
Happy reading guys!
Arghhhhhh....tolonggggg....Tiba-tiba terdengar suara teriakan Khardha dari dalam kamar mandi karena dia terpeleset & kepalanya membentur lantai cukup keras hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Ketika mendengar suara teriakan istrinya Dokter Hasan langsung berlari menuju kamar mandi dan mendobrak pintunya. Dia terkejut melihat istrinya tergeletak di lantai dengan badan masih di penuhi sabun juga terdapat darah di kepalanya. Dengan segera dia membersihkan tubuh istrinya kemudian menggendongnya ke luar kamar mandi lalu membaringkannya diatas ranjang.
Apa yang telah terjadi denganmu Sayang?
Apa kamu terpeleset di kamar mandi? Aku mohon cepatlah bangun, jangan buat aku khawatir lagi. Batinnya sembari memakaikan baju di tubuh istrinya. Dia berusaha menahan hasratnya dengan susah payah menelan salivanya, karena joniornya sudah menegang sedari tadi ketika melihat tubuh mulus nan seksi istrinya mulai dari kamar mandi. Dengan segera dia menyelimuti tubuh istrinya supaya bisa meredam keinginannya untuk menjamahnya. Dokter Hasan langsung masuk kamar mandi untuk menenangkan dirinya yang sudah di liputi gairah, karena sudah cukup lama menahannya semenjak istrinya koma. Sekarang dia juga terpaksa harus menghindarinya kembali karena tidak ingin memanfaatkan keadaan istrinya yang masih amnesia dan sekarang dalam keadaan pingsan.
Setelah cukup lama Dokter Hasan menenangkan diri didalam kamar mandi, akhirnya dia keluar berniat untuk melaksanakan sholat isya. Dia menolehkan kepalanya sebentar untuk melihat keatas ranjang tempat istrinya terbaring ternyata Khardha sudah membuka matanya.
Aku ada dimana?" Lirihnya dengan mengedarkan pandangannya matanya keseluruhan penjuru ruangan sembari memegangi kepalanya yang dibalut perban oleh suaminya. Ternyata suaranya yang sangat pelan itu masih bisa didengar oleh Dokter Hasan. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri istrinya & berdiri disampingnya.
"Kamu ada di rumah sakit Sayang," sahutnya dengan menatap kearah istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa aku harus ada di sini Sayang?" Tanya Khardha sembari mengerutkan keningnya menatap kearah suaminya.
"Kamu lagi sakit." Jawabnya semakin bingung dengan pertanyaan istrinya.
Padahal tadi dia sudah tahu pasti sedang berada dirumah sakit? Tapi kenapa dia malah bertanya lagi?" Gumam Dokter Hasan dalam hatinya.
"Apa aku gak salah dengar kamu memanggil aku dengan sebutan Sayang juga?" Tanya Dokter Hasan sembari mendekatkan wajahnya kemuka istrinya.
"Memangnya kenapa ada yang salah? Apa kamu sudah lupa siapa yang duluan meminta kepadaku setelah kita menikah harus memanggil dengan sebutan Sayang." Sergah Khardha dengan meninggikan intonasi suaranya.
"Ah enggak Sayang, aku cuma terkejut aja, dengan perubahan kamu yang begitu cepat!" Seru Dokter Hasan berusaha menenangkan istrinya.
Alhamdulillah wa syukurillah karena telah mengembalikan ingatan istriku, terutama tentang siapa diriku ini," gumamnya dalam hati dengan mengulas senyum yang penuh makna.
Dokter Hasan sangat bersyukur kemudian mengucapkan kalimat tasbih, tahlil & tahmid.
Subhanallah, walhamdulilah, walaillahaIlallah, wallahuakbar, walahaula, walakuata illabillahilali il azdim.
"Sayang kamu sudah gak papa kan? Apa masih ada yang sakit di bagian tubuhmu atau kepalamu mungkin?" Cecarnya tanpa jeda untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Sayang aku gak papa, kenapa kamu begitu mengkhawatirkan aku?" Khardha merasa heran dengan sikap suaminya.
"Aku cuma takut kamu kenapa-napa Sayang!" Kilahnya seraya tersenyum penuh arti.
Jujur aku sangat terkejut dengan perubahan kamu yang begitu drastis ini Sayang. Tapi aku juga sangat bersyukur atas semua yang terjadi malam ini setidaknya kesabaranku ini benar-benar berbuah manis. Aku juga tidak harus menunggu lebih lama lagi untuk menjalani kehidupan berumah tangga yang sebenarnya bersamamu." Batin Dokter Hasan dalam hatinya dengan menatap intens kearah istrinya tanpa berkedip karena sangat bahagia.
