
Happy reading guys!
Keesokan harinya Khardha yang terbangun lebih dulu dari suaminya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi & memakai bajunya yang sesuai dengan warna bendera kita merah putih dia membangunkan suaminya.
"Sayang ayo cepat bangun mandi & sholat subuh terus kita sarapan nanti aku bikinin menu spesial hari kemerdekaan, kebetulan kan hari ini tepat tanggal 17 agustus 2020 HUT 75 tahun Republik Indonesia, jadi aku punya cerita menarik buat kamu." Ucap Khardha seraya tersenyum penuh arti.
Dokter Hasan langsung beranjak bangun & menuju kamar mandi, menunaikan sholat subuh sebentar kemudian menyusul istrinya yang sedang sibuk memasak didapur dibantu bi Tutik.
"Sayang aku udah laper banget mana makanannya?" Tanya Dokter Hasan sembari merangkul pinggang istrinya yang masih sibuk menyiapkan makanan & minuman didapur.
"Sabar Sayang sebentar lagi siap kok, ini tolong kamu taruh diatas meja ya, daripada nempel terus kayak gini." Jawab Khardha sembari melepaskan tangan suaminya yang melingkar dipinggangnya.
Lima belas menit kemudian semua makanan & minuman sudah siap tersaji diatas meja makan.
"Wow serba merah putih!" Seru Dokter Hasan seraya tersenyum menatap hidangan yang ada dihadapannya.
"Iya Sayang tadi kan aku udah bilang spesial kemerdekaan." Sahut Khardha sembari menyiapkan piring untuk memotong tumpeng merah putihnya.
"Tapi kok rasanya ada yang kurang ya," ucap Dokter Hasan sembari menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apalagi yang kurang?" Khardha mengerutkan keningnya merasa heran dengan ucapan suaminya.
"Bi Tutik bisa tinggalkan kami berdua dulu." Pintanya dengan nada datar.
"Iya Tuan saya permisi dulu." Patuh bi Tutik kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Mau ngapain Sayang kok kamu liatin aku sampai segitunya?" Tanya Khardha ketika suaminya semakin mendekatkan wajahnya.
"Ada sesuatu di wajah kamu!" Jawab Dokter Hasan sembari menggeser tempat duduknya untuk merapat kekursi yang diduduki istrinya.
"Masa sich perasaan aku gak belepotan masaknya tadi." Khardha mengibaskan tangannya diwajahnya.
"Sini biar aku bantu bersihin." Dokter Hasan membelai wajah istrinya & menarik tengkuknya dengan lembut.
Dia mulai menyatukan bibirnya dengan lembut & mengeksplor lidahnya didalam rongga mulut istrinya. Khardha tersentak kaget dengan perlakuan suaminya yang beralasan membersihkan wajahnya dari kotoran dan ada seuatu yang kurang ternyata itu semua hanya modusnya untuk mendapatkan ciumannya. Sampai akhirnya Khardha tersengal karena hampir kehabisan nafasnya & memukuli dada suaminya barulah Dokter Hasan melepaskannya.
Huhhhh..... hahhhhh....suara nafas Khardha yang tidak beraturan hingga dadanya terlihat turun naik menahan emosi.
__ADS_1
"Kenapa kamu menahan nafasmu Sayang?" Tanya Dokter Hasan dengan wajah tanpa dosanya.
Khardha langsung menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskan nafasnya secara perlahan beberapa kali sampai dia bisa mengontrol emosinya.
"Kamu sendiri yang mencium aku secara tiba-tiba, katanya tadi ada yang kurang & ada kotoran diwajahku buktinya mana? Kamu malah mengambil kesempatan untuk menciumku." Kesal Khardha dengan menatap tajam suaminya.
Hahaha... Dokter Hasan langsung tertawa lepas melihat ekspresi istrinya.
"Kenapa kamu malah tertawa? Gak ada yang lucu tau!" Sinis Khardha semakin kesal dibuatnya.
"Sayang jangan marah dulu, aku sengaja bilang seperti itu karena kamu sendiri yang lupain aku." Ucap Dokter Hasan sembari menangkup wajah istrinya.
"Aku gak pernah lupain kamu, justru aku masak banyak seperti ini spesial buat kamu, jadi darimana kamu menyimpulkan aku lupain kamu!" Protes Khardha tidak terima dengan tuduhan suaminya.
