MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode #15 "Excited"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah didalam kamar, mereka berdua kembali keluar. Khardha ingin membantu kakaknya & keluarganya memasak, serta menyiapkan menu berbuka puasa bersama sekalian tahlilan untuk mendoakan almarhum pak Ahmad Choi. Dia menggunakan masker karena tidak tahan mencium bau masakan yang menyengat di hidungnya, hingga ada yang menegurnya.


"Khardha kamu kenapa pakai masker di dapur?" Tanya tante Nur keluarga dari pihak bapaknya.


"Hehe gak papa kok, aku cuma gak tahan mencium semua aroma masakan ini." Jawab Khardha memberi alasannya.


"Apa kamu lagi ngidam Khardha?" Tante Sarah ikut bertanya.


"Gak tau juga Tante, aku belum periksa." Jujur Khardha dengan menatap kearah lawan bicaranya.


"Kenapa gak di test pack aja dulu dek." Sahut


kakak sepupunya yang berprofesi sebagai seorang bidan yang ingin di datanginya tadi.


"Kak Riri!" Seru Khardha sambil berjalan mendekatinya." Kakak juga ada di sini, kebetulan sekali kak aku mau kerumah kakak nanti malam sehabis tarawih.'' Khardha langsung menyalaminya.


"Mau periksa ya?"Tebaknya seraya tersenyum.


"Iya kak." Jawab Khardha dengan menundukkan kepalanya.


Dia merasa canggung karena tebakan kakak sepupunya sangat tepat.


"Ok nanti kakak tunggu ya dek." Riri menepuk bahu Khardha yang terlihat canggung dihadapan semua orang.


"Makasih ya kak." Lirih Khardha dengan menatap kakak sepupunya itu seraya tersenyum manis.


"Iya dek gak usah sungkan kayak sama orang lain aja." Riri tersenyum memperhatikan tingkah Khardha yang sangat berbeda menurutnya.


"Sebaiknya kalau kamu mabuk gak usah di paksain ikut ke dapur ini dek, nanti kamu mual & muntah lagi seperti tadi pagi sebelum sahur, terus kamu juga sempat pingsan kata ibuku tadi. Di sini kan banyak orang yang bantuin.


Lebih baik kamu menata yang di luar aja, nanti suami kamu marah loh kalau kamu suka ngeyel di bilangin." Ujarnya menasehati Khardha.


"Iya kak,ini aku juga keluar kok." Sahut Khardha sembari melangkahkan kakinya


menuju ruang tengah.


Dia membawa karpet sendiri untuk di gelarnya disana, Dokter Hasan yang sedang asyik bercengkrama dengan Bripka Gusti Hamidi & pamannya Khardha langsung permisi


melihat apa yang di kerjakan istrinya.


"Sayang kamu jangan mengangkat yang berat ya, nanti kalau kenapa-kenapa lagi gimana, sini biar aku aja yang menggelar karpetnya." Ujarnya sembari mengambil alih pekerjaan istrinya.


"Terus aku harus ngapain? Mau bantuin didapur dilarang! Disini juga gak dibolehin, kenapa semua orang memperlakukan aku kayak gini?" Kesal Khardha dengan memajukan bibirnya kedepan.


"Sayang itu artinya kami semua sayang sama kamu, makanya semua orang melarang kamu supaya gak kecapean & juga kamu kan masih belum fit banget." Sahut Dokter Hasan berusaha memaklumi sikap istrinya.


Dia menatap istrinya penuh perhatian serta berusaha memaklumi sifat manjanya sekaligus keras kepalanya.


"Ya udah mending aku masuk kamar aja kalau gitu!" Khardha berjalan sambil menghentakkan kakinya kelantai.


Dia langsung masuk kedalam kamarnya dan


menutup pintunya dengan keras, namun tiba-tiba dia merasakan nyeri di bagian perutnya.


Argh...aww...kenapa perutku kram kayak gini." Khardha langsung terduduk di lantai & bersandar di lemari dekat ranjangnya dengan memegangi perutnya.


Untunglah kebetulan Dokter Hasan masuk ke dalam kamar untuk mengambil handphonenya yang sengaja ditinggalkannya diatas nakas.


"Assalamualaikum Sayang." Ucapnya sembari


membuka pintu dengan perlahan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha dengan suara lirihnya.


Dia sangat terkejut melihat keadaan istrinya yang tampak menahan sakit diperutnya.


"Astagfirullah al azdim kamu kenapa Sayang?" Dokter Hasan langsung menghampiri istrinya lalu menggendongnya keatas ranjang.


