
Happy reading guys!
Mari kita buka puasa dulu Kak, tadi saya sudah pesan makanan ringan untuk berbuka," tawar Dokter Hasan kepada kakak iparnya
" Ok, kebetulan tadi istriku juga membawa makanan untuk kita semua berbuka, sebentar ya aku panggil dia dulu." Bripka Gusti Hamidi melangkahkan kakinya menuju pintu untuk mencari istri & anaknya.
"Iya Kak!" Seru Khardha & Dokter Hasan serempak.
"Apa kamu juga mau makan Sayang?" Tanya Dokter Hasan sembari berjalan mendekati istrinya yang terbaring dibed pasien.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap kearah Dokter Hasan dari atas kebawah tanpa berkedip. Sebab dia belum bisa mengingatnya sama sekali, namun hatinya mulai mengagumi sosok laki-laki yang selalu memanggilnya dengan sebutan Sayang itu.
Kalau diperhatiin dia ganteng juga, senyumannya mengingatkanku pada seseorang yang pernah dekat denganku, tapi siapa ya?" Gumam Khardha dalam hatinya.
"Sini aku bantu lepasin jarum infusnya ya Sayang," ucap Dokter Hasan sembari melepaskan jarum infus ditangan Khardha dengan cekatan.
"Kenapa kamu masih saja memanggil aku dengan sebutan Sayang?" Tanya Khardha seraya mengerutkan keningnya.
"Itu kan hal yang wajar dek, dia kan memang suami kamu!" Jawab Bripka Gusti Hamidi sembari melangkah masuk bersama anak istrinya.
"Kakak jangan becanda gak lucu tau!" Sergah Khardha tidak terima dengan jawaban kakaknya.
"Gak ada yang boleh bercanda soal pernikahan dek, kami gak mungkin mempermainkanmu." Ucap Bripka Gusti Hamidi dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya sembari duduk ditepi ranjang pasien disamping kanan adiknya.
"Jika benar aku sudah menikah, mana buktinya Kak?" Khardha masih belum bisa percaya begitu saja apa yang dikatakan kakaknya.
"Tuh cincin di jari manis kamu sama foto kalian berdua ini apa belum cukup juga!" Tunjuk Bripka Gusti dengan tersenyum menatap wajah adiknya yang terlihat sangat menggemaskan karena kepolosannya.
Aku rindu sekali menjahili kamu dek, tapi aku juga tidak tega melihat kamu yang masih amnesia seperti sekarang ini, gumam Gusti dalam hatinya.
Khardha memperhatikan cincin di jarinya & foto di atas nakas yang sengaja di letakkan Dokter Hasan disana agar dia juga istrinya selalu ingat momen kemesraan mereka.
"Tapi aku masih belum yakin Kak," lirih Khardha dengan menatap sendu kearah kakaknya.
"Gak usah dipaksain Sayang, pelan-pelan kamu pasti akan ingat kok." Ucap Dokter Hasan merasa kasian pada istrinya bila terus di paksakan pasti akan tertekan.
"Ya udah ayo kita bukber dulu!" Ajak Bripka Gusti Hamidi sembari beranjak menuju meja sofa karena disana istrinya sudah menyajikan makanan untuk mereka.
Dokter Hasan & Khardha menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ajakkan kakaknya.
"Sini aku bantu turun dari ranjang Sayang." Dokter Hasan mengulurkan tangannya kemudian menuntun istrinya berjalan menuju sofa.
Mereka semua akhirnya buka puasa bersama dengan suasana hangat penuh kekeluargaan. Sehabis makan mereka sholat berjamaah dalam kamar VVIP yang luas itu. Sesudah selesai melaksanakan sholat mereka bersalaman satu sama lain, namun Khardha tampak ragu mencium punggung tangan suaminya, dengan sigap Dokter Hasan terlebih dahulu mencium keningnya.
Sehingga membuat Bripka Gusti Hamidi, anak & istri tertawa melihat kelakuan suami istri itu.
"Tante sama Om lucu kayak olang lagi malahan telus baikan!" Seru keponakannya Khardha dengan celoteh khas anak kecilnya yang masih cadel ketika berbicara.
Pasangan suami istri itu pun tersenyum & memalingkan wajahnya kearah lain karena merasa malu di komentari oleh anak kecil usia lima tahun yang berpikir sok dewasa itu.
"Kamu itu ya anak kecil, sok tau banget sich urusan orang tua!" Seru Khardha sembari mencubit kedua pipi keponakannya dengan gemas.
"Ishhh Tante aku itu udah besal tau, bukan anak kecil lagi." Protesnya sembari menepis tangan Khardha.
Mereka semua tergelak mendengar ocehannya terutama Dokter Hasan yang dengan sengaja merangkul pinggang istrinya sambil berbisik.
"Kamu mau punya anak menggemaskan seperti dia Sayang nanti kita kerja sama membuatnya." Lirihnya ditelinga istrinya dengan nada menggoda.
Khardha langsung mendelik mendengar bisikan Dokter Hasan yang sangat mesum menurutnya.
