MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode#89 "Pasar terapung"


__ADS_3

Happy reading guys!


"Jalan-jalan!" Seru Dokter Hasan & Khardha bersamaan." Kemana?" Tanya keduanya serempak.


"Yeyy kalian berdua kompak banget dari tadi ngomongnya barengan terus, pantesan kalian berjodoh!" Seru Dokter Selvi sambil bertepuk tangan seakan menyaksikan pertunjukan yang menarik.


Khardha & Dokter Hasan saling menatap satu sama lain ketika mata mereka bertemu keduanya langsung memalingkan wajahnya kearah lain karena tersipu malu mendengar perkataan dari istri sahabatnya itu.


"Cieee kalian masih aja malu-malu kayak pengantin baru." Ucap Dokter Wahyu sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Dokter Hasan langsung melemparkan bantal sofa yang ada di ruang tamu itu kearah sahabat somplaknya itu. Namun berhasil ditangkap oleh Dokter Wahyu, dia melempar balik kepada Dokter Hasan hingga mengenai kepala Khardha yang sedang mengelap keringat diwajah suaminya dengan tisu.


"Awww!" Pekik Khardha sembari memegangi kepalanya yang masih belum benar-benar sembuh dari sakitnya.


"Kamu gak papa kan Sayang?" Tanya Dokter Hasan ikut memegangi kepala istrinya lalu menyandarkan di dadanya.


Khardha hanya menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Maaf ya Khardha, udah bikin kamu sakit." Ucap Dokter Wahyu dengan tulus.


"Aku gak papa, aku cuma butuh istirahat aja." Kilah Khardha masih dengan mata terpejam.


"Kamu belum minum obat Sayang, lebih baik istirahat dikamar aja ya." Ucap Dokter Hasan sembari menuntun istrinya menaiki tangga menuju ke lantai dua.


"Tunggu dulu! Khardha sakit apa? Terus jadi gak jalan-jalannya?" Tanya Dokter Selvi sembari mengikuti langkah pasangan suami istri itu yang terus saja melangkah keatas.


"Jangan sekarang ya Mbak lain kali aja, aku masih gak enak badan." Jawab Khardha dengan menghentikan langkahnya sebentar.


"Gimana kalau besok Khardha?" Dokter Selvi kembali bertanya.


"Aku gak bisa janji nanti kalau aku bisa, pasti aku hubungi Mbak Selvi." Sahut Khardha dengan melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam kamarnya.


Dokter Selvi ingin ikut masuk namun dihalangi oleh Dokter Hasan didepan pintu setelah membaringkan tubuh istrinya & menyelimutinya.


"Kamu gak usah ikutan masuk, istriku kan sudah bilang bahwa dia sakit & akan menghubungi kamu bila dia sudah siap jalan-jalan, jadi tolong biarkan dia istirahat dulu." Ucap Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.


"Aku cuma mau tau Khardha sakit apa sebenarnya? Rasanya gak mungkin hanya terkena lemparan bantal dia sakit?" Cecar Dokter Selvi dengan tatapan menyelidik.


Dokter Hasan menarik nafasnya kemudian menghembuskannya.


"Tadi malam dia demam, suhu tubuhnya sangat tinggi, aku yakin kadar gulanya juga naik." Jawab Dokter Hasan dengan wajah sendu.


"Maksud kamu Khardha menderita diabetes melitus?" Kaget Dokter Selvi merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya!" Singkat Dokter Hasan.


"Itu berarti Khardha akan sulit untuk hamil lagi." Lirih Dokter Selvi dengan mata berkaca-kaca sembari menutupi mulutnya.


"Doain aja yang terbaik untuk mereka berdua Beb." Sahut Dokter Wahyu berusaha menenangkan istrinya karena sedari tadi dia hanya diam dibelakangnya.


"Makasih ya, silahkan kalian juga istirahat." Ucap Dokter Hasan lalu menutup pintu kamarnya perlahan.


Dia kembali melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang terbaring diatas tempat tidur sembari memejamkan matanya. Dia mengira Khardha sudah terlelap, namun ternyata wanita yang sangat dicintainya itu membuka matanya ketika dia ikut berbaring disebelahnya setelah mencium keningnya.

__ADS_1


"Aku dengar semua yang kalian bicarakan Sayang," ujar Khardha dengan menatap lekat manik mata suaminya sambil berusaha membendung butiran bening yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya.


"Maafin aku Sayang, aku cuma gak mau kamu terpukul jika mengetahui kenyataannya seperti sekarang." Ucap Dokter Hasan dengan menghapus air mata istrinya dengan ibujarinya.


