MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode #12 "Keinginan"


__ADS_3

Happy reading guys!


Ketika Dokter Hasan sampai di musholla dekat rumah mertuanya, dia melihat dari celah jendela yang diterangi cahaya rembulan, ternyata disana sudah ada kakak iparnya Bripka Gusti Hamidi, yang tidur di dalamnya.


"Assalamualaikum." Ucapnya dengan pelan & sangat hati-hati khawatir membangunkan kakak iparnya.


Tapi ternyata Bripka Gusti Hamidi,


langsung terjaga dari tidur nya, namun tidak sadar siapa yang ada di hadapannya, karena masih sangat mengantuk sebab dia baru sampai jam 02:00 pagi tadi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Siap ndan 86!" Serunya langsung bersikap hormat.


Dia mulai menajamkan penglihatannya karena tidur tidak menggunakan lampu penerangan sama sekali.


"Maafkan saya Kak karena sudah mengganggu tidur Kakak." Ucap Dokter Hasan sembari membungkukkan badannya.


"Kamu siapa?" Tanya Gusti karena masih menyesuaikan penglihatannya.


"Saya Hasan suaminya Khardha Kak." Jujurnya sembari duduk di hadapan kakak iparnya.


"Oh teryata kamu, aku kira komandan yang membangunkan ku.'' Ujar Gusti sembari menganggukkan kepalanya.


"Maafkan saya sekali lagi Kak, saya tidak bermaksud lancang mengganggu tidurnya Kakak." Ucap Dokter Hasan karena merasa sangat bersalah.


"Ah sudahlah tidak apa-apa, aku sudah biasa tidur cuma satu atau dua jam sehari, kamu mau sholat tahajjud kan silahkan lanjutkan." Sergah Gusti tidak mempermasalahkannya.


''Iya Kak, permisi ya," Dokter Hasan membungkukkan badannya ketika melewati kakak iparnya untuk maju kedepannya.


Lebih baik aku juga sholat saja daripada nanti kesiangan sahur & sholat shubuh." gumam Gusti sembari beranjak untuk berdiri dan melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu.


Dia segera melaksanakan sholat tahajjud nya dengan khusuk didalam musholla itu, karena disana sangat tenang & jauh dari keramaian ibukota propinsi Banjarmasin tempatnya tinggal.


Sementara itu di rumahnya Khardha yang awalnya ingin sholat tahajjud & ibadah lainnya, terpaksa membatalkannya, karena melihat semua orang sibuk didepannya. Dia paling tidak bisa membiarkan begitu saja tanpa membantu mereka, sebab Khardha memang tipe orang yang sangat perduli dengan lingkungan sekitarnya.


"Assalamualaikum semuanya." Sapanya


dengan ramah.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka semuanya serempak.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Khardha menawarkan dirinya sembari menghampiri mereka semua.


"Kamu siapkan piring, gelas & sendok saja dek." Sahut Amey mewakili semuanya.


"Baik Kak." Patuh Khardha langsung mengerjakan tugasnya.


Dia mengeluarkan semua piring, gelas & sendok dari lemari penyimpanan yang ada dirumah orang tuanya itu sembari mengelapnya dengan serbet.


"Kalau sudah selesai kamu tata semuanya


di ruang tengah, biar kita semua bisa sahur bareng." Perintah Amey lagi.


"Ok, siap Kak!" Seru Khardha sembari menata semuanya sesuai perintah kakaknya satu persatu dari ujung keujung.


Ketika asyik melakukan tugasnya Khardha dikejutkan oleh kedatangan suaminya & kakaknya yang langsung memberinya salam.


"Assalamualaikum!" Seru keduanya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha sembari menatap mereka berdua sekilas.


"Sayang mau aku bantuin," Tawar Dokter Hasan sembari mendekati istrinya.


"Silahkan Sayang, kalau kamu mau bantuin aku." Khardha meyerahkan sebagian piring gelas & sendok kepada suaminya.


"Sayang aku perhatiin muka kamu kok pucat banget? Kamu gak papa kan?" Cecar Dokter Hasan dengan menatap wajah istrinya secara intens.


Firasatnya mengatakan istrinya tidak dalam keadaan baik-baik saja, namun dia berusaha menepisnya.


