
Happy reading guys!
Warning 21+ dosa tanggung sendiri sebab author juga banyak dosa.
Jam 02:00 pagi alarm handphone Dokter Hasan berbunyi, dia langsung terbangun lalu mematikannya agar tidak mengganggu tidur nyenyak istrinya. Dia membelai lembut wajah wanita yang telah mengandung buah cintanya itu lalu mencium keningnya sambil memejamkan matanya cukup lama.
Maafin aku Sayang karena udah bikin kamu nangis hingga matamu bengkak kayak gini ," batinnya sembari menciumi seluruh wajah istrinya.
Khardha merasa terganggu dalam tidurnya akibat ulah suaminya, dia membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Setelah nyawanya kembali terkumpul semua dia langsung
melingkarkan tangannya dileher suaminya.
"Sayang aku mau kita bercinta lagi, tapi aku yang memimpin permainannya." Pintanya dengan nada sangat menggoda sambil menggigit bibir bawahnya.
Khardha baru saja bermimpi melakukan adegan panas bersama suaminya hingga membuatnya ingin merealisasikannya. Hormon kehamilannya juga ikut andil membuatnya selalu merasa bergairah bila berdekatan dengan suaminya.
"Beneran Sayang? Kamu gak lagi becanda kan?" Dokter Hasan sangat terkejut dengan permintaan istrinya yang tidak biasanya.
Sebab biasanya selalu dia yang meminta jatah' lebih dan ingin menambah ronde dalam tempo permainan mereka, setiap saatnya dia selalu merasa candu dengan sensasi kenikmatannya.
Khardha menganggukkan kepalanya lalu menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya. Dokter Hasan langsung mengeksplorasi secara detail setiap inci bagian tubuh istrinya sampai benar-benar siap untuk keintinya. Setelah itu dia berguling kesamping dan membiarkan kekasih halalnya itu memimpin permainan mereka. Khardha beringsut menaiki tubuh suaminya dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan lalu memasukkan king cobra yang sudah berdiri itu kedalam liang persembunyiannya. Dia menggoyangkan pinggulnya bagaikan penari erotis yang sangat menikmati pekerjaannya. Dokter Hasan tidak bisa tinggal diam begitu saja dia segera menyambar dua bukit kembar istrinya yang ada didepan matanya itu lalu memainkannya. Hingga hampir satu jam mereka melakukannya dengan berbagai macam posisi, akhirnya lenguhan panjang keluar bersamaan dari mulut keduanya.
"Makasih Sayang." Ucap mereka berdua bersamaan." Sama-sama Sayang." Pasangan suami istri itu kembali mengucapkan kata-kata yang sama dengan sangat kompak.
Keduanya tersenyum penuh arti lalu berpelukan, perasaan mereka sangat bahagia karena bisa memberikan kepuasan kepada pasangan masing-masing. Khardha yang sangat mudah kelelahan sejak kehamilannya langsung terlelap dalam dekapan suaminya. Dokter Hasan melonggarkan pelukannya dan meletakkan kepala istrinya perlahan diatas bantal. Dia mengecup kening istrinya kemudian menyelimutinya, dia segera beranjak mengambil handuk lalu melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Seusai mandi dan berwudhu Dokter Hasan kembali masuk ke dalam kamarnya, dia mencari baju dalam kopernya lalu memakainya.
Setelah mengenakan bajunya Dokter Hasan langsung menggelar sajadahnya untuk melaksanakan sholat tahajjud, taubat dan hajatnya lalu diteruskan dengan tadarus mengaji membaca alquran digital di handphonenya. Jam 04:00 tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok...tok...tok....bunyi pintu diketuk dari luar.
"Om, Tante, sahur....sahur!" Seru Merlin dari balik pintu.
Dokter Hasan yang mendengarnya langsung menghentikan bacaan alquran nya lalu menyahutinya.
"Iya sebentar lagi kami keluar!" Ujarnya sembari beranjak untuk membangunkan istrinya.
"Sayang bangun Sayang kita sahur yuk!" Ajaknya dengan menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya dan memakaikan bajunya.
"Aku masih ngantuk banget Sayang, badanku rasanya remuk semua." Keluhnya
dengan mata masih terpejam sempurna.
"Kamu harus semangat Sayang hari ini kan hari terakhir kita puasa Ramadhan." Ujarnya mengingatkan sembari membantu istrinya berdiri lalu menuntunnya keluar kamar menuju meja makan.
" Iya Sayang tapi kepalaku pusing banget badanku juga rasanya lemes." Khardha bergelayut manja dilengan suaminya dengan menyadarkan kepalanya dibahunya.
"Biar kamu gak lemes dan pusing lagi kamu harus makan ya." Pintanya dengan nada sangat lembut.
