
Happy reading guys!
"Huaaa....hiks...hiks...Khardha jangan tinggalin aku, kumohon buka pintunya!" Teriak Dokter Selvi sambil menangis dengan menggedor-gedor pintu kamar utama sahabatnya itu.
Dokter Hasan dan Khardha yang ada didalam kamar sangat terkejut dibuatnya sebab pasangan suami istri itu berniat meneruskan permainan mereka yang sempat tertunda.
"Gimana ini Sayang?" Tanya Khardha ketika suaminya mulai berada diatasnya.
"Gak usah di hiraukan, kita teruskan yang ini dulu, aku udah gak tahan Sayang." Jawab Dokter Hasan dengan lirih di telinga istrinya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya ketika suaminya sudah kembali meneruskan aksinya, namun dia tidak bisa fokus menikmatinya karena mendengar Dokter Selvi yang meraung-raung menangis memanggil namanya.
"Kayaknya kamu tidak menikmatinya Sayang, kenapa?" Dokter Hasan mengangkat satu alisnya & menghentikan permainannya.
"Maaf Sayang aku gak tega sama Mbak Selvi." Jawab Khardha sembari membelai wajah suaminya dengan lembut.
"Tamu tak diundang itu lagi! Bisa gak kamu fokus sama aku aja dulu!" Kesal Dokter Hasan dengan menaikkan intonasi suaranya kemudian masuk kamar mandi & membanting pintunya.
Khardha langsung berlari mengejar suaminya yang sudah emosi karena semua yang terjadi malam ini. Untungnya kamar mereka kedap suara jadi tidak terdengar dari luar jika Dokter Hasan mulai meninggikan suaranya & Khardha yang berteriak memanggil suaminya.
"Sayang buka pintunya!" Teriak Khardha dengan menggedor pintu kamar mandi yang dikunci suaminya.
Ceklik...Dokter Hasan membuka pintu kamar mandi & menarik istrinya.
"Aku akan menghukum kamu malam ini Sayang." Ucapnya seraya tersenyum smirk.
"Silahkan kalau kamu mau menghukumku tapi kumohon jangan marah lagi ya, aku takut bila kamu terbawa emosi seperti tadi Sayang, aku...," bruk....Khardha tidak bisa meneruskan kata-katanya karena dia pingsan dibawah shower yang membasahi tubuhnya.
Dokter Hasan Terkejut dan langsung menyangga tubuh istrinya yang belum di apa-apakan nya itu. Dengan sigapnya dia menggendong tubuh istrinya ala bridal style kemudian membaringkannya diatas ranjangnya. Setelah menyelesaikan ritual mandinya & memakai bajunya Dokter Hasan langsung mengambil peralatan medisnya. Dia memeriksa kondisi istrinya dengan stetoskop dan termometernya.
Ternyata Khardha yang sejak awal mengatakan kondisi tubuhnya belum fit akhirnya mengalami demam tinggi. Dia ditarik oleh suaminya berdiri dibawah air shower yang dingin untuk memberinya hukuman' ala Dokter Hasan. Khardha juga stres memikirkan tamu tak diundang nya yang sangat merepotkannya itu, sebab itulah yang membuatnya akhirnya sakit.
Maafin aku Sayang, aku yakin kamu sakit gara-gara aku & tamu tak diundang itu, gumam Dokter Hasan dalam hatinya sambil menggenggam tangan juga membelai lembut wajah istrinya.
*****
Keesokan harinya Dokter Hasan yang bergadang merawat istrinya terpaksa harus meminta cuti dari rumah sakit. Sebab dia tidak mau meninggalkannya walaupun cuma sebentar.
Berbeda dengan Dokter Wahyu yang tidak bisa tidur semalaman karena membujuk istrinya yang terus menangis sebab ingin tidur bersama Khardha. Namun dia tetap membawa istrinya masuk kedalam kamar tamu yang ada dirumah sahabatnya itu.
Bi Tutik yang sudah memasak sarapan untuk mereka semua akhirnya memberanikan dirinya mengetuk pintu kamar majikannya karena waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi belum juga ada yang keluar.
Tok...tok...tok...Bi Tutik mengetuk pintu kamar Khardha & Dokter Hasan.
Ceklik...pintu kamar terbuka.
