MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode #93 "Nostalgia" part2


__ADS_3

Happy reading guys!


Ketika pasangan suami istri itu sedang menunggu pesanan mereka datang tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menepuk pundak Khardha.


"Hai dek lama gak ketemu kamu tambah cantik aja, boleh aku duduk disini?" Ujarnya seraya tersenyum manis hingga menampakkan lesung pipinya.


Khardha mendongakkan kepalanya dia sangat terkejut melihatnya, ternyata orang itu adalah mantannya yang bernama Mujahidin. Namun dia berusaha menutupi keterkejutannya dengan memalingkan wajahnya kearah lain tanpa mau menanggapinya.


"Kalau kamu diam aja berarti boleh ya." Mujahidin langsung duduk disamping Khardha sebab Dokter Hasan duduk berhadapan dengannya.


"Kenapa anda harus duduk disini? Tempat lain masih banyak yang kosong?" Dokter Hasan tidak terima dengan kedatangan laki-laki yang langsung duduk disamping istrinya.


"Disini juga kosong, jadi apa salahnya aku duduk disini?" Mujahidin mengangkat satu alisnya.


"Karena anda sudah mengganggu privasi kami!" Tegas Dokter Hasan." Lebih baik kita yang pindah dari sini Sayang." Ujarnya sembari menarik tangan istrinya.


"Tunggu biar aku yang pergi! Serunya dengan beranjak dari duduknya.



"Sampai jumpa lagi ya dek di hari yang penuh kejutan lainnya." Mujahidin menatap Khardha dengan sendu lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


Dokter Hasan yang menyaksikannya


sangat emosi dibuatnya sehingga tanpa sadar dia mencengkram erat tangan istrinya yang ada digenggamannya.


"Tanganku sakit Sayang," keluh Khardha sembari berusaha melepaskan tangannya.


"Siapa dia?" Dokter Hasan menatap istrinya dengan tajam.


"Dia mantanku." Jujur Khardha dengan menundukkan kepalanya.


"Apa maksudnya dia ingin bertemu lagi denganmu?" Dokter Hasan memicingkan matanya dengan mendekatkan wajahnya kemuka istrinya.


" Aku juga gak tau Sayang, aku udah lama gak berhubungan lagi sama dia sekitar lima tahun yang lalu, ketika aku memilih ikut Kak Amey ke Batulicin bantuin jualan di rumah makan nya." Khardha ikut bingung dengan kehadiran mantannya itu.


"Mungkin aja dia masih berharap sama kamu, karena dari tatapannya sangat jelas dia masih ada rasa untukmu. Apakah kamu pernah berjanji sama dia untuk menikah dengannya?"


Dokter Hasan berusaha mengintimidasi istrinya.


"Aku tidak pernah memberikan janji pada seseorang bila aku sendiri tidak bisa menepatinya. Sayang apapun yang terjadi aku akan tetap setia dan jujur sama kamu." Ucap Khardha dengan mengulas senyum tulusnya.


"Benarkah itu Sayang?" Dokter Hasan menangkup wajah istrinya sembari menatap lekat mata coklatnya untuk mencari kebohongan disana namun tidak didapatinya.


"Kamu cemburu ya?" Khardha menaik turunkan kedua alisnya menggoda suaminya untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Munafik kalau aku bilang gak cemburu, hanya suami yang Dayutts yang gak ada rasa cemburu kepada istrinya.


"Dayutts? Apa itu Sayang?" Khardha mengerutkan keningnya dengan sempurna karena baru mendengarnya.


"Dayutts itu adalah seorang suami yang tidak memiliki rasa cemburu sama sekali ketika mengetahui istrinya bermain serong atau selingkuh di depan matanya. Allah sangat membeci orang seperti itu karena membiarkan perbuatan keji dan mungkar dalam kehidupan rumah tangganya terjadi. Padahal seharusnya seorang suami itu adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya agar selalu memberikan contoh yang baik untuk mereka. Begitulah yang aku ketahui tentang Dayutts Sayang." Jelasnya sembari menyedot jus jeruk plus kelapa muda yang baru datang diatas meja.



