk menimang baby." Jawab Rina seraya melirik ke arah Riki dan Khardha secara bergantian.
Khardha sendiri hanya jadi pendengar setia tanpa mau mengomentari obrolan ibu-ibu hamil disampingnya. Sebab suaminya terus saja menyuapinya karena Dokter Hasan tidak ingin istrinya sampai berbicara dengan mantan terindahnya yang baru datang itu. Sedangkan Riki sendiri selalu memperhatikan Khardha yang begitu cuek dengan keberadaannya, dia hanya bisa menatapnya penuh kerinduan yang mendalam tanpa mampu untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung.
Yank aku sangat merindukanmu dan akan selalu mencintaimu, walaupun kita sudah sama-sama menikah namamu tetap ada di hatiku. Meskipun Tuhan tidak mentakdirkan kita berjodoh semoga di kehidupan yang akan datang anakku dan anakmu bisa berjodoh." Gumam Riki dalam hatinya.
Setelah selesai menyantap semua makanannya mereka berenam pergi ke taman kota untuk menikmati malam hari yang sangat jarang mereka lakukan bersama-sama seperti ini.
Mereka melangkahkan kaki menyusuri jalanan disana dengan bergandengan tangan bersama pasangan masing-masing. Kebetulan sekali disepanjang jalan pinggir sungai mereka disuguhkan pemandangan yang sangat indah dipandang mata.
Setelah cukup lama mereka berjalan Khardha mengeluh perutnya tiba-tiba sakit.
"Sayang stop dulu perutku sakit." Ujarnya sembari memegangi perutnya.
"Astagfirullah al azim. Kita pulang aja ya aku gak mau kamu sama anak-anak kita kecapean kayak gini Sayang. Tunggu disini ya aku ambil mobil dulu diparkiran." Dokter Hasan mendudukkan istrinya di bangku taman lalu berlari menuju parkiran.
Riki yang melihat Khardha duduk sendirian segera mencari alasan untuk ke toilet umum kepada istrinya dan menyuruhnya menunggu di tempat orang menjual jagung bakar yang memang hendak dibelinya. Riki bergegas menghampiri Khardha yang masih memegangi perutnya.
"Yank!" Panggilnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Khardha menolehkan kepalanya mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Ngapain kamu kesini Ki? Mana Rina?" Tanya Khardha dengan mengerutkan keningnya.
"Dia lagi beli jagung bakar, bolehkah aku duduk disini?" Riki berdiri di sebelah Khardha sembari menunjuk bangku kosong disampingnya.
"Gak boleh, aku gak mau Rina juga suamiku salah paham dengan kita." Khardha melarang mantannya itu untuk duduk berdampingan dengannya.
"Aku cuma mau berteman denganmu Yank." Riki menatap Khardha dengan sendu.
"Bukannya aku gak mau berteman denganmu Ki, aku hanya tidak ingin menyakiti hati siapapun disini terutama pasangan kita masing-masing." Ucap Khardha dengan menekankan kata-katanya.
Khardha melihat mobil suaminya sudah mendekat dia langsung beranjak meninggalkan Riki yang terpaku ditempatnya tanpa berpamitan.
Kamu benar-benar berubah Yank, batinnya sembari menatap punggung Khardha yang berjalan menghampiri mobil suaminya.
*****
Seminggu kemudian acara syukuran akan diadakan di rumah baru Dokter Wahyu dan Dokter Selvi. Mereka akan menggelar kegiatan pengajian, tausiyah, santunan untuk anak-anak yatim dan makan bersama keluarga dekat serta rekan-rekan sejawatnya saja. Tidak ada acara siraman atau mandi-mandi didepan umum seperti kebanyakan orang.
"Sayang kamu udah siapkan semua amplopnya untuk anak-anak panti asuhan?" Tanya Khardha sembari duduk perlahan di sofa yang ada dikamarnya sambil memegangi perutnya yang mulai membesar.
"Udah Sayang. Kamu kenapa perutnya kram lagi?" Dokter Hasan duduk disamping istrinya lalu mengelus perutnya." Anak-anak papah jangan nakal ya diperut mamah, kasian mamah kesakitan sayang." Ujarnya sambil bersimpuh lalu menciumi perut istrinya.
