
Happy reading guys!
Dokter Hasan menyusuri koridor rumah sakit
untuk mencari toilet yang didatangi istrinya, namun dia tidak menemukan siapa-siapa disana. Dia mencoba menghubungi handphone istrinya dengan nomor kontak yang tertera nama my lovely wife di smartphonenya.
Tut...tut...tut...drettt...drettt...drettt...panggilan suara tersambung.
📱"Assalamualaikum, Sayang kamu dimana? Ini aku udah didepan pintu toilet umum." Dokter Hasan mondar mandir didepan pintu toilet layaknya setrikaan rusak.
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, maaf apakah anda suami wanita pemilik handphone ini?" Tanya perawat yang telah menolong Khardha.
📱"Iya saya suaminya. Tapi dimana dia sekarang? Kenapa handphonenya ada pada anda?" Cecarnya tanpa jeda.
📲" Tadi kami menemukannya pingsan di depan pintu masuk toilet, sekarang dia kami bawa ke UGD." Jawab perawat yang menolong Khardha.
📱"Ok, terimakasih saya akan segera kesana." Dokter Hasan mengakhiri panggilannya lalu bergegas kembali menuju UGD.
Sesampainya didepan pintu ruang unit gawat darurat Dokter Hasan bertemu kembali dengan teman lamanya Dokter Gunawan direktur rumah sakit tersebut.
"Assalamualaikum Dokter Hasan, apa kabarnya?" Sapa Dokter Gunawan sembari menjabat tangannya juga menepuk bahunya.
"Aku baik, cuma istriku yang sepertinya gak baik-baik aja, sekarang dia ada di UGD." Jawabnya dengan wajah khawatirnya karena dia benar-benar mencemaskan wanita kesayangannya itu.
"Istrimu? Sakit apalagi dia?" Dokter Gunawan mengerutkan keningnya dengan sempurna merasa ikut prihatin.
"Aku juga belum tau pasti. Tadi dia minta izin untuk pergi ke toilet, karena dia cukup lama kesana aku pun langsung menyusulnya, namun ketika sampai disana aku gak nemuin dia lagi, aku berinisiatif untuk menelponnya tapi yang mengangkat handphonenya justru orang lain. Orang itu mengabarkan bahwa istriku pingsan lalu dibawa ke UGD, makanya aku langsung kembali kesini.
"Kamu kesini sama istrimu mau ngapain sebenarnya?"Dokter Gunawan masih penasaran dengan kehadiran teman lamanya itu yang datang secara tiba-tiba.
"Kami nolongin orang yang kecelakaan di depan rumah mertuaku sore tadi." Jujurnya sembari menghempaskan dirinya dikursi tunggu yang ada disana.
"Maksud kamu laki-laki yang berumur sekitar 35 tahun tadi?" Dokter Gunawan memastikan.
"Iya." Singkatnya karena tidak ingin membahas tentang Mujahidin lagi.
Tidak berselang lama pintu ruang UGD terbuka keluarlah seorang Dokter wanita cantik berumur sekitar 26 tahun yang bername tag Dokter Reisa Setianingsih SpOg. Dia berjalan menghampiri kedua Dokter itu.
"Maaf apakah anda suami wanita yang ada didalam?" Tanyanya dengan sangat sopan.
"Iya, bagaimana keadaannya?" Dokter Hasan langsung beranjak dari duduknya.
"Inshaallah istri anda baik-baik saja, dia hanya mengalami dehidrasi setelah memuntahkan semua isi perutnya, saya juga sudah memasang infus di tangannya. Saat ini dia memang belum sadarkan diri nanti kalau sudah siuman kami akan melakukan USG dengan kandungannya, untuk sementara kami akan memindahkannya ke ruang rawat dulu." Jawab Dokter Reisa seraya tersenyum melihat ekspresi Dokter Hasan yang sangat terkejut mendengar kondisi istrinya.
"Maksud anda istri saya hamil?" Dokter Hasan kembali bertanya untuk memastikan pendengarannya.
"Iya maka dari itu untuk memastikan berapa usia kehamilannya kita perlu melakukan USG." Jawab Dokter Reisa dengan wajah seriusnya.
"Bisakah saya menemuinya sekarang?" Dokter Hasan benar-benar tidak sabar lagi untuk memberitahukan kepada istrinya tentang kehamilannya.
__ADS_1
"Tentu saja, setelah kami memindahkannya ke ruang rawat." Jawab Dokter Reisa
dengan memberikan jalan kepada para perawat yang mendorong brankar untuk memindahkan Khardha.
