
Happy reading guys!
Seketika momen romantis mereka buyar diakibatkan hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya.
"Sayang kita pulang aja yuk!" Khardha menarik tangan suaminya setelah turun dari gendongannya.
" Tapi hujannya lebat banget Sayang mendingan kita cari tempat berteduh dulu ya." Dokter Hasan menahan langkah istrinya lalu mengajaknya berteduh di bawah pohon yang besar dan rindang.
"Kalau kita disini terus aku juga jadi takut Sayang." Khardha mendekatkan tubuhnya kepada suaminya.
"Gak usah takut Sayang, ada aku yang selalu jagain kamu." Dokter Hasan merangkul pinggang istrinya agar lebih merapat kepadanya.
"Iya Sayang aku tau, tapi hutan disini kan terlalu menyeramkan kalau hujan kayak gini." Khardha bergidik ngeri membayangkan film yang sering ditontonnya.
"Memangnya apa yang menyeramkan?" Dokter Hasan sengaja memangkas jarak antara dia dan istrinya, hingga deru nafas keduanya terasa hangat menyapa permukaan kulit wajah mereka.
"Aku takut ada ular besar layaknya di film anaconda dan binatang melata lainnya Sayang, apa lagi kalau air sungainya meluap kita bakal terjebak disini gak bisa keluar untuk pulang kerumah." Khardha mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dengan perasaan takut karena pikirannya sendiri.
Dokter Hasan tersenyum mendengar ucapan istrinya tentang film hollywood yang juga pernah ditontonnya yang menceritakan ular besar pemakan segala itu.
"Jadi kita main hujan-hujanan nich ceritanya." Godanya seraya menaikturunkan kedua alisnya.
"Ishhh bukan main hujan tapi terpaksa harus kehujanan." Kesalnya sembari mencubit perut suaminya.
Awww...Dokter Hasan meringis mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Aku cuma gak mau alergi dingin kamu kambuh lagi Sayang." Meraih tangan istrinya lalu menggosokkan tangannya agar terasa hangat.
"Inshaallah aku gak akan kenapa-napa lagi Sayang, sebab selama hamil ini aku malah sering merasa gerah akibat kepanasan." Jujur Khardha untuk menenangkan hati suaminya.
"Kemungkinan besar akibat hormon progesteron yang meningkat selama masa kehamilan sehingga membuatmu sering merasa gerah Sayang." Ujarnya menjelaskan." Padahal aku udah bersyukur banget loh kemarin waktu dirumah sakit." Ucapnya dengan ambigu.
Dokter Hasan membayangkan percintaannya dirumah sakit ketika istrinya baru mengingatnya lagi lalu menolongnya dari hipotermia nya. Dia tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.
"Maksud kamu apaan sich?" Khardha mengerutkan keningnya menatap heran sekaligus bingung dengan kata-kata yang terucap dari mulut suaminya.
"Kalau alergi dingin kamu kambuh lagi, aku selalu siap untuk bantuin ngobatin kamu Sayang." Menatap istrinya dengan intens seraya tersenyum penuh arti.
"Ishhh dasar Dokter mesum, udah jelas masih puasa ramadhan tapi pikirannya selalu aja menjurus ke situ." Khardha memukul lengan suaminya ketika baru menyadari maksud kata-kata ambigu laki-laki yang sudah berhasil merebut hatinya itu.
"Wajar aja kan Sayang, aku kan laki-laki normal. Ditambah lagi cuaca sangat mendukung kayak gini, ada istri tercinta disini, jadi kalau aku mikirin masalah itu' terus." Jujurnya sembari merengkuh tubuh istrinya membawanya kedalam pelukannya lalu menciumi puncak kepalanya.
"Udah Sayang nanti batal puasanya." Khardha melepaskan diri dari pelukan suaminya." Lebih baik kita cepat keluar dari hutan ini, aku gak mau kita khilaf kalau terlalu lama berduaan di sini." Khardha beranjak lalu melangkahkan kakinya berjalan mendahului sang suami.
Dokter Hasan langsung mengejar istrinya untuk mensejajarkan langkah kakinya.
__ADS_1
"Tunggu Sayang jangan cepat-cepat jalannya, ingat kamu lagi hamil." Meraih tangan istrinya lalu menggandengnya.
