
Happy reading guys!
Semua orang yang ada di rumah itu sudah selesai menyantap makan sahurnya. Tinggallah sepasang suami istri yang belum menyentuh makanannya sama sekali, mereka berdua ada di dalam kamar karena Dokter Hasan masih berusaha membujuk istrinya yang merajuk kepadanya. Dia mulai semakin memangkas jarak antara keduanya untuk mencium bibir ranum istrinya yang selalu menjadi candu untuknya. Ciuman lembut namun tidak menuntut hanya sekedar mengungkapkan betapa cinta dan sayangnya dia kepada kekasih halalnya itu. Semua itu sengaja dia lakukan untuk meredam emosi yang terlanjur bergelayut di hati sang istri.
"Minumlah susunya Sayang, mumpung masih hangat agar mamah dan baby nya gak kedinginan." Pintanya dengan memberikan gelas berisi susu ibu hamil ke tangan istrinya.
Khardha langsung menerimanya lalu meminumnya sampai habis. Dokter Hasan tersenyum sambil mengacak-acak rambut istrinya dengan gemasnya.
"Sekarang ikut aku makan sahur ya Sayang, kamu cukup duduk disampingku untuk menemaniku." Ajaknya dengan mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri.
"Ok Sayang, tungguin sebentar ya aku mau pakai baju dulu." Khardha langsung membuka lemari pakaiannya untuk mencari baju yang hendak di kenakannya.
"Ingat Sayang jangan pakai baju yang terbuka ya, aku gak mau kamu nanti masuk angin, apalagi sampai membangunkan king cobra yang sudah mulai tertidur" Ujarnya sembari mengedipkan sebelah matanya ketika menatap pantulan istrinya dibalik cermin.
"Gak usah omes katanya mau puasa!" Ketus Khardha dengan mendelik kepada suaminya yang suka menggodanya.
"Mesum sama istri sendiri kan gak salah Sayang, bahkan wajib malah biar rumah tangga kita selalu harmonis." Sahutnya dengan memeluk istrinya dari belakang sembari menciumi pipinya.
Khardha yang sudah selesai memakai bajunya hanya memutar bola matanya malas menanggapi kembali ocehan suaminya. Sebab dia sudah sangat memahami sifat laki-laki yang berhasil merebut hatinya itu selalu saja ada alasannya untuk membela diri.
"Udah yuk kita keluar aja nanti keburu imsak. Kalau kelamaan di sini justru bikin aku gak tahan untuk gak menyentuhmu lagi Sayang." Ujarnya sembari menggandeng tangan istrinya menuju ke meja makan.
Sesampainya disana dia menarik kursi untuknya juga istrinya lalu duduk berdampingan, dia menaruh nasi dan lauk-pauk diatas piringnya tanpa menunggu sang istri melayaninya.
"Kamu juga harus makan ya Sayang, buka mulutnya aaa..." Dokter Hasan mengarahkan sendok berisi makanan kemulut istrinya.
Khardha menutup rapat mulut sambil menggelengkan kepalanya, namun suaminya tetap memaksanya untuk makan dengan memasukkannya lewat mulutnya langsung hingga mau tidak mau dia menelan makanannya. Baru saja satu suapan masuk ke perutnya Khardha tiba-tiba merasa mual yang tidak bisa ditahannya lagi, dia berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkannya.
Hoek....hoek...hoek....Khardha mengeluarkan isi perutnya melalui mulutnya.
Dengan cepat Dokter Hasan menghabiskan
makanannya dan segera menghampiri istrinya kekamar mandi.
"Maafin aku ya Sayang karena udah maksain kamu makan, aku cuma gak mau kamu sama anak kita kelaparan." Ucapnya sembari memijat tengkuk istrinya dengan lembut.
Khardha hanya diam tidak ingin menanggapi ucapan suaminya, dia mencuci mulutnya setelah merasa tidak ada lagi yang hendak dimuntahkannya. Dia melangkahkan kakinya keluar dari sana dengan berjalan sempoyongan karena tiba-tiba pandangannya mulai mengabur badannya juga terasa sangat lemas. Dokter Hasan yang mengikuti istrinya dari belakang dengan sigap menggendongnya masuk kedalam kamar lalu membaringkannya diatas ranjang kemudian menyelimutinya.
"Sebaiknya kamu gak usah puasa dulu ya Sayang, aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa. Lagian ibu hamil diperbolehkan kok gak puasa jika membahayakan dia dan anak yang dikandungnya." Ujarnya sembari mengusap kepala istrinya dan mengelus perutnya yang masih rata.
Khardha hanya memejamkan matanya terdiam membisu tanpa suara mendengarkan nasehat suaminya. Walaupun dalam hati dia tetap berniat untuk berpuasa karena baginya puasa ataupun tidak berpuasa sama saja. Semua itu disebabkan morning sicknees yang dirasakannya ketika menjalani awal kehamilannya. Dia tidak bisa memakan apa-apa walaupun cuma sedikit, semuanya hanya numpang lewat saja di indera pengecapnya kemudian pasti akan dikeluarkannya lagi.
