
Happy reading guys!
Setelah selesai pembacaan tahlil & buka puasa bersama keluarga besar Khardha, Dokter Hasan langsung ingat bahwa istrinya belum makan apa-apa walaupun tidak puasa hari ini. Dengan segera dia mengambil makanan untuk istrinya & membawanya kedalam kamar.
"Assalamualaikum Sayang." Serunya sambil membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha tanpa memperdulikan kedatangan suaminya karena dia sibuk memainkan handphonenya.
"Kamu belum makan apa-apa dari tadi kan Sayang?" Dokter Hasan mendekati istrinya duduk di tepi ranjang lalu meletakkan piring berisi nasi beserta lauk pauknya di atas nakas.
Khardha hanya menggelengkan kepalanya
sambil terus asyik memegangi handphonenya.
"Kamu harus makan dulu Sayang, sekarang kamu lagi hamil jadi harus banyak makan." Dokter Hasan menyendok makanan untuk menyuapi istrinya." Buka mulut kamu Sayang aa.." Mengarahkan sendok yang berisi makanan kemulut istrinya.
"Enggak aku gak mau Sayang." Khardha langsung menutupi mulut & hidungnya dengan tangannya karena merasa mual mencium aroma makanan yang disodorkan suaminya sembari menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu belum makan sama sekali dari pagi sampai malam ini Sayang." Dokter Hasan
merasa sedih sekaligus kecewa dengan penolakan istrinya.
"Iya tapi aku gak selera dengan makanannya." Ucap Khardha berusaha menahan rasa mualnya.
"Kamu harus makan Sayang, kasian anak kita gak dapat nutrisi apapun dari ibunya, kalau kamu gak mau makan sama sekali." Lirih Dokter Hasan dengan mengelus perut istrinya.
Dia sangat prihatin memikirkan kondisi istrinya sekarang yang terlihat sangat pucat walaupun tidak separah tadi malam.
"Aku mau makan es krim aja sama minum susu boleh gak?" Pinta Khardha dengan menampilkan wajah imutnya.
"Iya boleh Sayang, tapi disini dimana orang jual es krim sama susu ibu hamil?" Tanya Dokter Hasan sembari mengerutkan keningnya.
Dia merasa heran dengan kemauan istrinya yang tiba-tiba menginginkan susu dan es krim, sebab dikampung Khardha masih susah ditemui orang yang menjual semua itu.
"Disini memang gak ada Sayang, tapi kita
bisa ke ibukota kabupaten naik mobil." Sahut Khardha seraya tersenyum manis dihadapan suaminya ketika menyampaikan idenya.
"Ok Sayang tapi nanti ya berangkatnya habis sholat tarawih, gak papa kan?" Dokter Hasan
mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Iya gak papa Sayang." Khardha meraih tangan suaminya lalu menciuminya karena sangat bahagia suaminya mau menuruti keinginannya.
"Ya udah aku sholat jamaah ke musholla dulu ya sayang." Dokter Hasan mengecup kening istrinya untuk berpamitan." Assalamualaikum," ucapnya kemudian berlalu pergi keluar kamar menuju musholla.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Sahut Khardha sembari beranjak keluar menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Dia segera menunaikan kewajibannya untuk menghadap sang pemilik segalanya, melaksanakan sholat qabliyah & ba'diyah maghrib, isya, tarawih juga witir bersama dengan ibunya, Amey kakaknya, Merlin juga adiknya. Setelah selesai barzikir dan berdoa semuanya bersalaman lalu membubarkan diri melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Merlin & Aisya adiknya menonton televisi diruang keluarga sambil ngemil snack yang dibelinya di kios sebelah rumah. Amey kakaknya Khardha sibuk didapur membereskan sisa pekerjaan rumahnya. Bu Hana sendiri lebih memilih menenangkan diri dan hatinya didalam kamar setelah kepergian suaminya. Sedangkan Khardha langsung masuk kedalam kamarnya bersiap-siap menunggu suaminya. Setelah lumayan lama menunggu sambil berbaring & mengotak atik handphonenya Khardha mulai tidak sabar menanti kedatangan suaminya. Dia mondar mandir di dalam kamarnya seperti setrikaan rusak. Tidak lama kemudian Dokter Hasan akhirnya pulang kerumah bersama kakak iparnya. Dia segera masuk kekamar menemui istrinya karena ingat akan janjinya tadi.
