
Happy reading guys!"
"Tuan Dokter! "Seru bi Tutik ketika membuka pintu sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya karena sangat terkejut melihatnya.
Bripka Gusti Hamidi langsung berjalan cepat menghampiri bi Tutik yang nampak syok dengan kehadiran mereka. Dia menarik tangan bi Tutik sambil membekap mulutnya agar tidak menimbulkan suara mencurigakan yang akan terdengar dari luar, kemudian menggiringnya ke hadapan Dokter Hasan yang menatapnya dengan tatapan sangat tajam, berbeda dengan Khardha yang menampilkan raut wajah penuh kekecewaan.
" Bi Tutik juga harus bertanggung jawab atas penculikan istriku, sebab semua tidak mungkin terjadi apabila Bibi tidak ikut andil didalamnya. "Ucap Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
"Kenapa Bibi tega melakukan semua ini kepadaku? Apa salah dan dosaku sama Bibi?
Padahal aku sudah menganggap Bibi seperti orang tuaku sendiri. "Lirih Khardha dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah curiga dari awal ketika pertama kali bertemu dengannya waktu kamu di rawat dirumah sakit dulu dek, ketika kamu masih hamil anakmu yang pertama. Tingkah asisten rumah tangga kalian ini sangat mencurigakan,
wajahnya langsung pucat seperti orang ketakutan ketika bertemu denganku saat memakai seragam dinas waktu itu. "Bripka Gusti Hamidi menjabarkan apa yang ada dalam pikirannya.
Tiba-tiba bi Tutik langsung bersimpuh di hadapan mereka bertiga seraya berkata.
"Saya mohon maafkan saya Tuan Dokter, Non Khardha & Pak Polisi. Saya mengaku salah, saya tidak bermaksud menyakiti siapapun disini, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Hendrik Choi karena saya selalu diancam. "Ucap bi Tutik sambil berderai air mata.
Khardha memberi isyarat kepada suaminya untuk membantunya turun dari bed pasien. Namun Dokter Hasan tidak mau menuruti keinginan istrinya itu.
" Enggak Sayang kamu gak usah turun, biarkan bi Tutik menyadari kesalahannya. "Cegahnya sambil menahan tubuh istrinya agar tidak usah bangun dari pembaringannya.
"Tapi Sayang kita seharusnya memaafkan bi Tutik, dia juga sudah mengakui kesalahannya. Alangkah baiknya jika kita memberi kesempatan kepadanya untuk menebus semua yang sudah diperbuatnya dengan memintanya memihak kepada kita. "Ucap Khardha memberikan kritik dan sarannya dengan memegangi tangan suaminya yang hanya terdiam mendengarkan apa yang diucapkannya.
"Benar itu Hasan kita harus menyusun rencana yang matang terlebih dulu untuk membawa Rara dari sini agar bisa terbebas dari cengkraman Hendrik. "Bripka Gusti Hamidi menimpali.
"Baiklah kalau itu yang terbaik menurut kalian untuk saat ini. "Dokter Hasan akhirnya mengalah seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sebenarnya dia ingin sekali memberi pelajaran kepada bi Tutik karena sudah menyalah gunakan kebaikan dan kepercayaannya, namun dia terpaksa harus menuruti kata-kata istri dan kakak iparnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian pintu masuk di gedor dengan paksa oleh Hendrik sambil berteriak.
"Bi Tutik cepat buka pintunya! Kenapa pintunya harus dikunci dari dalam, cepat bukaaa! "Teriak Hendrik semakin nyaring sehingga membuat semua orang yang memperhatikannya dari luar tampak tercengang menyaksikannya.
"Ingat ya Bi jangan sampai Hendrik tau tentang kedatangan kami & Bibi harus merahasiakan pertemuan kita ini. Aku harap Bibi juga bisa diajak bekerja sama, karena kami akan selalu memantau tindak tanduk Bibi, Hendrik, dan anak buahnya. "Ucap Dokter Hasan dengan penuh ketegasan & intonasi suara yang penuh penekanan seraya menatapnya tajam.
Kemudian dia kembali berbalik menghadap istrinya dengan nada suara yang berbeda penuh kelembutan & kasih sayang, serta raut wajah sendu dengan tatapan cinta juga kerinduan yang terpendam.
"Sayang kamu juga harus ingat ya, ikuti semua anjuran Dokter yang merawat kamu, agar kamu bisa segera pulih dan sehat lagi, supaya kita bisa secepatnya pulang kembali kerumah. Kami akan mengusahakan secepatnya agar bisa membawamu pergi dari sini Sayang, "janjinya sambil mengusap kepala istrinya kemudian mencium keningnya.
" Kamu harus bersikap baik dulu kepada Hendrik sementara ini ya dek, agar dia selalu memperlakukan kamu dengan baik pula. "Bripka Gusti Hamidi mengingatkan.
"Kami pergi dulu ya Sayang, jaga diri kamu baik-baik, aku akan selalu merindukanmu, "Pamit Dokter Hasan sambil memakai kembali masker & topinya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya, dengan menatap punggung mereka untuk melepas kepergian suami dan kakaknya. Ada kesedihan yang mendalam didalam hatinya ketika tidak bisa berkumpul lagi dengan mereka walaupun hanya untuk sementara.
Ya Allah tolonglah kami, berikan kekuatan dan jalan keluar terbaik untuk semua masalah yang kami hadapi saat ini, doa Khardha dalam hatinya.
"Apa saja yang kalian lakukan diruangan ini? Kenapa pintunya harus dikunci? "Tanya Hendrik sambil melangkah masuk ketika berpapasan dengan Dokter Hasan & Bripka Gusti Hamidi yang keluar dengan mode penyamaran mereka.
