MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER season2 episode#26 "Chef dadakan"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah membersihkan bebek dari bulu-bulunya, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil untuk dibuat sate mereka semuanya mandi lalu menunaikan sholat ashar berjamaah dikamar masing-masing. Seusai sholat dengan istrinya Dokter Hasan kembali berkutat di dapur untuk mengolah bumbu sate bebek spesial khusus untuk bumil kesayangannya. Dia rela menjadi chef dadakan untuk wanita yang telah mengandung buah cintanya itu yang penting istrinya mau makan banyak nantinya.


"Sayang ini bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, kencur dan kacang tanah untuk membuat bumbunya." Khardha membantu suaminya menyiapkan bahannya


supaya tidak repot lagi mencarinya sendiri didapur.


"Ok Sayang, makasih ya." Ucapnya lalu mengecup pipi istrinya sekilas.


"Maaf Sayang aku gak bisa bantuin kamu lagi, kelamaan disini rasanya enek banget, aku gak tahan mencium aroma yang ada didapur ini." Khardha menutupi mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya.


"Iya gak papa Sayang, mending kamu istirahat aja ya daripada disini kamu mabuk lagi. Nanti kalau semuanya sudah siap santap dan waktu berbuka tiba aku pasti panggil kamu." Ujarnya sembari mengupas bawang dengan pisau yang ada ditangannya.


Khardha menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari sana hendak menuju kamarnya namun tiba-tiba dia tidak bisa lagi menahan rasa mualnya. Dia segera berbalik lagi menuju kamar mandi dengan berlari.


Hoek....hoek...hoek...Khardha kembali memuntahkan semua isi perutnya yang sudah kosong sedari tadi hingga dia merasa benar-benar lemes karena terlalu sering muntah. Dokter Hasan segera menghampiri istrinya setelah mencuci bersih tangannya dengan sabun.


"Masih mual Sayang?" Tanyanya sembari memijit pelan tengkuk istrinya.


Khardha menggelengkan kepalanya lalu mencuci mulutnya. Dia menatap pantulan dirinya dan suaminya dicermin namun tiba-tiba pandangan menjadi buram, dia mengerjapkan matanya beberapa kali justru semakin tidak jelas dan menjadi gelap. Dokter Hasan dengan sigap menahan tubuh istrinya lalu menggendongnya menuju kamarnya. Dia membaringkannya diatas ranjang lalu menyelimutinya.


"Istirahatlah Sayang aku tinggal dulu ya." Bisiknya lalu mengecup kening istrinya.


Setelah memastikan istrinya beristirahat dengan nyaman, dia kembali berkutat di dapur menunjukkan bakat terpendamnya yang memang hobi memasak sedari dulu. Dia mengolah bumbu untuk sate bebek spesial buatannya lalu membakar satenya sendiri dengan pembakaran yang sudah disiapkannya. Sedangkan Amey sibuk memasak lontong, nasi, gado-gado dan kuah soto banjar makanan yang sangat disukai Khardha dan semua orang yang ada dirumah itu. Setelah semuanya sudah siap disajikan dimeja makan tinggal menunggu waktu berbuka puasa tiba yang tinggal beberapa menit lagi Dokter Hasan segera masuk kekamarnya untuk membangunkan istrinya.


"Sayang bangun Sayang lima menit lagi kita buka puasa, semuanya juga sudah siap dimeja makan sesuai permintaan kamu." Ujarnya sembari mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Khardha membuka matanya perlahan dia berusaha tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang sudah mau menjadi chef dadakan untuk mengabulkan keinginan ngidamnya. Dia mengulurkan tangannya agar suaminya membantunya untuk beranjak dari tempat tidurnya. Dokter Hasan membangunkan wanita yang sangat dicintainya itu dengan merangkulnya bukan dengan menariknya. Dia menuntun istrinya keluar kamar menuju meja makan.


"Masih pusing Sayang? Aku perhatiin wajah kamu pucat banget." Tanyanya sembari mendudukkan istrinya di kursi meja makan disampingnya.


