
Happy reading guys!"
Semburat lembayung senja diatas cakrawala
Menuntun hati seseorang yang sekarang berdiri di atas balkon rumahnya.Bersama hiruk-pikuknya kehidupan kota yang begitu memekakkan telinga.Orang itu tetap santai menikmati desiran angin yang mulai tidak bersahabat dengan kondisi tubuhnya.
" Non,lebih baik Non Khardha masuk kedalam saja,nanti Tuan Dokter marah kalau sampai Non sakit lagi." Bi Tutik ikut berdiri dibelakang Khardha meminta nya untuk segera masuk kedalam kamar nya.
" Aku sangat bosan bi,semenjak aku keluar dari Rumah sakit enam bulan yang lalu, suamiku selalu melarang aku untuk melakukan apapun yang aku inginkan." Curhat nya kepada asisten rumah tangga nya itu.
" Itu hal yang wajar Non,Tuan Dokter kan sayang banget sama Non,apalagi sekarang Non sudah hamil besar." Sahut bi Tutik dengan mengelus perut Khardha yang sudah sangat buncit.
" Aku tau bi, tapi aku kan juga pengin jalan-jalan atau liburan sekalian babymoon." Khardha menundukkan kepalanya merasa sedih & kecewa dengan suaminya yang semakin sibuk saja, padahal seharusnya dia menepati janji nya untuk selalu menemani nya.
Tiba-tiba Dokter Hasan datang sambil berjalan mengendap-endap ingin memberikan kejutan untuk istrinya.
" Assalamualaikum sayang!" Serunya sembari memeluk istrinya dari belakang & mengelus perut buncit istrinya.
" Saya permisi dulu Tuan,Non Khardha." Pamit bi Tutik tidak mau jadi nyamuk untuk pasangan suami istri itu.
Mereka berdua pun menganggukkan kepalanya.
" Kenapa kamu masih disini sayang, ini sudah mau masuk waktu maghrib ayo kita kedalam."
Dokter Hasan menuntun istrinya dengan merangkul bahunya dan menggenggam satu tangan nya.Kemudian dia mendudukkan istrinya di tepian ranjang.
" Sayang aku ada surprise buat kamu !" Ujarnya dengan tersenyum penuh arti, menatap lekat manik mata istrinya.
" Kejutan apa sayang?" Khardha mengerutkan keningnya.
" Aku mandi dulu ya!" Nanti aku bilang sama kamu kalau sudah selesai sholat isya." Dokter Hasan sengaja membuat istrinya penasaran agar dia benar-benar bahagia saat mengetahui nya.
"Iya dech terserah kamu aja!" Sahut Khardha dengan mengerucut kan bibir nya.
" Jangan menggodaku dengan bibir mu itu sayang!"Cup..." Dokter Hasan mengecup sekilas bibir istrinya kemudian mengambil handuk & berlari masuk kamar mandi.
"Ishhh, dasar Dokter mesummmmm!"Teriak Khardha kesal dengan kelakuan suaminya.
Dokter Hasan mendengar teriakan istrinya tersenyum kemudian menyembulkan kepala nya.
" Tapi ngangenin kan sayang!" Serunya sengaja terus menggoda istrinya.
Khardha beranjak berjalan menuju kamar mandi sembari menghentakkan kakinya kelantai.
Dokter Hasan yang melihat istrinya mendekat
dengan wajah yang memerah menahan emosi, segera mengunci pintu kamar mandi.
"Buka pintunya....!"Teriak Khardha mengedor pintu kamar mandi.
Tidak ada sahutan dari Dokter Hasan,yang ada hanya bunyi gemercik air karena dia memang sengaja pura-pura tidak mendengar teriakan istrinya & terus melanjutkan ritual mandinya.
" Buka gakkkkk!" Teriak Khardha semakin kesal.
Ceklek...Dokter Hasan membuka pintu kamar mandi dengan badan di penuhi sabun & kepalanya yang masih ada shampo.
" Kamu kenapa sich sayang?" Pengin mandiin aku atau mau aku yang mandiin kamu ?" Menarik tangan istrinya & mendekapnya kemudian membawanya mandi di bawah shower. Khardha berusaha berontak dan mendorong dada suaminya namun Dokter Hasan semakin mengeratkan pelukan nya.
" Sayang kamu jangan marah-marah terus ya,gak baik untuk anak kita." Ujarnya sangat lembut sembari mengelus perut & menciumi leher istrinya juga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
" Aku...aku...aku ...cuma kesal sama kamu sayang!" Khardha terbata karena merasakan geli sekaligus nikmat dengan apa yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
" Aku minta maaf sayang karena sudah membuatmu kesal dan aku akan memberikan kejutan indah buat kamu." Ujarnya kemudian mencium bibir mungil nan sensual istrinya, dibawah guyuran air shower yang membasahi mereka berdua,tangan pun tidak tinggal diam satu-persatu dia melucuti pakaian istrinya, yang sudah basah karena ulah nya & akhirnya mereka pun bercinta didalam kamar mandi.