"Istirahatlah Sayang, nanti kalau udah waktunya sholat subuh aku bangunin ya." Ucap Dokter Hasan sembari mencium kening istrinya dengan penuh cinta lalu beranjak membuka pintu kamarnya.
Dia tertegun melihat mertuanya ada dibalik pintu, namun sebelum dia bersuara bu Hana langsung bertanya kepadanya.
"Gimana kondisi Khardha nak, tadi ibu dengar dia muntah-muntah dikamar mandi. Apa dia sakit? Tanya bu Hana menyampaikan maksudnya ingin mengetuk pintu kamar anaknya karena sangat mencemaskan keadaan anak bungsunya itu.
"Inshaallah dia akan baik-baik saja Bu, mungkin cuma mabuk karena bawaan hamil." Jawabnya berusaha menenangkan mertuanya padahal dia sendiri sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Khardha hamil!" Kaget bu Hana sembari membulatkan matanya dengan sempurna.
''Iya Bu." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum melihat reaksi mertuanya yang sangat terkejut mendengar kabar kehamilan istrinya.
"Alhamdulilah semoga kehamilannya lancar sampai lahirannya nanti ya nak." Doa tulus seorang ibu yang ikut bahagia merasakan kebahagiaan anak menantunya.
"Aamiin Allahumma aamiin, makasih atas doanya Bu, permisi saya mau wudhu dulu." Pamitnya sembari membungkukkan sedikit badannya untuk lewat didepan mertuanya.
"Iya silahkan nak." Bu Hana menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari depan pintu memberi jalan untuk menantunya itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar kumandang suara azan dari speaker musholla dekat rumah orangtuanya Khardha. Dokter Hasan yang telah selesai berwudhu kembali masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Sayang sudah azan aku pergi ke musholla dulu ya," pamitnya sambil memakai baju, sarung juga pecinya." Kalau kamu masih lemas sholat sambil baring aja Sayang dengan tayamum juga bisa kok, atau kamu tungguin aku sebentar nanti aku usahain buat pulang secepatnya." Ujarnya sembari melangkahkan kakinya memegangi gagang pintu.
Dia menolehkan kepalanya untuk melihat kembali kearah istrinya yang terbaring diatas ranjang dengan perasaan was-was karena tidak ada respon dari wanita kesayangannya itu.
Kenapa istriku gak bergerak sama sekali ya? Apa karena dia udah tidur? Biarlah dia istirahat sebentar lagi nanti sepulang dari musholla baru aku bangunin." Gumamnya dalam hati.
Dokter Hasan segera berjalan kembali menuju musholla untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Sedangkan Khardha sendiri ternyata bukan hanya terlelap dalam buaian mimpi indahnya akan tetapi dia sudah tidak sadarkan diri semenjak ditinggalkan suaminya berwudhu tadi karena daya tahan tubuhnya yang semakin melemah akibat belum makan nasi selama dua hari dan muntah-muntah tadi juga menambah buruk kondisinya.
Sesampainya di musholla Dokter Hasan berusaha khusuk mengikuti sholat subuh berjamaah namun ketika selesai salam dia kembali teringat akan keadaan istrinya. Dia langsung mengangkat kedua tangannya untuk mendoakan wanita yang sangat dicintainya itu.
Ya Allah berikan kekuatan kepada istriku untuk melewati semua proses kehamilannya, berikan kesabaran yang tak terbatas kepadaku untuk menghadapi semua ngidam anehnya. Berikan kesehatan lahir batin kepadanya dan juga buah cinta kami yang ada didalam rahimnya. Aamiin ya robbal alamin.
Seusai berdoa dia segera pulang mendahului yang lain karena dia benar-benar
tidak tenang memikirkan kondisi istrinya.
"Assalamualaikum," ucapnya setelah sampai didepan pintu masuk rumah mertuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Merlin dan ibunya yang juga baru selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Dia bergegas masuk kedalam rumah dengan sangat tergesa-gesa agar bisa secepatnya menemui istrinya yang sangat dikhawatirkannya itu.
"Kenapa Om Dokter kayaknya buru-buru banget ya Ma?" Tanya Merlin yang memperhatikan kedatangan suami tantenya itu.
"Mama juga gak tau Merlin. Mungkin aja dia kelupaan tentang sesuatu yang sangat penting." Jawab kak Amey menduga-duga.
Setelah masuk kedalam kamarnya Dokter Hasan langsung menghampiri istrinya untuk membangunkannya.
"Sayang bangun Sayang, kamu udah sholat subuh belum?" Dokter Hasan menepuk pipi istrinya dengan lembut.
"Astagfirullah al azdim, Sayang kamu demam!" Kagetnya sembari beranjak membuka pintu untuk minta tolong kepada orang yang ada dirumah.
Dia melihat Merlin sedang asyik memainkan handphonenya dengan duduk bersila di atas sofa.
"Merlin tolong ambilkan handuk kecil serta baskom berisi air untuk mengompres tantemu ya." Pintanya dengan wajah cemasnya yang tidak bisa disembunyikannya.