"Assalamualaikum Sayang." Dokter Hasan
membuka pintu kamar kemudian menutupnya kembali lalu melangkah mendekati istrinya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kenapa lama banget? Ngobrol dulu ya!" Kesal Khardha dengan
menatap tajam kearah suaminya karena dibuat menunggu lama.
"Enggak Sayang, sholatnya baru aja selesai,
semua orang juga baru pulang." Dokter Hasan
membelai pipi istrinya lalu menangkupnya.
__ADS_1
"Ini aja aku langsung nemuin kamu gak basa-basi dulu sama kak Gusti juga yang lainya." Jujurnya sembari membawa istrinya kedalam pelukannya." Kamu kan lagi hamil Sayang gak boleh marah-marah ya, gak baik untuk perkembangan anak kita yang ada diperut kamu." Ucapnya menasehati istrinya.
''Ya udah cepetan, aku udah gak sabar lagi pengin makan es krim!" Rengek Khardha dengan nada manja.
"Iya Sayang tunggu aku ganti baju sebentar ya." Dokter Hasan melepaskan pelukannya lalu beranjak membuka kopernya.
" Baju kamu udah aku siapin dari tadi Sayang,
tuh aku taruh diatas kasur." Tunjuk Khardha
dengan dagu juga matanya.
"Makasih ya Sayang, cup." Dokter Hasan
mencium pipi istrinya sekilas.
Setelah selesai berpakaian & memakai parfumnya pasangan suami istri itu keluar kamar dengan bergandengan tangan.
"Tante sama om mau kemana? Keren banget pakai kacamata couple lagi." Kepo Merlin sembari menatap keduanya dari atas kebawah.
"Kami mau jalan sebentar." Sahut Khardha seraya merangkul lengan suaminya dengan bergelayut manja.
"Mau kemana Tante?" Merlin masih kepo.
"Mau tau aja orang pacaran!" Khardha memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kalian kan udah nikah!" Sergah Merlin tidak mengerti maksud Khardha.
"Pacaran halal tau!" Kilah Khardha dengan santainya sambil bersandar di bahu suaminya.
Dokter Hasan hanya tersenyum sambil memperbaiki letak kacamatanya mendengar percekcokan istrinya & keponakannya itu.
"'Aamiin, makasih doanya nanti kami bawain oleh-oleh." Ucap Khardha sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan suaminya.
"Makasih ya Tante!" Merlin memeluk Khardha dengan erat dari samping.
"'Kebiasaan dari dulu lo itu baik sama gue pasti ada maunya." Khardha menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya.
"Ya udah kami jalan dulu, assalamualaikum." Khardha menutup pintu mobilnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Merlin sembari melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam rumah.
Dokter Hasan melaju kan mobilnya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan
yang baru di aspal di kampung istrinya. Menuju ibukota kabupaten yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit, akhirnya sampai lah mereka di depan minimarket dua puluh empat jam yang ada di sana. Dokter Hasan langsung memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesinnya. Khardha bergegas keluar sendiri tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobilnya lagi, sebab dia sudah tidak sabar lagi untuk membeli es krim & susu yang diinginkannya.
Dia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu masuk minimarket,
namun terpaksa berhenti ketika suaminya memanggilnya.
"Sayang tungguin! Masa aku di tinggalin!" Seru Dokter Hasan dari belakang Khardha dengan mempercepat langkah kakinya.
Setelah sampai didekat istrinya dia langsung menggandeng tangannya dengan mesra lalu masuk bersama menuju deretan susu yang di pajang di rak-rak yang ada disana terlebih dulu.
"Sayang tadi aku udah browsing tentang susu ibu hamil yang bagus untuk awal kehamilan,
tapi untuk vitamin nya aku belum tau lagi yang mana." Ujar Khardha sembari
menatap suaminya dengan wajah serius.
"Oh gitu, sebentar ya Sayang aku telpon Dokter Wahyu dulu, dia kan Dokter spesialis kandungan pasti tau vitamin apa yang bagus buat kamu. Sekalian kamu pilih sendiri susunya mau rasa apa, silahkan ambil aja semua yang kamu suka." Dokter Hasan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Ok Sayang, makasih ya." Khardha melanjutkan kegiatannya menyusuri deretan
__ADS_1
merk susu yang ada disana.
Khardha mencari susu yang diinginkannya sambil membaca kandungan isinya satu persatu. Sedangkan Dokter Hasan menelpon Dokter Wahyu sahabatnya.
Tut....tut....tut....panggilan tersambung.
📱"Assalamualaikum bro!" Sapa Dokter Hasan dengan menaruh handphonenya ditelinga.