Khardha menganggukkan kepalanya namun tiba-tiba dia merasa mual dan tidak bisa lagi menahannya. Dia berlari menuju kamar mandi sambil menutupi mulutnya lalu mengeluarkan isi perutnya lewat mulutnya didalam closed.
Hoek...hoek....Khardha terus saja memuntahkan semua isi perutnya.
Ya Allah istriku muntah lagi," batinnya dengan bergegas menyusul ke kamar mandi lalu memijat tengkuk wanita yang sedang mengandung buah cintanya itu.
Setelah selesai dan merasa tidak ada lagi yang harus dimuntahkannya Khardha mencuci mulutnya diwastafel sampai bersih,
lalu menatap pantulan dirinya sebentar.
"Sayang kamu gak papa kan?" Tanyanya sembari menutun istrinya ke meja makan.
Dokter Hasan sangat khawatir ketika melihat wajah istrinya yang tampak sangat pucat, Khardha hanya menganggukkan kepalanya walaupun kepalanya masih terasa sakit perutnya juga kram.
"Kalau kamu gak kuat untuk puasa sebaiknya jangan dipaksain Sayang, aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa." Ujarnya sembari mendudukkan dirinya dan istrinya dikursi meja makan.
"Inshaallah aku gak papa Sayang kamu tenang aja ya." Khardha menggenggam tangan suaminya seraya tersenyum untuk meyakinkannya dia akan baik-baik saja.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu mengambil makanan untuknya dan istrinya.
"Emangnya Tante lagi sakit ya? Mukanya keliatan pucat banget." Merlin mengerutkan keningnya menatap kearah Khardha.
"Aku gak papa kalian gak usah khawatir." Khardha menyunggingkan senyumnya hingga menampakkan barisan giginya.
"Itu sudah lumrah terjadi pada seorang wanita yang tengah hamil, apalagi kalau sering muntah kayak tante kamu ini." Ujar Amey menjelaskan." Yang penting selalu ingat untuk menjaga kesehatan kamu dek, minum vitamin, susu ibu hamil dan terutama makanan yang sehat." Nasehat Amey berdasarkan pengalamannya sendiri.
__ADS_1
Khardha manggut-manggut mengerti apa yang disampaikan Amey.
"Benar apa yang dikatakan Kak Amey Sayang. Dokter Hasan menimpali." Astagfirullah al azdim kamu belum pernah minum vitamin yang aku beliin kemarin!" Serunya karena baru mengingatnya.
"Aku emang gak suka minum obat Sayang." Tolak Khardha dengan halus.
"Vitamin itu bukan obat Sayang. Bedanya vitamin adalalah suplemen untuk menjaga sistem imun atau kekebalan dalam tubuh, sedangkan obat membantu menyembuhkan sumber rasa sakit." Dokter Hasan menjelaskan secara detail kepada istrinya supaya mau meminum vitaminnya.
"Ohh gitu." Khardha manggut-manggut mengerti apa yang dijelaskan suaminya.
"Tunggu sebentar ya Sayang aku ambilin vitaminya dulu dikamar." Ujarnya sembari beranjak dari sana untuk mengambil vitamin buat istrinya yang masih tersimpan di saku jaketnya.
"Dek hari ini kan hari terakhir kita puasa, rencananya kakak sama ibu mau bikin ketupat buat lebaran besok. Bisa gak
kami minta tolong sama suami kamu buat dianterin kepasar, kami mau beli ikan gabus dan bahan lainnya disana." Ujar Amey sembari menunggu kedatangan Dokter Hasan kembali ke meja makan.
"Inshaallah bisa kok Kak, suamiku pasti mau nganterin." Sahut Khardha meyakinkan.
Tidak berselang lama Dokter Hasan kembali dengan membawa botol kecil berisi vitamin untuk istrinya.
"Ini Sayang vitaminya langsung minum aja ya." Ujarnya sembari meletakkan kaplet ditangan istrinya setelah membuka tutup botolnya lalu memberikan gelas berisi air putih.
Khardha segera meminumnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan sebab dia paling anti minum sesuatu yang berbentuk kaplet, kapsul apalagi serbuk karena pasti tertinggal rasa pahit di lidah juga tenggorokkannya. Setelah meminum beberapa gelas air putih Khardha berkata pada suaminya.
"Sayang Kak Amey sama Ibu mau kepasar hari ini beli kebutuhan dapur untuk bikin ketupat buat lebaran besok, kamu bisa kan nganterin?" Tanya Khardha memastikan.
"Iya Sayang, kamu juga pasti mau ikut kan?" Tebaknya seraya tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Beneran aku boleh aku ikut Sayang?" Khardha berusaha memastikan pendengarannya.
