
Happy reading guys!
"Astagfirullah al azdim Pak Polisi! Maaf saya tidak menyangka Anda yang menarik tangan saya, sebenarnya sedari tadi saya sudah berusaha menemui Anda dan Tuan Dokter. "Kaget bi Tutik & memberikan alasannya setelah dibawa Bripka Gusti Hamidi kesebuah restoran yang ada di swalayan itu.
Bripka Gusti Hamidi kemudian menarik kursi yang ada di meja makan restoran itu & mendudukinya seraya menaruh tangannya diatas meja, dia memperhatikan bi Tutik yang ada didepannya dari atas kebawah dengan tatapan penuh curiga.
"Kenapa hanya berdiri disitu?" Bripka Gusti Hamidi mengerutkan keningnya ketika memperhatikan gerak-gerik bi Tutik yang tampak tidak tenang seraya melihat ke sekelilingnya.
"Saya takut Pak Polisi," jawab bi Tutik sambil menundukkan kepalanya.
"Takut sama saya?" Bripka Gusti menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Tidak Pak Polisi, saya takut kepada anak buah Tuan Hendrik Choi yang menunggu saya didepan swalayan ini." Jujur bi Tutik masih dengan perasaan khawatirnya.
"Bibi tenang saja mereka tidak mungkin berani berbuat macam-macam ditempat keramaian seperti ini, duduklah!" Perintahnya dengan menunjuk kursi yang ada dihadapannya lewat mata & dagunya.
Setelah itu dia mengambil handphonenya yang ada di saku celananya untuk menghubungi Dokter Hasan agar datang menemuinya di restoran itu.
Tut...tut...tut...telepon tersambung.
📱"Assalamualaikum Hasan, temui aku di restoran fish and chips yang ada di swalayan dekat hotel Bohemian chic hotel.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ok, ini aku lagi otw kesana Kak!" Jawab Dokter Hasan dari seberang telepon sebab dia sudah sampai di depan hotel.
📱"Ya udah aku tutup dulu teleponnya, sekalian kita makan malam disini, assalamualaikum." Bripka Gusti Hamidi mengakhiri panggilannya.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Dokter Hasan membalas salam kakak iparnya itu sambil melangkahkan kakinya menuju restoran yang ada di swalayan tepat diseberang hotel tempat dia turun dari taksi tadi.
Tidak lama kemudian Dokter Hasan sampai di restoran, dia mengedarkan pandangannya keseluruh meja restoran untuk mencari keberadaan kakak iparnya, setelah matanya menemukan orang yang dicarinya dia langsung menghampirinya & duduk berhadapan dengannya disamping bi Tutik yang masih menampakkan ekspresi kecemasannya.
"Mau pesan apa?" Tanya waiters seraya menyerahkan buku menu kepada mereka bertiga.
__ADS_1
"Silahkan mau pesan apa saja, kali ini aku yang traktir," ucap Bripka Gusti seraya menyodorkan buku menu yang di bawa pelayan restoran.
"Maaf saya tidak bisa terlalu lama disini Pak Polisi & Tuan Dokter, sebab Tuan Hendrik Choi pasti mencari saya kalau sudah sampai kerumah untuk membantunya merawat Non Khardha." Jelas bi Tutik menolak tawaran Bripka Gusti Hamidi.
Dokter Hasan yang mendengar ucapan dari mulut bi Tutik langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Kalau bi Tutik ingin saya maafkan, tolong berikan obat tidur ini di makanan atau minuman yang Bibi buatkan untuk Hendrik dan anak buahnya. Letakkan kamera kecil ini di kamar yang ditempati istriku, pastikan tidak terlihat oleh siapapun, sebab kami akan memantaunya 24jam. Bibi sudah mengertikan apa yang harus Bibi kerjakan? Jangan lupa hubungi nomerku secepatnya bila ada sesuatu yang penting." Ucap Dokter Hasan dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Baik Tuan Dokter saya sudah paham semua yang harus saya lakukan, saya permisi dulu Pak Polisi assalamualaikum." Pamitnya kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Sesudah memesan makanan yang cukup terkenal di restoran itu Dokter Hasan & Bripka Gusti Hamidi menyantap makan malam mereka tanpa suara lagi hanya ada suara sendok & garpu yang saling beradu.
Setelah selesai makan mereka pergi ke hotel diseberang jalan untuk melakukan check in disana, kebetulan kamar dihotel yang mereka tempati sekarang ini memiliki kaca tembus pandang keluar dengan pemandangan kota Singapura yang sangat indah di malam hari maupun siang harinya. Namun semua keindahan itu tidak menarik perhatian seorang Dokter Hasan yang masih di rundung nestapa karena tidak bisa menyelamatkan istrinya dari cengkraman Hendrik Choi. Berbeda dengan Bripka Gusti Hamidi yang berdiri di dekat kaca sambil menikmati pemandangan yang ada di sana sambil memikirkan rencana berikutnya untuk menyelamatkan adiknya.
Dokter Hasan menghempaskan tubuhnya di sofa kamar hotel itu seraya menaruh tangannya diatas dahinya.
"Hasan sebenarnya apa rencanamu ketika memberikan kamera tadi kepada bi Tutik?" Bripka Gusti Hamidi mendudukkan pantatnya di sofa tunggal yang ada di samping kanan Dokter Hasan.
