
Happy reading guys!
Sesampainya di kantin rumah sakit ternyata suasana disana sangat ramai karena memang waktunya istirahat jam makan siang. Dokter Hasan mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong yang tersisa, kebetulan cuma ada satu yaitu disamping Dokter Jasmine yang berhadapan dengan Dokter Wahyu & Dokter Rasyid. Dengan menghela nafasnya Dokter Hasan melangkahkan kakinya mendekati rekan-rekannya itu kemudian menepuk pundak Dokter Wahyu.
"Lo pindah kesana." Pintanya dengan menunjuk ke samping Dokter Jasmine.
"Lo yang baru datang, masa gue yang disuruh pindah!" Protes Dokter Wahyu dengan memutar bola matanya.
"Dokter Rasyid kamu pindah kesana ya, aku gak enak kalau duduk disamping wanita lajang," Bisiknya ditelinga adik ipar sahabatnya itu.
"Kalau aku gak mau gimana?" Dokter Rasyid meliriknya sebentar kemudian fokus dengan hpnya sembari menunggu pesanannya datang.
Dokter Hasan berdecak kesal kemudian berlalu pergi meninggalkan rekannya yang tidak bisa mengerti apa yang diinginkannya.
Namun ternyata Dokter Jasmine yang sejak tadi memperhatikannya langsung beranjak dari duduknya & langsung mengejarnya.
"Tunggu Dokter Hasan! Kenapa anda selalu berusaha menghindari saya?" Dokter Jasmin mencengkram tangan Dokter Hasan dengan kuat.
Dokter Hasan terpaksa menghentikan langkahnya & berkata.
"Saya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita, apalagi sampai ada rumor yang membuat kita tidak bisa fokus dengan tugas kita masing-masing disini."Tegas Dokter Hasan dengan menekankan setiap kata-katanya sembari melepaskan tangan Dokter Jasmine yang mencekalnya.
"Tapi saya hanya ingin berteman baik dengan anda Dokter, apakah itu salah?" Dokter Jasmine berusaha menaklukkan hati Dokter Hasan yang memang gampang kasian melihat orang disekitarnya, dengan suara yang dibuat selembut mungkin dan tampang memelasnya.
"Maaf saya tidak bisa!" Dokter Hasan langsung mempercepat langkahnya menuju musholla untuk melaksanakan sholat zuhur & menjernihkan pikirannya yang terkontaminasi dengan wanita ular seperti Dokter Jasmine.
Dokter Jasmine adalah wanita dewasa yang berumur 35tahun, berambut panjang berwarna pirang yang suka berpakaian sexy dan berpenampilan menor layaknya seorang model. Dia juga anak satu-satunya dari pasangan keluarga yang gila kerja, oleh karena itulah orang tuanya senantiasa memanjakannya dengan menuruti semua keinginannya sejak kecil hingga dia dewasa. Semua itu membuatnya menjadi pribadi yang sangat ambisius untuk mendapatkan kehendaknya, termasuk Dokter Hasan yang sangat menarik perhatiannya sejak pertama bertemu dengannya. Terutama sikap overprotektifnya kepada istrinya yang membuatnya semakin jatuh cinta kepadanya.
Aku tidak akan pernah menyerah begitu saja dengan penolakanmu Dokter Hasan karena aku akan menaklukkan hatimu hingga bertekuk lutut memohon kepadaku, tekad Dokter Jasmine dalam hatinya dengan tersenyum smirk.
*****
Seusai sholat Dokter Hasan langsung kembali keruangannya ternyata di depan pintu sudah ada keluarga pasien yang menunggunya untuk berkonsultasi tentang penyakit orang tuanya.
"Saya minta tolong Dokter, ibu saya sudah lama menderita penyakit paru-paru, ayah saya juga menderita penyakit diabetes yang cukup parah, apa yang harus saya lakukan kedepannya Dokter? Sedangkan saya hanya seorang pelayan dirumah makan." Keluh seorang wanita yang seumuran istrinya itu.
