MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode #13 "Berubah"


__ADS_3

Happy reading guys!"


Setelah menunaikan sholat shubuh berjamaah semua orang kembali sibuk mengurus jenazah Pak Ahmad Choi. Untuk memandikan, mensholatkan & menguburkannya.


Khardha yang masih terbaring lemah di kamarnya pun tidak bisa berbuat apa-apa, untuk membantu semua orang. Berbeda dengan Dokter Hasan yang ikut sibuk membantu apa saja yang dia bisa.


Khardha hanya di temani Merlin & adiknya yang terus mengajak nya bicara tanpa membiarkannya untuk beristirahat.


"Tante gimana rasanya setelah menikah?" Tanya Merlin dengan polosnya sembari duduk disisi ranjang samping Khardha.


"Lo juga akan tau rasanya nanti kalau sudah menikah." Jawab Khardha seraya tersenyum tipis.


"Gue perhatiin lo kok tambah cantik, apa rahasianya Tante?" Tanya Merlin lagi sembari


menatap Khardha tanpa berkedip dengan menyangga dagunya melalui tangannya.


"Itu tergantung gimana nanti suami lo memperlakukan lo Merlin." Sahut Khardha sembari menatap Merlin yang suka kepo.


"Apa Tante bahagia hidup berumah tangga sama Om Dokter?" Merlin berusaha mengetahui lebih dalam perasaan Khardha kepada suaminya.


"Inshaallah iya." Jawab Khardha dengan bijak.


"Kemarin waktu ke pasar gue ketemu sama om Riki Tante, dia kelihatannya jadi pendiam gitu." Ujar Merlin sembari menunggu reaksi Khardha ketika mendengar kabar tentang mantannya.


"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?" Khardha mulai tertarik ingin tahu.


"Habisnya ketika gue menyapa dia,


dianya diam aja sambil liatin gue seolah-olah kita gak kenal gitu tante." Jawab Merlin melirik kearah Khardha sembari menjaga adiknya Aisya.


"Ya udah gak usah di pikirin, ngapain juga lo mikirin dia, gak manfaat juga kan." Sergah Khardha dengan cueknya.


"Tante sekarang sudah berubah ya jadi lebih dewasa & dingin kayak Om Dokter, jangan-jangan tante ketularan sifatnya yang kaku lagi!" Sindir Merlin sembari menggelengkan kepalanya karena merasa sifat Khardha yang sekarang sungguh sangat jauh berbeda.


"Merlin bisa gak kalau ngomong di filter dulu, supaya gak menyinggung perasaan orang lain." Ucap Khardha menasehati.


"Emangnya kenapa? Tante tersinggung?" Cecar Merlin sembari memicingkan matanya.


"Gak gue cuma mau lo juga berubah menjadi lebih baik lagi." Sahut Khardha dengan menatap intens kearah keponakannya itu.


Perbedaan usia antara Khardha yang terpaut empat tahun lebih tua dari Merlin membuatnya bisa berpikir lebih dewasa dan bijak menghadapi lingkungan sekitarnya, apalagi sekarang dia sudah menikah & berperan sebagai istri seorang Dokter Hasan yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Sedangkan Merlin yang sangat polos namun selalu bersikap sok dewasa membuatnya kadang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


"Ya udah kepala gue masih pusing banget, gue mau istirahat dulu ya." Ujar Khardha sembari memejamkan matanya & menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Sebenarnya Tante sakit apa sich? Sebab tadi ketika gue tanya Om Dokter jawabannya sedikit aneh gitu dech Tante, makanya gue jadi penasaran banget jadinya." Tanya Merlin dengan mengerutkan keningnya.


"Emangnya dia ngomong apa sama lo?" Khardha balik bertanya sembari menyembulkan kepalanya dibalik selimut.


"Om Dokter bilang....nanti kamu juga pasti akan tau. Maksudnya apa itu Tante?" Merlin semakin penasaran.


"Gue juga gak ngerti tuh." Jawab Khardha dengan mengangkat bahunya kemudian memejamkan matanya kembali.


"Tante aja gak paham apa lagi gue." Sungut Merlin sembari merosot kelantai untuk kembali menemani adiknya bermain.


Tok...tok...tok...pintu diketuk dari luar.


"Assalamualaikum." Ucap Dokter Hasan sembari membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha & Merlin bersamaan.


"Sayang aku mau ikut sholat fardhu kipayah, tapi aku mau mandi & ganti baju dulu sebentar." Ujar Dokter Hasan memberitahukan


alasannya kenapa dia kembali kekamar sebelum acara pemakaman selesai.


