
Happy reading guys!
Setelah semua bahan makanan yang dimasak bi Tutik matang semua, dia sengaja menyisihkan terlebih dulu untuk Khardha & dirinya. Baru sesudah itu dia memasukkan bubuk obat tidur yang diberikan Dokter Hasan kesemua makanan yang akan disajikannya kepada Hendrik Choi, anak buahnya & semua pelayan di rumah mewah itu. Namun dia sangat terkejut ketika mendengar suara orang yang sangat di takutinya saat ini menyapanya.
"Bi Tutik bagaimana keadaan Khardha pagi ini?" Tanya Hendrik Choi seraya mengambil air putih di dalam lemari es yang ada di dapur dekat dengan bi Tutik yang bergetar ketakutan karena takut aksinya ketahuan.
"Tadi ketika saya sudah bangun & beranjak kesini untuk memasak sarapan Non Khardha belum bangun Tuan," jujur bi Tutik dengan menahan nafasnya agar tidak terdengar gugup ketika menjawab pertanyaan Hendrik Choi.
"Ohh, kalau begitu biar aku yang melihatnya sendiri," ucap Hendrik seraya melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tempati Khardha.
Ceklik...bunyi pintu kamar dibuka. Hendrik menarik gagang pintu dengan perlahan kemudian berjalan mendekat kearah ranjang & duduk di pinggirannya. Dia menatap wajah Khardha yang masih setia memejamkan matanya dengan lekat, tangannya menyelipkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik wanita pujaan hatinya itu.
Kenapa kamu belum bangun Khardha, apakah kamu masih sakit? Gumamnya dalam hati seraya menyentuh kening & leher Khardha.
Tok...tok...tok...bunyi pintu di ketuk.
"Masuk!" Perintah Hendrik.
"Maaf Tuan sarapan sudah siap di meja makan, ini saya juga membawakan sarapan untuk Non Khardha supaya dia tidak terlambat meminum obatnya." Ucap bi Tutik sambil meletakkan nampan berisi makanan diatas nakas disamping ranjang.
"Ya sudah aku turun dulu, pastikan Khardha memakan makanannya & meminum obatnya." Perintah Hendrik kemudian beranjak pergi keluar dari kamar Khardha.
Sementara itu didalam kamar hotel yang kebetulan tepat berseberangan dengan kamar Khardha yang ditempatinya di rumah Hendrik Choi, terlihat Dokter Hasan yang mengepalkan tangannya dengan mengatupkan mulutnya & giginya karena sangat geramnya. Dia berusaha menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun ketika menyaksikan layar hpnya yang menunjukkan semua apa yang dilakukan Hendrik kepada istrinya, melalui kamera yang di letakkan bi Tutik di vas bunga hias diatas nakas disamping ranjang tempat tidur Khardha. Kamera itu tersambung langsung ke smartphone Dokter Hasan, sebab sengaja di settingnya terlebih dulu untuk situasi dan kondisi seperti itu, itulah bakat terpendam seorang Dokter Hasan yang bukan hanya seorang spesialis penyakit dalam tapi juga suka mengotak atik alat elektronik dan mesin digital lainnya termasuk smartphone yang pernah rusak kemarin seharuanya, cuma belum sempat saja dia mengerjakannya. Oleh karena itu didalam rumahnya sendiri terdapat ruangan khusus untuk menyalurkan bakatnya itu. Jadi jangan heran dia jarang bermain di media sosial tapi bisa berselancar dengan baik meretas akun siapa pun untuk mencari jejak istrinya waktu itu ketika hilang dibawa Hendrik. Chip yang sengaja di tanamnya di smartphone istrinya juga hasil karyanya sendiri, namun sayang sepertinya hp Khardha itu di ambil & disimpan oleh Hendrik ketika menelpon Bripka Gusti Hamidi waktu itu.
Satu jam kemudian Hendrik dan anak buahnya juga semua pelayan yang ada dirumah itu merasakan kantuk yang luar biasa, akhirnya semua orang tertidur tanpa menghiraukan tempat mereka tidur, hingga tergeletak begitu saja, kecuali bi Tutik & Khardha yang masih berada didalam kamar.
"Non Khardha saya izin keluar sebentar ya untuk melihat situasi dan kondisi diluar, sebaiknya Non siap-siap sekarang, bibi akan menghubungi Tuan Dokter secepatnya agar menjemput Non Khardha." Ucap bi Tutik seraya melangkahkan kakinya menuju pintu, namun di cegat Khardha dengan pertanyaannya.
Khardha yang baru keluar dari kamar mandi sehabis melakukan ritual mandinya menjadi bingung mendengar ucapan bi Tutik yang terdengar seakan memerintahkannya untuk menemui suaminya, padahal itu sesuatu hal yang mustahil untuk saat ini dilakukannya.
__ADS_1
"Maksud Bibi apa berbicara seperti itu?" Tanya Khardha karena belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya sambil berjalan menghampiri bi Tutik yang terhenti di depan pintu kamar.
" Begini ceritanya Non, kemarin ketika Non Khardha masih di perjalanan menuju kesini dibawa Tuan Hendrik Choi, saya minta izin keluar untuk membeli kebutuhan dapur kepada anak buah Tuan Choi & tidak sengaja bertemu dengan kakak juga suami Non Khardha." Jawab bi Tutik kemudian menceritakan semua rencana yang disuruh Dokter Hasan kepadanya dari awal sampai akhirnya dia memasukkan obat tidur di makanan yang di sajikannya.