"Ok Om, siap laksanakan!" Seru Merlin sambil bergegas beranjak melakukan apa yang di perintahkan kepadanya.
Kak Amey bersama bu Hana mengikuti Merlin yang membawa handuk kecil dan baskom berisi air kedalam kamar Khardha dan Dokter Hasan.
Tok...tok...tok...pintu diketuk dari luar.
Ceklik...Dokter Hasan membukakan pintu kamarnya.
Mereka semua masuk kedalam untuk melihat kondisi Khardha. Dokter Hasan langsung mengambil semua yang dibawa Merlin untuk mengompres istrinya secepatnya.
"Kenapa Khardha sampai sakit kayak gini Hasan? Tadi kamu bilang sama ibu dia baik-baik aja." Bu Hana meninggikan intonasi suaranya karena sangat mencemaskan anaknya.
"Saya juga gak tau Bu, tadi sebelum saya tinggalkan ke musholla dia kelihatannya baik-baik saja. Saya baru tahu dia demam tinggi ketika berusaha membangunkannya." Jelasnya agar tidak salah paham.
Dokter Hasan berusaha menyembunyikan kesedihan dengan mengusap wajahnya beberapa kali dengan kasar.
"Gimana kalau sampai siang suhu tubuhnya belum turun juga Hasan? Apa yang harus kita lakukan? Tanya bu Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Terpaksa saya harus membawanya ke rumah sakit Bu." Lirihnya dengan menatap wajah istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
"Jangan sampai Khardha di bawa ke rumah sakit nak, kasian dia dalam keadaan hamil kalau harus opname, usahakan semaksimal mungkin agar kita rawat di rumah ini saja, kami akan siap membantu apapun untuk kesembuhannya." Ujar bu Hana dengan mengusap bahu menantunya.
__ADS_1
"Saya pasti akan memberikan yang terbaik untuk kesembuhannya Bu, kalian semua bantu doa saja agar dia cepat sembuh." Sahutnya sembari memasang infus ditangan istrinya.
Aku gak bisa memberikan sembarang obat untukmu Sayang, karena aku takut akan membahayakan kandunganmu."Gumamnya dalam hati sembari mengelus kepala juga perut istrinya setelah selesai memasang infusnya.
"Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua nak." Ucap Bu Hana dengan menatap kearah anak dan menantunya bergantian.
"Iya Hasan kami selalu mendukungmu supaya bisa menjadi suami yang terbaik untuk Khardha dan calon anak kalian yang dikandungnya sekarang." Kak Amey ikut menimpali untuk mensupport adik iparnya yang tampak galau itu.
"Benar banget Om, apa yang dikatakan Mama." Merlin juga membuka suaranya.
"Terimakasih banyak semuanya." Ucap Dokter Hasan merasa sangat terharu dengan dukungan dan kepedulian ibu mertua, kakak ipar juga keponakannya itu." Maaf bisakah kalian tinggalkan kami berdua
saja sekarang, saya juga mau istirahat." Pintanya dengan sangat sopan.
"Baiklah Hasan kalau perlu apa-apa segera panggil kami ya, jangan sungkan untuk minta bantuan karena kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini." Ucap Amey seraya mengulas senyum penuh makna.
"Iya Kak terimakasih ya atas semuanya." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya.
Bu Hana, Kak Amey dan Merlin akhirnya melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar meninggalkan Dokter Hasan dengan istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
"Sayang aku hanya ingin kamu tau cintaku padamu bukan hanya karena nafsu semata.
Aku mencintaimu karena Allah yang sudah menjadikanmu bagian dari tulang rusukku.
Jadi aku mohon bangunlah dan sembuhlah Sayang. Kamu dan calon anak kita yang ada dirahimmu sekarang adalah duniaku, sebagai sumber kebahagiaan dalam hidupku. Berjuanglah dan bertahanlah demi anak kita Sayang." Bisiknya ditelinga istrinya.
Dokter Hasan menggenggam jemari tangan istrinya dengan erat sembari menciumi punggung tangannya. Dia juga membiarkan butiran bening yang sejak tadi dibendungnya mengalir begitu saja dipipinya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Menangis bukan berarti cengeng namun itu pertanda emosi yang tertahan harus tercurahkan untuk mengurangi beban yang sangat menyesakkan.
Bangkitlah hai sayangku
Sembuhlah sayang
Deritamu, deritaku bangunlah sayang
Bersinarlah matahariku
Terangilah kembali hidupku
Tanpa kamu duniaku berduka
Terlukis dihatiku yang lara
Aku merindukan tertawa bersamamu
bersenda gurau denganmu sayangku
Bersambung....
Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala. Aamiin ya robbal alamin.
Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koinnya.
Dari kalian semuanya yang sudah mau mampir ke novel ku ini. Jangan lupa jadikan favorit kalian juga dengan mengklik tombol hati ditempatnya.
Semoga juga selalu bisa jadi bacaan yang menarik untuk kalian semuanya ya, terimakasih salam sayang dari author Khardha Love.
__ADS_1