MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode#11 "Pulkam"


__ADS_3

Happy reading guys!


Allahuakbar.... Allahuakbar....Suara azan di aplikasi muslim melalui handphone Khardha & Dokter Hasan terdengar bersamaan, menandakan waktu berbuka sudah tiba.


Dengan segera mereka berdua membaca doa berbuka puasa & meminum teh hangat yang dibuat Khardha sebelumnya tadi.


Sehabis minum & memakan kurma juga mencicipi kue bingka berendam buatan istrinya Dokter Hasan segera mengajaknya sholat maghrib terlebih dulu.


"Sayang ayo kita sholat maghrib dulu,


sehabis itu kita makan malam baru otw pulkam," ucap Dokter Hasan sembari menarik tangan istrinya kemudian menggandengnya


menuju keatas masuk kamar pribadi mereka.


"Ok, Sayang," sahut Khardha sembari mengikuti langkah suaminya.


Mereka berdua segera berwudhu & menunaikan sholat maghrib berjamaah


kemudian berzikir sebentar juga berdoa. Seusai melaksanakan kewajiban mereka kepada sang pencipta, Dokter Hasan kembali menagih jatah' nya.


"Sayang kamu gak ngasih aku bekal' dulu biar semangat menyetir di perjalanan," ujarnya memberikan kode keras sembari menatap istrinya dengan tatapan penuh arti setelah bersalaman & mencium keningnya.


"Apa kamu gak capek nanti di jalan Sayang?" Tanya Khardha sambil membelai wajah suaminya dengan lembut.


"Inshaallah enggak Sayang, justru aku tambah semangat bila sudah kamu kasih bekal', sebab kalau disana kita pasti gak bisa leluasa melakukannya." Jawab Dokter Hasan memberikan alasannya meminta hak nya, sembari meraih tangan istrinya & menciumi telapak tangannya penuh cinta.


"Ya udah terserah kamu aja Sayang." Pasrah Khardha karena tidak pernah bisa menolak kemauan suaminya sebab dia takut berdosa & di laknat malaikat sesuai ilmu agama yang diketahuinya.


Mendapat lampu hijau dari istrinya, Dokter Hasan pun segera melancarkan aksinya,


dengan mencumbu istrinya terlebih dahulu, sampai akhirnya dia merasa sangat puas dengan pelayanan yang di berikan istrinya,


barulah dia menghentikan aksinya.


"Makasih ya Sayang kamu selalu memberikan yang terbaik untukku." Ucapnya seraya mencium kening istrinya & memeluknya erat.


"Sama-sama Sayang." Balas Khardha sembari


menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Ya udah yuk Sayang, kita mandi dulu, sholat isya, makan malam terus baru kita otw pulkam." Ajak Dokter Hasan dengan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Khardha menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan suaminya. Dokter Hasan langsung menggendong tubuh istrinya membawanya menuju kamar mandi mereka yang di desain dengan warna merah putih sesuai warna favorit mereka berdua.



Dokter Hasan sengaja mengajak istrinya mandi bersama agar tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan diri mereka berdua. Begitulah pasangan suami istri yang masih bisa di bilang pengantin baru itu menghabiskan waktu berdua. Mereka selalu memadu kasih dimana saja ada kesempatan dengan luapan emosi dan gairah cinta yang selalu membara di setiap desah nafas keduanya. Rencana awal yang ingin berangkat otw pulkam sehabis maghrib menjadi sesudah isya baru terlaksana.


Seusai sholat & makan malam mereka segera bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju kampung halaman tempat kelahiran Khardha. Tidak lupa Dokter Hasan memeriksa semua pintu juga jendela rumahnya untuk memastikan sudah terkunci semua atau belum. Setelah memasukkan koper kedalam bagasi mobilnya dia mempersilahkan istrinya masuk kedalam mobil terlebih dulu. Dia juga


mengunci ganda pintu pagar rumahnya,

__ADS_1


kemudian duduk di kursi kemudinya.


"Kalau kamu merasa capek istirahatlah Sayang, tidurlah. Supaya kamu gak mabuk selama dalam perjalanan." Ujarnya sembari


mengusap kepala istrinya yang terlihat sangat lelah dan mengantuk.


Khardha hanya menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya sembari berpegangan dengan sabuk pengamannya. Selama dalam perjalanan Dokter Hasan selalu mnggenggam tangan istrinya dengan satu tangannya & satunya lagi fokus mengemudikan mobilnya.


Ketika di perjalanan mereka beberapa kali di stop oleh petugas yang berjaga di setiap perbatasan kota, untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau covit-19. Namun setelah menjelaskan tentang maksud mereka pulkam, sebab orang tua meninggal semuanya di permudah. Mereka akhirnya di persilahkan melanjutkan perjalanan tanpa harus menjadi ODP (orang dalam pengawasan) ataupun di karantina terlebih dulu, hanya di periksa suhu badannya saja.


"Alhamdulillah ya sayang, Allah memudahkan perjalanan kita." Ucap Dokter Hasan seraya tersenyum manis melirik istrinya yang ada disampingnya.


"Iya Sayang syukur alhamdulillah." Khardha menimpali & ikut tersenyum menatap laki-laki yang bisa merebut hatinya itu.


Untuk sementara Khardha bisa melupakan tujuan sebenarnya kenapa dia harus pulkam mendadak. Sebab ada suaminya yang selalu berusaha membuatnya tersenyum dalam keadaan apapun.