"Kalau begitu aku keluar dulu ya Om permisi." Pamit Merlin sembari menggendong adiknya.


" Makasih ya Merlin sudah mau menemani dan jagain Tante kamu." Ucap Dokter Hasan dengan tulus seraya tersenyum tipis & menganggukkan kepalanya.


"Hehehe iya sama-sama Om." Cengir Merlin sambil berlalu pergi.


"Jagain apanya, bikin tambah pusing iya." Gumam Khardha namun masih di dengar suaminya.


"Kamu tadi bilang apa Sayang?" Tanya Dokter Hasan sembari melangkahkan kakinya untuk


menghampiri istrinya.


"Bukan apa-apa Sayang, gak penting juga. Aku ikut ke pemakaman ya plis." Kilah Khardha sembari memohon kepada suaminya.


"Gak usah ya Sayang, tadi aku dengar kamu bilang masih pusing. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu & anak kita, bila kamu pingsan lagi disana." Ucap Dokter Hasan sembari mengusap kepala istrinya.


"Maksud kamu apa Sayang? Aku hamil?" Kaget Khardha dengan menunjuk kepada dirinya sendiri.


"Aku juga belum bisa memastikannya Sayang tapi setelah semuanya selesai, kita langsung periksa ke dokter kandungan ya." Jawab Dokter Hasan sembari mencium kening istrinya & memeluknya.


"Terserah kamu aja dech Sayang." Pasrah Khardha tidak ingin berdebat dengan suaminya yang terlihat sangat letih, sehabis membantu mengurus jenazah bapaknya.


"Ya udah kamu istirahat dulu ya Sayang. Aku mau mandi dulu, habis ini aku langsung ikut sholat fardu kipayah lalu ke pemakaman bapak." Kata Dokter Hasan sembari menyelimuti istrinya kemudian mengecup keningnya.


Dokter Hasan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan membawa handuk yang diletakkan dibahunya. Sedangkan Khardha kembali berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat, sebab sakit kepala yang di deritanya belum juga reda sejak tadi malam ketika dia mengatakan kepada suaminya, sampai akhirnya dia tidak sadarkan diri & tergeletak di dapur. Dia juga masih merasa seluruh badannya lemas tak berdaya untuk bangun sendiri, namun pikirannya terus bekerja memikirkan apa yang diucapkan suaminya tadi tentang kehamilannya. Karena tidak bisa tidur Khardha kembali membuka matanya, dia menatap langit-langit kamarnya dan bergumam dalam hatinya.


Ya Allah tolonglah hambamu ini, berikan kekuatan kepadaku agar bisa menjalani semua takdirMu. Doa Khardha dalam hatinya.


Tanpa disadarinya ternyata suaminya sudah masuk kembali kekamar. Dokter Hasan mengerutkan keningnya dengan sempurna ketika menatap kearah istrinya karena melihat Khardha yang belum juga tidur untuk beristirahat sesuai apa yang dianjurkannya.


"Apa yang kamu pikirin Sayang? Kenapa belum tidur juga?" Cecar Dokter Hasan sembari memakai pakaiannya.


"Aku lagi mikirin gimana jika aku beneran hamil Sayang, aku juga takut dengan perubahan yang aku alami nanti." Jawab Khardha dengan sendu menatap kearah suaminya.


"Sayang aku akan selalu ada buat kamu, untuk menemanimu menjalani proses kehamilanmu nanti, jadi kamu tenang aja ya. Aku akan selalu siap menjadi suami yang siaga, ya udah aku pergi dulu Sayang. Nanti aku telat untuk sholat fardhu kipayah dan ke pemakaman bapak. Assalamualaikum," ucap Dokter sembari berlalu pergi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Khardha sembari menghembuskan nafasnya dengan lega setelah mendengar kata-kata yang diucapkan suaminya.


*****


Setelah semua prosesi pemakaman selesai, semua orang pulang kembali kerumah masing-masing, termasuk Dokter Hasan & Bripka Gusti Hamidi kakaknya Khardha yang tampak sangat kotor sehabis ikut turun ke liang lahat. Mereka berdua terpaksa masuk kerumah lewat pintu belakang agar bisa langsung membersihkan diri kekamar mandi. Amey ibunya Merlin yang melihat mereka langsung mengambil kan handuk untuk keduanya. Seusai mandi bergantian Dokter Hasan masuk kembali ke dalam kamar untuk menemui istrinya. Dia terkejut mendapati Khardha yang sedang menangis sesenggukan.


