
Happy reading guys!
Setelah ditangani dengan intensif Khardha yang masih terbaring lemah hingga malam hari belum juga menunjukkan akan segera sadar. Dokter Hasan yang selalu setia menungguinya hanya bisa berdoa dalam hatinya untuk keselamatan istri juga anak-anaknya.
Ya Allah selamatkan istri dan anak-anakku, sadarkanlah dia secepatnya, berikan dia kekuatan agar bisa melahirkan anak-anak kami dengan selamat sampai waktunya tiba nanti." Doanya sambil menggenggam tangan istrinya lalu menciuminya.
"Bangunlah Sayang aku ingin melihatmu kembali tersenyum menatapku, bercanda ria dan berbagi suka duka bersamaku." Bisiknya ditelinga istrinya sembari mengusap kepalanya lalu mencium keningnya." Anak-anak papah yang pintar ya diperut mamah, jangan bikin mamah sakit lagi sayang, kasian mamah sudah mengandung kalian sampai dia seperti ini." Dokter Hasan mengajak baby twins yang masih dalam kandungan istrinya bicara sambil mengelus-elus perut buncitnya lalu menciumnya.
Tok...tok...tok...suara pintu diketuk dari luar. Dokter Hasan segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Dia mengerutkan keningnya menatap seorang Dokter wanita yang baru dilihatnya namun tidak asing baginya berdiri dibalik pintu.
"Ini hasil pemeriksaan istri anda Dokter." Menyodorkan sebuah map ketangan Dokter Hasan.
"Terimakasih. Maaf apakah benar anda Dokter kandungan yang direkomendasikan oleh Dokter Selvi untuk menggantikannya menangani istri saya?" Tanyanya memastikan karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk lagi menimpa istrinya bila sembarang Dokter yang menanganinya.
"Iya Dokter saya Reisa Dokter spesialis kandungan yang ditunjuk untuk menangani istri anda." Jawabnya menegaskan.
"Perasaan dulu anda juga yang pertama kali menyatakan istri saya hamil ketika kami ada di rumah sakit dikota Rantau." Dokter Hasan baru mengingat Dokter wanita yang ada didepannya.
"Benar Dokter waktu itu saya masih bertugas di sana, sekarang saya pindah kesini karena mengikuti suami." Menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyumnya.
"Apakah suami anda Dokter Rasyid?" Bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Benar sekali Dokter, kami menikah tujuh bulan yang lalu. Permisi saya mau periksa keadaan istri anda sebentar, untuk memastikan keadaannya sekarang sudah ada perubahan apa belum." Dokter Reisa meminta izin untuk masuk.
"Baiklah silahkan masuk!" Dokter Hasan memberikan jalan untuk Dokter Reisa lalu mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk Dokter Reisa langsung melakukan tugasnya dengan cekatan. Dokter Hasan yang memperhatikannya dengan seksama sembari menunggu hasilnya merasa sangat was-was karena takut akan terjadi sesuatu hal tidak di inginkan kembali menimpa istri dan anak-anaknya.
"Bagaimana apakah ada perubahan yang lebih baik?" Tanyanya ketika melihat Dokter Reisa menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Istri anda sebenarnya sudah melewati masa kritisnya tapi karena ada penyakit lain yang bersarang ditubuhnya itu yang menyebabkan dia belum sadar sampai saat ini. Untuk mengetahui perkembangan baby twins yang dikandungnya mari kita lakukan USG sekali lagi." Jawabnya sembari mengambil alat ultrasonografi setelah mengoleskan jel ultrasonik diperut Khardha.
Dokter Hasan memperhatikan layar monitor yang ada disamping Dokter Reisa dengan seksama sembari menunggu penjelasannya.
"Posisi baby twins nya sungsang sehingga menekan plasentanya yang berada di bawahnya, itulah yang menyebabkan istri anda sering mengalami pendarahan. Istri anda juga harus benar-benar bedrest Dokter karena itu akan membantunya untuk mempertahankan kandungannya agar tidak lahir sebelum waktunya." Dokter Reisa berkata dengan nada seriusnya.