"Apakah itu artinya aku harus bangga mempunyai suami posesif kayak kamu?" Khardha menumpu dagunya dengan satu tangannya diatas meja menatap kearah suaminya yang masih asyik meminum


jusnya.


"Sayang aku itu posesif sama kamu karena aku gak mau kamu kenapa-napa, aku sangat takut bila ada orang yang ingin memisahkan kita, seperti peristiwa yang telah lalu. Jadi wajar aja aku selalu cemburu sama kamu, jika ada yang berani mendekatimu." Dokter Hasan mencubit pipi istrinya dengan gemas karena melihat wajah polosnya.


"Ishhh sakit Sayang." Khardha menepis tangan suaminya.


"Habisnya kamu gemesin banget liatin aku sampai segitunya." Dokter Hasan mencubit hidung istrinya dan memainkannya.


"Masa liat suami sendiri aja gak boleh?" Khardha kembali menggoda suaminya dengan menaik turunkan alisnya.


"Jangan suka menggodaku Sayang, nanti bukannya nyebarin undangan terus pulang malah aku bawa kamu ke hotel nanti." Dokter Hasan tersenyum smirk.


"Permisi ini pesanannya, selamat menikmati." Ucap pelayan warteg setelah menyajikan makanan diatas meja.



"Ayo kita makan Sayang, aku udah laper banget dari tadi." Khardha langsung mencuci tangannya lalu menyantap makanannya setelah berdoa.


"Ok Sayang, aku juga udah lama gak makan belut sama mandai kayak gini." Dokter Hasan langsung mengikuti apa yang dilakukan istrinya.


Hingga akhirnya mereka berdua sangat kekenyangan, karena bisa menghabiskan makanan sebanyak itu dalam waktu singkat. Setelah membayar semuanya di kasir, pasangan suami istri itu kembali menyebrang jalan untuk mengambil mobilnya yang terparkir dihalaman mesjid Ar-Rahmah. Ketika sudah ada dijalan dan menemukan di perempatan Dokter Hasan bingung hendak kemana lagi, dia akhirnya bertanya pada istrinya.


"Sayang kita harus kemana lagi? Lurus apa belok?" Dokter Hasan melirik istrinya yang duduk dikursi penumpang disampingnya.


Namun teryata tidak ada respon dari Khardha. Sebab dia sibuk ber nostalgia dengan pikirannya sendiri. Dia kembali merasa dejavu ketika melihat taman Basimban yang ada disamping kiri jalan dengan ikon kuda putihnya.



Dulu dia sering kesana untuk bermain sendiri ataupun bersama teman-temannya ketika masih SD, baik naik perosotan, ayunan, putaran layaknya hamster, kereta api dan banyak permainan anak-anak lainnya. Disana juga banyak terdapat binatang yang sengaja dipelihara oleh pengelola taman yang di dana'i oleh pemerintah kota kabupaten. Ada monyet, ular, landak, kelinci, kijang, kancil, rusa, berbagai macam jenis burung, satwa dan binatang lainnya. Sayangnya taman itu sekarang sudah berpindah tempat menjadi lapangan olahraga.


Tepat didepan jalan yang hendak dilewati Dokter Hasan sebelum bertanya pada istrinya juga ada tugu sirang pitu yang menjadi salah satu ikon kota Rantau sekarang dan sering dijadikan awal start lomba mobil hias setiap malam takbiran atau malam hari raya idul Fitri ketika Khardha masih remaja dulu.



Sekarang start lomba mobil hias juga telah berpindah tempat ke jalan ringroad yang baru.

__ADS_1


🌿🌿🌿


"Heyy Sayang kamu dengar gak aku tanyain?" Dokter Hasan langsung menginjak remnya secara mendadak.


Awww... pekik Khardha ketika tanpa sengaja kepalanya membentur kaca jendela mobil.


"Astagfirullah al azdim! Kamu gak papa kan Sayang?" Dokter Hasan membuka seat beltnya lalu mengusap kepala istrinya.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengerem mendadak?" Khardha menarik sudut bibirnya kebawah karena merasakan sakit dikepalanya.