"Tuan Dokter sarapan sudah siap sedari tadi." Ucap Bi Tutik menyampaikan.
"Nanti aja ya Bi, istriku lagi sakit." Sahutnya dengan mengusap wajahnya yang sangat mengantuk.
"Baik Tuan." Patuh Bi Tutik kemudian mengundurkan dirinya untuk pergi meninggalkan majikannya itu.
Setelah memastikan keadaan istrinya sudah baik-baik saja Dokter Hasan merebahkan dirinya dengan memiringkan tubuhnya. Dia membelai wajah istrinya dengan lembut penuh kasih sayang, hingga akhirnya Khardha membuka matanya ketika merasakan tangan yang menyentuhnya dengan lembut. Cahaya mentari pagi yang mengintip dari celah jendela kaca besar yang sengaja dibuka Dokter Hasan juga ikut andil membangunkanya.
"Syukurlah kamu sudah bangun Sayang, aku tadi sempat berpikir untuk membawamu ke rumah sakit jika sampai tengah hari kamu belum juga bangun." Ucapnya sembari mengecup kening istrinya & mendekapnya.
"Kamu gak marah lagi kan Sayang?" Tanya Khardha mengawali kalimatnya.
"Aku sudah sering bilang kan Sayang, aku gak bisa marah lama- lama sama kamu, jadi lupain aja ya," jawabnya sembari melonggarkan pelukannya kemudian menyatukan bibirnya dengan lembut namun menuntut.
Merasa istrinya juga membalasnya Dokter Hasan kembali melancarkan aksinya hingga gairah cinta yang menggebu didalam dirinya akhirnya menemukan pelabuhannya. Berbaur dengan puncak kenikmatan dunia yang dicapainya bersama kekasih halalnya nan terlahir dari setetes kenikmatan surga yang selalu membuainya untuk senantiasa mendambakannya setiap saatnya.
"Makasih Sayang aku sangat mencintaimu." Ucapnya dengan menghujani wajah istrinya dengan kecupannya.
__ADS_1
Khardha hanya menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum yang penuh makna nan tersirat didalamnya. Karena sangat kelelahan sebab olahraga pagi yang mereka lakukan akhirnya pasangan suami istri itu kembali terlelap dalam posisi berpelukan.
Sementara itu didalam kamar tamu yang ada dibawah Dokter Wahyu terlihat memijat keningnya sendiri menghadapi tingkah istrinya yang telah hamil muda & mengidam ingin tidur dengan Khardha tapi tidak kesampaian, sehingga membuatnya menangis terus-terusan.
"Beb udahan dong nangisnya, kamu gak capek apa sudah semalaman sampai sekarang belum juga berhenti." Kesal Dokter Wahyu dengan istrinya.
"Aku kan cuma mau tidur sama Khardha Beb, masa Dokter Hasan gak ngizinin sich, hiks... hiks...," Dokter Selvi terisak dengan menelungkupkan wajahnya dibantal.
"Iya Beb, tapi kamu juga harus mengerti Dokter Hasan gak bisa tidur nyenyak kalau gak ada istrinya disampingnya." Dokter Wahyu menasehati istrinya.
"Beb aku ingin jalan-jalan sama Khardha, sekalian belanja, nonton di bioskop, dan bermain di fun city." Ucap Dokter Selvi sembari menghapus airmatanya.
"Kita tanyain dulu sama Khardha ya, dia mau apa gak? Sepengetahuanku dari cerita suaminya istrinya itu gak suka shoping." Sahut Dokter Wahyu sembari mengusap kepala istrinya.
"Ayo Beb kita temui Khardha sekarang! Kita harus memastikan sendiri itu benar apa gak yang diceritain Dokter Hasan tentang istrinya. Masa wanita gak suka belanja?" Ajak Dokter Selvi langsung menarik tangan suaminya karena sangat penasaran.
"Iya Beb nanti aja ya, mataku ngantuk banget gara-gara semalaman begadang dengerin
kamu nangis terus-terusan." Jawab Dokter Wahyu dengan memejamkan matanya.
