MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER season2 episode#98 "Lama rasa baru"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah cukup lama melakukan olahraga di kamar mandi Dokter Hasan menggendong istrinya ke tempat tidur dan kembali meneruskan kegiatannya itu untuk menjinakkan king cobra nya yang tidak mau tidur saja lagi walaupun sudah beberapa kali menyemburkan bisanya. Dia tidak lagi berpikir jernih karena pengaruh obat perangsang yang telah di minumnya tanpa sengaja itu hingga tidak menyadari bahwa istrinya sudah terkulai lemas tidak berdaya dalam kungkungannya. Ketika handphonenya berdering barulah dia menghentikan aktivitasnya itu.


Tut....tut...tut...handphone Dokter Hasan yang ada dalam saku celananya yang ada dipinggir kasur berbunyi. Dia segera meraihnya lalu menerima panggilan suara itu.


πŸ“±"Ada apa?" Kesalnya sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.


πŸ“²"Ngapain aja lo dikamar dari siang sampai malam gak keluar-keluar?" Tanya Dokter Wahyu sambil menikmati makanan


yang ada dimeja makan rumahnya berniat untuk mengajak sahabatnya itu makan malam bersama.


πŸ“±"Gue lagi kerja rodi." Jawab Dokter Hasan sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan istrinya lalu merebahkan dirinya disamping wanita kesayangannya itu sambil menciumi puncak kepalanya.


πŸ“²"Jangan bilang lo habis ngerjain' istri lo!" Seru Dokter Wahyu seraya tersenyum smirk.


πŸ“±"Terserah gue lah mau ngapain aja, dia kan istri sah gue." Dokter Hasan berkata dengan entengnya tanpa menyadari kesalahannya.


πŸ“²" Iya juga sich, sorry kalau gitu. Gue cuma mau ngajakin lo berdua makan sama-sama." Dokter Wahyu akhirnya mengutarakan niat awalnya.


πŸ“±"Nanti aja kalau istri gue udah bangun." Sahut Dokter Hasan langsung memutuskan panggilan dari sahabatnya itu lalu meletakkan handphonenya diatas nakas.


"Sayang," panggilnya dengan sangat lembut sambil membelai wajah istrinya.


Dia terperanjat ketika menyentuh kening dan leher istrinya karena suhu tubuhnya terasa sangat panas, dia juga memeriksa denyut nadinya.


Astagfirullah al azdim, apa yang sudah aku lakukan pada istriku? Kenapa dia tiba-tiba demam seperti ini? Denyut nadinya juga melemah." Batinnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi.


Dia langsung menelpon Dokter Wahyu untuk meminta bantuannya.


Tut...tut...tut...panggilan langsung tersambung.


πŸ“²" Tolongin istri gue bro, suruh istri lo secepatnya periksa dia kesini." Pintanya dengan menekankan kata-katanya karena sangat mencemaskan istrinya juga kandungannya.


πŸ“±"Emangnya kenapa dengan istri lo?" Dokter Wahyu sangat santai menanggapinya.


πŸ“²"Dia demam." Lirihnya karena baru mengingat apa yang telah dilakukannya kepada istrinya." Tolong pinjam baju dulu buat kami berdua, gue lupa bawa baju ganti." Ucapnya kembali melilitkan handuk di pinggangnya.


πŸ“±"Ok, kami segera kesana sekalian bawa baju baru yang belum sempat kami pakai." Sahut Dokter Wahyu yang memang sudah selesai menyantap makan malamnya.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Dokter Hasan kembali mendekati istrinya lalu menggenggam tangannya sambil mengusap kepala serta perutnya.


Maafin aku Sayang, aku benar-benar egois hingga membuatmu jadi kayak gini," gumamnya dalam hati sambil menciumi tangan istrinya sambil terus mengelus-elus perut buncitnya." Maafin papah juga ya sayang karena udah bikin mamah kalian drop lagi." Ujarnya sembari menciumi perut istrinya berharap ada gerakan kecil dari baby twins nya agar dia bisa memastikan anak-anaknya baik-baik saja di rahim istrinya.


Tok...tok...tok...bunyi pintu di ketuk dari luar.


Dokter Hasan segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu untuk membukakan kuncinya. Setelah pintu terbuka Dokter Wahyu langsung menutupi mata istrinya dengan tangannya agar tidak memperhatikan tubuh setengah telanjang sahabatnya yang sangat atletis itu.


"Ayo Beb cepat periksa Khardha." Ajak Dokter Wahyu sambil menuntun istrinya mendekati ranjang tempat Khardha terbaring.