"Maaf Sayang aku gak sengaja bikin kamu sakit, habisnya kamu juga sich gak menyahut ketika aku tanyain mau kemana lagi tadi. Jadi terpaksa aku langsung ngerem mobilnya, biar gak kelewatan atau kesasar. Ujarnya sembari mengusap kepala istrinya yang benjol akibat terbentur tadi.


"Emangnya kamu nanyain apa sama aku?" Khardha langsung menghentikan tangan suaminya yang mengusap kepalanya.


"Tadi aku tanyain sama kamu kita harus lurus apa belok? Gak taunya kamu malah melamun. Aku kan bingung jadinya, terpaksa aku berhenti mendadak. Emangnya kamu lagi mikirin apa Sayang?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya sembari menunggu jawaban istrinya.


"Aku lagi merasa dejavu aja Sayang teringat indahnya kenangan masa kecil dan remaja aku dulu." Jujur Khardha dengan senyum manisnya hingga menampakkan barisan giginya." Loh seharusnya tadi ketika kita keluar dari lingkungan mesjid, kamu ambil jalan lurus aja, kalau sudah sampai disini terpaksa kita harus belok kiri masuk jalan ini, nanti kalau ketemu jembatan belok kiri lagi baru lurus melewati sekolah Mtsn aku dulu, terus belok kanan." Ujarnya mengarahkan suaminya.


"Ok Sayang, kamu jangan ngelamun lagi ya, nanti aku bingung lagi jadinya." Dokter Hasan langsung memutar kemudinya mengikuti arahan istrinya.


Setelah sampai di persimpangan jalan Dokter Hasan kembali melihat tugu yang unik menurutnya, karena penasaran dia akhirnya kembali bertanya pada istrinya.


"Apa maksudnya tugu itu Sayang?" Tunjuknya seraya melirik istrinya yang justru memejamkan matanya.



"Kalau gak salah tugu itu melambangkan banyaknya pertanian di daerah sini khususnya orang yang menanam padi, sebab disini terkenal sebagai lumbung padinya kota Rantau Bastari kabupaten Tapin. Itu aja sich yang aku tau sebab dulu sewaktu aku sekolah Mts disini tugu dan jalan ring road itu belum ada." Jelas Khardha sembari membuka matanya.


Dokter Hasan hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang sedikit lengang karena cuaca yang sangat cerah tidak berawan hari ini.


Jam 14:30


"Sayang besok aja lagi kita terusin nyebarin undangannya ya, aku perhatiin kamu kayaknya udah ngantuk banget kekenyangan apa kecapean sich?" Dokter Hasan mengacak-acak rambut istrinya.


"Terserah aja Sayang kepalaku tiba-tiba pusing banget." Jawab Khardha sembari memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.


"Ya udah kita pulang aja kalau gitu, aku gak mau kamu tambah sakit jika harus dipaksain." Dokter Hasan langsung memutar kemudinya menuju ke rumah mertuanya.


Sebab dia sudah hafal jalan yang ada disekitar rumah mertuanya itu. Sesampainya dihalaman rumah orang tua istrinya itu Dokter Hasan langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk wanita kesayangannya itu. Namun ternyata Khardha telah terlelap sejak dijalan tadi, karena tidak mau mengganggu kenyamanan istrinya dia langsung menggendongnya ke dalam rumah, membawanya masuk kekamar lalu membaringkannya diatas ranjang. Setelah itu dia mengunci pintu kamarnya, menanggalkan pakaiannya hingga tertinggal celana boxer saja. Tanpa pikir panjang lagi dia juga ikut merebahkan dirinya disamping istrinya lalu memiringkan tubuhnya.


Istirahatlah dan tidurlah yang nyenyak Sayang, semoga setelah kamu bangun nanti sakit kepalamu sudah sembuh," gumamnya dalam hati sembari mencium kening istrinya.


Tidak berselang lama dia pun akhirnya ikut terlelap dengan menjadikan tubuh istrinya sebagai gulingnya.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian juga melalui vote, like, komen, koin nya. Agar aku selalu semangat meneruskan cerita ini disela kesibukanku didunia nyata.


__ADS_2