"Sayang kamu gak papa kan? Kenapa melamun?" Khardha melambaikan tangannya di depan suaminya.
__ADS_1
"Enggak aku gak papa Sayang, ya udah yuk kita sholat isya dulu." Ajaknya sembari mengulurkan tangannya membantu istrinya turun dari bed pasien.
Khardha menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan suaminya yang menuntunnya sampai kedepan kamar mandi.
"Sayang pelan-pelan aja ya jalannya, aku gak mau kamu jatuh lagi," ucapnya dengan penuh perhatian.
"Iya sayang aku hati-hati kok." Sahut Khardha kemudian membuka kran air untuk berwudhu.
Tidak lama Khardha keluar dari kamar mandi dan langsung memakai mukenanya. Pasangan suami istri itu akhirnya melaksanakan sholat isya berjamaah di sambung dengan tarawih & witir. Seusai sholat serta berdoa mereka berdua bersalaman, Khardha segera mencium punggung tangan suaminya begitupula Dokter Hasan yang selalu mencium kening istrinya setelahnya & memeluknya.
"Sayang aku udah ngantuk banget kita tidur yuk!" Ajaknya kepada istrinya sembari beranjak dari duduknya.
"Iya Sayang sebentar aku melipat mukenaku dulu." Sahut Khardha sembari membereskan peralatan sholatnya.
"Sayang boleh gak aku tidur sama kamu di ranjang malam ini?" Tanya Dokter Hasan berusaha minta izin pada istrinya dengan hati-hati ketika mengatakannya.
Karena dia tidak ingin membuat istrinya marah lagi seperti sebelum Khardha mengingatnya tadi.
"Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?" Khardha balik bertanya karena merasa aneh dengan sikap suaminya malam ini.
"Enggak kenapa-napa Sayang, aku hanya ingin kamu merasa nyaman bila harus berbagi ranjang denganku." Jawabnya seraya tersenyum hingga menampakkan barisan gigi putihnya.
Khardha menggelengkan kepalanya seraya tersenyum menatap suaminya yang seperti salah tingkah dihadapannya.
"Kamu gak becanda kan Sayang!" Seru Dokter Hasan dengan luapan kebahagiaan yang terpancar di matanya.
"Iya Sayang, apa sich yang gak boleh buat Dokter cintaku ini." Sahut Khardha sembari mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
"Lepasin Sayang, kamu jangan suka menggodaku kayak gini, nanti aku bisa saja khilaf & langsung memakanmu, apa kamu mau tanggung jawab?" Dokter Hasan menaik turunkan alisnya berusaha menggoda istrinya.
"Loh memangnya kamu tadi belum makan?" Tanya Khardha dengan polosnya.
"Kalau lahirnya sich sudah Sayang, tapi batinnya yang belum." Jawabnya memberi kode keras pada istrinya.
Pandangan matanya selalu tertuju pada istrinya yang tidak menggunakan daleman sehingga terpampang jelas buah dadanya yang membusung seolah menantang untuk di mainkannya.
Aku sangat menginginkannya Sayang, aku mohon mengertilah, batinnya meronta ingin segera menjamahnya.
Khardha yang tidak menghiraukan godaan suaminya, justru langsung berbaring begitu saja dengan membelakanginya. Dokter Hasan sebenarnya sangat kecewa dengan sikap istrinya yang tidak mau memahami keinginannya, namun dia berusaha sabar karena tidak mau memaksakan kehendaknya.
"Sayang gak boleh tidur memunggungi suami." Ucapnya sembari membalikkan badan istrinya agar menghadap kearahnya kemudian memeluknya dengan sangat erat.
Tidak berselang lama akhirnya Dokter Hasan terlelap dalam dunia mimpinya, karena kelelahan sehabis seharian penuh menguras tenaga dan emosinya untuk mengurus istrinya. Sayup- sayup terdengar dengkuran halus dari napasnya yang terlihat tenang dalam tidurnya. Khardha membuka matanya kemudian membelai pipi suaminya.
__ADS_1
Maafin aku Sayang, bukannya aku tidak mengerti maksudmu tapi aku tidak mau kita melakukannya disini," gumam Khardha dalam hatinya.