Setelah sampai di tepi ranjang Dokter Hasan yang mengikuti dari belakang langsung menarik Dokter Wahyu kesudut kamar yang ada sofa disana agar tidak melihat tubuh polos istrinya.


"Mau apa lo narik tangan gue?" Sentak Dokter Wahyu dengan menepis tangan sahabatnya itu.


"Lo gak usah ikut liatin istri gue, dia lagi *****. Mana baju yang gue minta tadi." Dokter Hasan langsung mengulurkan tangannya meminta paper bag yang di tenteng Dokter Wahyu sedari tadi.


"Nich kebetulan tuh baju baru gue beli kemarin biar buat lo aja." Ujarnya sembari menyerahkan paper bag nya ketangan sahabatnya itu.


"Tanks ya, gue mau mandi dulu. Ingat lo tunggu disini aja jangan berani sedikitpun lo ngintip istri gue." Ucap Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.


"Iya." Singkat Dokter Wahyu lalu menghempaskan dirinya duduk disofa yang membelakangi arah tempat tidur kemudian memainkan handphonenya.


Dokter Hasan segera berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Seusai mandi dan mengenakan pakaiannya Dokter Hasan langsung menghampiri Dokter Selvi yang masih sibuk memeriksa keadaan istrinya.


"Gimana kondisinya dan kandungannya?" Tanyanya dengan duduk disamping kepala istrinya.

__ADS_1


"Kondisinya sangat lemah, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit untuk melakukan USG, supaya bisa memastikan kandungannya baik-baik aja." Jawab Dokter Selvi dengan membereskan peralatan medisnya.


Dokter Hasan menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang harus dilakukannya.


"Baiklah kami akan menunggu kalian berdua di luar." Dokter Selvi segera beranjak setelah membereskan alat medisnya.


"Gimana keadaan Khardha Beb?" Tanya Dokter Wahyu ketika melihat istrinya berdiri di depannya.


"Kondisinya drop, detak jantung baby nya juga ikut melemah. Kita harus secepatnya membawanya ke rumah sakit, supaya bisa menanganinya lebih intensif." Jawab Dokter Selvi sembari menarik suaminya untuk segera keluar dari kamar itu.


"Emangnya apa aja ya yang dilakukan Dokter Hasan sampai istrinya bisa kayak gitu?" Dokter Wahyu menatap istrinya yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


"Aku juga gak tau pasti apa penyebabnya yang jelas ketika aku memeriksa keadaannya, hampir seluruh tubuh Khardha ada bekas kissmark."


"Wowww hebat juga ya Dokter Hasan pasangan lama rasa baru terus." Dokter Wahyu berdecak kagum membayangkan kehidupan rumah tangga sahabatnya diatas ranjang.


"Sudahlah Beb yuk kita tunggu mereka dimobil aja." Ajak Dokter Selvi sembari menggandeng tangan suaminya.


Sementara itu setelah kedua sahabatnya keluar dari kamar Dokter Hasan segera memakaikan baju untuk istrinya lalu menggendongnya ke luar menuju mobilnya tidak lupa dia memanggil bi Tutik untuk ikut menemani mereka ke rumah sakit.


"Bi Tutik tolong pangku kepala istriku dibelakang ya, kita harus secepatnya membawanya ke rumah sakit." Pintanya setelah membaringkan tubuh istrinya di jok penumpang bagian belakang.


Dia segera mendudukkan dirinya didepan kursi kemudi lalu menjalankan kendaraan roda empatnya itu mengikuti mobil sahabatnya yang ada didepannya. Sesampainya di rumah sakit Dokter Selvi segera memerintahkan Dokter Hasan untuk membawanya langsung ke ruangannya. Dokter Hasan yang masih setia menggendong istrinya karena tidak mau menggunakan brankar rumah sakit hanya menganggukkan kepalanya mengikuti semua apa yang diperintahkan kepadanya. Sesampainya di ruangan Dokter Selvi, dengan hati-hati Dokter Hasan membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang. Dia juga memasang ventilator dan infus untuk istrinya, sedangkan Dokter Selvi langsung mengerjakan tugasnya dengan mengoleskan jel ultrasonik keperut Khardha lalu menaruh alat ultrasonografi untuk memastikan kondisi anak yang ada dirahim wanita yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.


"Gimana istri dan anak-anakku baik-baik aja kan?" Dokter Hasan benar-benar tidak sabar menanti penjelasan dari Dokter Selvi yang tampak memperhatikan layar monitor nya dengan seksama.