"Perutku sakit banget Sayang." Keluh Khardha

__ADS_1


sambil meringis menahan sakit.


"Apa yang harus aku lakuin? Aku gak ngerti masalah kehamilan." Panik Dokter Hasan melihat istrinya dalam keadaan seperti ini.


"Tolong kamu panggil kan kak Riri di dapur, aku udah gak kuat lagi menahan nyerinya." Pinta Khardha dengan mencengkram tangan suaminya.


"Siapa dia Sayang?" Dokter Hasan


mengerutkan keningnya merasa tidak mengenal orang yang dimaksud istrinya.


"Dia bidan yang aku bilang tadi siang, tolong cepat panggilkan dia aku udah gak kuat lagi." Khardha meneteskan air matanya menahan nyeri diperutnya.


"Ya udah kamu tunggu disini dulu sebentar." Dokter Hasan bergegas menuju dapur mencari orang yang di maksud istrinya.


" Assalamualaikum permisi, maaf di sini ada yang bernama Kak Riri?" Dokter Hasan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dapur.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya saya Riri ada apa Dokter Hasan?" Riri beranjak sembari mengerutkan keningnya menatap heran kearah suami adik sepupunya.


"Tolong ikut saya sebentar periksakan istri saya." Jawabnya tanpa basa-basi terlebih dulu dengan tatapan memohon untuk cepat mengikutinya.


"Loh kamu kan seorang Dokter! Kenapa harus Riri yang memeriksa istrimu?" Tanya tante


Reyna dengan nada ketus.


"Maaf tante ini masalah perempuan, jadi saya


tidak mengerti apa yang harus saya lakukan." Dokter Hasan berusaha tenang agar tidak tersulut emosi mendengar pertanyaan yang tidak enak didengarnya itu.


"Oh gitu, ya udah Riri cepat periksa Khardha sana." Perintah tante Reyna masih dengan nada ketusnya.


"Iya Tante, saya permisi sebentar." Jawab Riri yang sangat mengerti sifat tante Reyna.


Mereka berdua segera masuk kamar untuk melihat keadaan Khardha.


"Kamu kenapa dek?" Tanya Riri sembari mendekati Khardha yang terus memegangi perutnya.


"Perut ku sakit Kak." Lirih Khardha yang merasakan nyeri yang bertambah hebat diperutnya.


Khardha langsung mengikuti arahan kakak sepupunya itu. Riri menekan dengan pelan setiap bagian perut Khardha untuk mengetahui gejala apa yang diderita Khardha.


Dokter Hasan yang melihat istrinya di perlakukan seperti itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari mengerutkan keningnya dengan sempurna karena merasa ngilu melihat orang yang dicintainya merasakan sakitnya.


"Kapan kamu terakhir haid dek?" Tanya Riri ingin memastikan prediksinya.


"Kalau gak salah seminggu sebelum menikah Kak." Jawab Khardha dengan menahan nafasnya.


"Berarti waktu itu kamu masuk dalam masa subur dek." Ujar Riri seraya tersenyum penuh arti.


Dokter Hasan langsung tersenyum sumringah mendengarnya.


"InshaAllah kamu positif hamil dek, kakak merasakan ada benjolan di perutmu." Riri mengungkapkan apa yang biasa di ketahuinya tentang kehamilan.


"Alhamdulillah wa syukurillah!" Ucap


Dokter Hasan dengan lantang, sehingga membuat Riri tersenyum geli.


"Untuk lebih jelasnya kamu periksa dengan test pack atau langsung Usg ke Dokter kandungan yang akan menjelaskan berapa usia kehamilan kamu sebenarnya nanti dek." Riri menyarankan agar lebih akurat lagi.


"Iya Kak, makasih banyak ya." Ucap Khardha seraya tersenyum tulus.


"Sebaiknya kamu jangan banyak gerak dulu dek, takutnya kandungan kamu masih lemah." Nasehat Riri sebab dia tahu Khardha orangnya tidak bisa diam.


"Iya Sayang, kamu harus bed rest dulu ya sementara ini." Dokter Hasan menimpali.


"Baiklah Dokter Hasan selamat ya


kamu bakal jadi ayah, semoga kehamilan Khardha berjalan lancar sampai lahirannya nanti." Ucap Riri sembari menjabat tangan suami adik sepupunya itu dengan tersenyum ikut bahagia.


"Aamiinn terimakasih ya." Dokter Hasan


menarik sudut bibirnya melengkung sempurna dengan mata berbinar sangat bahagia.