*****
Sesudah mandi plus-plus nya pasangan suami istri itu menunaikan sholat maghrib berjamaah.Sehabis sholat mereka turun kebawah menuju dapur untuk makan malam yang sudah disiapkan bi Tutik di meja makan, Khardha sekarang sangat lahap makan apa saja yang ada dihadapan nya, karena trimester ketiga nya ini dia memang membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak lagi, untuk dirinya dan juga anak yang dikandungnya.Apalagi tadi sudah di forsir untuk melayani suaminya.
" Kamu baru makan sayang?" Apa tadi mamah sama baby nya nungguin papah pulang?"Dokter Hasan mengelus perut istrinya yang duduk disampingnya.
Dia heran melihat selera makan istrinya yang sangat luar biasa malam ini,hampir semua makanan dimeja di lahapnya termasuk makanan yang ada di piringnya.
" Iya sayang aku dari tadi siang belum makan,nungguin kamu pulang!" Sahut Khardha dengan mulut penuh makanan.
" Pelan-pelan makannya sayang,tidak ada yang merebut makanan mu,mulut penuh jangan ngomong dulu,nanti kamu tersedak." Dokter Hasan menasihati istrinya yang benar-benar seperti orang kalap makannya.
Dan benar saja akhirnya Khardha pun tersedak.
Uhuk....uhuk... uhuk...Dokter Hasan segera menyodorkan gelas berisi air putih untuk istrinya.
Khardha pun langsung meminum air nya sampai habis semua.
Khardha menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi meja makan sambil memegangi perutnya yang semakin buncit karena kekenyangan. Namun tiba-tiba dia merasa kan sakit yang luar biasa.
"Argh....auw....perutku sakit sayang." Mencengkram lengan suaminya.
" Apa yang terjadi sayang, kamu sakit perut biasa atau mau melahirkan?" Dokter Hasan mulai panik melihat keadaan istrinya.
" Aku mau ke kamar mandi sayang tolong bantu aku." Suara Khardha bergetar menahan sakit.
Bi Tutik yang datang ingin membereskan meja makan,ikut bersuara menyaksikan kondisi Khardha.
" Jangan-jangan Non Khardha mau melahirkan Tuan!" Ujarnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
" Tapi kandungannya baru berusia delapan bulan bi." Dokter Hasan masih tidak percaya kalau istrinya mau melahirkan.
" Sayang aku mohon bawa aku kekamar mandi!" Seru Khardha dengan menahan rasa ingin buang air nya sekaligus sakitnya.
Setelah sampai didepan kamar mandi dia menurunkan istrinya & menunggunya di dekat pintu.
Aku harus menelpon Dokter Wahyu,batinnya.
Kemudian mengambil handphone nya yang selalu dibawanya & ditaruh di sakunya.
Tut...tut...tut...Panggilan terhubung
📱Dokter Hasan :" Assalamualaikum bro!" Lo masih di Rumah sakit ?" Sapa nya sekaligus memastikan.
📱Dokter Wahyu:"Waalaikumsalam wr...wb..." Iya ini gue dapat shift malam,emang nya kenapa ?" Sahutnya dengan memainkan bolpoin nya.
📱Dokter Hasan:" Ini istri gue sakit perut,apa dia mau melahirkan?" Tapi kan usia kandungan nya baru delapan bulan." Bertanya sembari menatap pintu kamar mandi yang ada di hadapan nya,karena dia sudah duduk ditepi ranjang.
📱Dokter Wahyu:" Kenapa gak dibawa ke Rumah sakit aja buat memastikan." Sahutnya dengan santai.
📱Dokter Hasan:" Ok,gue akan bawa istri gue ke Rumah sakit & periksa sama lo." Ucapnya kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Tuttttttttttt...
Dokter Hasan kembali beranjak & mengetuk pintu kamar mandi.
Tok...tok...tok..." Sayang kamu ngapain di dalam kok lama ?" Mendekatkan telinga ke daun pintu.
" Perutku mules sayang tapi gak bisa pup."Sahut Khardha dengan menyembulkan kepala nya.
" Kalau sampai waktu sholat isya kamu belum bisa pup & perut kamu masih mules,lebih baik kita periksa ke Rumah sakit aja ya sayang." Mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
" Iya sayang terserah kamu aja!" Sahut nya kemudian menutup kembali pintu nya.