"Aku akan berusaha tegar asal kamu selalu ada disampingku Sayang." Lirih Khardha dengan tersenyum getir.


"Percayalah Sayang aku akan selalu ada untukmu, menemanimu disaat sehat maupun sakit, susah dan juga senang. Karena aku mencintaimu karena Allah yang sudah menjadikanmu tulang rusukku." Bisik Dokter Hasan sembari membawa istrinya kedalam pelukannya.


"Makasih Sayang karena kamu udah mau menerima aku apa adanya." Ucap Khardha dengan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.


"Sama-sama Sayang, aku justru sangat merasa beruntung bisa memilikimu." Desis Dokter Hasan semakin mengeratkan pelukannya.


*****


Seminggu kemudian Khardha menghubungi Dokter Selvi sehabis makan malam. Dia duduk di depan televisi yang ada dikamarnya dengan memangku kepala suaminya.


Tut...tut...tut...Panggilan suara tersambung.


"Assalamualaikum Mbak Selvi." Ucap Khardha mengawali pembicaraannya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Khardha, tumben nelpon malam-malam?" Sahut Dokter Selvi langsung bertanya maksud & tujuan Khardha menghubunginya.


"Seminggu yang lalu Mbak Selvi ngajakin kami jalan-jalan kan, gimana kalau kita ke pasar terapung aja." Jawab Khardha memberikan idenya.


"Pasar terapung yang dimana? Di Kuin, Siring, atau di Lokbaintan?" Cecar Dokter Selvi dengan mengerutkan keningnya diujung telepon sana.


"Yang di Kuin Mbak, tapi kita harus pagi-pagi kesana. Aku ingin naik perahu sekalian cari makanan buat sarapan, pasti asyik banget." Jawab Khardha sembari membayangkan dirinya menaiki perahu yang telah lama di idamkannya.


"Kenapa harus ke pasar terapung yang di Kuin? Di Siring kan dekat?" Heran Dokter Selvi dengan kemauan istri sahabat suaminya itu yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.


"Ya udah jadi kapan mau kesana?" Tanya Dokter Selvi memastikan sebab dia juga ikut penasaran bagaimana suasana di pasar terapung yang ada di muara Kuin di atas sungai Barito Banjarmasin provinsi kalimantan selatan itu.


"Kalau besok gimana Mbak? Itu kalau kalian gak sibuk sich." Ujar Khardha tidak ingin memaksakan kehendaknya.


"Ok, tapi kamu harus tidur sama aku malam ini." Pinta Dokter Selvi sebab dia tidak mau ngidamnya yang sudah lama terpendam ingin tidur dengan Khardha harus di pending lagi.


"Gimana Sayang?" Tanya Khardha kepada suaminya yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraannya dengan memainkan sesuatu yang pas digengamannya.


"Suruh mereka aja yang nginap dirumah kita." Jawab Dokter Hasan tanpa merubah posisinya yang suka sekali menggerayangi tubuh istrinya.


Khardha menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemauan suaminya yang tidak biasa menginap dirumah orang lain kecuali terpaksa.


"Iya Mbak aku mau kok, tapi kalian aja yang nginap dirumah kami ya." Ucap Khardha memberikan keputusannya.


"Ok kami langsung otw kesana!" Seru Dokter Selvi sembari memutuskan panggilannya.


*****


"Sebelum mereka datang kita main satu ronde dulu yuk Sayang, biar cepat ada baby lagi di perut kamu." Ajak Dokter Hasan sembari mengelusi perut istrinya.


"Tapi beneran satu kali aja ya, takutnya nanti keburu mereka datang." Ucap Khardha memastikan suaminya yang kadang diluar ekspetasinya.


"Iya satu kali, tapi gak boleh dihitung sekarang ya!" Seru Dokter Hasan langsung bangun & menggendong tubuh istrinya menuju ranjang king size mereka lalu melancarkan aksinya.

__ADS_1


Tidak berselang lama setelah pasangan suami istri itu selesai berolahraga malam ala mereka. Handphone Dokter Hasan langsung berdering diatas nakas samping ranjangnya. Dia menjangkaunya & melihat nama si penelpon di layar handphonenya, kemudian menggeser tombol hijaunya.


"Halo assalamualaikum." Sapanya sembari menciumi puncak kepala istrinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kami udah didepan rumah lo!" Teriak Dokter Wahyu dengan sengaja hingga membuat Dokter Hasan langsung menjauhkan handphonenya dari telinganya.


"Gue belum budek tau!" Kesal Dokter Hasan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Sayang mereka sudah datang, kamu mandi duluan gih, biar aku aja yang bukain pintu buat mereka." Katanya dengan nada sangat lembut ditelinga istrinya.