"Aku juga gak tau Sayang, tapi yang jelas dari tadi kepala ku pusing banget." Jawab Khardha sembari menatap suaminya sekilas kemudian meneruskan apa yang dikerjakannya.

__ADS_1


"Kalau kamu sakit jangan memaksakan diri Sayang, aku gak mau kamu kenapa-napa." Lirihnya sembari mendekati istrinya.


Sebenarnya Dokter Hasan ingin sekali merangkul istrinya dalam pelukannya akan tetapi dia masih mempunyai rasa malu dilihat banyak orang, apalagi semua keluarga besar Khardha berkumpul disana dalam keadaan berduka.


"Inshaallah aku gak papa Sayang." Ucap Khardha sembari beranjak menuju dapur.


Dia kembali menawarkan dirinya


untuk membantu semua orang yang ada disana.


"Ada lagi yang bisa aku bantu?" Tanya Khardha sembari menunggu perintah apa yang akan ditugaskan kepadanya.


"Kamu ulek sambel terasi ini ya," perintah tante Reyna sembari menyodorkannya kedepan Khardha.


"Baik Tante!" Sahut Khardha langsung menerimanya.


Dia mulai mengulek cabenya sampai halus, dengan menutupi hidungnya, namun ketika mencium aroma terasi tiba-tiba dia berdiri & berlari masuk kekamar mandi, karena merasa sangat mual.


Hoek.....hoek.....hoek...Khardha memuntahkan seisi perutnya.


Setelah itu dia keluar dengan berjalan sempoyongan karena pandangan matanya sudah mulai gelap, hingga tanpa sadar dia terjatuh tepat di samping api kompor yang masih menyala, untungnya dia tidak terjatuh diatas kompornya. Sebab kompor


itu memang sudah ada disana sebelum Khardha datang kerumah orangtuanya. Amey ibunya Merlin lah yang sengaja meletakkannya di bawah untuk memudahkan memasak makanan dalam jumlah besar buat semua orang.


"Hasan tolongin istrimu Nak!" Seru Tante Sarah sembari menepuk pundak Dokter Hasan karena dia sangat panik melihat kondisi Khardha.


"Apa yang telah terjadi dengannya Tante?" Tanya Dokter Hasan sembari beranjak dari duduknya.


Sebab dia & Gusti kakak iparnya sedang mengaji bersama disamping jenazah bapak mertuanya.


"Dia pingsan di dapur Nak." Jawab Tante Sarah terlihat panik karena sangat mencemaskan kondisi keponakannya itu.


"Astagfirullah al azdim!" Kaget Dokter Hasan bergegas pergi melangkahkan kakinya menuju dapur.


Ketika sampai didapur dia langsung menggendong istrinya, kemudian membawanya masuk kedalam kamar. Dia juga membaringkannya diatas ranjang & segera memeriksa denyut nadinya.


Subhanallah denyut nadi istriku seperti ada dua tapi masih sangat lemah. Apa mungkin dia hamil? Perasaan dia belum pernah datang bulan selama kami menikah. Aku harus secepatnya membawanya periksa ke dokter kandungan, supaya aku bisa memastikannya." Batin Dokter Hasan dalam hati seraya mengulas senyum yang penuh makna karena sangat bahagia membayangkan semua itu benar-benar menjadi kenyataan.


Sayang jika kamu beneran hamil, aku akan lebih extra lagi menjagamu dan anak kita." Lirihnya sembari mencium kening istrinya cukup lama.


Hingga akhirnya terdengar ketukan pintu membuyarkan khayalan kebahagiaannya untuk mempunyai anak yang dikandung & dilahirkan istrinya nanti.


Tok....tok....tok....bunyi pintu diketuk dari luar.


"Om Dokter, Tante! Ayo cepat keluar kita sahur dulu!" Seru Merlin dengan suara cemprengnya.


"Iya sebentar!" Sahut Dokter Hasan sembari beranjak membuka pintu kamar.


Dengan terpaksa dia meninggalkan istrinya sendirian dikamar karena masih belum siuman.


"Loh Om, Tante Khardha Mana?" Tanya Merlin dengan mengerutkan keningnya.


