
Happy reading guys!
Keesokan harinya setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit Dokter Hasan menggandeng tangan istrinya menuju parkiran rumah sakit lalu membukakan pintu mobilnya dan tidak lupa memakaikan seat belt untuknya. Dia segera mendudukkan dirinya didepan kemudi lalu melajukan kendaraan roda empatnya itu membelah jalanan ibukota kabupaten menuju perkampungan tempat kelahiran istrinya. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka berdua didepan rumah orangtuanya. Khardha yang tidak mau makan sama sekali makanan rumah sakit langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk kedalam rumah menuju kamar mandi.
"Sayang pelan-pelan jangan lari!" Seru Dokter Hasan yang ikut mempercepat langkahnya untuk menyusul istrinya.
"Kalian berdua ini gimana sich, masuk rumah bukannya ngucapin salam malah lari-larian." Gerutu bu Hana ketika pasangan suami istri itu melintas begitu saja didepannya.
Hoek...hoek...Khardha langsung mengeluarkan isi perutnya yang hanya berisi air putih saja sejak tadi malam hingga lidahnya terasa sangat pahit. Dokter Hasan meringankan rasa mual istrinya dengan memijit tengkuknys secara perlahan. Setelah merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkannya Khardha mencuci mulutnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan dipapah oleh suaminya.
"Kamu sakit Khardha?" Tanya kak Amey dengan mengerutkan keningnya ketika melihat wajah adiknya yang sangat pucat namun mengeluarkan aura berbeda.
Khardha hanya menggelengkan kepalanya karena merasa sangat lemas.
"Enggak kok Kak dia cuma mabuk." Jawab Dokter Hasan mewakili istrinya.
"Mabuk perjalanan atau mabuk karena hamil?" Tanya bu Hana yang juga ikut memperhatikan anak dan menantunya.
"Sepertinya dua-duanya Bu." Dokter Hasan menjawabnya setelah membaringkan istrinya dikamar." Kak Amey bisa minta tolong bikinin wedang jahe plus madu." Pintanya sembari membuatkan teh hangat untuk istrinya.
"Maksud kamu Khardha hamil lagi?" Kaget bu Hana merasa tidak percaya karena sepengetahuannya anak bungsunya itu baru saja mengalami keguguran.
"Iya Bu!" Dokter Hasan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kenapa kalian berdua menyembunyikan kabar gembira ini sama kami semua?" Marah bu Hana karena baru mengetahui kehamilan anaknya.
"Maaf Bu saya juga baru tau kemarin Khardha hamil." Jujur Dokter Hasan yang tidak mau disalahkan oleh mertuanya." Permisi saya mau bawain teh ini dulu kekamar buat dia." Pamitnya sembari berlalu.
__ADS_1
"Gak usah marah-marah sama mereka Bu, seharusnya kita ikut bahagia mendengar kehamilan Khardha sekarang, sebab dia sudah dua kali kehilangan anaknya. Jadi alangkah baiknya kita doain aja semoga dia dan anak yang dikandungnya sekarang selalu sehat juga lancar sampai lahirannya nanti." Ujar Amey sembari mengusap punggung bu Hana dengan lembut.
Bu Hana yang duduk di kursi meja makan sambil mengupas bawang membantu Amey memasak didapur menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Ya udah kalau gitu biar ibu yang bikinin wedang jahe plus madu spesial buat Khardha." Ucap bu Hana sembari beranjak dari duduknya.
Bu Hana sangat bersemangat untuk membuatku wedang ronde untuk anak bungsunya itu, sebab dia juga sebenarnya sangat exited dengan kehamilan Khardha kali ini. Setelah semuanya sudah siap bu Hana langsung membawakannya sendiri ke kamar anaknya.
Tok...tok...tok...Bu Hana mengetuk pintu dari luar. Dokter Hasan yang tengah asyik memijat kepala istrinya sembari mengelusi perutnya langsung beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
Ceklek...kunci pintu terbuka.
"Boleh ibu masuk nak?" Tanya bu Hana ketika menatap wajah menantunya yang nampak heran dengan apa yang dibawanya.
"Silahkan Bu." Dokter Hasan membuka lebar daun pintu agar mertuanya bisa masuk ke kamar dengan leluasa.
"Ibu!" Lirihnya merasa tidak percaya karena bu Hana tidak pernah lagi memperlakukannya seperti itu sejak dia menikah.
"Iya nak ini ibu. Ibu sudah bikinin wedang ronde plus madu spesial buat kamu, ibu suapin ya." Ujarnya sembari mengangkat mangkok yang berisi wedang ronde buatannya.
Khardha menganggukkan kepalanya lalu bangun dan bersandar di kepala ranjangnya. Bu Hana menyuapi anaknya dengan penuh kasih sayang sembari bercerita tentang masa kecil Khardha yang pasti membuat semua orang terkejut jika mengetahuinya.