Terimakasih buat para suami hebat yang selalu bisa menciptakan senyuman untuk para istrinya.


Khususnya suamiku sendiri tentunya.


"Anna uhibbuk fillah ya habibi"


Sorry ya author jadi baper sendiri ketika menulis ini karena suamiku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku.


*****


Ok, kita kembali pada cerita Dokter Hasan & Khardha yang masih dalam perjalanan pulkam. Tepat jam 24:00. Mereka sampai di depan rumah orang tua Khardha, yang sudah ada bendera tertancap di halaman rumah bertuliskan. 'Innalillahi wa inna ilaihi rojiun'.


Khardha langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat jenazah bapaknya, dia mencium keningnya & membaca surah yasin berulang kali sambil terus berdoa dalam hatinya.


Semoga bapak khusnul khotimah, semoga Allah menerima semua amal ibadah mu, mengampuni semua khilaf, kesalahan, dan dosa-dosamu, menerangi


serta melapangkan kuburmu nanti Pak.


Khardha berdoa dalam hati dengan sangat khusuknya sambil terisak. Hingga tidak sadar dia tertidur di samping jenazah bapaknya.


Dokter Hasan yang sejak datang tadi, merasa tidak di hiraukan istrinya, hanya berusaha memakluminya sampai akhirnya dia di tegur oleh ibu mertuanya.


"Hasan kasian Khardha ketiduran di sini lebih baik kamu bawa dia masuk kedalam kamar, sekalian kamu juga istirahat." Perintah Bu Hana mertuanya.


"Baik bu," sahut Dokter Hasan dengan segera menggendong istrinya untuk masuk kedalam kamar kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Karena merasa sangat lelah dan mengantuk, dia juga ikut berbaring di samping istrinya. Tidak berselang lama dia juga ikut terlelap dalam buaian mimpi indahnya.


Dia bermimpi istrinya hamil & melahirkan seorang anak laki-laki tampan sepertinya.


Berbeda dengan Khardha yang bermimpi


buruk dengan kehidupan rumah tangganya, dia merasakan dirinya hamil tapi di tinggal pergi oleh suaminya. Dia hampir di lecehkan oleh seseorang yang ingin menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya. Dia berlari begitu kencang menuju tangga yang ada dirumah suaminya, namun ketika dia berhasil naik ternyata orang itu, mencekal tangannya & menariknya secara paksa hingga akhirnya dia terjatuh terguling kebawah tangga dengan bersimbah darah. Dia pun mengigau & berteriak dalam tidurnya.


Enggakkkk ...enggakkkkk... tolonggggggg...Sayangggggg... tolongin akuuuuuu....!"


Dokter Hasan terperanjat mendengar teriakan istrinya & langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Astagfirullah al azdim." Ucapnya sembari mengusap wajahnya.


"Sayang bangun Sayang." Dokter Hasan menepuk pelan pipi istrinya agar terjaga dari mimpi buruknya.


Khardha akhirnya terbangun dan langsung memeluk erat suaminya yang berbaring menyamping menghadap kearahnya.


"Sayang aku takut." Ujarnya sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kamu kenapa Sayang mimpi buruk ya?" Tanya Dokter Hasan seraya membelai rambut istrinya.


"Iya Sayang, aku takut mimpiku jadi kenyataan, sebab semuanya terasa sangat nyata." Jawab Khardha dengan mengeratkan pelukannya.


"Gak usah di pikirin ya anggap aja itu cuma bunga tidur Sayang, ini sudah jam 03:00 pagi lebih baik kita qiamul lail dulu yuk!" Ajaknya sembari mengecup kening istrinya.


"Ok Sayang." Jawab Khardha setelah melepaskan pelukannya.


Mereka berdua beranjak keluar kamar berniat


untuk berwudhu, namun ternyata di luar masih banyak orang yang mengaji semalam suntuk di samping jenazah pak Ahmad Choi.


Ketika mereka hendak melewati dapur untuk menuju kamar mandi ternyata disana juga sudah ada Amey ibunya Merlin kakak perempuan Khardha dan banyak keluarga besarnya yang sedang memasak makan sahur untuk semua orang yang berkumpul dirumah duka itu. Dengan terpaksa Dokter Hasan mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Dia minta izin pada istrinya dengan berbisik di telinganya, untuk pergi sholat di mushola dekat rumah saja.


.


"Sayang aku ke mushola aja ya." Ujarnya sembari menatap kerumunan orang yang ada disana.


"Iya Sayang." Jawab Khardha sembari menganggukkan kepalanya.


"Disini gak di tutup kayak di kota kan mushollanya?" Tanya Dokter Hasan memastikan.


"InshaAllah enggak Sayang." Sahut Khardha hanya menerka karena dia juga tidak tahu pasti kondisi dikampungnya.


"Ya udah aku pergi dulu ya, assalamualaikum." Ucapnya sembari berlalu pergi.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Khardha menjawab salam suaminya.


Bersambung.....


Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya.


Semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala. Aamiin Allahumma aamiin.


Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui, vote yang banyak,


Like yang tiada henti


Komen yang membangun


Koin seikhlasnya.


Dari kalian semuanya yang sudah mau menyempatkan diri untuk mampir di novel ku ini.

__ADS_1


Semoga selalu jadi bacaan favorit kalian semuanya ya!


Terimakasih banyak, salam sayang selalu dari author Khardha love.


__ADS_2