
Happy reading guys!
Dokter Hasan segera menurunkan
istrinya dari gendongannya lalu mendudukkannya di kursi meja makan, untuk menghilangkan rasa canggungnya dia langsung mengalihkan pembicaraan dengan kakak iparnya itu, agar tidak lagi menggodanya dan istrinya.
"Apa besok Kakak jadi pulang ke Banjarmasin?" Tanyanya dengan mengubah ekspresinya menjadi serius.
"Iya!" Singkat Gusti sembari berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Gimana Sayang kalau kita juga pulang besok? Soalnya ada yang harus aku urus secepatnya mengenai izin praktek dan beberapa panggilan dari pihak rumah sakit yang memintaku untuk bekerja di sana." Jelasnya sembari duduk disamping istrinya.
Dia memiringkan tubuhnya untuk menggenggam tangan istrinya lalu menyentuh pipinya.
"Kenapa gak habis lebaran aja Sayang, aku mau kita menjalani puasa Ramadhan disini, berkumpul bersama keluarga, menikmati indahnya sahur dan buka puasa bersama, memasak bersama, mencari menu berbuka bersama, menyiapkan semuanya bersama, aku sangat merindukan suasana itu Sayang." Khardha mengutarakan keinginannya dengan meneteskan airmatanya.
"Maafin aku Sayang, aku gak terbiasa menganggur terlalu lama. Apalagi dirumah mertua seperti sekarang ini, aku bingung harus ngapain." Jujurnya sembari menghapus airmata istrinya dengan ibujarinya.
"Ya udah terserah kamu aja Sayang, aku gak mau berdebat lagi sama kamu." Pasrah Khardha sembari menyentuh tangan suaminya yang mengusap pipinya.
๐ฟSeorang istri memang seharusnya taat kepada suaminya selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama. ๐ฟ
Krucuk...krucuk....perut Khardha kembali berbunyi lagi. Dokter Hasan mengulum senyumnya lalu mengelus perut istrinya.
"Tunggu sebentar ya Sayang, papah masakin mie spesial pakai cinta dulu buat kamu sama mamah." Ujarnya mengajak baby yang dikandung istrinya bicara.
"Iya papah jangan lama-lama ya, kami udah laper banget." Khardha menirukan suara anak kecil sembari mengusap kepala suaminya yang langsung berjongkok menciumi perutnya.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu beranjak menuju dapur yang ada didepannya. Dia langsung mengambil apron, menyalakan kompor lalu menaruh panci diatasnya dan tidak lupa mengisi air kedalamnya. Sementara menunggu air mendidih dia mengambil mie instan rasa soto banjar limau kuit didalam kitchen set dan sayuran serta telur didalam kulkas. Setelah semuanya sudah siap, air dipanci juga mendidih dia memasukkan satu persatu bahan-bahan yang telah disiapkannya, lalu mengaduk-aduknya sebentar.
"Sayang masih lama gak? Aku udah ngantuk banget." Tanya Khardha dengan menumpu wajahnya dengan tangannya diatas meja.
"Gak lama lagi Sayang, ini udah masak tinggal taruh dimangkok aja." Sahutnya sembari menata mie spesial khusus buat istrinya kedalam mangkok.
Setelah semuanya sudah siap dia membawanya dengan kedua belah tangannya.
"Ini mie spesial pakai cintanya udah siap untuk dimakan Sayang." Menaruh mangkok diatas meja makan.
Khardha yang sudah sangat mengantuk hanya bisa mengendus aroma mie spesial pakai cinta masakan suaminya sambil memejamkan matanya. Dokter Hasan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Sini biar aku suapin Sayang, buka mulutmu, aaa....," mengambil sendok dan garpu diatas meja lalu menyuapinya.
Setelah Dokter Hasan selesai menyuapi istrinya dengan mie spesial pakai cinta buatanya, dia mengacak rambut wanita yang sangat dicintainya itu dengan gemesnya, ketika melihatnya langsung menelungkup diatas meja.