Dokter Hasan yang duduk di kursi meja rias istrinya sambil memainkan handphonenya hanya tersenyum mendengar cerita tentang wanita yang sangat dicintainya itu. Dia tidak menyangka istrinya sewaktu kecil sangat suka berkelahi dengan teman-temannya bahkan sampai kehilangan anting-anting emas yang baru dibelikan oleh ibunya karena bergulat di padang rumput. Khardha kecil juga suka menangkap ikan di sungai dan disawah ketika ikut bapaknya menanam padi. Dia berenang kesana kemari di air dangkal untuk menangkap ikan yang sudah di pantaunya namun jarang sekali berhasil mendapatkannya. Dokter Hasan juga baru tahu ternyata istrinya yang pemberani itu sangat takut dengan kadal dalam bentuk apapun baik yang kecil maupun yang besar termasuk cicak. Sebab Khardha sangat trauma dengan kejadian yang pernah dialaminya itu. Dia dikejar-kejar kadal ketika naik keatas tebing disawah, dia juga pernah beberapa kali merasakan cicak yang masuk kedalam bajunya hingga dia menjerit-jerit histeris karena ketakutan. Sampai dewasa sekarang Khardha juga masih mengingat dengan jelas peristiwa itu.
Setelah wedang ronde di mangkok habis tanpa sisa lagi yang tertinggal hanya mangkok dan sendoknya saja. Bu Hana mengakhiri ceritanya lalu keluar dari kamar anaknya. Dokter Hasan segera menghampiri istrinya lalu menatapnya dengan menahan tawanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" Kesal Khardha melihat ekspresi suaminya.
"Enggak papa Sayang, aku cuma gak nyangka aja mendengar cerita ibu tentang kamu, ternyata selama ini kamu phobia sama kadal dan cicak. Padahal kamu seorang wonder woman dulu, hahaha." Tawa Dokter Hasan akhirnya pecah karena membayangkan istrinya ketika kecil yang pastinya sangat menggemaskan menurutnya.
"Kenapa kamu malah tertawa? Apa kamu senang tau aku phobia sama kadal dan cicak?" Tanya Khardha dengan mata berkaca-kaca merasa sedih ditertawakan oleh suaminya.
Dokter Hasan yang melihat istrinya hendak menangis langsung menghentikan tawanya lalu merengkuh tubuhnya menyandarkannya didada bidangnya.
"Maafin aku Sayang, aku khilaf." Ucapnya dengan menciumi puncak kepala istrinya.
*****
Sementara itu ditempat lain tepatnya dirumah sakit di daerah Bjm Hendrik yang mengalami geger otak akibat peluru yang sempat bersarang dikepalanya akhirnya menjalani perawatan intensif. Dia dibawa oleh ayahnya ke luar negeri untuk memulihkan ingatannya
agar ditangani oleh para ahli yang lebih profesional disana. Hendrik yang tidak bisa lagi mengingat obsesinya untuk memiliki Khardha akhirnya mau dinikahkan dengan wanita yang selalu setia menemaninya namanya Pripta Sari seorang Dokter spesialis saraf.
*****
Sedangkan Riki dan Rina yang sudah lama bertunangan akhirnya menikah juga setelah kejadian hilangnya Khardha dulu ketika diculik Hendrik. Riki sangat frustasi memikirkan orang yang sangat dicintainya hilang tanpa jejak sampai akhirnya dia mendatangi lagi sebuah club malam yang sudah lama tidak pernah di datanginya. Disana dia meminum minuman beralkohol sampai benar-benar mabuk dan tidak bisa bangun lagi. Rina yang selalu memantau keadaan Riki lewat orang suruhannya langsung membawa Riki ke apartemennya. Disana Riki terus meracau menyebut nama Khardha hingga membuat Rina yang sangat kecewa dibuatnya akhirnya bertindak nekat dengan membuat Riki menyetubuhinya. Keesokan harinya Riki terbangun dia merasakan sesuatu yang berat dilengannya, ketika dia tersadar ternyata Rina lah yang menjadikannya bantal dan memeluknya. Riki juga sangat terkejut ketika mengingat kejadian semalam, dia merasa bercinta dengan Khardha namun justru Rina yang sekarang ada disampingnya. Karena tidak ingin membuat malu keluarga Riki akhirnya mau menikahi Rina untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sudah memerawaninya.
*****
Dokter Rasyid yang juga sudah bertunangan dengan Dokter Reisa akhirnya memilih untuk menikahinya secepatnya karena mendengar kabar Khardha hamil kembali. Dia berusaha menerima kenyataan bahwa Khardha memang bukan jodohnya. Pernikahan Rasyid dilangsungkan secara sederhana dirumah orangtua Reisa karena alasan kesibukan masing-masing sehingga mereka hanya mengumpulkan keluarga dan teman dekat saja.
Bersambung....
Cerita ini sebenarnya mau tamat beberapa episode lagi ya. Nanti akan ada cerita tentang anak-anak mereka di novel terbaru aku yang ini.
__ADS_1