"Syukurlah baby twins kalian baik-baik aja. Tapi aku ingatkan sama kamu jangan buat Khardha kayak gini lagi ya, kasian dia sudah berat mengandung anak-anak kamu. Biarkan dia istirahat total sampai benar-benar pulih baru kalian boleh berhubungan lagi." Ucap Dokter Selvi penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Baiklah, tapi sampai kapan?" Lirih Dokter Hasan seolah bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap kearah istrinya yang masih setia menutup matanya.


Dokter Selvi dan Dokter Wahyu yang mendengarnya sama-sama menggelengkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti.


"Heyy bro lo itu benar-benar ya, istri lo itu sedang mengandung anak-anak lo sekarang, jadi gak usah lo terlalu lebay gitu menanggapinya." Seru Dokter Wahyu sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


"Gue cuma mau tau sampai kapan istri gue kayak gini, gue benar-benar menyesal karena udah bikin dia sakit." Ujarnya sembari menggenggam tangan wanita kesayangannya itu.


"Otak lo yang terlalu kotor dan mesum makanya mikirin urusan ranjang melulu." Sergah Dokter Hasan dengan memajukan bibirnya.


"Perasaan hampir setiap laki-laki yang ada di otaknya cuma dua hal, yaitu kalau gak kepala atas pasti kepala bawah. Iya kan bro?" Bisik Dokter Wahyu ditelinga Dokter Hasan ketika istrinya mengambil tisu untuk membersihkan perut Khardha dari bekas jel ultrasonik.


"Iya juga sich, kalau itu gue setuju banget." Balas Dokter Hasan dengan merangkul bahu Dokter Wahyu.


"Apa yang kalian omongin berdua?" Dokter Selvi memicingkan matanya menatap dua laki-laki yang mencurigakan menurutnya.


"Gak Beb kita cuma lagi sehati aja, iya gak bro?" Dokter Wahyu melepaskan rangkulan sahabatnya itu lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Amit-amit dech gue sehati sama lo, gue kan laki-laki sejati." Jawab Dokter Hasan dengan bergidik geli.


"Kurang asem lo, gue kan juga laki-laki normal kali, tuh buktinya istri gue langsung hamil habis gue garap tiap hari." Sergah Dokter Wahyu tidak terima dianggap jeruk makan jeruk.


"Kalian berdua ini ada-ada aja, sampai gak nyadar apa yang kalian omongin itu unfaedah banget." Ucap Dokter Selvi sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah kita pulang yuk daripada disini gak bisa ehem-ehem." Ujar Dokter Wahyu sambil menarik tangan istrinya.


Dia melirik kearah Dokter Hasan yang kembali terlihat sendu menatap kearah istrinya sendiri sambil mengusap kepala dan perut wanita yang sangat dicintainya itu.


"Heyy bro lebih baik lo pindahin istri lo secepatnya ke ruang rawat biar lo juga bisa istirahat dengan nyaman." Dokter Wahyu mengingatkan.


"Iya." Singkat Dokter Hasan lalu menghubungi petugas untuk menyiapkan kamar VVIP untuk istrinya.


*****


Setelah Khardha di pindahkan ke kamar VVIP Dokter Hasan segera masuk kekamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan sholat dan mengqadha semua waktu yang ditinggalkannya.


Sebagai seorang muslim sholat merupakan kewajiban yang utama dikerjakan. Mengqodha sholat artinya mengganti sholat yang terlewat dari waktunya. Hukumnya wajib dikerjakan, sebab sholat yang terlewat waktunya tidak gugur kewajibannya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


Seusai sholat Dokter Hasan kembali menghampiri istrinya yang ternyata sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Sayang apa yang kamu rasakan? Apakah ada yang sakit? Bagian mana aja?" Cecarnya tanpa jeda sambil mengusap kepala istrinya.


"Seluruh badanku rasanya remuk Sayang, perutku juga sakit." Jawab Khardha dengan menatap sendu kearah suaminya.


"Maafin aku Sayang, kamu jadi sakit karena aku yang terlalu egois sama kamu. Aku sangat menyesal Sayang, aku mohon sekali lagi maafin suamimu yang egois ini." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku mau maafin kamu asal cariin aku nasi goreng spesial plus jus jeruk." Sahut Khardha sembari mengelus-elus perutnya yang benar-benar lapar.


"Ohh ternyata bumil ku ini kelaparan, ya udah aku beliin dulu ya Sayang, cup." Dokter Hasan mengecup kening istrinya lalu melangkahkan kakinya keluar untuk membeli makanan dan minuman yang diminta wanita yang telah mengandung buah cintanya itu.


