MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode#81 "Sakit lagi"


__ADS_3

Happy reading guys!


Akhirnya satu persatu semua pelayan & anak buah Hendrik terbangun mendengar teriakan bosnya itu.


"Kalian semua berdiri dan berbaris dengan rapi disini! Aku akan segera kembali setelah mengecek keadaan calon istriku." Perintahnya


kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati Khardha.


Setelah masuk Hendrik langsung mendekati ranjang, disana terlihat gundukan seakan itu tubuh Khardha yang berbalut selimut, namun ketika dia menyibakkan selimutnya ternyata hanya ada bantal guling disana. Dia masih berusaha menahan emosinya dengan mengetuk pintu kamar mandi & memanggil nama Khardha berulang kali, tetap tidak jawaban sama sekali, merasa ada yang tidak beres dia langsung mendobrak pintunya. Setelah terbuka dia menyusuri setiap sudut kamar mandi kemudian kembali ke kamar tidur yang pernah ditempati Khardha itu dengan sangat detail, namun tetap tidak menemukan sosok wanita yang dicintainya itu. Setelahnya Hendrik keluar dari kamar dengan memasang raut wajah yang menyeramkan karena sangat emosi sambil mengepalkan tangannya. Dia berjalan menuruni tangga rumahnya mengintruksikan kepada semua pelayan & anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan Khardha.


"Kalian semuanya bantu aku mencari calon istriku sekarang juga!" Perintahnya dengan nada sangat tinggi.


"Siap laksanakan Tuan!" Jawab mereka kemudian langsung berpencar kesemua penjuru rumah besar nan mewah serta megah itu.


*****


Sementara itu didalam hotel Dokter Hasan tampak membaringkan tubuh Khardha diranjang setelah membawanya dari rumah Hendrik sampai kedalam kamar yang di sewanya itu.


"Kamu istirahat ya Sayang, aku mau pesan makanan dulu buat kita semua melalui service room." Ucap Dokter sambil menyelimuti dan mencium kening istrinya kemudian menekan tombol telepon yang ada dikamar itu.


Khardha hanya diam sambil memejamkan matanya karena sangat kelelahan berjalan kaki dari rumah Hendrik ke hotel itu, dia juga merasakan perutnya yang teramat sakit sejak kembali kerumah Hendrik bersama suaminya tadi. Sehingga membuat kondisi tubuhnya yang belum pulih sehabis operasi menjadi drop lagi. Dia merasa sangat lemas & nyeri dibagian perutnya karena sayatan luka bekas operasinya belum benar-benar kering. Sebab pasca operasi seharusnya dia tidak boleh banyak bergerak dan harus istirahat total.


Flashback on


Setelah berjalan beberapa meter dari kediaman Hendrik, Dokter Hasan yang berada didepan sambil menggandeng tangan istrinya tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ada apa Hasan? Kenapa berhenti?" Tanya Bripka Gusti Hamidi yang berjalan dibelakangnya.


"Aku harus kembali kerumah Hendrik Kak." Jawabnya sambil memutar badannya yang otomatis Khardha pasti ikut berputar karena genggaman tangan suaminya sangat erat.


"Untuk apa kamu balik lagi kesana?" Bripka Gusti Hamidi mengerutkan keningnya karena bingung dengan sikap adik iparnya itu.


"Aku ingin menyabotase cctv yang ada dirumahnya Kak." Jawabnya sambil melangkahkan kakinya kembali menuju rumah Hendrik Choi dengan tetap menggandeng tangan istrinya.


"Memangnya kamu bisa?" Bripka Gusti meragukan keahlian Dokter Hasan.


"Inshaallah aku bisa Kak!" Tegasnya sambil mengusap keringat yang membanjiri wajahnya & istrinya dengan sapu tangannya.


"Kamu gak papa kan Sayang?" Dokter Hasan memperhatikan wajah istrinya yang tampak pucat & memegangi perutnya.


Khardha hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis kepada suaminya berusaha menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya.


Setelah sampai di dalam rumah Hendrik Choi.

__ADS_1


Dokter Hasan langsung bertanya dimana ruang kontrol cctv kepada bi Tutik.


"Bi dimana letak ruang kontrol cctv dirumah ini?" Mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah.


"Sepertinya dikamar Tuan Hendrik Choi sendiri Tuan Dokter." Bi Tutik berjalan mendahului untuk menunjukkan letak kamar utama Hendrik yang ada dilantai dua rumahnya.


Mereka semua mengikuti langkah bi Tutik masuk kekamar Hendrik Choi yang cukup luas itu dengan dominan hitam putih diseluruh bagian kamar & perabotannya.



Kebetulan Hendrik ternyata tidak tidur dikamarnya sehingga membuat mereka semua bisa leluasa melakukan apa yang mereka mau disana.


"Sayang kamu cari hpmu yang kemarin di ambil Hendrik ya," Pinta Dokter Hasan setelah duduk didepan layar kontrol cctv.


"Iya Sayang," jawab Khardha langsung melangkah perlahan menyusuri setiap sudut kamar dibantu bi Tutik.


Bripka Gusti Hamidi menghampiri Dokter Hasan yang masih sibuk mengotak atik layar yang ada didepannya.


"Kira-kira berapa waktu yang kamu perlukan untuk menyabotase rekaman cctv dirumah ini?" Tanya Bripka Gusti Hamidi sambil berdiri disamping adik iparnya itu.


"Tiga puluh menit Kak." Jawab Dokter Hasan tanpa menoleh kepada lawan bicara karena fokus menatap layar yang ada dihadapannya, tangannya juga ikut sibuk diatas keyboardnya.