"Tentu Sayang, tapi kamu harus makan yang banyak dulu ya, biar kuat puasanya." Dokter Hasan langsung menyajikan makanan dipiring istrinya.
"Ok Sayang." Khardha menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat karena tidak sabar lagi untuk ikut kepasar.
Sebab selama pandemi covit-19 ini Khardha benar-benar stay at home.
"Om, Tante kami boleh ikut gak?" Tanya Merlin sambil menggendong adiknya yang baru bangun.
" Iya boleh, asal jaga jarak dengan orang lain saat di pasar nanti." Jawab Dokter Hasan mengingatkan.
" Yeyy asyik!" Seru Merlin melompat kegirangan." Sekalian beli baju baru ya Ma." Pinta Merlin pada mamanya.
"Kamu juga mau beli baju Sayang?" Dokter Hasan menatap istrinya dengan mengangkat satu alisnya.
"Enggak Sayang, baju lama aja dilemari masih banyak yang belum kupakai." Tolak Khardha dengan halus.
" Ya sudah, mari kita makan dulu nanti keburu imsak jangan lupa baca doa." Bu Hana mengingatkan semuanya untuk menyudahi pembicaraan mereka.
" Iya Bu!" Sahut mereka serempak.
*****
Setelah selesai mandi, menunaikan sholat shubuh berjamaah di lanjutkan dengan sholat sunnah israq dan dhuha, mereka semua bersiap-siap untuk berangkat kepasar bersama-sama. Namun saat sudah di jalan tiba-tiba Khardha merengek pada suaminya.
"Sayang aku pengin makan belut, nanti beli belut di pasar ya." Pintanya dengan nada manja.
"Iya Sayang kalau ada ya, nanti kan Kak Amey sama Ibu juga ke tempat penjual ikan." Sahut Dokter Hasan tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus ke arah jalanan.
" Tapi aku mau nya kamu yang mengambil sendiri belut nya ditempat orang jualan Sayang." Khardha memegangi tangan suaminya yang sibuk menyetir.
"Jangan terlalu sering nyusahin
suamimu, kasian dia!" Tegur Bu Hana dengan meninggikan intonasinya."
Masa menantuku yang ganteng di suruh nangkep belut di pasar apa kata dunia." Gerutunya dengan menyentil telinga anak bungsunya itu.
"Sayang!" Khardha memegangi tangan suaminya dengan mata berkaca-kaca.
" Iya Sayang, aku akan usahakan untuk memenuhi semua keinginanmu." Dokter Hasan mengusap kepala istrinya penuh cinta.
"Hasan kamu jangan terlalu memanjakan Khardha, nanti dia jadi ngelonjak terus sama kamu!" Sergah Bu Hana mengingatkan menantu kesayangannya itu.
"Gak papa kok Bu, selama aku bisa inshaallah aku akan usahakan." Dokter Hasan mengulas senyumnya di balik spion yang ada di atas kepalanya.
Khardha yang merasa di pojokan oleh ibunya akhirnya menundukkan kepalanya sambil terisak.
Hiks.... hiks....Khardha semakin sensitif bila ada yang menegurnya selama kehamilannya sekarang apalagi jika keinginannya tidak terkabul.
__ADS_1
"Kamu jadi istri jangan terlalu manja dan cengeng gitu Khardha, kayak anak kecil aja!" Ketus Bu Hana dengan nada sinisnya.
"Sudahlah Bu, kasian Khardha kalau ibu ceramahi terus seperti itu." Kak Amey berusaha menengahi
"Iya Nek aku pernah baca artikel tentang kehamilan, disana dikatakan bahwa ibu hamil akan semakin sensitif karena produksi hormonnya yang meningkat. Jadi gak baik kalau sampai tante badmood, itu akan mempengaruhi kondisi kehamilannya." Merlin menimpali sembari menjelaskan apa yang diketahuinya.
" Kamu itu masih kecil, gak usah sok tau!" Kesal Bu Hana dengan menatap tajam kearah Merlin.
Ehemmm......Apakah pasar nya masih jauh?" Tanya Dokter Hasan untuk mengalihkan pembicaraan.
Dia benar-benar tidak suka bila ada orang yang tidak mau mengerti situasi dan kondisi di sekitarnya, keegoisan mertuanya membuatnya hanya bisa mengelus dada. Padahal seharusnya beliau lebih mengerti bagaimana menyikapi kehamilan Khardha sebab beliau lebih berpengalaman tentang masalah itu.
"Gak jauh lagi Nak, setelah perempatan jalan belok kanan terus kiri langsung masuk area pasar." Bu Hana menunjukkan jalan yang harus di tempuhnya.
Sesampainya di area parkiran pasar Dokter Hasan memarkir mobilnya ditempat yang sudah seharusnya dengan benar lalu mematikan mesin kendaraan roda empatnya itu.