Tidak berselang lama Dokter Wahyu langsung tertidur setelah istrinya berhenti menangis. Dokter Selvi beranjak menuju kamar mandi untuk buang air kecil, tanpa sengaja dia melihat pantulan wajahnya sendiri dicermin yang ada di wastafel dikamar mandi itu. Dia sangat terkejut karena baru menyadari matanya bengkak sehabis menangis semalaman hingga dia berteriak & membangunkan suaminya kembali.
"Beb help me !" Pekiknya dari dalam kamar mandi sehingga menggema keseluruh ruangan itu.
Dokter Wahyu langsung terperanjat mendengar istrinya berteriak minta tolong, dia melompat dari tempat tidur & mendobrak pintu kamar mandi.
"Apa yang terjadi denganmu Beb? Kamu gak kenapa-napa kan? Apa kamu habis jatuh? Apa ada yang terluka? Bagian mana aja?" Cecarnya sembari memutar tubuh istrinya.
"Ishhh aku gak habis jatuh atau terluka! Coba kamu liat mataku yang kenapa-napa tau!" Cebiknya sembari menatap suaminya dengan tajam namun terhalang dengan matanya yang bengkak, sehingga terlihat sangat lucu.
"Emangnya kenapa dengan mata kamu Beb?" Tanya Dokter Wahyu dengan polosnya sembari mendekatkan wajahnya kemuka istrinya.
"Kamu gak liat mataku yang bengkak! Apa masih kurang jelas!" Kesalnya dengan menghentakkan kakinya keluar kamar mandi.
Biasanya kedua Dokter spesialis kandungan itu hanya bisa menasehati dan memberikan teori kepada ibu-ibu hamil atau pasangan suami istri yang menantikan kehadiran buah hatinya, namun sekarang realitanya sungguh diluar ekspetasinya.
"Panggilkan Khardha suruh dia mengompres mataku ya Beb, biar aku bisa dekat terus sama dia," rengeknya dengan bergelayut manja ditangan suaminya.
"Iya sebentar aku mandi dulu ya," ucap Dokter Wahyu yang selalu berusaha menahan emosinya karena ulah istrinya itu.
Didalam kamarnya Khardha yang terbangun lebih dulu dari suaminya sudah siap untuk turun kebawah dengan memakai baju dress motif kotaknya.
"Sayang aku turun duluan kebawah ya," bisiknya ditelinga suaminya.
Dokter Hasan yang masih mengantuk langsung menarik istrinya.
"Beri aku morning kiss dulu baru kamu boleh pergi." pintanya sembari menunjuk bibirnya dengan mata yang masih terpejam.
"Ini sudah jam 11:30 siang Sayang bukan pagi lagi, kamu gak kerumah sakit hari ini?" Tanya Khardha setelah mengecup bibir suaminya sekilas.
Dokter Hasan langsung membuka matanya dan tersenyum manis menatap wajah cantik wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap harinya itu.
"Aku libur hari ini Sayang khusus buat nemenin kamu," Jawabnya sembari menangkup wajah istrinya kemudian mengecup keningnya.
"Mandi dulu Sayang, biar aku siapin baju kamu ya," Ucap Khardha sembari menahan dada suaminya yang selalu menginginkan lebih dari itu' bila sudah berdekatan dengannya.
"Ok Sayang, tapi nanti tambah lagi ya jatah' nya," bisiknya dengan nada sangat menggoda lalu melenggangkan kakinya menuju kamar mandi dengan santainya.
Khardha hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat tingkah suaminya yang terkenal cool dan berwibawa namun selalu bersikap sebaliknya kepadanya.
Tok tok tok... suara pintu diketuk dari luar. Khardha melangkahkan kakinya menuju pintu setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya.
__ADS_1
Ceklik...Khardha membuka pintu kamarnya & menatap heran dengan kedatangan Dokter Wahyu juga Dokter Selvi yang tampak kacau menurutnya.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa jadi begini?" Cecar Khardha dengan mengerutkan keningnya.
"Siapa Sayang? Tamu tak diundang itu lagi ya!" Seru Dokter Hasan dari dalam kamar dengan sengaja sembari memakai bajunya kemudian berjalan mendekati istrinya yang terpaku ditempatnya.
"Wah hahahaha, muka kalian lucu sekali, yang suami mata panda sedangkan istrinya matanya bengkak kayak disengat lebah!" Tunjuk Dokter Hasan sambil tertawa lepas menatap kedua sahabatnya itu.