Hendrik kembali menghampiri bed pasien Khardha & duduk di kursi yang ada disampingnya kemudian menggenggam tangan Khardha seraya menciuminya.
Khardha kembali berpura-pura tidur, sebab dia sekarang semakin muak melihat tampang Hendrik yang selalu memperlakukannya layaknya seorang wanita yang dicintainya. Padahal seharusnya itu tidak boleh dilakukannya, sebab Khardha hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Hendrik juga sudah tahu Khardha sekarang masih berstatus istri seorang Dokter Hasan yang sah, baik menurut hukum negara maupun agama namun dia tetap tidak memperdulikannya.
"Kapan kamu bangun Khardha, aku sangat sedih melihatmu seperti ini, bangunlah Sayang aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu. "Lirihnya sambil membelai lembut puncak kepala Khardha.
"Bi malam ini aku akan membawa Khardha pulang ke rumahku yang ada disini, lebih baik Bibi pulang duluan kerumah diantar anak buahku, tolong siapkan kamar & semua kebutuhannya disana. "Perintah Hendrik tanpa menoleh kepada pengasuhnya itu.
"Baik Tuan, saya permisi dulu. "Pamit Bi Tutik kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Ketika berjalan menyusuri koridor rumah sakit, bi Tutik kembali berpapasan dengan Dokter Hasan & Bripka Gusti Hamidi yang sudah melepaskan penyamarannya.
__ADS_1
Bi Tutik memberikan kode kepada mereka berdua agar mengikutinya dengan matanya.
Bripka Gusti Hamidi langsung mengerti maksud dari bi Tutik, karena dia sudah biasa bermain kode seperti itu dengan rekan-rekannya sesama Polisi.
"Hasan aku akan mengikuti bi Tutik & kamu pantau Rara disini, pastikan handphone kamu selalu aktif agar kita bisa terus berkomunikasi. "Perintahnya mulai menyusun strategi.
"Baik hati-hati ya Kak, semoga rencana kita ini bisa berjalan lancar. "Ucap Dokter Hasan sambil memutar badannya untuk melaksanakan tugasnya.
"Ok, good luck ya! "Seru Bripka Gusti Hamidi sambil menepuk bahu adik iparnya.
Mereka akhirnya berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing. Hari telah menjelang malam Dokter Hasan sudah mandi & mengganti pakaiannya didalam apartemen yang baru disewanya selama di Singapura. Setelah menunaikan sholat dengan cara jamak, dia kembali berjalan menuju rumah sakit.
Ketika dijalan Dokter Hasan merasakan perutnya keroncongan & kepalanya yang sakit akibat kondisi tubuhnya mulai menurun. Dia sebenarnya sangat kelelahan karena terlalu fokus memikirkan istrinya, sehingga tidak bisa makan & tidur dengan baik, namun itu semua tidak dihiraukannya.
Aku akan makan & beristirahat dengan tenang bila kamu ada disampingku Sayang, aku sangat merindukan momen itu kembali. Gumamnya dalam hati. Ya Allah kumohon berikan petunjuk jalan keluar atas semua masalah yang kami hadapi saat ini, aku hanya ingin kembali merajut kasih dalam cinta bersama istriku dibawah naungan Mu. Doanya dalam hati sambil melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang sudah dekat dengan rumah sakit.
Tiba-tiba dia melihat diparkiran ada sebuah mobil sport berwarna hitam & seseorang yang sedang menggendong tubuh wanita yang sangat mirip dengan istrinya. Dia menajamkan penglihatannya untuk memastikannya & ternyata benar sekali itu adalah istrinya. Laki-laki itu mendudukannya di kursi penumpang bagian depan kemudian menutup pintu mobilnya.
Astagfirullah al azdim, Hendrik mau membawa istriku kemana? Apa yang harus aku lakukan selanjutnya, kalau seperti ini kejadiannya? "Batin Dokter Hasan sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Tidak lama kemudian setelah mobil yang di kendarai oleh Hendrik berlalu ada telepon masuk dari Bripka Gusti Hamidi.
📱"Assalamualaikum Hasan, aku sekarang sedang berada di depan rumah Hendrik. Alamatnya di Hollan village daerah Bohemia. Kabarnya Rara akan segera dibawa kesini itu yang kudengar dari percakapan anak buah Hendrik ketika mereka berjalan di parkiran rumah sakit tadi, jadi kalau bisa kita pindah apartemen saja atau menginap dihotel yang ada di kawasan ini, agar kita bisa dengan mudah memantau keadaan Rara ketika berada dirumah Hendrik. Bagaimana menurutmu?
📲"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baiklah Kak, aku akan segera menyusul kesana, "Jawab Dokter Hasan kemudian bergegas kembali ke apartemen yang baru beberapa menit lalu di gunakannya fasilitasnya.
Sementara itu di rumah Hendrik sesudah menyiapkan semuanya, bi Tutik segera ke supermarket terdekat yang ada di kawasan itu, dengan alasan membeli kebutuhan dapur yang sudah menipis kepada anak buah Hendrik yang berjaga di pintu gerbang. Ketika asyik memilih bumbu dapur yang ada dirak tiba-tiba tangan nya di tarik oleh seseorang, dia tersentak kaget saat melihat wajah orang itu.
Bersambung....
Mohon doa & dukungannya terus ya reader agar aku selalu semangat untuk menghadirkan kisah yang menarik di setiap episode nya.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen, koin nya ya, salam sayang selalu dari author Khardha Love