Hiks.... hiks...hik....suara Khardha yang terisak di balik selimutnya.


"Kenapa kamu nangis Sayang?" Tanya Dokter Hasan sembari menyibak selimut yang dipakai istrinya.


"Aku...hiks.... hiks.....aku rindu dengan suara & pelukan bapak Sayang," Jawab Khardha dengan tangisannya.


Dokter Hasan langsung memeluk istrinya untuk menenangkannya walaupun belum sempat memakai bajunya. Sehingga membuat Khardha sangat menyukainya, sebab dia merasa rasa pusing & mualnya tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Kamu harus mengikhlaskan kepergian bapak untuk selamanya Sayang, sekarang kan udah ada aku yang gantiin bapak untuk jagain kamu." Ujarnya sembari membelai rambut istrinya.

__ADS_1


"Makasih ya Sayang kamu selalu ada buat aku."Ucap Khardha dengan menciumi aroma tubuh suaminya & menggesekkan hidungnya.


"Heyy sayang kamu gak biasa nya kayak gini?" Dokter Hasan melonggarkan pelukannya lalu menatap istrinya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Tiba-tiba hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, sehingga keringat kembali keluar dari pori-porinya karena ulah istrinya. Namun Khardha makin mengendus aroma


keringat yang muncul di tubuh suaminya.


"Hentikan Sayang! Jangan kayak gini aku bisa gak tahan nanti puasaku batal." Seru Dokter Hasan langsung melepaskan pelukannya lalu menjauhkan tubuhnya dari istrinya.


"Aku suka banget dengan aroma tubuh kamu Sayang, rasa mual & pusingku seperti nya


langsung hilang." Sahut Khardha dengan wajah tanpa dosa, padahal sudah membangunkan sesuatu yang ada dibawah sana.


"Hahhh...., kamu jangan bercanda Sayang?" Kaget Dokter Hasan dengan pengakuan istrinya hingga membuatnya melongo tidak percaya.


"Iya beneran aku gak bercanda Sayang, seandainya kamu gak puasa aku pengin


bercinta denganmu saat ini juga." Jawab Khardha dengan nada sangat menggoda bahkan tangannya langsung menarik handuk yang masih di pakai suaminya.


"Sayang kamu kok berubah jadi agresif gini sich?" Heran Dokter Hasan sembari menahan tangan istrinya agar handuknya tidak terlepas dari pinggangnya karena dia belum memakai apapun juga." Biasanya juga selalu aku yang minta jatah' sama kamu," ucapnya dengan menatap lekat istrinya seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku juga gak tau kenapa Sayang, tapi yang pasti aku ingin sekali kamu menyentuh aku saat ini juga.'' Ujar Khardha dengan tampang seriusnya.


"Sayang stop! Aku masih puasa sekarang kalau udah malam terserah kamu boleh minta apa aja aku ladenin." Sergah Dokter Hasan sembari menahan istrinya agar berhenti menggerayangi tubuhnya.


"Iya aku ngerti kok, tapi nanti malam kita bercinta ya." Ajak Khardha dengan mengedipkan satu matanya seraya tersenyum penuh arti, karena berhasil menjahili suaminya.


"I...i...iya Sayang." Gugup Dokter Hasan


karena masih bingung dengan perubahan istrinya.


"Sayang tolong lepasin jarum infus ya, aku udah kebelet pipis dari tadi." Pinta Khardha pada suaminya dengan nada manja.


"Iya Sayang sebentar aku pakai baju & celana dulu ya, aku takut khilaf bila harus dekat denganmu lagi." Jujur Dokter Hasan sembari beranjak mengambil pakaiannya sendiri.


Sesudah memakai pakaiannya, dia segera melepaskan jarum infus dari tangan istrinya dengan cekatan kemudian menempelkan plester di bekas jarumnya.


"Sudah Sayang, silahkan kalau kamu mau ke kamar mandi." Ucap Dokter Hasan sembari


mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Makasih ya Sayang !"Cup." Khardha mengecup sekilas bibir suaminya, kemudian dia beranjak keluar kamar menuju kamar mandi.


Bersambung....


Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya, semoga amal ibadah kita diterima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.


Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui,


Vote yang banyak


Like yang tiada henti


Komen yang membangun


Koin seikhlasnya

__ADS_1


Dari kalian semuanya yang sudah mau mampir ke novel aku ini.


Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit kalian semua ya, terimakasih. Salam sayang selalu dari author Khardha love.


__ADS_2