Pasangan suami istri itu terpaksa memutar kearah jalan lain yang lebih jauh dari jalan pintas pertama yang mereka lewati tadi karena air sungai kecil disana sudah meluap menutupi akses jalan keluar dari sana. Dokter Hasan tidak mau istrinya memaksakan dirinya untuk berjalan diatas banjir dadakan itu karena takut membahayakannya. Khardha terpaksa menuruti kemauan suaminya walaupun dia sudah merasa sangat kelelahan.
"Kita udah basah kuyup kayak gini, aku khawatir kamu sakit lagi Sayang." Dokter Hasan menyentuh wajah istrinya yang tampak semakin pucat.
Hatcih...hatcih...Khardha tiba-tiba bersin sambil menutupi mulut dan hidungnya. Dia terhuyung kesampingnya karena merasakan sakit kepalanya kambuh lagi, untungnya suaminya selalu memeganginya.
"Tuh kan baru aja aku ngomong, kita berteduh dulu sebentar di gubuk itu sampai hujan nya reda." Tunjuknya kearah rumah kecil ditengah hutan sembari menggendong istrinya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan tangannya dileher suaminya sambil memejamkan matanya. Sesampainya digubuk itu Dokter Hasan menurunkan istrinya, keduanya mengucapkan salam dan meminta izin berteduh disana.
"Assalamualaikum, permisi kami numpang berteduh disini ya." Ucapnya sembari menyandarkan kepala istrinya didadanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, iya silahkan." Jawab pemilik rumah itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu." Kalian siapa? Darimana? Kenapa sampai kehujanan kayak gini?" Wanita paruh baya penghuni rumah itu mencecar pertanyaan kepada mereka berdua karena dia sangat jarang kedatangan tamu tak diundang seperti pasangan suami istri yang terlihat modis itu.
Khardha yang awalnya bersandar di dada suaminya mendongakkan kepalanya sembari membuka matanya. Dia tersenyum menatap wanita itu karena tidak asing baginya.
"Aku Khardha Wak anak almarhum pak Ahmad dan bu Hana, ini suamiku namanya Hasan Setiawan. Kami habis dari hutan love duri, kebetulan ketika kami menjelajahi hutan itu tadi tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Jadi terpaksa kami numpang berteduh di rumah Uwak." Jawab Khardha menjelaskan kenapa mereka sampai digubuk itu.
"Ohh gitu, ya udah gak papa tapi harap maklum aja ya aku disini hidup sebatang kara, hanya berteman sama bebek dan ayam peliharaanku." Ujar Wanita paruh baya yang dipanggil Uwak oleh Khardha itu.
Uwak yang bernama Siah itu kembali masuk kedalam rumahnya tanpa mempersilahkan pasangan suami istri itu masuk. Sebab rumahnya memang sangat kecil dan kotor karena dia menjadikannya seperti kandang ayam dan bebek sekaligus.
"Sayang kamu kenal dengan orang tua tadi?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap istrinya yang ada dalam dekapannya.
"Tapi kenapa beliau menyendiri di tengah hutan kayak gini? Apakah gak ada keluarganya yang perduli sama dia? Kalau beliau sakit gimana? Siapa yang merawatnya?" Bingung Dokter Hasan dengan keadaan rumah Uwak Siah yang jauh dari kata bersih apalagi tinggal sendirian tanpa ada yang memperhatikannya.
"Aku juga gak tau Sayang mungkin beliau sengaja menjauhi keramaian untuk menenangkan dirinya. Aku dulu sering kesini loh sama teman-temanku." Khardha menyunggingkan senyumnya mengenang masalalunya.
"Ngapain kamu sama teman-temanmu kesini?" Dokter Hasan mengangkat satu alisnya menatap istrinya yang tersenyum sendiri dengan memandang ke sekelilingnya.
"Dulu itu kami memang suka kayak bolang,
menjelajah hutan kemana-mana untuk mencari buah karet, kelapa, mangga, durian, kasturi, pokoknya banyak dech Sayang. Aku rindu banget masa-masa itu, anak zaman dulu selalu mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat beda banget sama anak zaman sekarang yang mainannya selalu handphone." Ujarnya sembari menatap lekat wajah tampan suaminya.
Dokter Hasan tersenyum sembari membelai wajah cantik istrinya, namun tiba-tiba Khardha merasakan mual yang tidak bisa ditahannya lagi.
Hoek....hoek....Khardha kembali memuntahkan seisi perutnya.