"Ohh ya sudah kalau begitu, aku tunggu diluar saja sekalian berjaga-jaga untuk memastikan situasi & kondisi diluar tetap aman terkendali." Bripka Gusti menepuk pundak adik iparnya itu kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar untuk memantau situasi disana.


"Aku gak papa Bi," jawab Khardha kembali menutupi rasa sakitnya.


Tiga puluh menit kemudian Dokter Hasan berhasil menyabotase cctv yang ada dirumah Hendrik begitupula Khardha & bi Tutik juga berhasil menemukan handphonennya.


"Sebentar saya ambilkan obat Non Khardha dulu dikamar sebelah, sepertinya dia kesakitan sedari tadi saya lihat dia terus saja memegangi perutnya." Ucap bi Tutik kepada Bripka Gusti Hamidi yang menunggu.


Bi Tutik merasa sangat prihatin dengan keadaan Khardha yang sudah berjalan lebih dulu bersama Dokter Hasan suaminya yang terus menggenggam tangannya dengan sangat posesif.


"Kamu beneran gak papa Sayang?" Tanya Dokter Hasan ketika merasakan tangan istrinya mengeluarkan keringat dingin.


Khardha hanya menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyumnya, karena dia tidak ingin membuat suaminya & semua orang kembali mengkhawatirkan keadaannya.


Aku tidak boleh selalu terlihat lemah, aku juga tidak mau terus-terusan merepotkan suamiku, Kak Gusti & bi Tutik, gumam Khardha dalam hatinya.


Lima belas menit kemudian sampailah mereka semua di lobi hotel. Dokter Hasan langsung mengajak istrinya menuju lift di ikuti Bripka Gusti & bi Tutik dari belakang. Setelah pintu lift terbuka mereka semua masuk menuju lantai 5 kekamar hotel yang di sewa Dokter Hasan selama mereka tinggal disana. Namun karena Khardha yang belum makan apa-apa sama sekali sejak dari rumah sakit hanya infus sebagai nutrisinya membuatnya terhuyung kedepan ketika berada didalam lift. Dokter Hasan langsung menahan tubuh istrinya kemudian merangkulnya.


Flashback off


Setelah memesan makanan Dokter Hasan kembali menghampiri istrinya, dia menyentuh kening & lehernya kemudian mencek denyut nadinya.

__ADS_1


Istriku demam, aku juga ingin sekali memeriksa bekas jahitan operasinya sepertinya dia merasakan sakit dibagian perutnya, aku pasti tidak salah memprediksinya ketika dia tadi terus saja memegangi perutnya, tapi aku juga tidak mau mengganggu waktu istirahatnya, gumam Dokter Hasan dalam hatinya.


"Bagaimana keadaan Rara Hasan?" Bripka Gusti Hamidi mendekati ranjang tempat adiknya terbaring.


"Dia demam Kak, sepertinya kita tidak bisa melakukan perjalanan pulang siang ini." Jawab Dokter Hasan sambil memasukkan tangan istrinya dengan lembut kedalam selimut.


"Ini obat Non Khardha Tuan Dokter." Bi Tutik menyerahkan bungkusan berisi obat-obatan yang berasal dari rumah sakit E.


"Terimakasih Bi," ucap Dokter Hasan langsung memeriksa semua obat yang diberikan bi Tutik.


"Maaf lebih baik Kak Gusti & bi Tutik duduk di sana dulu sekalian menunggu makanan yang sudah aku pesan datang." Pinta Dokter Hasan sambil menunjuk ke arah sofa.



"Ok!" Bripka Gusti Hamidi langsung melangkahkan kakinya menuju sofa kemudian menyalakan televisi.


"Baik Tuan Dokter, saya permisi dulu." Ucap bi Titik sambil mengundurkan dirinya.


Dokter Hasan menganggukkan kepalanya setelah itu dia mengambil handuk kecil didalam tasnya untuk mengompres istrinya.


Sore harinya Khardha terbangun dari tidurnya, dia merasakan ada sebuah tangan menyentuh pipinya, ketika dia membuka matanya dia tersenyum menatap wajah suaminya yang ikut berbaring disampingnya.


"Sayang kamu sudah bangun." Dokter Hasan ikut tersenyum sambil membelai wajah istrinya.


Khardha menganggukkan kepalanya & ikut menyentuh wajah suaminya.


"Apa perutmu masih sakit?" Tanya Dokter Hasan sambil meraba perut istrinya dibalik selimut.


"Sedikit!" Jawab Khardha dengan singkat.


"Aku belum makan Sayang kita makan sama-sama ya,"pinta Dokter Hasan kemudian menyibakkan selimut mereka & menggendong istrinya menuju meja makan serta mendudukkannya di kursi yang ada disampingnya.


Ehemmm, ehemmm!" Bripka Gusti Hamidi menggoda pasangan suami istri itu yang sedang makan sambil menyuapi satu sama lain secara bergantian.


Khardha menolehkan kepalanya sebentar sambil memajukan bibirnya. Sedangkan Dokter Hasan hanya tersenyum sambil membersihkan mulut istrinya yang terdapat sebutir nasi disudut bibirnya dengan jarinya.


Bersambung...


Mohon maaf ya teman-teman aku selalu telat up, sebab kesibukan di dunia nyataku.


Semoga kalian selalu sabar menunggu kelanjutan dari ceritaku ini, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya baik berupa vote, like, komen, maupun koin nya.


Salam sayang selalu dari author receh Khardha Love.

__ADS_1


__ADS_2