Khardha hanya menganggukkan kepalanya sembari beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai bajunya Dokter Hasan langsung turun kebawah untuk membukakan pintu masuk buat pasangan suami istri sahabatnya itu.


"Mana Khardha?" Tanya Dokter Selvi sembari celingak celinguk mencari Keberadaannya.


"Dia lagi di kamar mandi." Jawab Dokter Hasan sembari mempersilahkan keduanya masuk & duduk di sofa ruang tamunya.


"Aku mau nonton ditemani Khardha dulu sebelum tidur bolehkan?" Dokter Selvi menatap suaminya & Dokter Hasan secara bergantian.


"Kenapa gak langsung tidur aja? Besok pagi habis sholat subuh kita harus langsung otw ke pasar terapung, kalau gak gitu keburu bubar pasarnya nanti." Ujar Dokter Hasan mengingatkan.


"Memangnya Mbak Selvi mau nonton apa?" Tanya Khardha sembari menuruni tangga untuk menghampiri mereka lalu duduk disamping suaminya.


"Nonton acara tv aja sambil nunggu mata kita ngantuk." Jawab Dokter Selvi sembari menarik tangan Khardha yang baru duduk.


"Ya udah yuk kita naik keatas aja, nonton diruang keluarga." Ajak Dokter Wahyu dengan merangkul bahu Dokter Hasan.


"Kalian itu kebiasaan ya, yang tuan rumah siapa yang ngajak siapa." Gerutu Dokter Hasan sembari menggelengkan kepalanya menyaksikan ulah sahabatnya itu.


"Anggap rumah sendiri aja bro." Sahut Dokter Wahyu menepuk bahu Dokter Hasan seraya tersenyum.


Dokter Hasan hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya. Karena sudah hafal semua sifat Dokter Wahyu yang memang suka bercanda tidak tahu tempatnya.


Mereka berempat akhirnya berbaring dengan berjejer rapi didepan televisi diruang keluarga. Dengan posisi Dokter Selvi & Khardha yang berada ditengah-tengah sedangkan para suami keduanya berada disampingnya. Setengah jam kemudian mereka langsung terlelap kealam mimpi masing-masing hingga menjelang waktu subuh.


Keesokan harinya sehabis mandi & sholat subuh berjamaah mereka berempat berangkat menuju pasar terapung yang ada di sungai Barito tepatnya dimuara Kuin. Sesampainya disana Khardha, Dokter Hasan, Dokter Wahyu & Dokter Selvi langsung mendatangi para pedagang yang ada kawasan itu dengan berdiri diatas lanting juga menaiki perahu penjual itu secara langsung.



Di pasar terapung itu banyak sekali yang diperjualbelikan dari hasil panen buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan siap santap baik berupa kue-kue maupun makanan berat untuk sarapan yaitu soto banjar limau kuit + sate dan juga nasi kuning iwak haruan + telur khas Banjarmasin.



"Kita sarapan dulu baru belanja yang lain ya, biar ada tenaga buat menyusuri perahu para pedagang disini." Ucap Dokter Hasan sembari memegangi tangan istrinya untuk melompati perahu menuju pedagang makanan yang ada diperahu lainnya.


"Kabarnya disini juga bisa barter loh." Khardha menimpali sesudah memesan soto banjar limau kuit + sate & nasi kuning iwak haruan + telur untuk mereka berempat.


"Benarkah? Persis kayak zaman dulu ya." Seru Dokter Selvi seraya tersenyum mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Sungguh pasar terapung memang harus dilestarikan sebagai ikon pariwisata kota seribu sungai Banjarmasin, pemandangan disana yang sangat unik dengan banyaknya penjual dengan perahu terapung mengitari sekeliling sungai muara kuin. Namun ternyata pasar terapung juga ada di kabupaten Banjar kecamatan sungai tabuk di pesisir aliran sungai Lok Baintan Martapura Kalimantan Selatan.


Itulah sekilas tentang pasar terapung yang menjadi salah satu ikon pariwisata di Banjarmasin. Selamat berkunjung bagi para teman-teman yang penasaran dengan tempat tersebut. Sebab aku juga belum sempat kesana lagi karena sekarang kami tinggal di Samarinda Kalimantan Timur & jarang pulkam.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon maaf ya aku baru up lagi sebab kemarin terlalu sibuk dengan dunia nyataku, sehingga membuat aku badmood untuk meneruskan ceritaku hingga aku sempat berpikir untuk hiastus saja dulu.


Jadi bila aku selalu telat up mohon dimaklumi aja ya, salam sayang selalu dari author Khardha Love.


__ADS_2