Merlin tidak tahu bahwa Khardha sempat pingsan di dapur karena dia tidur bersama adiknya dikamar ibunya.


Dokter Hasan pun menjawab semua pertanyaan Merlin dengan singkat, padat dan jelas.


"Dia masih istirahat.


"Kenapa gak di bangunin Om?"


"Nanti dia pasti bangun sendiri."


"Keburu imsak dong Om?"


"Sebaiknya dia tidak usah puasa dulu."


"Loh kok gitu sich Om?"


"Kondisinya masih lemah."

__ADS_1


"Emangnya tante sakit apa Om?"


"Nanti kamu juga pasti akan tahu."


" Kok gitu sich jawabannya Om, bikin penasaran aja!" Cebik Merlin sembari memajukan bibirnya kedepan karena kesal mendengar jawaban Dokter Hasan.


"Ya sudah ayo kita makan sahur dulu!" Ajak Dokter Hasan sembari melangkahkan kakinya mendahului Merlin.


Semua orang sudah berkumpul untuk makan sahur bersama, dengan duduk lesehan di ruang tengah rumah orang tuanya


Kharda. Dokter Hasan akhinya ikut berbaur duduk diantara para laki-laki yang kebetulan sekali bersebelahan dengan kakak iparnya Bripka Gusti Hamidi.


"Hasan aku liat kamu keluar kamar cuma sendiri aja, mana Rara?" Tanya Gusti sembari mengambil nasi, sayur & lauk-pauk memasukkan kedalam piringnya.


"Dia sakit Kak." Jawab Dokter Hasan seraya tersenyum.


"Sakit apa dia? Perasaan tadi waktu kita pulang dari musholla dia baik-baik aja?" Cecar Gusti sembari mengerutkan keningnya.


"Aku belum bisa memastikannya Kak." Sahut Dokter Hasan mulai menyendok makanan yang ada didepannya.


Setelah semua orang selesai makan sahur begitu juga dengan Dokter Hasan yang telah membantu membereskan piring dan gelas yang kotor. Dia kembali masuk ke dalam kamar untuk mencek keadaan istrinya. Ternyata Khardha sudah membuka matanya, namun dia belum bisa bangun sendiri karena masih merasa pusing & lemas.


Dokter Hasan langsung menghampiri istrinya kemudian duduk di pinggir ranjang.


"Sayang lebih baik kamu gak usah puasa dulu ya, kamu juga belum fit kan." Ucap Dokter Hasan sembari mengusap kepala istrinya.


"Iya sayang, kepala ku juga masih pusing banget," sahut Khardha sembari memegangi kepalanya.


"Kamu gak usah ikut ke pemakaman bapak ya, aku gak mau kamu pingsan lagi nanti Sayang." Lirihnya sembari mencium kening istrinya.


"Tapi aku ingin mengantarkan jenazah bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya." Ucap Khardha dengan raut wajah sendu.


"Gak usah memaksakan diri bila kamu masih belum kuat Sayang. Aku gak mau kamu kenapa-napa." Ujarnya sembari menatap lekat manik mata istrinya dengan tatapan penuh cinta.


Aku gak mau terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan dengan kamu & anak kita bila benaran kamu hamil sayang, batinnya.


"Baiklah Sayang, aku akan menuruti apa yang kamu katakan." Patuh Khardha seraya


memejamkan matanya merasakan belain lembut suaminya yang mengusap kepalanya.


Maafin aku yang selalu membuatmu khawatir Sayang," gumam Khardha dalam hatinya.


Yang ku mau ada dirimu


Tapi tak begini keadaannya


Yang mau selalu denganmu


Jika Tuhan mau begini


Rubahlah semua jadi yang kumau


Karena ku ingin semua berjalan


Seperti yang kumau


Bersambung....


Assalamualaikum. Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya, semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.


Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui,


Vote yang banyak


Like yang tiada henti


Komen yang membangun


Koin seikhlas nya

__ADS_1


Dari kalian semuanya yang sudah mau mampir ke karya author ini, semoga selalu bisa jadi bacaan favorit kalian semuanya ya.


Terimakasih salam sayang selalu dari author Khardha love.


__ADS_2