"Baiklah kalau begitu Bi, terimakasih banyak atas bantuannya, semoga semuanya rencana ini berjalan dengan baik sampai aku bisa keluar dari sini. Tapi apakah Bibi melihat dimana handphoneku?" Tanya Khardha lagi sambil berbalik mencari di atas nakas hingga vas bunga yang ada kamera kecil disana akhirnya terjatuh kelantai.
Khardha memungut kamera kecil itu & melihatnya dengan teliti seraya membolak baliknya. Sehingga membuat Dokter Hasan yang tidak lepas menatap layar handphonenya menjadi pusing sendiri sambil melotot & mengacak rambutnya, karena khawatir orang yang menemukan kamera itu adalah orang lain terutama Hendrik Choi sendiri.
Apa yang terjadi disana? Kenapa kamera yang kuberikan kepada bi Tutik tiba-tiba menampilkan lantai & mata seseorang? Itu berarti kamera itu terjatuh kemudian diambil oleh seseorang, tapi siapa? Batinnya sambil mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa Hasan?" Tanya Bripka Gusti Hamidi yang sedari tadi menonton televisi sambil sesekali melirik kearah adik iparnya itu yang berbaring di sofa panjang disamping kirinya.
"Sepertinya kamera yang kuberikan kepada bi Tutik terjatuh dan ditemukan seseorang Kak!" Jawab Dokter Hasan dengan nada kecewa.
Tiba-tiba handphonenya berdering tanda ada panggilan masuk. Diapun langsung menerimanya ketika melihat nama bi Tutik yang tertera di layar smartphonenya itu.
📱"Assalamualaikum." Terdengar suara seseorang yang tidak asing ditelinganya.
📱"Alhamdulilah aku disini baik-baik aja Sayang, aku gak mau makan kalau gak sama kamu, jadi tolong jemput aku sekarang ya, mumpung Kak Hendrik beserta anak buahnya juga pelayan disini pada tidur semua." Pinta Khardha dengan suara merdunya.
📲"Ok Sayang, aku akan segera kesana!" Seru Dokter Hasan langsung bergegas mengambil sweaternya.
📱"Iya Sayang aku tunggu didepan pintu pagar ya," ucap Khardha kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Kamu mau kemana Hasan?" Tanya Bripka Gusti Hamidi ketika melihat adik iparnya itu berjalan menuju pintu.
"Aku ingin menjemput istriku Kak!" Jawab Dokter Hasan sambil memegang handle pintu kamar hotel.
"Aku ikut Hasan supaya aku bisa memastikan situasi dan kondisi disana benar-benar aman atau tidak!" Serunya dengan berjalan beriringan sambil ikut memakai jaket kulit khas Polisi nya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian mereka berdua sampai didepan rumah Hendrik Choi kebetulan sekali Khardha & bi Tutik keluar dari balik pintu pagar rumah yang menjulang tinggi itu. Dokter Hasan langsung memeluk erat istrinya & mencium keningnya.
"Aku kangen banget sama kamu Sayang," ucapnya dengan nada manja seperti tidak menghiraukan keberadaan orang lain di kiri kanannya.
Khardha hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya ketika melihat kakaknya mengedipkan satu matanya sambil menganggukkan kepalanya.
"Nanti aja lagi dilanjutkan bermesraannya, keburu Hendrik & anak buahnya bangun bisa gawat jadinya," ucap Bripka Gusti Hamidi sambil menepuk pundak adik iparnya itu.
"Iya Tuan Dokter, lebih baik kalian segera pergi dari sini, kalau bisa langsung pulang ke Indonesia biar Tuan Choi saya yang menanganinya." Bi Tutik berkata dengan raut wajah seriunya.
Dokter Hasan langsung melepaskan pelukannya kepada istrinya kemudian menggandeng tangannya.
"Ayo Sayang kita pergi dari sini!" Serunya sambil menarik tangan istrinya.
Namun Khardha tetap bergeming tidak mau beranjak dari sana.
"Ada apa lagi Sayang? Apa kamu tidak mau ikut denganku?" Heran Dokter Hasan melihat tingkah istrinya.
"Jangan tinggalin bi Tutik disini Sayang, aku yakin Kak Hendrik pasti akan menghukumnya," pinta Khardha dengan menampilkan raut wajah yang sendu.
"Ok Sayang kalau itu yang kamu inginkan," ucap Dokter Hasan kemudian memberi kode kepada Bripka Gusti Hamidi agar membawa bi Tutik untuk ikut serta dengan mereka.
*****
Hendrik Choi yang terbangun lebih dulu dari anak buah & para pelayannya langsung keluar dari kamarnya. Dia sangat terkejut seraya membulatkan matanya dengan sempurna menyaksikan pemandangan yang sangat membuatnya teramat sangat emosi ketika melihat anak buah & para pelayannya yang tertidur di sembarang tempat.
"Semuanya bangun!" Teriaknya sangat nyaring sehingga menggelegar di segenap penjuru rumahnya itu.
Bersambung...
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Stay terus episode berikutnya ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya! Baik berupa vote, like, komen, koin nya agar aku selalu semangat untuk melanjutkan ceritanya ini.