Khardha hanya menggelengkan kepalanya karena tidak ingin membuat suaminya dan semua orang yang ada dirumah kembali mengkhawatirkan keadaannya. Sebab dia tidak bisa tidur sama sekali walaupun berbaring cukup lama ditempat tidurnya. Dia merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit, lidahnya terasa pahit, badannya rasanya remuk sejak terakhir muntah tadi.


Allahuakbar... Allahuakbar.... Kumandang suara azan dari radio lokal setempat yang sengaja didengarkan didalam rumah bu Hana pertanda waktu berbuka puasa telah tiba.


"Alhamdulilah, mari semuanya kita baca doa buka puasa dulu sama-sama." Ucap Dokter Hasan kepada semua orang yang ada dimeja makan." Ini minum teh hangat sama makan kurmanya Sayang." Memberikan ke tangan istrinya.


Wahhh enak banget jadi Tante punya suami kayak Om Dokter udah ganteng, perhatian, pengertian alim pula. Jadi pengin cepat nikah juga dech," gumam Merlin dalam hatinya seraya tersenyum menyaksikan pasangan suami istri itu.


"Yuk kita sholat maghrib berjamaah dulu baru makan malam sama-sama." Ajak bu Hana kepada semuanya.


Mereka semua menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya menuju kran air untuk berwudhu. Sehabis berwudhu mereka semua menunaikan sholat maghrib berjamaah yang di pimpin oleh Dokter Hasan sebagai imam sholatnya. Setelah berzikir, berdoa dan bersalaman mereka semua kembali ke meja makan untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di meja makan sedari tadi.



"Sayang ini satenya kamu mau berapa tusuk?" Menatap istrinya yang duduk disampingnya.


Dokter Hasan mengambilkan sate untuk ditaruhnya di piring istrinya. Dia ingin wanita yang sangat dicintainya itu mau makan banyak agar selalu sehat ketika mengandung anaknya.


"Lima aja dulu Sayang." Jawab Khardha karena tidak ada nafsu makan sama sekali.


"Loh kok cuma sedikit? Aku kan udah berusaha masakin buat kamu." Merasa kecewa karena istrinya kurang menghargai jerih payahnya.


"Nanti aku kan bisa nambah lagi Sayang." Khardha menyentuh tangan suaminya seraya mengulas senyumnya.


"Yaudah coba kamu makan dulu satenya." Pintanya sembari menyuapi istrinya.


Khardha menggigit potongan daging bebek yang sudah berbentuk sate itu, dia mengunyahnya perlahan didalam mulutnya. Dia mulai merasakan rasa yang sungguh nikmat di indera pengecapnya itu yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

__ADS_1


"Gimana enak gak?" Tanyanya sambil


memperhatikan ekspresi istrinya saat mengunyah satenya.


" Emmm... yummy!" Seru Khardha dengan mengangkat dua jempolnya." Ini kayaknya sate bebek yang paling enak yang pernah aku makan, makasih ya Sayang udah mau susah payah masakin buat aku." Khardha memakan satenya dengan sangat lahap.


Dokter Hasan sangat bahagia melihat betapa lahapnya istrinya memakan sate buatannya.


"Makan yang banyak ya Sayang, biar kamu sama baby selalu sehat." Ujarnya sembari membelai rambut dan mengelus-elus perut istrinya." Pelan-pelan aja makannya Sayang, gak ada yang mau merebut makananmu." Tegurnya seraya tersenyum lalu mengambil tisu untuk membersihkan mulut istrinya yang sedikit belepotan.


"Kamu udah selesai makan Sayang?" Khardha mengerutkan keningnya menatap suaminya yang begitu perhatian terhadapnya.


"Semua orang udah selesai makan dari tadi Sayang aku cuma nungguin kamu aja lagi." Jawabnya sembari mengacak rambut istrinya dengan gemesnya karena tidak menyadari semua orang di sekitarnya sudah tidak ada.


"Kamu mau sholat berjamaah di musholla kan Sayang?" Tanya Khardha lagi setelah menyelesaikan makannya.


"Iya sebentar lagi aku berangkat Sayang, emangnya kenapa?" Mendekatkan wajahnya kemuka istrinya.


"Makasih ya udah mau masakin aku sate bebek spesialnya, sekarang aku udah kenyang Sayang." Ucap Khardha sembari mengusap perutnya.