"Maksud anda baby twins nya juga mengalami masalah?"
"Iya Dokter, anda harus menjaga mereka lebih
extra lagi jangan sampai istri anda mengalami pendarahan lagi, karena itu akan berakibat sangat fatal."
Dokter Hasan terlihat syok mendengarnya dia langsung terduduk lemas dikursi samping bed pasien istrinya sambil memijit pangkal hidungnya. Dokter Reisa dan bi Tutik yang melihatnya merasa prihatin dengan kondisinya namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengingatkannya.
"Saya permisi dulu Dokter Hasan." Dokter Reisa beranjak pergi dari sana.
"Tuan Dokter anda belum makan sedari siang tadi, ini bibi bawakan makanan untuk Tuan." Bi Tutik memberikan bungkusan makanan yang baru saja dibelinya di kantin rumah sakit.
"Taruh aja dulu dimeja Bi, nanti saya makan." Dokter Hasan benar-benar kehilangan nafsu makannya mengetahui kondisi terkini istri dan anak-anaknya.
Dia menelungkupkan wajahnya disamping bed pasien istrinya dengan menggenggam tangan wanita yang sangat dicintainya itu. Karena sangat kelelahan dia tertidur dengan posisi seperti itu.
Jam menunjukkan pukul 04:00 tiba-tiba jari-jari Khardha bergerak digenggamannya, Dokter Hasan langsung terjaga dalam tidurnya ketika merasakannya. Dia mengangkat wajahnya menatap istrinya yang mulai membuka matanya.
"Sayang...," panggilnya dengan nada sangat lembut lalu mengecup keningnya.
Khardha menatap suaminya dengan menyunggingkan senyumnya walaupun dia merasa pandangan matanya tidak jelas namun dia sangat mengenali suaranya.
"Apa yang kamu rasakan Sayang?" Dokter Hasan mengusap lembut kepala istrinya.
"Mataku kabur Sayang, kepalaku pusing." Lirih Khardha dengan mengerjapkan matanya.
Itu artinya kadar gula dalam darahnya naik lagi, aku juga gak bisa memberikan sembarang obat karena kandungannya juga bermasalah," batinnya dengan memejamkan matanya.
"Istirahatlah Sayang aku akan selalu jagain kamu disini." Ujarnya sembari memperbaiki selimut yang menutupi tubuh istrinya.
__ADS_1
"Aku haus banget Sayang, tolong ambilin air putih ya," pinta Khardha dengan menyentuh tangan suaminya yang mengelusi perutnya.
"Iya Sayang, kamu jangan banyak gerak ya, nanti kamu pendarahan lagi." Ujarnya mengingatkan istrinya sambil membantunya meminum air dengan gelas yang diambilnya diatas nakas.
"Aku mau pipis kekamar mandi dulu." Khardha menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Jangan bangun Sayang, perawat sudah memasang selang disana supaya kamu gak usah repot kekamar mandi." Menahan istrinya agar tidak beranjak dari ranjangnya.
"Kenapa harus pakai selang? Aku kan bisa kekamar mandi sendiri." Khardha menepis tangan suaminya yang memegangi bahunya.
"Mulai sekarang kamu gak boleh beranjak sedikitpun dari ranjang ini Sayang, semuanya demi kebaikanmu dan anak-anak kita." Ujarnya sembari mengusap kepala dan mengelusi perut istrinya.
"Aku gak mau terus diatas ranjang rumah sakit ini, aku mau pulang ke rumah kita sendiri!" Lirih Khardha dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk sementara kamu harus dirawat disini dulu Sayang, supaya Dokter ahli kandungan selalu bisa mengontrol kondisimu secara langsung. Aku gak mau kamu dan baby twins kita kenapa-napa, aku sangat menyayangi kalian semua, sebab kalian adalah semangat hidupku, nafas dalam kehidupanku. Aku mohon mengertilah Sayang, semuanya demi kebaikanmu juga." Ucapnya sembari merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya dengan berbaring di sampingnya.