Kehamilannya kali ini Khardha tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh lagi, sebab Dokter Hasan lah yang merasakannya. Tiga bulan berturut-turut dia tidak bisa jauh sama sekali dari istrinya walaupun cuma sebentar karena dia akan muntah-muntah terus-menerus apabila tidak ada istrinya disampingnya. Khardha terpaksa selalu mendampingi suaminya ke rumah sakit selama trimester pertama kehamilannya. Dokter Hasan benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya kecuali ke ruang operasi, itupun setelahnya dia langsung berlari menemui wanita yang telah mengandung buah cintanya itu untuk menciumi aroma tubuhnya sebagai penawar rasa mualnya. Untunglah setelah kehamilan istrinya memasuki trimester kedua ini Dokter Hasan sudah normal kembali namun masih selalu ingin bermanja pada wanita kesayangannya itu. Dia selalu ingin bercinta dengan istrinya yang semakin tampak seksi dimatanya dengan perut buncitnya.
"Sayang aku istirahat duluan ya." Pamit Khardha setelah suaminya selesai mengajak anak-anak berbicara.
"Kita sama-sama aja ya Sayang, sekalian aku pijitin." Sahut Dokter Hasan sembari menuntun istrinya ke tempat tidur mereka.
"Sayang kamu udah siapkan? Mau gaya woman on top, doggy style, atau misionaris?" Tanyanya sembari menunggu respon istrinya yang hanya memejamkan matanya." Heyy Sayang kamu tidur ya?" Dokter Hasan menciumi perut istrinya sambil memainkan telunjuknya di pipinya.
Tidak ada respon dari Khardha karena dia memang sudah tertidur. Dokter Hasan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Istirahatlah Sayang, maafkan suamimu yang egois ini." Bisiknya ditelinga istrinya lalu mengecup keningnya.
Dokter Hasan menaruh tangannya dibawah kepala istrinya lalu memandangi setiap inci wajah wanita yang mengandung anak-anaknya itu.
Papah gak bisa nengokin kalian malam ini sayang, kayaknya mamah capek banget hari ini, batinnya mengajak anak-anaknya bicara sambil terus mengelusi perut istrinya
Khardha memang sangat kelelahan sehabis membantu bi Tutik membuat banyak kue untuk dibawanya esok hari.
*****
Keesokan harinya acara syukuran di gelar dirumah baru Dokter Wahyu dan Dokter Selvi.
Pagi-pagi sekali Khardha dan Dokter Hasan juga bi Tutik sudah berangkat kesana. Sesampainya di sana Khardha sangat kagum melihat rumah baru sahabatnya itu sebab dia baru pertama kalinya menapakkan kakinya disana.
"Subhanallah rumah mereka besar banget Sayang." Ujar Khardha sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sahabatnya itu dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
"Inshaallah suatu saat nanti aku akan memberimu sesuatu yang lebih besar dan berharga dari sebuah rumah mewah ini Sayang." Ucap Dokter Hasan seraya tersenyum penuh arti.
Dokter Hasan memang sudah menabung dan mempersiapkan kejutan yang sangat indah untuk masa depannya bersama istri serta anak-anaknya kelak. Dia bercita-cita ingin menjadi pemilik rumah sakit yang selalu berguna bagi setiap orang hingga dia mati pun akan tetap dikenang.
Setelah semua acara pengajian, tausiyah dan santunan untuk anak-anak yatim selesai digelar dengan penuh khidmat tibalah acara yang terakhir yaitu makan-makan.
Ketika Khardha mengambil makanan untuknya sendiri tanpa sengaja dia kembali bertemu dengan Riki di jejeran antrian tempat prasmanan. Sedangkan Dokter Hasan yang mengambil minuman sambil memperhatikan istrinya dari jarak sepuluh langkah darinya justru tidak menyadari ada seseorang yang memasukkan sesuatu di dalam gelasnya. Dokter Rasyid yang memperhatikan gerak-gerik semua para tamu undangan tiba-tiba terkejut melihat seorang wanita yang tidak asing baginya memasukkan sesuatu kedalam gelas Dokter Hasan. Dokter Rasyid sengaja membiarkan Dokter Hasan meminum minuman itu karena dia ingin tahu apa reaksi yang akan ditimbulkan obat yang telah tercampur diminuman itu. Perlahan tapi pasti obat yang dimasukkan orang itu bekerja melewati saluran pencernaan Dokter Hasan. Dia mulai merasa sangat gerah & sesuatu dibawah sana juga semakin menegang. Dia berjalan mendekati istrinya yang tengah asyik menyantap makanannya.
"Sayang ayo kita pulang sekarang." Ajaknya sembari meraih tangan istrinya.