"Ini semua gara-gara lo yang gak mau ngizinin istri lo tidur sama istri gue tadi malam, jadinya gue gak bisa tidur semalaman karena dia nangis terus-terusan!" Sergah Dokter Wahyu dengan mendengus kesal.
"Udah Sayang kasian mereka, hentikan tawamu," Bisik Khardha dengan mencubit kecil perut suaminya.
"Awww, sakit Sayang, ini kdrt namanya!" Pekik Dokter Hasan dibuatnya seolah istrinya mencubit dengan sangat keras karena ingin mengalihkan perhatiannya.
"Ayo Mbak kita tinggalin aja mereka," ajak Khardha sembari berlalu pergi dengan menggandeng tangan Dokter Selvi untuk turun kebawah menuju meja makan.
"Rasain lo, emangnya enak!" Ejek Dokter Wahyu sambil menjulurkan lidahnya.
"Siapa juga yang sakit beneran, orang gue cuma pura-pura kok," Sahut Dokter Hasan dengan memajukan bibirnya.
.
"Ya elah lebay lo!" Sungut Dokter Wahyu dengan menyentil bibir sahabatnya itu kemudian berlari untuk berlindung di belakang Khardha yang sedang menyajikan makanan diatas meja.
Dokter Hasan langsung mengejarnya karena kesal dengan sahabatnya yang selalu membuatnya jengkel sejak tadi malam itu.
"Kurang **** lo ya, lepasin istri gue gak! Kalau gak gue lempar lo dengan sendal ini." Ancam Dokter Hasan dengan mengarahkan sendalnya kearah Dokter Wahyu yang semakin membungkuk dibelakang Khardha.
"Enggak akan gue lepasin, nanti gue dapat menu utama makan siang sendal lo lagi." Sahut Dokter Wahyu dengan berlindung dibalik baju Khardha.
"Minggir Sayang biarin dia dapat menu pembuka dulu," Pinta Dokter Hasan dengan menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya untuk menjangkau sahabatnya yang somplak itu.
"Stop! Hentikan!" Pekik Khardha hingga Keduanya langsung terdiam ditempatnya.
"Kenapa kalian berdua bertingkah seperti anak kecil? Duduk!" Ucap Khardha tanpa mau dibantah dengan menatap tajam keduanya.
"Khardha kalau marah bisa mengeluarkan taringnya ya Beb," bisik Dokter Selvi ditelinga suaminya.
"Iya liat tuh Dokter Hasan nyalinya menciut." Bisik Dokter Waktu seraya tersenyum meremehkan.
Dokter Hasan yang memperhatikan pasangan
suami istri yang membicarakannya itu hanya bisa mendelik tajam kearah mereka. Khardha beranjak kedapur untuk mengambil jus jeruk yang baru dibuatnya tadi sebagai pelengkap menemani makan siang mereka. Dokter Hasan langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang dengan menaruh kepalanya dibahu istrinya.
"Maafin aku ya Sayang, kamu jangan marah ya," pintanya dengan menciumi pipi istrinya.
"Aku gak marah Sayang, aku cuma gak mau kalian berdebat lagi itu aja." Sahut Khardha sembari menuangkan jus kedalam gelas kemudian menaruhnya diatas nampan & membawanya ke meja makan.
"Ya udah kita baca doa dulu baru silahkan menyantap makanannya." Ucap Khardha mengingatkan semuanya sembari menyuguhkan jus kedepan mereka masing-masing.
Setelah berdoa mereka mulai menyantap makanan yang sudah dimasak bi Tutik sedari pagi tadi, jadi tinggal menghangatkan saja lagi. Sehabis makan & membereskan peralatan makan yang kotor dengan dibantu bi Tutik, Khardha menghampiri suaminya dan kedua tamu tak diundang nya itu.
"Kalian berdua gak ada kegiatan lagi kan hari ini? Kita jalan-jalan yuk!" Ajak Dokter Selvi dengan sangat bersemangat.
"Jalan-jalan!" Seru Dokter Hasan & Khardha serempak.
Bersambung....
Mohon maaf ya teman-teman aku telat up, lagi karena kurang fit body.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen koin nya ya, agar aku selalu semangat untuk melanjutkan cerita ini.
__ADS_1