"Iya sama-sama Sayang, yang penting kamu mau makan aku udah bersyukur banget, biar baby nya juga dapet nutrisi dari mamahnya." Ujarnya ikut mengelus-elus perut istrinya." Kalau kamu udah merasa sehat bilang sama aku ya." Bisiknya ditelinga istrinya sehingga membuat Khardha merinding dibuatnya.


"Loh, emang nya kenapa?" Khardha


pura-pura tidak mengerti maksud suaminya.


"Biar aku bisa minta jatah'sama kamu Sayang." Bisiknya lagi karena takut didengar orang yang ada dirumah bahwa dia selalu meminta hak' nya kepada istrinya.


Hemmm....Khardha cuma menanggapinya dengan dehemannya.


"Kok cuma hemmm? Kamu harus bilang iya Sayang!" Tegasnya dengan menangkup wajah istrinya agar menghadap kepadanya.


Sehingga membuat suaminya sangat gemes dibuatnya.


"Yuk kita kekamar!" Ajaknya setelah membereskan piring kotor sehabis istrinya makan lalu menaruhnya kedalam wastafel.


"Mau ngapain aku mau cuci piring dulu." Kilah Khardha menolak ajakan suaminya secara halus.


"Sebentar aja Sayang, habis itu terserah kamu mau ngapain setelahnya." Pintanya dengan menggandeng tangan istrinya.


Dia membawanya masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya. Perlahan dia membaringkan tubuh istrinya lalu menatapnya penuh cinta sembari membelai wajah cantiknya dengan sangat lembut.


"Aku sangat menginginkannya Sayang, aku mau kamu menepati janjimu untuk memberiku jatah' dobel malam ini." Ujarnya dengan tatapan semakin sendu karena harus menahan hasratnya.


Khardha menelan salivanya dengan susah payah menatap suaminya yang semakin memangkas jaraknya, hingga benda kenyal itu akhirnya menyatu dengan lembut. Dokter Hasan menyesap bibir ranum istrinya yang selalu menjadi candu untuknya lalu mengekplor lidahnya di dalam rongga mulut wanita yang sangat dicintainya itu. Khardha melingkarkan tangannya di leher suaminya sambil memejamkan matanya menikmati permainan bibir mereka. Dia juga mulai tidak bisa mengontrol dirinya yang terhanyut dalam lautan cinta yang diberikan suaminya. Dokter Hasan melepaskan tautan bibirnya lalu mengecup kening istrinya.


"Aku mau pergi ke musholla dulu Sayang, nanti kita sambung lagi. Sehat terus ya anak papah didalam perut mamah, malam ini papah mau nengokin kamu sayang." Ujarnya sambil menciumi perut istrinya.


"Iya Papah Sayang, jangan lama-lama ya aku udah gak sabar mau ditengokin sama Papah." Khardha kembali menirukan suara anak kecil hingga tanpa sadar dia sudah mengatakan bahwa dia juga sangat merindukan sentuhan suaminya.


"Beneran kamu juga menginginkannya Sayang?" Dokter Hasan menatap istrinya dengan mata berbinar sangat bahagia.


Khardha memalingkan wajahnya kearah lain karena sangat malu sudah berkata jujur pada suaminya tentang keinginannya yang juga sangat mengharapkannya meneruskan permainan mereka.


"Kenapa mesti malu Sayang? Aku sangat bahagia bila kamu juga merindukannya, itu artinya bukan hanya aku yang membutuhkannya tapi kamu juga." Ujarnya dengan menangkup wajah istrinya yang sudah memerah bagaikan tomat matang.


Khardha memejamkan matanya karena tidak mau melihat suaminya yang terus menatapnya dengan intens.


"Buka matamu Sayang aku mau liat kejujuran yang tersimpan di dalamnya agar aku semakin yakin bahwa kamu juga benar-benar mencintaiku." Pintanya dengan nada sangat lembut.

__ADS_1


Khardha membuka matanya perlahan, tatapan mata mereka saling bertemu kembali, Dokter Hasan mengulas senyum menawannya hingga membuat jantung Khardha berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Dia begitu terpesona oleh kharisma yang dimiliki suaminya sendiri.