"Sayang bukan itu maksud aku, tapi kamu lupain aku karena belum kasih morning kiss sama aku itu aja kok. Masa gitu aja marah sich sama suami sendiri, aku kan cuma minta itu aja setiap pagi, belum bisa yang lain." Ucap Dokter Hasan sembari mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Ya udah kalau gitu, mending kita makan aja yuk! Katanya tadi..., Sayang aku udah laper banget nich mana makanannya." Ujar Khardha menirukan ucapan suaminya.
"Aku bukan lapar makanan yang ini Sayang tapi lapar karena tidak sabar untuk memakan kamu!" Seru Dokter Hasan sembari menggelitiki istrinya.
Hahaha....tawa keduanya pecah dalam ruang makan itu. Bi Tutik yang mengintip kemesraan pasangan suami istri itu merasa ikut bahagia menyaksikannya.
Syukurlah kalian bisa bersatu lagi, maafkan aku yang pernah membantu Tuan Hendrik Choi memisahkan kalian berdua. Aku berjanji untuk selalu membuat Non Khardha bahagia dengan siapapun itu, dari awal mengenalnya karena aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri sebab dia adalah anak orang yang pernah sangat aku cintai dari dulu hingga sekarang." Gumam bi Tutik dalam hatinya.
Bi Tutik dulu adalah teman satu kelas bapaknya Khardha sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA. Bi Tutik yang ketika itu adalah seorang anak yang selalu mendapatkan bullying dari teman-temannya ditolong oleh bapaknya Khardha Ahmad Choi.
Sejak saat itu Tutik muda semakin mengagumi sosok Ahmad Choi yang tampan, lembut, perhatian, smart namun tegas dalam menegakkan kebenaran. Mereka berdua terpilih menjadi anggota paskibra, karena kebetulan Ahmad Choi adalah ketua OSIS waktu itu dia dinobatkan sebagai pemimpin upacara bendera mewakili teman-temannya.
Tutik muda yang melihat kecakapan Ahmad Choi dalam menangani semuanya menjadi semakin terpesona dibuatnya. Hingga akhirnya mereka terpisah karena keluarga Ahmad Choi yang pindah ke daerah lain untuk mengikuti ayahnya Thai lan Choi yang seorang saudagar kaya waktu itu.
Tutik muda berharap suatu saat dia akan bertemu lagi dengan Ahmad Choi & melamarnya, tapi sayangnya Ahmad Choi ternyata mencintai orang lain yaitu Hana ibunya Khardha. Perjuangan Ahmad Choi yang rela melepas jabatannya sebagai pengganti kerajaan bisnis ayahnya untuk menikahi Hana hingga dia di coret dari nama keluarga. Dia memilih menjadi seorang petani di desa kampung kelahiran Khardha sekarang, agar bisa selalu bersama anak istrinya sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya disana.
Bi Tutik yang selalu mencari silsilah keluarga Ahmad Choi akhirnya menjadi pengasuh Hendrik Choi karena mengira Hendrik adalah anak kandung dari laki-laki yang dicintainya itu. Namun ternyata ketika dia mulai membantu menjalankan tugas dari Hendrik & bertemu langsung dengan Khardha dia mulai mengamati semua tentangnya secara detail. Sebab wajah Khardha memang sangat mirip dengan Ahmad Choi bapaknya. oleh karena itulah bi Tutik sangat menyayangi Khardha layaknya anak kandungnya sendiri, walaupun sampai detik ini dia belum pernah menikah karena hatinya hanya tertuju pada Ahmad Choi seorang.
Flashback off
******
Seusai makan dengan penuh kemesraan mereka berdua duduk diruang keluarga sembari menonton televisi karena kebetulan Dokter Hasan dapat shift malam hari ini. Sehingga dia bisa bersantai disiang hari bersama istrinya.
"Sayang tadi kamu bilang mau cerita sama aku tentang spesial kenangan 17agustus, ayo cerita sekarang." Pinta Dokter Hasan sembari berbaring dipangkuan istrinya.
__ADS_1
" Gini ceritanya Sayang." Khardha bersiap menceritakan spesial kenangan 17agustus nya.