"Mari silahkan masuk dulu, kita bicarakan semuanya didalam." Ucap Dokter Hasan sembari membuka pintu masuk ruangannya.
"Dua minggu yang lalu saya mencari Dokter untuk minta keringanan buat pengobatan kedua orang tua saya tapi perawat bilang Dokter lagi liburan & tidak bisa diganggu dulu. Saya mohon Dokter bersedia membantu pengobatan orang tua saya." Pintanya dengan mata berkaca-kaca.
"Inshaallah Mbak saya akan mengusahakannya." Jawab Dokter Hasan dengan penuh wibawanya.
"Terimakasih banyak Dokter atas bantuannya, sekali lagi terimakasih, saya akan menuruti semua keinginan Dokter apapun itu, yang penting kedua orang tua saya bisa sembuh." Ucap wanita itu dengan menjabat tangan Dokter Hasan sembari menundukkan kepalanya hendak menciumi punggung tangannya.
"Sudahlah Mbak tidak usah berlebihan, saya hanya perantara untuk membantu pengobatan kedua orang tua anda namun yang menyembuhkan penyakit mereka adalah Allah yang maha kuasa atas segalanya." Dokter Hasan menarik tangannya yang dijabat sangat erat oleh wanita dihadapannya, sehingga membuatnya merasa risih dengan ulah wanita itu.
"Maafkan saya Dokter, saya permisi dulu." Pamitnya sembari beranjak dari duduknya dengan berjalan mundur karena sangat mengagumi ketampanan dan kebaikan Dokter Hasan. Sehingga membuatnya terjungkal ke belakang ketika menabrak perawat yang membawa pasien menggunakan kursi roda sampai ikut terduduk dipangkuan pasien itu.
"Astagfirullah al azdim!" Kaget Dokter Hasan sembari memalingkan wajahnya menahan tawanya melihat kejadian itu.
Bagaimana tidak lucu pasien itu ternyata seorang kakek tua yang sangat genit & langsung merangkulnya dengan erat. Wanita itu langsung berontak kemudian beranjak pergi sembari mengibaskan tangannya keseluruh badannya seperti ada kotoran yang menempel di bajunya.
Sementara itu dikantin rumah sakit Dokter Wahyu & Dokter Rasyid yang menyaksikan langsung sikap Dokter Jasmine kepada Dokter Hasan tadi akhirnya mengerti kenapa sahabatnya itu tidak mau duduk berdampingan dengan wanita cantik itu. Dokter Wahyu akhirnya membungkuskan makanan untuk Dokter Hasan yang dilihatnya tidak jadi menikmati makan siangnya dikantin rumah sakit itu.
Tok...tok...tok...bunyi pintu diketuk dari luar ruangan Dokter Hasan.
"Masuk!" Perintah Dokter Hasan karena mengira perawat atau pasien yang mengetuk pintu masuknya.
"Assalamualaikum, nich gue bawain makanan buat lo," ucap Dokter Wahyu sembari meletakkan bungkusan nasi kotak lengkap dengan lauk-pauknya.
__ADS_1
Tanpa dipersilahkan duduk dia langsung mendudukkan dirinya di kursi yang ada didepan meja kerja Dokter Hasan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ngapain lo kesini? Gak ada kerjaan lagi ya?" Tanya Dokter Hasan tanpa menatap sahabatnya itu karena sibuk memeriksa data pasien yang harus di operasinya siang ini juga.
"Gue khawatir dengan sikap Dokter Jasmine kepada lo Bro." Sahut Dokter Wahyu dengan nada serius.
"Maksud lo apa?" Dokter Hasan menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut.
"Kayaknya Dokter Jasmine suka sama lo dech!" Tebak Dokter Wahyu dengan melipat kedua tangannya diatas dada.