Dokter Hasan langsung memijat tengkuk istrinya untuk mengurangi rasa mualnya. Dia sangat prihatin dengan kondisi wanita yang sangat dicintainya itu yang rela mengandung anaknya diusianya yang masih sangat muda.
"Kita pulang aja ya Sayang, hujan udah reda juga. Aku gak mau kamu sampai pingsan disini gara-gara mencium bau kotoran ayam dan bebek yang sangat menyengat ini." Ajaknya sembari berjongkok didepan istrinya lalu menepuk pundaknya agar naik ke punggungnya.
Khardha langsung menaiki punggung suaminya karena dia sudah merasa sangat lemas akibat muntah tadi. Dokter Hasan segera beranjak dari sana menuju jalan pulang kerumah mertuanya sesuai petunjuk dari istrinya. Setelah berjalan lumayan jauh melewati jalan setapak, sawah dan bukit yang lumayan terjal, sampai lah mereka kerumah orang tuanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapnya sembari menunggu pintu masuk terbuka.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Bu Hana membukakan pintu masuk lewat belakang rumahnya itu ketika mendengar suara menantunya." Astagfirullah al azdim! Kenapa lagi dengan Khardha nak?" Kaget bu Hana melihat anak bungsunya yang terkulai lemas digendongan suaminya.
"Gak papa Bu dia lemas habis muntah dan kehujanan barusan." Jawabnya menenangkan mertuanya.
" Ya sudah cepat bawa dia masuk terus mandi dengan air hangat." Bu Hana membantu menurunkan anaknya dari punggung suaminya." Merlin cepat rebus air
buat tante sama om kamu!" Serunya memanggil cucu pertama kesayangannya itu.
" Iya Nek." Merlin segera mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya.
"Sayang bangun Sayang, kita mandi dulu yuk!" Ajaknya sembari mengusap kepala istrinya yang menelungkup diatas meja.
"Kepalaku sakit banget Sayang." Keluhnya sambil memejamkan matanya.
Hatcih....hatcih....hatcih...Khardha kembali bersin terus-menerus.
"Kamu kena flu Sayang, makanya kita harus cepat mandi dengan air hangat untuk menormalkan kembali suhu tubuh yang menurun akibat kehujanan." Ujarnya sembari menyentuh kening dan leher istrinya dengan punggung tangannya.
Setelah air hangat sudah siap Khardha segera beranjak dari duduknya menuju kamar di ikuti oleh suaminya dibelakangnya.
"Kita mandi bareng ya Sayang, aku janji gak bakalan macam-macam." Ujarnya dengan menyentuh pundak istrinya.
"Gak usah aku takut khilaf, kita kan masih puasa." Khardha segera menutup pintu kamar mandi agar suaminya berhenti mengikutinya.
Dokter Hasan terpaksa menunggu wanita yang telah mengandung benih cintanya itu dengan bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi. Khardha yang berada didalam segera mengguyur air hangat ke seluruh tubuhnya, dia berusaha secepatnya menyelesaikan ritual mandinya karena tidak ingin suaminya menunggunya terlalu lama. Seusai mandi Khardha keluar dengan menggunakan handuk yang melingkar di dadanya. Dengan wajah tanpa dosa dia menegur suaminya yang melongo melihatnya.
"Aku udah selesai Sayang kamu cepat mandi gih!" Berdiri didepan suaminya.
Dokter Hasan membulatkan matanya dengan sempurna menatap istrinya sambil meneguk salivanya dengan susah payah.
Kenapa kamu berdiri didepanku dengan penampilan yang seksi banget kayak gini Sayang? Ya Allah ujian puasaku hari ini sungguh berat banget." Gumamnya menangis dalam hati.
"Heyy Sayang kok malah bengong?" Khardha menjentikkan jarinya di depan wajah suaminya." Disuruh cepat mandi juga supaya gak masuk angin." Gerutu Khardha sambil berlalu pergi kekamarnya.
Setelah istrinya pergi Dokter Hasan segera masuk kekamar mandi. Dia membersihkan dirinya bukan hanya untuk menormalkan suhu tubuhnya tapi juga pikirannya yang sudah berfantasi kemana-mana.
Astagfirullah al azdim, ampuni aku ya Allah," batinnya sambil terus beristighfar dalam hatinya.
Bersambung....
Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita semua diterima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.
Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang membangun, koin seikhlasnya.
__ADS_1
Terimakasih salam sayang selalu dari author Khardha Love, sampai ketemu lagi di episode selanjutnya.