"Kalau begitu kami permisi pulang dulu ya," pamit Fida istrinya Bripka Gusti Hamidi mewakili suami dan anaknya.
__ADS_1
Dokter Hasan & Khardha berjalan mengantarkan mereka sampai didepan pintu.
"Ingat Rara istri sholehah itu adalah yang selalu menurut apa kata suaminya." Pesan Bripka Gusti Hamidi menasehati Khardha
agar tidak ragu & merasa canggung lagi dengan suaminya walaupun ingatannya belum pulih seutuhnya.
" Iya Kak," sahut Khardha berusaha menerima kenyataan yang masih diragukannya.
"Ya udah kami balik dulu. Assalamualaikum!" Ucap Bripka Gusti anak dan istrinya bersamaan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha & Dokter Hasan melepas kepergian mereka.
Setelah menutup pintu Khardha kembali merasa canggung dengan kehadiran Dokter Hasan sebagai suaminya. Dia masih sangat bingung dengan kenyataan, yang telah membuktikan bahwa dia benar-benar sudah menikah. Karena terlalu asyik melamun
tanpa sadar dia menabrak tubuh suaminya yang sedari tadi memperhatikannya, hingga terjungkal diatas sofa. Dengan posisi Khardha diatas suaminya & wajah mereka juga sangat dekat tinggal beberapa centimeter saja lagi, hembusan nafas keduanya saling beradu menerpa muka mereka masing-masing.
Deg...deg...deg...suara jantung mereka berdetak sangat cepat seperti sedang lari maraton.
"Sayang aku tau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini iya kan." Lirihnya sembari mengeratkan rangkulannya dipinggang istrinya.
Dokter Hasan perlahan memangkas jarak yang ada diantara mereka dengan mendekatkan wajahnya kemuka istrinya berniat ingin mencium bibir tipis nan sensual yang selalu menggodanya itu. Namun tiba-tiba Khardha mendorong tubuh suaminya hingga membuat Dokter Hasan tersentak kaget dibuatnya.
"Maaf aku belum siap!" Ucap Khardha dengan beranjak menghindari suaminya sembari melangkah mundur menjauhinya.
"Aku akan selalu menunggumu sampai kamu benar-benar siap menerimaku lagi. Sebab kamulah sumber kebahagiaanku Sayang." Ujarnya sembari menatap lekat wanita yang sangat dicintainya itu.
Kenapa dia berkata seperti itu? seakan aku sangat berarti baginya!" Gumam Khardha dalam hatinya.
Kamu memang sangat berarti bagiku Sayang.
Sebab kamulah sumber kebahagiaanku sekarang, aku a**kan selalu berusaha membahagiakanmu bagaimanapun caranya, walaupun itu harus mengorbankan jiwa dan ragaku sekalipun," batin Dokter Hasan dengan menatap intens kearah istrinya.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" Tanya Khardha dengan memicingkan matanya.
"Sayang seorang suami memandang istrinya itu adalah ibadah begitupun sebaliknya." Jawab Dokter Hasan seraya tersenyum penuh arti.
"Kapan kita pulang ke rumah?" Tanya Khardha karena merasa bosan dengan bau obat-obatan yang ada dirumah sakit.
"Terserah kamu aja Sayang." Jawab Dokter Hasan tanpa mengalihkan pandangannya kepada istrinya.
"Kenapa harus terserah aku?" Tunjuk Khardha
pada dirinya sendiri.
"Karena aku gak mau memaksamu Sayang." Sahut Dokter Hasan dengan menumpu dagunya diatas tangannya seraya tersenyum menatap wajah cantik istrinya.
" Ehh tunggu dulu! Perasaan aku sering dengar apa yang kamu bilang barusan. Sebenarnya apa sich yang terjadi antara kita dulu sebelum aku masuk rumah sakit? Kamu bisa ceritain kan!" Pinta Khardha sembari duduk bersila menghadap suaminya diatas sofa.
''Sayang kamu itu dulu sering banget menolak aku untuk mencintaimu sehingga membuatku terus berjuang pantang menyerah untuk mendapatkan cintamu, tapi anehnya kamu tidak pernah menolak ketika aku menyentuhmu untuk pertama kalinya. Makanya aku selalu mengatakan aku tidak akan memaksamu Sayang." Jujur Dokter Hasan sembari menggenggam tangan istrinya.
"Terus kenapa kita sampai menikah?" Tanya Khardha lagi.
"Dulu kita di jodohkan Sayang. Sewaktu kita pertama kali bertemu aku langsung mengajakmu bertunangan sebab aku sudah jatuh cinta kepadamu ketika melihat fotomu & mendengar cerita kak Tiara tentang kamu. Namun ketika hendak makan bersama keluarga kamu tiba-tiba pingsan di samping aku. Setelah itu aku segera membawa kamu ke kamar untuk memeriksa keadaanmu waktu itu." Dokter Hasan menceritakan awal mula pertemuan mereka.
"Kenapa aku bisa pingsan?" Sela Khardha karena penasaran dengan apa yang terjadi kepada dirinya sendiri.