Setelah Khardha di pindahkan keruang rawat inap VIP sesuai permintaan Dokter Hasan. Dia langsung duduk dikursi samping bed pasien dengan mengelusi perut istrinya yang masih rata lalu mengecup keningnya.
"Aku tinggal sholat dulu ya Sayang." Bisiknya ditelinga istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
Alhamdulillah wa syukurillah atas semua karunia dan anugerah yang telah diberikan kepada kami. Ya Allah jadikan kehamilan istriku kali ini benar-benar bisa lancar hingga lahirannya nanti, berikan kesehatan lahir dan batin kepadanya juga anak yang dikandungnya. Aamiin ya robbal alamin." Doanya dalam hati sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah melaksanakan sholat maghrib didalam ruangan itu.
Setelah cukup lama berada di alam bawah sadarnya Khardha akhirnya terbangun ketika ada tangan yang terus-menerus mengusap kepala juga perutnya.
"Syukurlah kamu udah bangun Sayang, kalau kamu nanti udah gak lemas lagi kita langsung keruangan Dokter Reisa ya." Ucapnya seraya mengulas senyum penuh makna.
"Ngapain ke Dokter Sayang? Kan ada kamu yang merawat aku. Ishhh ini juga kenapa aku harus di infus segala? Aku kan susah mau gerak jadinya." Kesal Khardha ingin mencabut jarum infus ditangannya.
"Jangan di lepas Sayang, kamu gak boleh sembarangan!" Sergahnya. Infus ini membantu pemulihan tubuh kamu yang mengalami dehidrasi akibat kehilangan cairan. Apa kamu lupa tadi itu kamu sempat pingsan? Untung aja ada perawat yang nolongin kamu." Dokter Hasan menahan tangan kanan istrinya yang hendak mencabut jarum infus ditangan kirinya.
"Benarkah? Jadi karena itu aku dirawat disini." Lirihnya sembari merebahkan tubuhnya kembali.
"Iya Sayang, makanya tadi aku bilang kalau kamu udah gak lemas lagi kita langsung ke ruangan Dokter Reisa untuk USG." Sahut Dokter Hasan dengan mengulangi kata-katanya.
"USG!" Kaget Khardha seraya membulatkan matanya dengan sempurna.
Dia menatap mata suaminya dengan intens mencari kebohongan disana namun tidak didapatinya.
"Ok aku percaya sama kamu Sayang, ya udah sekarang aja kita USG nya." pintanya sembari bergelayut manja ditangan suaminya.
"Baiklah Sayang aku pinjam kursi roda dulu ya, kamu tunggu sebentar disini." Ucapnya
"Gak usah Sayang aku bisa jalan sendiri.
"Jangan ngeyel, aku gak mau kamu kecapean." Ujarnya tidak ingin dibantah.
Khardha menundukkan kepalanya menahan air matanya ketika mendengar suaminya meninggikan suaranya. Perasaan ibu hamil yang sangat sensitif oleh karena itu jangan pernah meninggikan suaramu apalagi membentak istrimu ketika dia sekedar mengutarakan keinginannya wahai para suami. Tidak lama kemudian Dokter Hasan datang kembali membawa kursi roda, dia langsung menggendong istrinya lalu mendudukkannya.
Sesampainya di ruangan Dokter Reisa, Khardha langsung disuruh berbaring di atas ranjang. Setelah mengoleskan gel ultrasonik dan menaruh alat Ultrasonografi Dokter Reisa menjelaskan gambar yang terdapat dilayar monitor disampingnya.
"Lihatlah disini terdapat dua titik sebesar biji kacang hijau yang masih akan berkembang setiap harinya, usia kehamilan diperkirakan baru memasuki tiga minggu." Ujarnya sambil menujuk monitornya.
"Maksudnya apa dengan dua titik itu Dokter?" Tanya Khardha dengan polosnya.
"Selamat ya anda mengandung bayi kembar." Jawab Dokter Reisa seraya tersenyum.
"Kembar!" Seru Khardha dan Dokter Hasan bersamaan dengan saling menatap satu sama lain.
Dokter Hasan langsung memeluk istrinya dan menciumi puncak kepalanya menunjukkan betapa excited nya dia mendengar dan menyaksikan sendiri hasil USG istrinya.
"Semoga selalu sehat dan lancar sampai lahiran nanti ya." Ucap Dokter Reisa setelah selesai melakukan tugasnya.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter, apakah saya boleh pulang malam ini juga?" Tanya Khardha setelah duduk kembali dikursi roda dibantu oleh suaminya.