"Bi Tutik!" Seru Khardha memanggil asisten rumah tangganya itu ketika melihatnya duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


Tidak ada respon dari bi Tutik karena dia sudah terlelap sedari tadi. Khardha yang benar-benar kebelet pipis sangat gelisah diatas ranjangnya, dia sebenarnya ingin sekali bangun sendiri namun kondisi tubuhnya yang masih sangat lemas membuatnya tidak berdaya untuk melakukannya sendiri. Satu jam kemudian Dokter Hasan datang dengan membawa tiga bungkus nasi goreng dan tiga gelas jus jeruk.


"Assalamualaikum, Sayang ini nasgornya sama jus jeruknya." Dokter Hasan langsung meletakkannya di atas nakas samping bed pasien istrinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sayang tolongin aku ya, aku udah kebelet pipis dari tadi." Pinta Khardha dengan mengulurkan tangannya agar suaminya mau membantunya untuk bangun.


"Ok Sayang." Dokter Hasan langsung menggendong istrinya masuk ke kamar mandi lalu mendudukkannya diatas closed." Aku akan tungguin kamu disini." Ujarnya tidak mau dibantah.


"Tapi kamu harus balik badan dulu." Khardha menepis tangan suaminya yang ingin membantunya menurunkan celana dalamnya.


"Loh emangnya kenapa? Kamu masih malu sama aku? Aku kan udah hafal semua bagian tubuh kamu Sayang." Dokter Hasan tersenyum hingga menampakkan barisan giginya.


"Sayang cepat balik badan atau keluar sekalian, aku udah gak tahan lagi!" Pekik Khardha dengan mendorong suaminya yang justru semakin mendekatinya.


"Gak usah malu sama aku Sayang, sebab aku juga sering menikmati gua sempit mu itu." Bisiknya dengan menghembuskan nafasnya ditelinga istrinya.


Khardha yang sudah tidak bisa lagi menahan buang air kecilnya terpaksa menutupi mata suaminya yang tidak mau beranjak dari hadapannya. Setelah selesai dia sangat kesal dengan suaminya karena dia tidak sadar belum membuka celana dalamnya.


"Gara-gara kamu yang selalu menggodaku, celana dalamku jadi basah." Kesal Khardha dengan mencubit perut suaminya.


Dokter Hasan tidak bisa menghentikan senyumannya melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan baginya.


"Tenang aja Sayang, gak usah pakai celana juga gak papa kok." Godanya lagi dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ishhh kamu benar-benar nyebelin Sayang, aku gak mau tau pokoknya beliin aku celana dalam sekarang!" Khardha memukuli dada bidang suaminya.


Sebab dia sangat kesal karena suaminya selalu menggodanya.


"Tapi aku sukanya kamu gak usah pakai celana gimana?" Dokter Hasan menaikturunkan alisnya sambil menggendong kembali istrinya keluar dari kamar mandi lalu membaringkannya diatas ranjang.


"Aku gak mau maafin kamu kalau gitu." Khardha memalingkan wajahnya kearah lain karena tidak mau menatap suaminya.


"Sayang jangan ngambek ya, aku kan cuma becanda. Nich kamu pilih sendiri mau pesan yang mana?" Dokter Hasan menyerahkan handphonenya kepada istrinya untuk melihat online shop yang menjual baju dan daleman untuk ibu hamil.


"Aku bingung Sayang, kamu aja yang pilih ya." Khardha menyerahkan kembali handphone suaminya.


"Tapi kalau aku yang pilih kamu jangan nolak ya." Dokter Hasan melirik istrinya lalu kembali menscrol layar handphonenya.


"Iya."Singkat Khardha.


Dokter Hasan langsung memesan baju dan pakaian dalam khusus ibu hamil untuk istrinya dengan beberapa model dan warna favoritnya. Sebab dia selalu menganggap wanita yang sangat dicintainya itu layaknya ratu dalam hatinya.


Kehidupan rumah tangga yang sudah terjalin lama tapi selalu rasa baru itu lebih baik untuk menjaga keharmonisan pasangan itu sendiri, daripada baru rasa lama sungguh miris jadinya.


Ciptakan kebahagiaanmu sendiri dengan hal-hal yang membuat pasangan kita tidak bisa melupakannya. Baik untuk lahir maupun batin, jadikan dirimu lebih baik dimatanya daripada orang-orang di luaran sana. Karena pasangan yang baik hanya akan kembali pada kekasih halalnya bukan mencari kepuasan dengan siapapun dan apapun itu.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman, melalui vote, like, komen nya.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya.


__ADS_2