Khardha merasakan area sensitif nya mengeluarkan cairan seperti air kencing yang tidak bisa ditahan bercampur dengan darah yang mengalir deras.
" Sayangggggg aku takuttttt !" Teriak nya dari dalam kamar mandi.
Dokter Hasan yang mendengar teriakan istrinya langsung mendobrak pintu kamar mandi padahal tidak dikunci.
" Kamu liat itu sayang!" Menunjuk area sensitif nya dengan matanya.
" Astagfirullah al azdim,sepertinya benar kamu mau melahirkan sayang." Tanpa pikir panjang lagi Dokter Hasan langsung menggendong istrinya keluar kamar mandi kemudian membaringkan tubuhnya nya diatas ranjang.
" Kamu tunggu disini dulu ya sayang, aku mau ambil kunci mobil & menyiapkan keperluan kita selama di Rumah sakit." Ucapnya kemudian beranjak keluar.
Khardha menganggukkan kepalanya, kemudian memegangi perutnya lagi,karena sekarang semakin mules & nyeri yang bertambah hebat.
Entah mengapa aku merasa tidak bisa berkumpul dengan anakku & juga papah nya, apakah ini pertanda bahwa aku harus mengikhlaskannya?" Batinnya.
Dokter Hasan bergegas menuju kamar utama nya yang ada di lantai atas, namun sebelum menaiki tangga dia berpapasan dengan bi Tutik yang sedang membawa minuman jahe.
" Bibi mau memberikan minuman itu pada istriku,kalau begitu tolong temani dia sebentar di kamar yang ada di bawah."Pintanya kemudian berlari menaiki tangga rumah nya.
" Iya Tuan !" Sahut bi Tutik kemudian mengetuk pintu kamar yang memang sudah terbuka.
Tok...tok...tok...
"Non ini bibi bawakan minuman jahe biar perut Non Khardha merasa hangat." Menaruh nampan nya diatas nakas.
Khardha menganggukkan kepalanya dengan lemah,kemudian berpesan kepada asisten rumah tangga nya itu.
"Bi tolong sampai kan pada suamiku apabila terjadi sesuatu dengan aku & kandungan ku,tolong selamat kan anakku terlebih dulu."Pintanya dengan menggenggam erat tangan bi Tutik yang sudah dianggap nya seperti orang tua nya sendiri.
Dokter Hasan yang sudah ada di depan pintu kamar, mendengar ucapan istrinya sangat syok kemudian menjatuhkan tas yang ada di tangannya.Dia segera menghampiri istrinya & mendekapnya dengan sangat erat.
" Kenapa kamu bicara seperti itu sayang,apakah kamu mau meninggalkan aku?" Menciumi puncak kepala istrinya tiada henti.
" Aku hanya ingin kamu bisa memilih yang terbaik nantinya sayang." Khardha berusaha menahan tangis nya agar tidak pecah lagi.
" Jangan berkata seperti itu sayang, aku mau kamu & anak kita hidup bersama dalam suka maupun duka,membina keluarga kecil yang bahagia,hanya itu yang aku inginkan sekarang sayang!" Suara Dokter Hasan bergetar menahan tangis mengatakan semua itu.
Namun Khardha sudah terkulai lemas tidak sadar kan diri karena dia mengalami pendarahan hebat tanpa di ketahui suaminya.
"Tuan,Non Khardha mengalami pendarahan!" Seru bi Tutik menunjuk kasur yang sudah di penuhi dengan darah.
Bertahanlah sayang aku mohon demi aku & anak kita,batinnya.Akhirnya air mata itu lolos begitu saja dari sudut matanya. Dia bergegas menggendong tubuh istrinya menuju mobilnya dengan perasaan sangat sedih karena ingat akan ucapan istrinya tadi.
" Bi Tutik tolong pangku istriku di jok belakang ya." Pintanya dengan suara serak.
" Baik Tuan!" Sahut bi Tutik sembari membawakan tas Majikannya.
Dokter Hasan pun melaju kan mobilnya diatas rata-rata sehingga waktu yang biasa ditempuhnya selama tiga puluh menit baru sampai Rumah sakit, dalam waktu lima belas menit sudah sampai.
Setelah memarkir mobil nya dengan sembarang dia langsung menggendong istrinya menuju UGD.
" Tolong panggil kan Dokter Wahyu!" Perintah nya kepada petugas medis yang berjaga disana.
" Baik Dokter!" Sahut para petugas yang memang sudah mengenal baik siapa Dokter Hasan.
*****
Bersambung....
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya?"
__ADS_1
Berikan komentar & pendapat kalian ya reader!"
Jangan lupa vote ,like, komen, koin nya juga ya!"