__ADS_1


"Iya sama-sama, saya permisi dulu ya, assalamualaikum." Pamit Riri sambil berlalu pergi keluar dari kamar untuk kembali ke dapur.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha & Dokter Hasan bersamaan.


Setelah kepergian bidan Riri, Dokter Hasan langsung mendekati istrinya lalu


menggenggam erat tangannya sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Sayang kamu harus jaga baik-baik kandungan kamu ya, aku ingin kamu & anak kita selalu sehat sampai lahiran nanti. Aku juga akan selalu jadi suami siaga


(siap antar jaga) buat kamu juga calon deby." Ujarnya mengingatkan istrinya yang sering bertindak semaunya.


Khardha hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebab dia juga sangat bahagia mengetahui kehamilannya apalagi melihat betapa excited nya suaminya.


"Perut kamu masih sakit Sayang?" Tanya Dokter Hasan sembari mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Masih sedikit." Jawab Khardha sambil menatap manik mata suaminya dengan intens.


"Anak papah jangan nakal ya di perut mamah


kasian mamah sayang." Dokter Hasan menciumi perut istrinya & mengajaknya bicara.


"Sayang kayaknya usia kehamilanku masih muda banget. Perutku juga masih rata, masa iya kamu ajak ngomong anak kita." Khardha merasa geli dengan tingkah suaminya.


"Sayang aku tuh excited banget dengan kehamilan kamu ini tau gak sich, itu menandakan aku ini laki-laki perkasa yang bisa menaklukkan wanita seperti kamu." Dokter Hasan menepuk dadanya sendiri menyombongkan diri di hadapan istrinya.


"Heyy kamu kok ngomong kayak gitu sich Sayang!" Seru Khardha sembari memajukan bibir bawahnya kedepan.


"Hehe gak usah diambil hati Sayang aku kan cuma bercanda!" Dokter Hasan mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas, lalu menyentuh bibir mungilnya yang selalu menjadi candu baginya.


"Kamu itu Dokter yang omes


banget Sayang." Khardha menepis tangan suaminya agar tidak khilaf karena masih puasa.


"Tapi aku kan mesumnya cuma sama kamu Sayang, masa sama istri sendiri gak boleh." Dokter Hasan mengacak-acak rambut istrinya dengan gemasnya." Tolong bibir kamu dikondisikan Sayang bikin aku gak tahan pengin cium kamu." Jujurnya dengan menjilati bibirnya sendiri sembari meneguk salivanya.


"Masa sich kamu mesumnya sama aku aja? Tapi aku gak percaya tuh!" Khardha sengaja memancing suaminya seraya tersenyum smirk.


"Heyy sayang aku itu tipe cowok setia tau!" Seru Dokter Hasan sembari menangkup kedua pipi istrinya dan menatapnya dengan serius.


"Aku gak mau yang setia (selingkuh tiada akhir )." Khardha memalingkan wajahnya kearah lain pura-pura marah kepada suaminya.


"Ok Sayang aku ngerti maksud kamu. Aku akan selalu sejuta (setia jujur & taqwa) buat kamu." Dokter Hasan menekankan setiap kata-katanya kemudian memutar kepala istrinya & mencium keningnya.


"Nach gitu dong itu baru suami aku, cup." Khardha mengecup bibir suaminya sekilas.


"Udah dulu ya Sayang, aku mau keluar kayaknya semua sudah berkumpul untuk menunggu waktu berbuka puasa, kalau kelamaan di dalam kamar nanti dikirain kita ngapa-ngapain lagi, ini masih puasa kalau sudah malam sich gak papa." Dokter Hasan


beranjak menuju pintu hendak keluar.


"Iya dech papah Dokter yang ganteng." Khardha menirukan suara anak kecil untuk menggoda suaminya.


"Sayang jangan menggodaku dengan panggilan seperti itu dihadapan orang lain ya." Pintanya sembari menolehkan kepalanya kebelakang.


"Memang nya kenapa kamu malu?" Tanya Khardha seraya tersenyum hingga menampakkan barisan giginya.


"Ya ialah Sayang, udah dulu ya kalau disini terus bisa batal puasa ku hari ini karena kamu selalu menggodaku." Jawab Dokter Hasan sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya." Assalamualaikum." Ucapnya kemudian.


"Waalaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha menjawabnya.


Bersambung....


Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankan nya.


Semoga amal ibadah kita semua di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin Allahumma aamiin.


Mohon doa & dukungannya terus ya reader


melalui vote, like, komen, koinnya, dari kalian yang sudah mau mampir ke karya ku ini.


Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit kalian semuanya ya, terimakasih. salam sayang selalu dari author Khardha Love.

__ADS_1


__ADS_2