
Happy reading guys!
Sepulang dari pasar terapung dengan membawa banyak belanjaan berupa buah-buahan segar yang sangat disukai Khardha untuk membuat jus & Dokter Selvi yang lagi ngidam mereka memutuskan untuk langsung ke rumah sakit.
"Kita langsung ke rumah sakit aja ya, aku ada jadwal operasi pagi ini." Ucap Dokter Hasan sembari mengemudikan mobilnya.
"Terus aku gimana Sayang? Apa aku pulang sendiri aja naik taksi?" Khardha meminta pendapat suaminya.
"Kamu ikut aku aja ke rumah sakit Sayang, aku gak izinin kamu pulang sendiri, diluar itu bahaya buat kamu, aku yakin Hendrik dan anak buahnya selalu mengintai keberadaanmu." Jawab Dokter Hasan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan karena fokus dengan kemudinya.
Khardha terdiam mendengarkan jawaban suaminya yang mengingatkannya kembali tentang Hendrik Choi yang pernah menculiknya. Dia sudah berusaha keras melupakan peristiwa itu namun ternyata suaminya sendiri yang mengungkitnya kembali. Untuk menutupi rasa gundahnya Khardha mengalihkan pandangannya kearah luar melalui kaca jendela mobil yang ada disampingnya.
Dokter Wahyu & Dokter Selvi yang ada di jok belakang hanya bisa saling pandang tidak ingin mencampuri urusan sahabatnya itu. Sebab mereka tahu pasti peristiwa itu sangat sensitif dan sangat membekas di hati Dokter Hasan juga Khardha sendiri tentunya.
Setibanya di area parkiran rumah sakit Dokter Hasan menyuruh kedua sahabatnya untuk turun terlebih dulu.
"Kalian turun duluan aku mau bicara sebentar dengan istriku." Ucap Dokter Hasan dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Baiklah kami juga tidak mau mengganggu kalian berdua, ayo Beb kita tinggalin mereka." Ajak Dokter Wahyu sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Setelah kepergian kedua sahabatnya Dokter Hasan langsung melepaskan sabuk pengamannya & juga yang dipakai istrinya.
"Maafin aku Sayang, aku cuma mau melindungimu, aku sangat khawatir dengan keselamatanmu bila kamu harus pergi sendiri, aku gak mau kehilangan kamu lagi." Ucap Dokter Hasan sembari merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Aku ngerti Sayang, tapi apa yang harus aku lakuin kalau ikut kamu ke rumah sakit?" Tanya Khardha dengan polosnya.
"Kamu gak usah melakukan apa-apa Sayang cukup aku yang bekerja, kamu tungguin aku diruanganku aja, disana kamu bisa istirahat dan melakukan apapun sesukamu." Sahut Dokter Hasan sembari melepaskan pelukannya lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Ok Sayang kalau itu yang kamu mau." Patuh Khardha sembari menerima uluran tangan suaminya.
Mereka berdua akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan menjadi pusat perhatian semua orang, sebab Dokter Hasan yang selalu terlihat dingin sekarang justru menggandeng tangan istrinya dengan sangat mesra seakan tidak mau melepaskannya.
"Halo Dokter Hasan gandengan terus kayak mau nyebrang aja!" Sapa Dokter Jasmine seraya tersenyum & mengedipkan sebelah matanya.
Dokter Hasan hanya menganggukkan kepalanya namun tidak membalas senyumnya. Khardha mengerutkan keningnya melihat reaksi suaminya yang terkesan sangat cuek dengan lingkungan sekitarnya, terutama ketika berpapasan dengan Dokter Jasmine barusan, namun dia tidak mau membahasnya dan berusaha memakluminya. Sesampainya di ruangannya Dokter Hasan mendudukkan istrinya di kursi yang biasa didudukinya.
"Sayang aku mau sholat dhuha sebentar habis itu aku langsung ke ruang operasi, jadi kamu tetap disini jangan kemana-mana ya. Tapi sebelumnya berikan aku morning kiss dulu sebagai booster agar aku selalu semangat untuk bekerja." Pintanya dengan menarik tangan istrinya untuk berdiri lalu menariknya kembali kepangkuannya. Dia langsung menyatukan bibirnya dengan lembut dan tangan yang tidak bisa dikondisikan ditempatnya, hingga ada suara ketukan pintu dari luar barulah dia melepaskannya.
__ADS_1
Tok...tok...tok...bunyi ketukan pintu kembali terdengar.
"Makasih Sayang atas semuanya." Ucapnya sembari mengecup kening istrinya kemudian beranjak membuka kunci pintu masuk ruangannya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya lalu merapikan pakaiannya yang berantakan akibat ulah suaminya.
Ceklik...pintu telah terbuka.
"Ada apa?" Dokter Hasan kembali menunjukkan wajah datarnya kepada orang yang ada didepannya, sangat jauh berbeda ketika berduaan dengan istrinya.
"Saya hanya ingin memberitahukan jadwal operasi setengah jam lagi Dokter, semuanya sudah siap tinggal menunggu kedatangan anda saja." Jawab perawat yang bernama Lisa.