"Iya gue udah tau!" Sinis Dokter Hasan dengan ketusnya.
"Terus kalau dia nekat mencelakai istri lo, kayak Dokter Maya dulu gimana?" Tanya Dokter Wahyu dengan menumpu tangannya di atas meja.
" Gue gak akan biarin hal semacam itu terjadi lagi pada istri gue!" Jawab Dokter Hasan dengan tegasnya.
"Kalau begitu lo harus lebih waspada lagi dengannya & jagain istri lo jangan sampai lengah dari pengawasan lo." Ucap Dokter Wahyu memperingatkan sahabatnya itu.
"Tenang aja gue gak bakal memberikan celah kepada siapapun untuk merusak hubungan rumah tangga kami, apalagi sampai mencelakai istri gue." Tegas Dokter Hasan dengan menekankan setiap kata-katanya.
"Ok kalau gitu gue cabut dulu ya!" Seru Dokter Wahyu sembari berjalan keluar dari ruangan Dokter Hasan.
Setelah kepergian sahabatnya itu Dokter Hasan segera memakan makanan yang dibawakan oleh Dokter Wahyu tadi. Sebab dia sudah tidak bisa lagi menahan perutnya yang berbunyi keroncongan minta di isi sedari tadi ketika dia berada dikantin rumah sakit. Sehabis makan Dokter Hasan langsung bersiap menuju ruang operasi, untuk melakukan tugasnya kembali bergelut dengan peralatan medis yang hidup & matinya pasien tergantung sukses atau tidaknya tindakan operasi itu.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga operasi yang kita lakukan hari ini berjalan lancar dan sukses." Ucap Dokter Hasan mengajak tim medis yang membantunya untuk membaca basmalah dulu.
Selama tiga jam mereka melakukan operasi kepada pasiennya akhirnya selesai juga. Setelah menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa operasinya berhasil Dokter Hasan bersiap-siap untuk pulang kerumahnya. Sesudah membereskan semuanya dia melangkahkan kakinya dengan cepat keparkiran untuk mencari mobilnya kemudian masuk & mengendarainya dengan kecepatan sedang. Jalanan yang sangat macet membuatnya tidak bisa melajukan mobilnya dengan kencang sehingga jarak tempuh yang biasanya hanya lima belas menit menjadi tiga puluh menit baru sampai kerumahnya.
Sesampainya di rumah Dokter Hasan langsung naik kelantai atas menuju kamar utamanya, untuk mencari keberadaan istrinya yang selalu di rindukannya setiap waktu itu. Dia berjalan perlahan berniat mengejutkan istrinya yang sedang asyik menonton film drama korea sembari memakan buah-buahan didepannya.
"Assalamualaikum Sayangku, cintaku, rinduku!" Serunya sembari memeluk istrinya dari belakang dengan menaruh kepalanya di bahunya sambil menggoyangkan tubuhnya kekiri kekanan.
"Aku mau istirahat dulu sebentar." Jawabnya sembari berbaring dipangkuan istrinya.
"Sayang aku mau bicara sama kamu tapi kamu gak boleh sedih & marah sama aku ya." Pintanya dengan membelai wajah istrinya dengan lembut.
"Mau ngomong apaan sich Sayang, kok kayaknya penting banget?" Khardha merasa heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba datang & sangat manja kepadanya.
"Apa pendapat kamu jika mengetahui orang yang kita sayang hamil terus keguguran?" Tanya Dokter Hasan dengan sangat hati-hati berusaha jujur tentang kondisi yang dialami istrinya.
Deg....jantung Khardha seakan berhenti berdetak.
"Hamil? Keguguran? Maksud kamu aku yang mengalaminya!" Tunjuk Khardha kepada dirinya sendiri.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya sembari menatap lekat manik mata istrinya.
Khardha tersentak kaget sangat syok mengetahui kebenarannya sehingga membuatnya langsung terdiam tanpa suara seraya menatap kosong kedepannya.