"Makasih ya nak Hasan, kalian berdua tunggu di sini saja ya!" Bu Hana membuka pintu mobil menantunya itu lalu keluar dan berjalan mendahului yang lain untuk belanja di pasar tradisional itu.
"Iya Bu." Dokter mengangguk kan kepalanya." Tunggu sebentar Kak!" Serunya ketika Amey, Merlin dan adiknya hendak turun dari mobil.
"Ada apa Hasan?" Amey mengerutkan keningnya menatap adik iparnya itu.
"Ini ada sedikit uang untuk tambahan belanja, jangan lupa belikan belut buat Khardha ya Kak." Ujarnya sembari menyerahkan amplop yang cukup tebal.
"Tentu Hasan, makasih ya." Amey menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Sama-sama Kak, silahkan kalian belanja sepuasnya." Dokter Hasan mengusap kepala Aisya adiknya Merlin lalu mencium pipi gembul nya.
Setelah semua orang berlalu pergi, Dokter Hasan membuka sabuk pengaman istrinya lalu merengkuh tubuh kekasih halalnya itu kedalam pelukannya, seraya berkata.
"Sayang kamu jangan nangis lagi ya, nanti puasanya batal loh." Ujarnya sembari membelai rambut istrinya." Aku gak keberatan melakukan apa pun untukmu Sayang." Menciumi puncak kepala istrinya." Kamu seharusnya lebih sabar lagi menghadapi ibumu sendiri." Dokter Hasan melepaskan pelukannya lalu menghapus airmata istrinya dengan ibu jarinya." Maksud beliau baik Sayang, cuma cara menyampaikannya aja yang kurang tepat." Nasehatnya lalu mendaratkan bibirnya dikening istrinya.
"Maafin aku Sayang." Khardha langsung menghambur kepelukkan suaminya.
" Iya sama-sama Sayang, aku juga minta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik untukmu sampai detik ini." Dokter Hasan kembali menciumi puncak kepala istrinya.
Karena terlalu lama berpelukan tiba-tiba ada yang bergerak di bawah sana, untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan disiang hari terakhir bulan Ramadhan ini, Dokter Hasan langsung
memberi jarak diantara mereka berdua. Dia lalu mengalihkan perhatiannya sendiri dengan menggoda istrinya.
"Jadi gimana masih mau liat aku nangkep belut?" Tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Aku takut nanti di marahin ibu lagi Sayang." Khardha menundukkan kepalanya.
"Gak usah takut Sayang, nanti biar aku yang jadi tameng buat kamu, kalau ibu marahin kamu lagi." Dokter Hasan mengangkat dagu istrinya lalu mengedipkan satu matanya.
" Ya udah kalau gitu aku gak sabar lagi liat kamu nangkepin belut!" Seru Khardha dengan antusias.
"Ok Baby, lets go!" Dokter Hasan membuka pintu mobilnya yang ada disebelah bagian kemudi.
Namun secara tidak sengaja ketika Khardha membuka pintu mobil yang ada disampingnya, dia langsung terhempas
ketanah akibat ditabrak orang yang berlari kencang kearahnya.
Awww... arghhh...Khardha meringis merasakan sakit dibagian pantat dan perutnya.
"Astagfirullah al azdim, Sayang!" Dokter Hasan segera berlari menghampiri istrinya." Dimana yang sakit Sayang? Tanyanya sambil mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya kembali masuk kedalam mobil.
"Pantat sama perut ku sakit banget." Khardha memejamkan matanya sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
Tiba-tiba dia merasakan ada yang mengalir di area sensitif nya, Dokter Hasan yang terus memperhatikan istrinya sangat terkejut melihat darah mengalir di kaki wanita yang sangat dicintainya itu.
"Kamu pendarahan Sayang!" Serunya dengan perasaan sangat khawatir luar biasa." Habis ini kita langsung ke rumah sakit." Tegasnya dengan menekankan kata-katanya.
Dokter Hasan segera menurunkan kursi penumpang yang di duduki istrinya, supaya bisa berbaring dengan nyaman, untuk mengurangi risiko pendarahan lebih banyak lagi.
Ya Allah selamatkan kandungan istriku, jangan biarkan terjadi sesuatu hal yang buruk kepadanya." Doanya dalam hati sambil mengelus-elus perut istrinya." Bertahanlah nak, jangan tinggal kan papah dan mamah sebelum kamu lahir kedunia ini." Batinnya dengan mata berkaca-kaca.
🌿🌿🌿🌿🌿
Selamat hari raya idul fitri semuanya.
Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan bathin.
Mohon doa dan dukungannya terus ya melalui vote, like , komen, koin, dan rate bintang lima.
Jadikan favorit kalian selalu ya, salam sayang dari author Khardha Love.
__ADS_1