Seiring waktu malam hari yang bergulir semakin larut rembulan yang tadinya bersinar terang perlahan tertutup awan hitam yang menyelimutinya, hingga turunlah hujan yang sangat deras disertai petir yang saling menyambar, memekakkan telinga Khardha yang belum bisa terlelap karena terlalu lama tidur disiang hari akibat efek obat yang disuntikkan kedalam infusnya, ditambah hawa AC yang membuat ruangan semakin dingin & lampu remang-remang yang menciptakan suasana bertambah mencekam.
Khardha mulai merasakan hipoteramia menjalari seluruh tubuhnya, dia menggigil kedinginan hingga menimbulkan suara bergetar yang keluar dari mulutnya tanpa disadarinya.
Dokter Hasan merasakan perubahan suhu tubuh istrinya dengan segera dia membuka matanya untuk memberikan pertolongan pertama kepadanya, dia menyatukan bibirnya dengan lembut berharap suhu tubuh istrinya menjadi hangat. Namun ternyata pertolongan pertamanya belum membuahkan hasil yang maksimal, terpaksa dia mencumbu istrinya dalam keadaan seperti itu. Akhirnya mereka berdua saling memberi dan menerima satu sama lain karena sama-sama
menikmatinya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi, barulah rasa dingin itu berubah menjadi rasa hangat karena pergulatan mereka berdua yang cukup panas diatas ranjang rumah sakit itu.
Makasih Sayang sebab alergi dingin yang kamu rasakan, sekarang aku justru bersyukur.
Ternyata dibalik musibah selalu ada hikmah yang terkandung di dalamnya." Gumam Dokter Hasan dalam hatinya sembari mengecupi kening istrinya & mendekapnya dengan erat.
Khardha langsung terlelap dipelukkan suaminya akibat kelelahan sehabis melayaninya. Dokter Hasan memang seorang suami yang tidak usah diragukan lagi kalau
sudah menyangkut urusan ranjang. Apalagi dia sudah berpuasa selama istrinya koma jadi wajar saja bila dia begitu bersemangat ketika sudah ada kesempatan yang sangat menguntungkannya itu.
*****
Keesokan harinya setelah selesai membereskan administrasi rumah sakit & mengemasi semua barang-barang yang ada diruang prakteknya. Dokter Hasan menggandeng tangan istrinya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya digunakan untuk menarik kopernya. Senyuman manis yang selalu ditampakkannya kepada istrinya karena sangat bahagia mendapatkan anugerah terindah memiliki wanita sepertinya. Mereka berdua melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran. Dokter Hasan langsung memasukkan kopernya kedalam bagasinya kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dia berjalan memutari mobilnya & duduk di kursi kemudinya, dengan segera menstater mobilnya kemudian menjalankannya menyusuri jalanan menuju rumah mereka. Setengah jam kemudian sampailah mereka dirumah, dengan sedikit berlari Dokter Hasan membukakan pintu masuk untuk istrinya.
"Selamat datang kembali dirumah Sayang, mulai hari ini aku akan selalu menemani mu di rumah pagi, siang, sore & malam!" Serunya seraya tersenyum penuh arti.
"Loh kok gitu?" Tanya Khardha dengan mengerutkan keningnya sembari mendudukkan dirinya disofa ruang tamu rumahnya.
"Memangnya kamu gak kerja di rumah sakit lagi?" Khardha kembali bertanya dengan bergelayut manja dilengan suaminya.
"Iya Sayang aku sudah resign. Aku ingin buka praktek di rumah aja biar bisa selalu dekat & jagain kamu tentunya." Jawab Dokter Hasan sembari menyentuh hidung istrinya.
"Apa kamu gak berlebihan kok alasannya cuma itu?" Khardha mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.
"Aku sudah bosan diatur sama orang terus, jadi ya lebih baik aku buka praktek sendiri dirumah, aku juga sudah mengurus izinnya kepihak yang terkait." Sahut Dokter Hasan
memberikan alasannya agar terdengar masuk akal ditelinga istrinya & membuatnya tidak mencurigainya.
"Jika memang benar itu alasannya aku akan selalu mendukung keputusan kamu Sayang." Ucap Khardha memberikan support untuk suaminya.
"Ya udah kita istirahat di kamar aja yuk!" Ajak Dokter Hasan sembari menggendong istrinya ala bridal style.
Bersambung....
Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya, semoga amal ibadah kita diterima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman melalui vote, like, komen, koinnya. Agar aku selalu semangat untuk melanjutkan cerita ini. Salam sayang selalu dari author Khardha Love.