"Tapi sampai kapan Sayang?" Desis Khardha dalam dekapan suaminya.
"Sampai kamu gak mengalami pendarahan lagi Sayang, aku akan selalu ada untukmu. Disini aku juga bisa sambil bertugas dan memantau kondisimu. Aku akan menyuruh bi Tutik dan perawat yang profesional untuk menjagamu." Jawabnya sembari menciumi puncak kepala istrinya.
Drett...drettt...handphone Khardha yang diletakkan di atas nakas bergetar karena dalam mode silent, dia mendongakkan kepalanya menatap suaminya dengan sendu.
"Tolong ambilkan hpku Sayang." Pintanya sembari melonggarkan pelukan suaminya.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap manik mata istrinya. Dia menjangkau handphone wanita kesayangannya itu lalu menyerahkannya.
π²"Assalamualaikum." Khardha menerima panggilan dari ibunya.
π±"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Gimana kabarmu nak? Ibu sangat gelisah memikirkanmu." Bu Hana mengatakan maksudnya menelpon anak bungsunya itu.
π²"Inshaallah aku baik-baik aja Bu." Jawab Khardha karena tidak ingin membebani pikiran ibunya.
π±"Syukurlah kalau begitu, ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak." Bu Hana menghela nafasnya dengan berat karena masih terasa ada yang mengganjal di hatinya.
Memang naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi walaupun kita berusaha menyimpan masalah dengan rapi, itulah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.
Karena dia sangat terharu dengan perhatian yang diberikan ibunya walaupun itu hanya bertanya kabar semata.
π±"Ya udah nanti lain kali kita sambung lagi ya nak, assalamualaikum." Bu Hana mengakhiri panggilannya.
Sebab waktu sudah menjelang subuh terdengar jelas suara orang melantunkan ayat suci al-qur'an dari speaker musholla dekat rumah bu Hana.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Khardha menyerahkan kembali handphonenya kepada suaminya. Dokter Hasan menerimanya kemudian menaruhnya kembali diatas nakas. Dia menghapus airmata istrinya yang menetes pelupuk matanya.
"Jangan menangis Sayang, aku gak mau liat kamu bersedih." Ujarnya sembari mencium kening, mata, pipi dan bibir ranum istrinya.
Dia sengaja mencium bibir istrinya lebih lama untuk menenangkan hati wanita kesayangannya itu dan juga pikirannya sendiri karena perasaannya masih sangat mengkhawatirkan kondisi wanita yang sangat dicintai itu, begitu juga dengan baby twins yang ada didalam kandungannya. Khardha hanya memejamkan matanya sembari menikmati sentuhan lembut dari bibir suaminya, hingga suara azan dari speaker mesjid berkumandang barulah Dokter Hasan melepaskan tautan bibirnya.
"Istirahatlah Sayang aku mau ke mesjid dulu." Ucapnya sembari beranjak turun dari ranjang setelah mengecup kening istrinya lalu memperbaiki letak selimutnya.
Khardha menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyumnya. Dokter Hasan akhirnya melangkahkan kakinya menuju mesjid yang ada di lingkungan rumah sakit itu setelah berwudhu dikamar mandi.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Tiga bulan kemudian Khardha yang sudah tidak mengalami pendarahan lagi sedang melayani suaminya diatas ranjang. Dokter Hasan melakukannya sangat lembut namun tanpa sadar dia mengeluarkan ****** didalam inti istrinya sehingga membuat Khardha mengalami kontraksi setelahnya. Dia bolak-balik keluar masuk kamar mandi karena terasa ingin selalu buang air. Dokter Hasan langsung terbangun ketika meraba tempat tidurnya tidak ada istrinya disampingnya. Dia menyibak selimutnya lalu beranjak mencari kekasih halalnya itu.
"Sayang kamu dimana?" Teriaknya hingga menggema ke seluruh kamarnya yang kedap suara itu.