"Sayang minum dulu." Mengarahkan gelas berisi air putih ke mulut istrinya dengan mengangkat kepalanya." Habis ini gosok gigi cuci muka baru tidur lagi ya." Ujarnya sembari menangkup pipi istrinya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Dokter Hasan segera beranjak dari duduknya untuk mencuci peralatan masak yang digunakannya tadi. Ketika selesai mencucinya dia kembali menghampiri istrinya yang masih menelungkup di atas meja makan.
"Bersih-bersih dulu Sayang." Membawa istrinya masuk kekamar mandi.
Seusai membersihkan diri mereka masing-masing didalam kamar mandi. Khardha yang merasakan semua yang dilakukannya hanya sebuah mimpi langsung berjalan mendahului suaminya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Awas Sayang kejedot pintu!" Serunya sembari menarik istrinya lalu menggendongnya menuju kamar tidur mereka.
Setelah masuk kedalam kamar dengan perlahan dia membaringkan tubuh wanita kesayangannya itu diatas ranjangnya. Dia juga mengganti bajunya dan istrinya dengan piyama tidur lalu merebahkan dirinya disamping kekasih halalnya itu.
Tidurlah yang nyenyak Sayang, mimpi indah ya, jangan lupa hadirkan aku dalam mimpimu, gumamnya dalam hati sembari mengecup kening istrinya.
Dia pun akhirnya terlelap karena kelelahan menghadapi semua yang berhubungan dengan istrinya dari pagi hingga tengah malam ini. Walaupun begitu dia selalu merasa bahagia karena bisa selalu menjaga dan berusaha memberikan yang terbaik untuk kekasih halalnya itu.Benar-benar sosok suami idaman.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan selama ini sayang.
Aku tahu kamu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku.
Padahal aku sendiri belum bisa memberikan apa yang kamu mau selama ini.
Cinta yang tulus suci murni tanpa paksaan dari pihak manapun juga.
Maafkan aku Sayang hingga detik ini bayangan masa laluku, masih sering hadir dalam mimpi dan nyataku.
Namun perlahan tapi pasti aku akan berusaha membalas cinta tulusmu dengan membuka hatiku untukmu.
Entah kebaikan apa dulu yang pernah aku lakukan, sehingga bisa memiliki seorang suami yang luar biasa sepertimu.
Kamu menganggapku adalah duniamu dan kebahagianmu, semoga aku juga bisa menjadikanmu seperti itu.
Jangan pernah lelah untuk mencintaiku
Yakinlah suatu saat nanti aku akan mencintaimu lebih dari yang kamu tau
Baiti jannati akan selalu tercipta, apabila seorang suami selalu memuliakan istrinya begitupula sebaliknya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
" Om,Tante sahur!" Teriak Merlin membangunkan pasangan suami istri yang masih bergelut dalam selimutnya.
" Iya sebentar nanti kami keluar!" Seru
Dokter Hasan yang lebih dulu bangun sebelum istrinya.
"Bangun Sayang sahur yuk!" Ajaknya sembari menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan istrinya.
"Aku masih ngantuk banget Sayang, kamu aja yang sahur ya." Khardha kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya..
"Gak boleh gitu Sayang, sahur itukan sunnah." Menyibak kembali selimut istrinya.
"Iya aku tau Sayang, tapi aku gak selera makan." Berbaring di pangkuan suaminya.
"Usahakanlah makan Sayang walaupun cuma sedikit, aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa. Hari ini kita akan melakukan perjalanan jauh, jadi kamu harus makan supaya gak terlalu lemes dijalan." Mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang." Apa mau aku gendong lagi kayak tadi malam?" Godanya seraya tersenyum penuh arti.
"Gak usah aku bisa jalan sendiri." Khardha
langsung bangun dan duduk tegap walaupun masih mengantuk
" Ya udah yuk nanti keburu imsak." Menarik tangan istrinya lalu menggandengnya keluar kamar menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan Dokter Hasan menarik kursi untuknya dan istrinya kemudian mengambil makanannya sendiri. Bu Hana yang memperhatikan anak menatunya langsung menegurnya.
"Khardha kenapa kamu gak makan nak?" Tanyanya ketika melihat anak bungsunya itu tidak menyentuh makanan didepannya sedikitpun.