"Ok, saya akan segera kesana." Dokter Hasan tetap memasang wajah datarnya.
"Permisi Dokter." Pamit Lisa dengan menundukkan kepalanya.
Setelah Lisa berlalu Dokter Hasan kembali menutup pintu ruangannya dan segera masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya, berwudhu juga melaksanakan sholat dhuha. Baru dia memakai baju khas untuk operasinya.
"Aku tinggal dulu ya Sayang, ingat kamu jangan pergi kemana-mana sendirian tanpa aku." Ujarnya dengan menekankan kata-katanya.
"Iya Sayang kamu gak usah khawatir aku akan mematuhi semua apa yang kamu katakan." Sahut Khardha sembari mendorong suaminya yang sudah ada didepan pintu agar segera melakukan tugasnya.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha sembari menutup pintu & menguncinya sesuai intrusi dari laki-laki yang mampu merebut hatinya itu.
Khardha langsung masuk kekamar mandi untuk buang air kecil, berwudhu dan sholat dhuha. Seusai sholat dia kembali duduk dikursi yang didudukinya tadi sambil memainkan smartphonenya. Dia bermain hampir menjelang tengah hari dengan benda pintarnya itu, hingga akhirnya rasa kantuk menderanya dan diapun tertidur dengan posisi seperti itu.
*****
Ditempat lain Hendrik yang selalu memantau keberadaan Khardha lewat anak buahnya, telah mengetahui dimana posisi Khardha sekarang. Dia langsung mendapatkan ide untuk menyamar sebagai Dokter agar bisa menemui Khardha dirumah sakit.
Entah bagaimana caranya tiba-tiba dia bisa masuk kedalam ruangan Dokter Hasan dan memandangi wajah Khardha yang sedang terlelap dalam dunia mimpinya.
Kamu selalu cantik Khardha dalam keadaan apapun, hingga membuat siapapun selalu betah memandangi wajahmu yang baby face ini," gumamnya dalam hati seraya tersenyum penuh arti.
Ceklik...suara pintu masuk dibuka dari luar. Namun Hendrik tidak menyadarinya karena terlalu asyik memandangi wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Kenapa pintunya gak dikunci? Apa istriku lupa menguncinya?" Dokter Hasan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kamu!" Dokter Hasan sangat terkejut mendapati kehadiran Hendrik didalam ruangannya & menatap istrinya dengan intens.
Hendrik juga ikut terkejut menyaksikan Dokter Hasan yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.
"Kenapa kamu bisa masuk kedalam ruanganku?" Teriak Dokter Hasan dengan menunjuk wajah Hendrik yang langsung berdiri dihadapannya.
"Itu perkara mudah bagiku." Jawab Hendrik dengan tersenyum smirk.
"Cepat pergi sebelum kupanggil pihak keamanan untuk menyeretmu dari sini!" Tegas Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Tantang Hendrik dengan berjalan semakin mendekati Dokter Hasan yang langsung terpojok di pintu masuk.
Khardha yang mendengar keributan langsung membuka matanya. Dia terperanjat kaget menyaksikan pemandangan yang ada didepannya, sebab Hendrik sudah menodongkan pistol di kepala Dokter Hasan dan siap menarik pelatuknya.
"Hentikan!" Pekik Khardha sambil berlari kearah kedua laki-laki itu.
"Khardha ternyata kamu sudah bangun Sayang, ucapkan selamat tinggal pada suami Dokter ******mu ini." Sinis Hendrik dengan nada ketusnya.
"Aku mohon Kak Hendrik jangan lakukan itu." Lirih Khardha dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa kamu harus memohon hanya untuk suami lemah seperti dia, hahh! Seharusnya kamu ikut aku! Menikah denganku!" Bukan dengan dia!" Bentak Hendrik dengan geramnya sambil menatap tajam kearah Khardha.
"Maaf Kak aku gak bisa memberikan apa yang Kak Hendrik mau," ucap Khardha dengan mata berkaca-kaca untuk mengalihkan perhatian Hendrik.
Hendrik sangat marah mendengar apa yang diucapkan Khardha sehingga membuatnya semakin tersulut emosi yang meledak-ledak karena tidak terima wanita yang sangat dicintainya justru mencintai orang lain. Khardha berjalan perlahan semakin mendekati Hendrik yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Tiba-tiba Dokter Hasan menepis tangan Hendrik yang memegangi pistolnya dan terdengar bunyi tembakan.
Dor....pistol mengenai salah satu diantara mereka.
"Sayangggggg.....!" Teriaknya dengan sangat lantang dan langsung berlari menghampiri orang yang sangat dicintainya itu.
Kira-kira siapa yang tertembak ya?
Ayo tebak teman-teman, menurut kalian siapa?
Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf ya teman-teman jika selalu telat up, maklumi aja ya ibu rumah tangga yang selalu merangkap jadi apa saja dirumah.
Jangan lupa tinggalkan jejak & dukungan kalian melalui vote, like, komennya ya.