"Aku masih laper Sayang, nanti aja ya pulangnya, gak enak sama Mbak Selvi dan Dokter Wahyu juga keluarganya yang ada disini kalau kita pulang sekarang." Sahut Khardha dengan lembut.
"Aku bilang pulang sekarang!" Dokter Hasan meninggikan intonsi suaranya lalu menarik tangan istrinya dengan kasar.
Semua orang yang ada disana terheran-heran menyaksikan langsung Dokter Hasan yang tiba-tiba berteriak kepada istrinya, kecuali satu orang yang sudah memasukkan obat perangsang dengan dosis tinggi kedalam gelas minuman Dokter Hasan itu. Wanita itu tersenyum smirk menyaksikan langsung Dokter Hasan yang biasanya memperlakukan istrinya sangat lembut tiba-tiba berlaku kasar diluar kendali akal sehatnya. Khardha berjalan terseret-seret karena harus mengimbangi langkah lebar dan cepat suaminya menuju parkiran mobilnya.
"Sayang kenapa kamu tiba-tiba kayak gini? Lepasin tanganku aku bisa jalan sendiri, aku gak mau pulang sekarang!" Jerit Khardha sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit karena harus mengikuti suaminya." Awww... lepasin Sayang aku mohon perutku sakit." Pinta Khardha dengan lirihnya sebab dia mulai kehilangan keseimbangannya.
Dokter Hasan langsung menggendong istrinya masuk kembali kedalam rumah sahabatnya. Semua orang lagi-lagi dibuat tercengang akibat ulahnya, Dokter Wahyu dan Dokter Selvi langsung menghampirinya.
"Lo kenapa sich bro? Kok kayak orang linglung gitu?" Tanya Dokter Wahyu dengan mengerutkan keningnya.
"Gue pinjam salah satu kamar lo dulu, cepat tunjukkin!" Dokter Hasan kembali berteriak diluar akal sehatnya karena gairah yang sudah di ubun-ubunnya.
"Ok, sabar bro ayo ikut gue, anggap aja rumah sendiri." Dokter Wahyu menunjukkan salah satu kamar untuk sahabatnya itu.
Dokter Hasan langsung membaringkan tubuh istrinya lalu pergi kekamar mandi untuk menenangkan dirinya. Setelah hampir satu jam didalam kamar mandi Khardha yang merasa ada gelagat aneh dari suaminya langsung mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikannya.
Tok...tok...tok... bunyi pintu diketuk dari luar.
"Sayang kamu gak papa kan?" Khardha menempelkan telinganya didaun pintu.
Ceklek...Dokter Hasan membuka pintunya.
"Tolong aku Sayang plis." Pintanya sambil menarik istrinya masuk ke kamar mandi dengan wajah berkabut penuh gairah yang berusaha ditahannya.
"Iya Sayang tapi aku harus ngapain?" Tanya Khardha yang semakin bingung dengan tingkah suaminya yang langsung menggerayanginya tanpa memberikannya kesempatan untuk melepaskan pakaian terlebih dulu.
"Layani aku sekarang, sampai aku benar-benar puas." Jawabnya sembari meneruskan aksinya yang sudah tidak sabar lagi melakukan penyatuannya dibawah siraman air shower didalam kamar mandi itu.
Khardha hanya bisa pasrah dan menikmati apa yang sangat diinginkan suaminya itu, sampai dia lupa bahwa tidak membawa baju ganti sama sekali. Padahal baju yang melekat ditubuhnya sudah basah dan tergeletak begitu saja dilantai kamar mandi akibat ulah suaminya yang tidak sabar lagi menyalurkan hasratnya. Sementara itu tanpa mereka berdua sadari diluar sana ada seseorang yang menginginkan Dokter Hasan menghajar' istrinya habis-habisan sampai Khardha kembali keguguran. Sedangkan Dokter Rasyid yang sudah mengetahui semuanya telah merekamnya dengan handphonenya, dia hanya bisa berdoa dalam hati.
Semoga kandunganmu baik-baik saja Khardha, sebab jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu aku gak akan membiarkan orang itu hidup tenang termasuk suamimu." Batinnya sembari memandangi foto Khardha yang masih disimpannya digaleri handphonenya.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dokter itu kenapa dia berlaku kasar kepada Khardha?Aku gak akan biarin dia gitu aja jika sampai Khardha kenapa-napa," Gumam Riki dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon maaf ya teman-teman aku sering telat up karena kesibukanku di dunia nyata lebih membutuhkan perhatianku.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya melalui vote, like, komennya.