__ADS_1
"Aku lagi gak nafsu makan Bu, aku mau minum susu aja." Jawab Khardha sembari beranjak untuk membuat susu khusus ibu hamil untuknya sendiri.
Setelah susunya jadi dia kembali duduk disamping suaminya sambil meminumnya sedikit demi sedikit karena masih panas.
"Makan ya Sayang, ini aku suapin." Mengarahkan sendok ke mulut istrinya.
Dokter Hasan benar-benar kasian melihat istrinya yang tidak bisa makan seperti biasanya semenjak tahu dia berbadan dua. Sebab biasanya Khardha tidak pernah menolak makanan apa saja yang ada dihadapannya.
"Aku udah kenyang Sayang liatin kamu makan." Kilah Khardha dengan menutupi mulutnya.
"Kamu pasti becanda Sayang." Dokter Hasan menggelengkan kepalanya.
"Beneran!" Singkat Khardha memastikan.
"Udah gak usah dipikirin Hasan, bumil emang suka aneh kayak gitu." Timpal Gusti dengan meneruskan menyuap makanannya.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya namun dalam hati dia berkata.
Masa sich cuma liatin aku makan istriku udah kenyang? Kayaknya gak masuk akal dech? Ingin rasanya aku paksain lagi dia makan tapi kalau dimuntahkannya lagi gimana? Sia-sia aja kan semua yang udah masuk ke perutnya. Ohh Sayang kenapa kamu semenjak hamil susah banget makan," batinnya sembari melirik kearah istrinya yang masih meminum susunya.
"Habis sholat subuh hari ini aku langsung otw Banjarmasin. Kalian berdua jadi mau pulang?" Gusti menatap Dokter Hasan dan Khardha secara bergantian.
"Jadi Kak, habis makan kami langsung siap-siap!" Jawabnya dengan tegas sembari mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Kalian bertiga mau pulang hari ini, kenapa gak bilang dulu sama ibu?" Bu Hana menatap anak-anak dan menantunya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin kami Bu, aku juga baru tau tadi malam ketika suamiku mengajakku pulang hari ini, dia ada urusan penting yang harus diselesaikannya secepatnya." Ucap Khardha dengan menggenggam tangan ibunya.
"Iya Bu, mohon maafkan kami. Inshaallah nanti kalau pandemi sudah berakhir kami usahakan untuk lebih sering mengunjungi Ibu, Kak Amey, Merlin dan Aisyha disini." Timpal Dokter Hasan dengan menatap sendu kearah mertuanya.
"Baiklah kalau itu sudah keputusan kalian, ibu hanya bisa memberikan doa terbaik untuk kalian semuanya." Bu Hana menepuk punggung tangan Khardha.
"Makasih Bu atas pengertiannya." Khardha beranjak dari duduknya lalu menghambur kepelukan ibunya.
"Ayo Sayang kita berkemas dulu." Ajaknya sembari mengusap punggung istrinya.
Khardha melepaskan pelukannya dari ibunya, dia menganggukkan kepalanya kepada suaminya.
"Permisi ya kami mau berkemas dulu." Dokter Hasan menggandeng tangan istrinya lalu masuk kekamarnya.
Khardha yang awalnya kelihatan tegar di hadapan ibunya tiba-tiba memeluk suaminya
lalu menangis tersedu-sedu meluapkan segala emosinya.
"Sayang aku sedih banget harus ninggalin ibu dalam kondisi kayak gini.... hiks... hiks...," Khardha berkata disela tangisnya sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu harus bisa mengontrol emosimu Sayang, kamu lagi hamil gak baik untuk pertumbuhan baby kita, yang sabar ya." Ujarnya sembari mengusap punggung istrinya untuk menenangkannya." Ada pertemuan pasti ada perpisahan, itulah hidup yang harus kita jalani, kamu ngerti kan." Melepaskan pelukannya untuk memberi jarak kepada wanita yang sangat dicintainya itu lalu menangkup wajahnya kemudian mengecup keningnya.
Bersambung...
Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya.
Semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya reader melalui vote, like, komen, koin nya.
Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit kalian semuanya ya.
Terimakasih karena sudah mampir, salam sayang selalu dari author Khardha Love.
__ADS_1