Kenapa aku baru sadar suamiku benar-benar mempunyai daya tarik tersendiri, apa kemarin aku begitu bodoh sehingga baru menyadarinya? Terimakasih ya Allah atas anugerah cinta yang Engkau berikan kepada kami." Batinnya sembari menyentuh wajah tampan suaminya.


"Udah puas liatin aku kayak gitu? Baru sadar suamimu ini punya pesona yang begitu memikat hatimu? Aku milikmu seutuhnya Sayang karena aku juga ingin selalu memilikimu seutuhnya." Ucapnya lalu menghujani wajah istrinya dengan ciumannya.


Allahuakbar.... Allahuakbar... Kumandang suara azan dari speaker musholla dekat rumah mertuanya menghentikan adegan romantis dan kemesraan mereka.


"Aku berangkat ke musholla dulu ya Sayang, assalamualaikum." Pamitnya setelah mengecup kening istrinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha dengan mengantarkan kepergian suaminya sampai didepan pintu kamarnya.


Setelah itu Khardha segera berwudhu untuk melaksanakan sholat isya, tarawih dan witir berjamaah bersama ibunya, Kak Amey, Merlin juga adiknya. Seusai berzikir, berdoa dan bersalaman Khardha kembali kekamarnya untuk mengambil handuknya. Dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat dan rasa gerah yang selalu muncul akibat dari hormon kehamilannya. Seusai mandi dia segera kembali kekamarnya untuk mengenakan bajunya.


"Assalamualaikum." Ucapan salam dari Dokter Hasan yang baru pulang sehabis sholat berjamaah di musholla.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut bu Hana, Kak Amey, Merlin dan Aisya adiknya yang sedang asyik didepan televisi menonton sinetron religi kesukaan mereka.


"Permisi semuanya." Pamitnya ketika melewati mereka semua.


"Iya silahkan!" Seru mereka serempak.


"Assalamualaikum Sayang," Dokter Hasan membuka pintu kamarnya lalu menghampiri istrinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha sembari menyisir rambutnya didepan cermin.


"Kamu udah siap banget ya Sayang?" Tanyanya dengan memeluk istrinya dari belakang sembari menciumi tengkuknya.


"Ishhh aku tuh gerah Sayang makanya pakai baju terbuka kayak gini." Jujur Khardha dengan menatap pantulan dirinya dan suaminya yang tangannya mulai tidak bisa dikondisikan.


"Aku suka banget kalau kamu pakai baju seksi kayak gini dikamar bila ada aku Sayang." Bisiknya dengan nada yang sangat menggoda ditelinga istrinya." Gak usah terlalu rapi menyisir rambut kamu nanti juga berantakan lagi." Ujarnya langsung menggendong tubuh istrinya lalu membawanya ketempat tidurnya.


Dia membaringkannya diatas ranjang lalu mulai mencium bibir istrinya dengan lembut namun menuntut, menyusuri setiap inci tubuh kekasih halalnya itu dengan sentuhan yang membuatnya terbang ke nirwana. Setelah melakukan penyatuannya dia mulai mengajak istrinya mengikuti ritme alur perjalanan menuju puncak kenikmatan sesungguhnya. Hingga akhirnya wanita yang sangat dicintainya itu terkulai lemas di bawah kungkungannya barulah dia menghentikan aktivitasnya.


"Makasih ya Sayang udah mau melayaniku." Ucapnya sembari mengecup kening istrinya lalu berguling ke sampingnya.


Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka lalu meletakkan tangannya dibawah kepala istrinya. Khardha menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap wajah suaminya yang berada sangat dekat dengannya.


"Istirahatlah Sayang, ibu hamil gak boleh tidur terlalu malam." Ujarnya dengan merengkuh tubuh istrinya lalu memejamkan matanya.


Bersambung....


Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya.


Semoga amal ibadah kita semua di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.


Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman melalui vote yang banyak, like yang tiada henti, komen yang membangun, koin seikhlasnya, dan rate bintang limanya ya.


Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit


kalian semuanya, salam sayang selalu dari author Khardha Love.


Silahkan mampir ke karya ku lainnya.


My Love Story Is Always season 1


MENIKAH UNTUK BAHAGIA


Dokter Cinta Spesialis Hati

__ADS_1


__ADS_2