Ceklek...Khardha membuka pintu kamar mandi sambil memegangi perutnya. Dokter Hasan langsung berlari menghampiri istrinya lalu menahan tubuhnya karena melihatnya hampir terjatuh kelantai.
"Kenapa kamu gak bangunin aku Sayang kalau mau kekamar mandi?" Tanyanya sambil menggendong tubuh istrinya lalu membaringkannya diatas ranjang.
"Aku gak mau gangguin kamu tidur Sayang, sebab sehabis kita berhubungan tadi rasanya aku pengin buang air terus-menerus." Jujur Khardha sembari menahan mules yang semakin sering dirasakannya.
"Jangan-jangan kamu mengalami kontraksi, lebih baik kita kerumah sakit aja ya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi sama kamu." Ujarnya dengan mengelus-elus perut istrinya.
__ADS_1
Khardha menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit diartikan karena perasaannya sudah tidak karuan akibat menahan sakitnya. Dokter Hasan bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, seusai mandi dia langsung mengenakan bajunya dan mengambil tas yang sudah disiapkan istrinya jauh-jauh hari lengkap dengan semua yang diperlukannya selama dirumah sakit nanti. Tidak lupa dia turun kebawah untuk memanggil bi Tutik agar ikut kerumah sakit.
"Bi Tutik!" Serunya ketika melihat asisten rumah tangganya itu berada didapur sedang mengambil air minum.
"Ya Tuan Dokter ada yang bisa saya bantu?" Bi Tutik berjalan menghampirinya.
"Bi Tutik cepat siap-siap ikut kami sekarang kerumah sakit tolong bawakan tas ini masukan kedalam mobil." Pintanya kemudian kembali keatas untuk menggendong istrinya.
"Sayang jika aku melahirkan malam ini, aku ingin melahirkan secara normal." Ujar Khardha ketika berada dalam gendongan suaminya karena ketika melakukan USG terakhir baby twins nya sudah berada dalam posisi normal.
"Kita liat gimana baiknya aja ya Sayang, yang penting kamu sama baby twins bisa selamat, aku gak mau ambil risiko lagi." Tegasnya sembari membaringkan istrinya dikursi penumpang yang ada dijok belakang dengan dipangku oleh bi Tutik.
Setelah semuanya sudah siap Dokter Hasan langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Dia menghubungi Dokter Reisa terlebih dulu agar istrinya bisa ditangani secepatnya sesampainya di sana. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di area parkiran rumah sakit Dokter Hasan segera membawa istrinya ke ruang bersalin sesuai petunjuk Dokter Reisa. Ketika di periksa oleh perawat yang menjadi asisten Dokter Reisa ternyata pembukaan jalan lahirnya baby twins Khardha sudah lengkap. Dokter Reisa bersama para asistennya segera
menyiapkan semuanya untuk persalinan Khardha secara normal dan operasi cesar bila diperlukan.
"Ok, ikuti arahan saya ya Khardha, apabila saya suruh dorong silahkan mengejan." Perintah Dokter Reisa kepada Khardha yang tampak menahan sakitnya.
Khardha mengisyaratkan dengan matanya tanda mengerti, Dokter Hasan selalu setia memberikan support untuk istrinya dengan berdiri disamping kepalanya sembari mencium keningnya lalu berdoa dalam hatinya.
Ya Allah lancarkan proses persalinan istriku ini, berikan kekuatan kepadanya agar bisa melahirkan anak-anak kami dengan selamat," batinnya dengan membiarkan istrinya mencengkram kuat lengannya.
"Tarik nafas dalam-dalam dari hidung lalu keluarkan lewat mulut dengan perlahan sambil mengejan ya." Dokter Reisa kembali mengintruksikan kepada Khardha." Ok sekarang dorong kuat-kuat.
Emmmm... akkkhhhh....teriak Khardha mengejan sekuat tenaganya hingga lahirnya anak pertamanya.
"Selamat ya anak pertamanya laki-laki. Ok sekarang yang kedua silahkan tarik nafas seperti tadi lalu dorong." Dokter Reisa kembali mengarahkannya.