"Sebenarnya tidak masalah kalau anda sudah merasa baikkan, tapi alangkah baiknya anda menginap saja dulu malam ini disini untuk memulihkan kondisi anda jadi kami juga bisa mengontrol kehamilan anda yang masih sangat rentan untuk keguguran." Jawab Dokter Reisa menyarankan.
"Iya Sayang aku gak mau kamu sama baby twin kita kenapa-napa, kalau kamu tetap memaksakan diri untuk pulang malam ini juga." Dokter Hasan menimpali sembari berjongkok untuk menyentuh perut istrinya.
"Tapi Sayang aku gak suka mencium bau obat-obatan dirumah sakit ini." Rengeknya dengan nada manja agar suaminya mau menuruti keinginannya.
"Sayang ingat ya didalam perut kamu sudah ada dua kehidupan yang harus kita jaga sama-sama, jadi aku mohon jangan egois ya." Pintanya dengan menatap lekat manik mata wanita yang sangat dicintainya itu sembari menyentuh pipinya lalu mengelus perutnya.
Khardha akhirnya mau menuruti kata-kata suaminya dengan menganggukkan kepalanya. Dokter Hasan tersenyum dan berdiri kembali untuk membawa istrinya ke ruang rawat inap.
"Permisi Dokter Reisa, terimakasih banyak atas semuanya. Kami mau kembali ke kamar dulu, assalamualaikum." Pamitnya lalu mendorong kursi roda istrinya.
"Silahkan, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Dokter Reisa seraya tersenyum penuh arti menyaksikan kemesraan pasangan itu.
Seandainya aku sudah menikah dengan Kak Rasyid pasti dia juga memperlakukan aku seperti itu," batinnya membayangkan sosok seorang laki-laki tampan yang sudah bertunangan dengannya sekitar dua bulan yang lalu.
Sesampainya di ruang rawat Dokter Hasan langsung menggendong istrinya keatas ranjang pasien. Dia menggantung kembali botol infus istrinya dan mengontrol tetesan diselangnya. Setelah selesai dia menatap heran kepada wanita kesayangannya itu yang tampak gelisah sembari memegangi perutnya.
"Kamu kenapa Sayang? Sakit perut ya?" Tanyanya dengan mengerutkan keningnya.
"Aku kebelet pipis dari tadi, aku pengin cepat kekamar mandi!" Sahut Khardha dengan menyatukan kedua pahanya untuk menekan
area sensitifnya.
Dengan sigap Dokter Hasan langsung menggendong istrinya untuk membawanya ke kamar mandi lalu mendudukkannya diatas closed.
"Mau aku tungguin didalam apa diluar aja? Tapi aku gak mau bila sampai kamu nanti kepeleset kalau aku tinggal sendiri di sini." Ujarnya mengkhawatirkan istrinya.
"Kamu keluar aja Sayang aku gak bisa leluasa kalau ada kamu disini." Khardha mendorong suaminya agar segera keluar dari kamar mandi lalu menguncinya.
"Kalau udah selesai panggil aku ya Sayang!" Teriaknya dari balik pintu.
Dokter Hasan segera mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Dia segera menghubungi Merlin untuk memberitahukan bahwa mereka tidak pulang ke rumah malam ini, supaya mertua dan kakak iparnya tidak mencemaskan mereka berdua.
Tut...tut...tut...panggilan suara terhubung.
📲"Assalamualaikum. Merlin tolong bilangin sama nenek juga mama kamu, kami gak pulang malam ini."
📱" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Emangnya Om sama Tante nginap dimana?"
📲" Besok saja dirumah kami ceritakan semuanya." Jawab Dokter Hasan mengakhiri panggilannya.
Ceklek pintu kamar mandi dibuka oleh Khardha. Dia berjalan perlahan menuju ranjang dengan membawa infus ditangan kirinya. Dokter Hasan yang baru sadar istrinya sudah keluar dari kamar mandi langsung menghampirinya.
"Kenapa kamu gak manggil aku Sayang? Sini biar aku gendong lagi." Dokter Hasan membungkuk untuk menggendong istrinya, namun Khardha justru menghindarinya." Kenapa kamu menghindariku Sayang? Apa kamu marah sama aku? Gara-gara aku gak standby nungguin kamu didepan pintu kamar mandi?" Tanyanya dengan mengerutkan keningnya dengan sempurna.
"Enggak Sayang aku cuma udah wudhu, aku mau sholat tolong ambilkan mukenaku didalam mobil ya." Khardha duduk di kursi menunggu suaminya yang langsung menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari sana menuju parkiran mobilnya.
__ADS_1