"Aku gak tau pasti kenapa, tapi yang jelas setelah itu kamu lama sekali belum juga sadar hingga kamu mengalami demam yang sangat tinggi. Jadi aku berinisiatif untuk membawamu ke rumah sakit di kota Rantau.
Sampai aku bela-belain mengambil cuti untuk menjaga kamu disana. Supaya aku bisa memastikan keadaanmu baik-baik aja Sayang. Karena aku sangat mengkhawatirkan kamu waktu itu." Tutur Dokter Hasan sembari menciumi tangan istrinya.
"Emmmm, makasih ya kalau gitu." Ucap Khardha dengan tersenyum tulus.
Ternyata dia sangat perhatian kepadaku, jantungku juga selalu berdetak kencang bila dekat dengannya, ada desiran aneh yang aku rasakan, apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya?" Gumam Khardha dalam hatinya sembari menatap mata hazel suaminya untuk mencari kebohongan disana namun ternyata tidak ditemukannya.
__ADS_1
"Iya sama-sama Sayang," Dokter Hasan membalas senyuman istrinya hingga menampakkan barisan gigi putihnya.
"Terus berapa lama kita tunangan kemudian menikah?" Khardha masih berusaha mengorek masa lalu mereka.
"Kita bertunangan selama empat bulan & menikah tanggal 22-02-2019." Jelasnya dengan menatap intens manik mata istrinya.
"Terus gimana kita bisa honeymoon?" Khardha semakin penasaran.
"Terus, terus kayak tukang parkir aja dech Sayang!" Dokter Hasan mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Aku kan nanya terusan cerita kamu, wajar aja kan aku bilang terus-terus!" Seru Khardha memajukan bibirnya kedepan sembari menepis tangan suaminya yang menjepit hidungnya.
"Sayang bibirmu itu loh, bikin aku tambah gemas tau! Kalau aku gak tahan terus cium kamu gimana? Jadi jangan salahin aku ya kalau itu sampai terjadi." Ucapnya dengan menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.
"Udah gak usah bahas masalah bibir. Kita lanjutin lagi ceritanya. Aku tadi nanya gimana bisa kita honeymoon sedangkan aku gak cinta sama kamu?" Penasaran Khardha benar-benar ingin mengetahui secara detail hubungan pernikahannya.
"Sayang kalau kamu nanyain gimana kita honeymoon aku malu menceritakannya. Mending kita langsung praktek aja yuk!" Dokter Hasan menarik tangan istrinya agar beranjak dari duduknya.
"Ishh itu sich maunya kamu." Cebik Khardha sembari beranjak dan melepaskan tangannya.
"Heyy jangan marah kayak gitu dong Sayang!" Sentak Dokter Hasan menarik kembali tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
"Aku nanya serius sama kamu biar aku bisa mengingat semuanya dengan cepat! Tapi kenapa kamu malah ngajakin aku praktek? Apa di otak kamu itu isinya hanya ada hal-hal yang mesum? Apa karena kamu seorang Dokter makanya kamu selalu ingin mempraktekkan semuanya? Aku kecewa sama kamu." Ucap Khardha dengan menekankan kata-katanya sembari beranjak pergi meninggalkan suaminya yang terpaku ditempatnya.
"Ok aku minta maaf, tapi aku mohon jangan
ngambek ya plis." Ucap Dokter Hasan dengan menangkup kedua tangannya diatas dada sembari menghalangi langkah istrinya.
"Udah aku capek, pengin cepat istirahat mending kita sholat isya, terus tidur besok pagi kita pulang kerumah." Sergah Khardha dengan menghindari suaminya yang ada didepannya.
"Iya Sayang, apapun keinginanmu pasti akan kuberikan sekuat semampuku yang penting kamu selalu bahagia menjalani hidup bersamaku." Ucap Dokter
Hasan dengan sangat serius.
"Ingat jangan macam-macam! Bila aku sudah tidur nanti." Seru Khardha dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya.
"Enggak sayang aku gak macam-macam kok
cuma satu macam aja." Lirihnya dengan nada sendu seraya mengulas senyum penuh makna yang terkandung di dalamnya.
Aku cuma mau tidur sambil memelukmu Sayang," gumam Dokter Hasan dalam hatinya.
"Huhhhh..."Khardha mendelik tajam kearah suaminya.
"Sayang kok kamu galak banget sich sekarang?" Sergahnya masih saja mengikuti langkah istrinya sampai depan pintu kamar mandi.
"Stop! Jangan ikuti aku lagi!" Pekik Khardha dengan menaikkan nada suaranya.
Bersambung....
Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya, bagi yang menjalankan nya, semoga amal ibadah kita diterima Allah subhanna wata'ala.
Aamiin ya robbal alamin.
Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman dengan cara tinggalkan jejak melalui,
Vote yang banyak
Like yang tiada henti
Komen yang membangun
Koin seikhlas nya
__ADS_1
Dari kalian semua yang sudah mau mampir ke karya aju ini.
Semoga selalu jadi bacaan favorit kalian ya! Salam sayang selalu dari author Khardha Love.