"Tenang Sayang aku hanya berusaha jujur sama kamu." Ucap Dokter Hasan beranjak bangun & merengkuh tubuh istrinya.
Setelah cukup lama Dokter Hasan memeluk istrinya, dia mencoba melepaskan pelukannya untuk memastikan kondisinya.
Karena tidak ada reaksi dari istrinya Dokter Hasan langsung menggendongnya menuju tempat tidurnya kemudian membaringkannya diatas ranjang & menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.
"Istirahatlah Sayang aku mau mandi dulu," ucapnya sembari mengusap kepala istrinya dengan lembut kemudian mencium keningnya.
Khardha menutup matanya untuk menyembunyikan kesedihan yang teramat dalam di hati & perasaannya. Dalam diamnya dia merasakan luka lama yang belum kering sempurna karena telah kehilangan anak pertamanya kembali menganga namun dia berusaha tegar menghadapi semuanya.
🌿Yakinlah Allah tidak mungkin menguji hambaNya diluar batas kemampuannya
__ADS_1
Sebab Allah punya rencana yang begitu indah
untuk setiap hambaNya.
Sabar & syukur itulah kuncinya
Semua akan indah pada waktunya
Jangan biarkan duka lara serta pilu membelenggu hatimu
Karena ikatan cinta yang dipenuhi rasa kasih & sayangku kepadamu lebih kuat dari apapun juga
Senyumanmu adalah kebahagiaanku
Kesedihanmu adalah kedukaanku
Gapai semua jemariku sayang
Rangkul aku dalam bahagiamu
Kuingin selalu bersamamu
Selalu untuk selamanya
Sampai maut memisahkan kita
Jika kubuka mataku ini
Aku ingin selalu ada dirimu disampingku
Menemaniku disaat suka maupun duka, susah maupun senang.
Dalam kelemahan hatiku ini
Aku akan selalu berusaha tegar
Dalam menjalani hidup bersamamu
Percayalah & yakinlah bahwa
Hanya dirimu yang bertahta dalam hatiku
*****
Seusai mandi Dokter Hasan langsung menghampiri istrinya kembali dengan duduk di tepi ranjangnya sembari menatap wajah cantik wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang kamu baik-baik aja kan? Sekali lagi maafin aku ya, jika kenyataan yang aku katakan kepadamu membuatmu merasa sangat bersedih. Aku sengaja memberitahumu terlebih dulu supaya kamu tidak kecewa kepadaku apabila suatu saat kamu mendengar kabar ini dari orang lain." Ucap Dokter Hasan sembari mengusap kepala Khardha dengan tangan kanannya karena tangan kirinya digunakan untuk menggenggam tangan istrinya itu.
"Aku gak papa Sayang, aku juga gak mau menyalahkan kamu atas semua yang sudah terjadi, justru aku sangat merasa bersalah karena gak bisa menjaga anak kita untuk yang kedua kalinya." Sahut Khardha sembari menekan dadanya sendiri yang terasa sesak karena berusaha menahan kesedihannya.
"Sayang jika dengan mengeluarkan airmata membuatmu lebih lega, aku selalu siap menjadi sandaranmu." Dokter Hasan segera berbaring disamping istrinya & membawanya ke dalam pelukannya.
Khardha pun meluapkan semua emosinya dengan menangis sepuasnya didada bidang suaminya. Hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan sehabis mengeluarkan airmatanya.
Kamu sungguh sangat menggemaskan Sayang, gumam Dokter Hasan dalam hatinya dengan melonggarkan pelukannya sambil menciumi puncak kepala istrinya.
Bersambung...
Mohon doa dan dukungannya terus ya teman-teman jangan lupa vote, like, komen koin nya, agar aku selalu semangat untuk melanjutkan ceritanya. Salam sayang selalu dari author Khardha Love.
__ADS_1