"Dulu setiap hari senin & tanggal 17 agustus sewaktu aku masih duduk dibangku SD aku selalu disuruh menjadi pemimpin upacara bendera dilapangan sekolah karena para guru menganggap suaraku yang paling lantang & berpotensi daripada teman-teman yang lain. Sampai akhirnya aku bosan sendiri, hingga memilih bersembunyi di dalam toilet sekolah.
Namun ternyata ada teman yang melihatku & melaporkan aku kepada dewan guru. Aku pun di giring kekantor kepala sekolah untuk di interogasi.
"Khardha kenapa kamu sembunyi didalam toilet?" Tanya kepala sekolah.
"Saya tidak mau jadi pemimpin upacara terus Pak, yang lain kan masih banyak." Jawabku tanpa rasa takut.
"Iya yang lainnya banyak tapi mereka selalu bermain-main Khardha, tidak seperti kamu yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan." Sergah pak kepala sekolah.
"Seharusnya mereka dilatih juga Pak agar bisa menggantikan saya!" Tegasku dengan menatap kepala sekolah & dewan guru.
"Maafkan kami Khardha kami hanya sangat menyayangi kamu & ingin menggali lebih dalam potensi yang kamu miliki. Sebab kamu murid yang paling bisa diandalkan dalam hal apapun." Ucap bu Susi guru olahragaku.
"Saya capek bu jadi bahan omongan teman-teman, mereka bilang selalu Khardha, apa-apa Khardha dari jadi pemimpin upacara, instruktur senam, lomba cerdas cermat, lomba lari estafet, dan peringkat kelas pun dia, emangnya gak ada yang lain apa? Itulah yang sering mereka bicarakan dibelakang saya bu." Aku mengadu sambil menangis.
"Jangan dimasukkan ke dalam hati nak, anggap itu adalah support buat kamu agar bisa menjadi lebih baik lagi." ucap bu Susi sembari memelukku.
"Sampai akhirnya aku lulus SD dengan predikat terbaik." Khardha mengakhiri cerita kenangan spesial nya yang selalu memotivasinya untuk selalu berjuang menjadi orang yang tegar menghadapi apapun.
"Sebenarnya siapa bu Susi itu Sayang? Kok kayaknya dia perhatian banget sama kamu?" Tanya Dokter Hasan sembari menciumi tangan istrinya yang selalu digenggamnya sedari tadi.
"Bu Susi itu istri dari sepupu jauh ibuku & kebetulan beliau tidak mempunyai anak, makanya dia sayang banget sama aku." Jujur Khardha sembari membelai rambut suaminya.
"Berarti aku beruntung banget ya punya istri cantik dan cerdas kayak kamu." Ucap Dokter Hasan sembari beranjak bangun & memeluk istrinya.
"Justru akulah yang sangat beruntung punya suami seperti kamu Sayang, kamu selalu sabar menghadapi semua tingkah laku ku, rela mengorbankan apapun demi aku dan selalu berusaha membahagiakan aku. walaupun terkadang takaran kebahagiaan semua orang itu berbeda-beda. Tapi kamu selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik untukku. Makasih ya Sayang untuk semuanya aku benar-benar bodoh dulu selalu menolak cintamu." Ucap Khardha dengan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.
"Iya Sayang, untunglah aku dulu gak pernah berhenti berjuang untuk mencintaimu & tentu saja membuatmu jatuh cinta kepadaku. Sekarang aku sangat bahagia bisa memilikimu seutuhnya." Sahut Dokter Hasan dengan menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
"Sayang hentikan, kamu gak mau dengar ceritaku sewaktu Mts?" Tanya Khardha sembari menahan dada suaminya.
"Gak aku udah tau dari buku diary kamu."Jawab Dokter Hasan yang sekarang tangannya sudah tidak bisa dikondisikan karena sudah masuk kedalam baju istrinya & melepaskan pengait bra nya.
"Ohh ya, dimana kamu menyimpan diary aku?" Pekik Khardha karena merasa hanyut dalam permainan suaminya.
"Gak akan pernah aku balikin, sebab aku belum selesai membacanya." Jawab Dokter Hasan dengan melanjutkan aksinya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman melalui vote, like, komen, koin nya.
__ADS_1