"Aku hanya ingin memandang wajah istriku setiap saat Kak, terutama memantau keadaannya disana, apa saja yang akan dilakukan Hendrik kepadanya ketika dia bangun ataupun tidur. Sebab aku benar-benar tidak rela jika sampai Hendrik menyentuh istriku." Jujurnya sambil terus memejamkan matanya.
"Ohh jadi itu alasannya, ternyata kamu benar-benar seorang suami posesif & over protektif ya pada Rara, pantas saja adikku selama ini semakin bertambah manja kepadamu, ternyata kamu juga yang selalu memanjakannya." Ucap Bripka Gusti sambil tersenyum.
"Itukan aku lakukan hanya untuk melindunginya Kak, tidak ada yang salah kan?" Dokter Hasan membuka matanya kemudian bangun & duduk mengambil smartphonenya di saku celananya yang terasa bergetar. Dia menerima pesan dari bi Tutik yang mengabarkan bahwa kamera itu sudah di letakkanya di vas bunga yang ada diatas meja nakas disamping ranjang yang di tempati Khardha.
Dokter Hasan akhirnya tersenyum menatap wajah istrinya yang tampak tertidur dengan posisi menghadap ke arah kamera.
Sayang aku ingin sekali tidur sambil memelukmu dan menyalurkan semua rasa rinduku kepadamu, batinnya sambil mengusap layar smartphonenya.
Bripka Gusti yang ikut menengok ke layar hp adik iparnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Flashback on
Setelah Hendrik memastikan Khardha sudah baik-baik saja kepada Dokter Katrin Handayani yang merawatnya di rumah sakit E, dia juga menyuruh perawat yang ada disana memasukkan obat tidur di infus yang masih terpasang di tangan Khardha, agar dia bisa dengan mudah menggendong tubuh Khardha tanpa perlawanan dari ruang rawat sampai parkiran mobil sport nya, kemudia dia meletakkan Khardha di kursi penumpang yang ada disampingnya. Sepanjang jalan dia terus memegangi tangan Khardha yang tertidur karena efek obat.
Sesampainya di rumah Hendrik memanggil nama bi Tutik agar segera membukakan pintu kamar yang sudah disiapkan untuk Khardha. Namun dia tidak menemukan sosok bi Tutik dimanapun, dengan terpaksa dia menyuruh pembantu wanita yang lain untuk membukakan pintu & menggantikan baju rumah sakit yang masih di melekat di tubuh Khardha, setelah dia membaringkannya diatas ranjang mewah berbentuk classic berwarna gold dengan sprei warna merah hati juga dekorasi dinding yang berwarna merah pula sesuai warna kesukaan Khardha.
Satu jam kemudian bi Tutik pulang dengan membawa belanjaannya. Hendrik yang menunggunya sedari tadi sambil duduk disofa ruang tamunya menatap tajam kearahnya kemudian bertanya sambil berdiri & melipat kedua tangannya diatas dada.
"Bibi darimana saja? Kenapa baru pulang sekarang? Padahal seharusnya Bibi menyambut kedatanganku bersama Khardha dirumah!" Seru Hendrik dengan intonasi suara yang tinggi.
"Maafkan saya Tuan, saya tadi baru dari supermarket untuk membeli kebutuhan dapur, kebetulan antriannya ketika saya hendak membayar di kasir lumayan panjang Tuan." Jawab bi Tutik sambil menundukkan kepalanya.
"Ohh jadi itu alasannya, baiklah kalau begitu taruh belanjaan Bibi di dapur setelah itu temani Khardha di kamarnya, pastikan dia selalu dalam keadaan baik-baik saja." Perintahnya tanpa mau dibantah.
Setelah itu bi Tutik langsung melaksanakan tugasnya untuk menemani Khardha di kamarnya & meletakkan kamera di kamar itu dengan bebas leluasa.
Flashback off
Suasana di kamar hotel Bripka Gusti Hamidi sudah lebih dulu berbaring di ranjang & langsung tertidur karena sangat kelelahan seharian memantau situasi di rumah Hendrik layaknya seorang mata-mata. Sedangkan Dokter Hasan sendiri setelah membersihkan dirinya dia juga ikut berbaring disamping kakak iparnya dengan posisi memunggunginya, dia terus saja menatap layar smartphonenya yang menampilkan wajah cantik baby face istrinya, sampai akhirnya tanpa sadar dia ikut terlelap sambil memegangi hpnya.
*****
Keesokan harinya pagi-pagi sekali bi Tutik sudah menyiapkan masakan untuk semua orang yang ada dirumah itu. Bi Tutik berencana memasukkan obat tidur yang di berikan Dokter Hasan kepadanya.
Kira-kira gimana ya misi penyelamatan Dokter Hasan & Bripka Gusti Hamidi berikutnya?
Tunggu saja episode selanjutnya. Maaf jika aku sering telat up, apalagi kemarin sebab dunia nyataku juga butuh perhatian yang lebih utama, maklum ibu rumah tangga sekaligus guru sekarang karena anakku belajar online jadi harus selalu di dampingi, belum lagi yang kecil dengan segala kecerewetannya. Aku juga kadang membantu suamiku berjualan dipasar.
Mohon doa & dukungannya terus ya, dengan vote, like, komen ,koin dari kalian semua yang sudah mampir ke karya aku ini, salam sayang selalu dari author Khardha Love.
__ADS_1