📲" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabarnya bro? Tumben lo nelpon gue malam ini?" Dokter Wahyu
berbaring di kasur empuknya karena kelelahan baru datang kerumahnya sehabis praktek.
"Alhamdulilah gue sama istri baik, mau tanya nich bro vitamin buat ibu hamil yang bagus apa?" Dokter Hasan menelpon sambil memperhatikan istrinya yang ada di sampingnya.
"Hahh istri lo hamil bro?" Dokter Wahyu
langsung terduduk merasa sangat terkejut.
"Iya, kebiasaan lo ya ditanya apa jawabnya apa." Dokter Hasan menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan sahabatnya.
"Hehe gue cuma merasa
surprise banget aja, ternyata sahabat gue jago juga bikin anak, perasaan belum sebulan lo nikah." Ujar Dokter Wahyu seraya tersenyum penuh arti
"Ya ialah, makanya lo cepat nikah biar tau rasanya gimana." Sahut Dokter Hasan sengaja mengomporinya sebab sahabatnya itu adalah seorang playboy yang suka mempermainkan perasaan wanita.
"Tenang aja bro gue udah ada calon kok." Dokter Wahyu merasa termotivasi untuk melamar salah satu pacarnya.
"Syukurlah kalau begitu berarti jiwa playboy lo akhirnya menemukan pelabuhannya juga." Ucap Dokter Hasan berusaha menahan tawanya.
"Iya bro Alhamdulillah." Dokter Wahyu ikut mensyukurinya sebab dia merasa benar dengan ucapan sahabatnya.
" Ya sudah apa tadi merk vitamin nya? Soalnya istri gue gak mau makan sama sekali ini bro, sekalian rekomendasikan dokter kandungan wanita buat istri gue ya." Dokter Hasan kembali mengatakan maksud dan tujuannya menghubungi sahabatnya itu.
"Kenapa gak sama gue aja sich bro?" Dokter Wahyu mengerutkan keningnya merasa ada yang janggal dengan kalimat terakhir sahabatnya.
"Gue gak mau istri gue di pegang-pegang sama laki-laki lain!" Tegas Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
" Huhhh dasar suami posesif! Ngapain juga gue pegangin istri lo, emangnya gue suka memanfaatkan situasi dengan kerjaan gue sendiri, gue kan bukan Dokter mesum sama pasien gue kecuali sama pacar-pacar gue. Di rumah sakit juga ada perawat wanita yang merangkap jadi asisten gue, dia nanti yang bantuin gue pegangin istri lo, jadi lo masih gak percaya sama sahabat sendiri, gue kan juga mau tau gimana perkembangan calon ponakan gue." Dokter Wahyu tidak terima dia dituduh macam-macam.
"Iya dech sama lo aja nanti, tapi apa nama vitamin nya tadi?" Dokter Hasan berusaha mengalah dengan kembali merendahkan nada suaranya.
"Nach gitu dong, itu baru sahabat gue. Vitamin yang bagus itu namanya Obimin biasanya itu yang gue rekomendasikan pada ibu hamil yang susah makan & masih dalam pertumbuhan kayak istri lo." Dokter Wahyu
menjelaskan sekaligus menggoda sahabatnya itu.
"Sembarangan lo ya! Lo kira istri gue balita masih dalam masa pertumbuhan! Dia itu sudah dewasa tau! Buktinya dia sudah hamil anak gue, tapi tanks ya infonya." Geram Dokter Hasan mendengar ucapan sahabat somplaknya itu.
Dia mengatupkan mulutnya juga giginya serta mengepalkan tangannya, tersulut emosi mendengar ucapan sahabatnya yang suka bercanda tidak tahu situasi dan kondisi itu.
"Iya sama-sama, eh tapi tunggu dulu kita video call dong, gue mau liat muka istri lo sekarang tambah imut gak ketika hamil?" Dokter Wahyu kembali memancing di air keruh untuk menggoda sahabatnya itu.
"Gak usah nanti lo mimpi in dia lagi! Assalamualaikum." Dokter Hasan langsung memutuskan sambungan telepon.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Dokter Wahyu tertawa sampai mengeluarkan air matanya sambil berguling-guling di atas ranjangnya setelah panggilan terputus sebab dia merasa berhasil menggoda sahabatnya itu.
Bersambung....
Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang membangun,
koin seikhlas nya.
Dari kalian semuanya yang selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke karya aku ini.
Semoga bisa jadi bacaan favorit kalian semua ya, salam sayang selalu dari author Khardha Love.
__ADS_1