Khardha terlihat sangat kelelahan dengan keringat yang bercucuran sebesar butiran jagung didahinya, namun dia masih berusaha melahirkan anak keduanya dengan sekuat tenaganya yang tersisa. Dokter Hasan mengelap keringat istrinya dengan saputangannya sembari terus berdoa dalam hatinya. Dia juga terus menyemangati wanita yang sedang berjuang melahirkan anak-anaknya itu dengan membisikkan kata-kata cintanya.
"Semangatlah Sayang aku akan semakin mencintaimu bila kamu berhasil melahirkan anak-anak kita dengan selamat." Bisiknya ditelinga istrinya.
"Sekali lagi dorong kuat-kuat kepalanya sudah keliatan, satu dua tiga dorong."
Emmmm.... akkkhhhh....Teriakan Khardha kembali menggema dalam ruangan itu namun tiba-tiba dia pingsan setelah berhasil melahirkan anak keduanya. Dokter Hasan sangat panik melihat kondisi istrinya dia langsung menepuk- nepuk pipinya dengan lembut untuk menyadarkannya.
"Sayang bangun Sayang." Panggilnya dengan lembut.
Oek...oek...oek...kedua anak yang baru lahir itu langsung menangis kencang saling bersahutan karena merasakan ikatan yang sangat kuat dengan ibunya. Dokter Reisa sengaja mendekatkannya kepada Khardha, agar segera merespon ketika mendengar suara tangisan anak-anaknya. Khardha perlahan-lahan membuka matanya, dia tersenyum melihat anak-anaknya yang ada digendongan para perawat disampingnya.
"Apakah aku boleh memberikan IMD (inisiasi menyusu dini)?" Khardha menyentuh kepala anak-anaknya.
"Tentu saja karena itu sangat bagus untuk pertumbuhan tulang mereka." Jawab Dokter Reisa seraya tersenyum.
"Tunggu aku belum mengadzani mereka Sayang." Sergah Dokter Hasan lalu masuk kamar mandi untuk berwudhu.
"Kenapa sampai lupa Sayang?" Khardha mengerutkan keningnya sembari menatap suaminya.
"Aku tadi terlalu mencemaskanmu." Jujur Dokter Hasan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Semua orang tersenyum melihat tingkah laku Dokter Hasan yang sudah menjadi papah muda itu, mereka semua sudah tahu bahwa dia memang sangat mencintai istrinya. Setelah Dokter Hasan keluar dari kamar mandi, para perawat satu persatu menyerahkan baby twins yang mungil dan sangat menggemaskan itu untuk di adzan kan lalu menyusu kepada ibunya. Dokter Hasan meneteskan airmatanya karena sangat terharu menyaksikan sendiri perjuangan istrinya melahirkan anak-anaknya, dia juga sangat bahagia melihat baby twins nya lahir dengan sehat dan selamat.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sebulan kemudian baby twins yang sangat menggemaskan itu terlihat tertidur pulas di dalam box bayi nya setelah menyusu pada Mamahnya.
Sayang jadilah anak-anak yang sholeh dan sholehah kelak, karena kalian berdua adalah buah hati yang terlahir dari cinta mamah dan papah. Jadilah kebanggaan kami lahir batin dunia akhirat, kehadiran kalian berdua didunia ini benar-benar menjadi kebahagiaan yang tak terhingga untuk mamah dan papah." Gumam Dokter Hasan dalam hatinya sembari memeluk erat istrinya dari belakang ketika baby twins nya itu tertidur nyenyak dalam box bayi mereka.
----------------Tamat-------------
Alhamdulillah akhirnya cerita "MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER season2" selesai juga.
Terimakasih kepada teman-teman semuanya baik para reader ataupun author yang setia mengikuti cerita ini.
__ADS_1
Sampai berjumpa lagi ya di novel aku berikutnya, yang akan menceritakan romansa kehidupan anak-anak mereka dengan judul "Dokter Cinta Spesialis Hati"