
Happy reading guys!
Setelah selesai mandi Dokter Hasan segera masuk kekamar menyusul istrinya.
" Sayang ini baju kamu udah aku siapin." Khardha menyerahkan setelan baju suaminya.
" Makasih ya Sayang." Dokter Hasan berjalan
mendekati istrinya ingin mengecup keningnya.
" Eits, jangan dekat-dekat dulu Sayang kamu kan udah wudhu, kita juga mau sholat zuhur berjamaah nanti keburu habis waktunya. Ingat sekarang kita itu masih puasa jadi alangkah baiknya kita menahan diri dulu ya." Pinta Khardha menahan dada suaminya dengan tangan yang sudah berlapis mukena.
" Iya Sayang tapi nanti malam boleh ngapain aja ya." Dokter Hasan menatap istrinya dengan mata poppy eyes nya.
"Tentu aja boleh tapi ada syarat nya." Khardha tersenyum penuh arti menatap lekat mata suaminya.
" Apa syarat nya Sayang?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang akan diinginkan istrinya diluar kebiasaannya.
" Nanti aja aku kasih tau kalau kita udah selesai sholat." Khardha menggelar sajadahnya.
"Kamu ini ya selalu aja bikin aku penasaran." Dokter Hasan ingin sekali mencubit pipi istrinya saking gemesnya.
"Sabar dulu ya Papah Dokter yang ganteng." Khardha mengedipkan sebelah matanya.
Mereka berdua akhirnya melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Setelah berzikir dan berdoa Khardha langsung mencium punggung tangannya suaminya begitupula dengan Dokter Hasan yang selalu mencium kening istrinya sehabis menunaikan kewajibannya kepada sang pencipta. Karena masih sangat penasaran dengan syarat yang belum dikatakan istrinya diapun kembali bertanya.
"Sayang sekarang kita udah selesai sholat jadi apa sebenarnya syarat yang kamu mau ajukan sama aku?" Menarik istrinya agar duduk dipangkuannya setelah membuka mukenanya.
Dokter Hasan membelai wajah istrinya dengan lembut. Khardha sengaja memainkan ujung rambutnya seraya tersenyum menatap wajah suaminya yang penuh tanda tanya.
"Mau tau aja atau mau tau banget?" Bukannya menjawab Khardha justru balik bertanya.
"Jangan menggodaku Sayang, kamu mau jawab apa gak terserah kamu!" Kesalnya sembari memalingkan wajahnya kearah lain untuk meredam emosinya yang tersulut karena ulah istrinya.
"Masa gitu aja kamu marah sama aku, hiks... hiks...," karena hormon kehamilannya Khardha yang semakin sensitif langsung berderai airmata.
Dokter Hasan yang mengetahui istrinya menangis menjadi tidak tega untuk marah kepadanya terlalu lama.
"Jangan nangis Sayang, aku gak marah kok sama kamu." Mengusap air mata istrinya dengan ibujarinya.
"Kalau kamu gak marah kenapa tadi gak mau lagi menatap aku. Apa karena aku tambah nyusahin dan ngeselin kamu?" Khardha melengkungkan bibirnya kebawah.
"Sayang walaupun kamu selalu membuatku serba salah tapi aku gak mungkin bisa marah lama-lama sama kamu." Merengkuh tubuh istrinya membawanya kedalam pelukannya sembari menciumi puncak kepalanya.
"Beneran kamu gak marah lagi sama aku? Walaupun aku sering nyebelin dan minta syarat yang nyusahin kamu demi memenuhi ngidamku?" Tanya Khardha dengan memainkan jarinya di dada bidang suaminya.
"Ohh ternyata istriku yang cantik ini lagi ngidam ceritanya," melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah istrinya.
Khardha mengangguk sembari menundukkan kepalanya karena masih tidak berani menatap mata suaminya.
"Bilang aja Sayang emangnya kamu lagi pengin apa? Aku akan usahain sekuat dan semampuku yang penting kamu sama baby selalu sehat." Ujarnya sembari mengelus-elus perut istrinya.
"Kita keluar dulu yuk!" Ajak Khardha dengan menggandeng tangan suaminya.
"Mau kemana lagi Sayang? Kamu gak capek ya habis bereksplorasi tadi?" Bingungnya menghadapi semua tingkah laku istrinya yang diluar ekspetasinya.
"Kita minta tolong Kak Amey buat syarat yang aku ajukan sama kamu." Jawab Khardha ketika didepan pintu kamar kakaknya.
"Kenapa harus melibatkan Kak Amey Sayang?" Berusaha mencegah istrinya agar tidak ikut menyusahkan orang lain dengan ngidamnya yang sering aneh-aneh menurutnya.
"Udah kamu diam dulu Sayang katanya mau tau syarat nya." Khardha menyentuh dada suaminya untuk menenangkannya.
Tok...tok...tok...Khardha mengetuk pintu kamar kakaknya.
__ADS_1
Ceklik...Amey membuka kunci pintu kamarnya, dia mengerutkan keningnya menatap heran kepada adik bungsunya dan adik iparnya yang berdiri dihadapannya.
"Ada perlu apa dek?" Tanya Amey akhirnya.
"Kami mau minta tolong sama Kakak." Jawab Khardha dengan meraih tangan kakaknya.
"Tolongin apa?" Amey menepuk pelan tangan adiknya.
"Ajarin suamiku bikin sate bebek Kak." Pinta Khardha dengan tatapan poppy eyes nya.
"Bebeknya aja gak ada, gimana mau bikinnya dek?" Amey tersenyum menatap adiknya yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Kakak ajak aja suamiku beli bebek ke kandangnya langsung." Khardha menyunggingkan senyumnya hingga menampakkan barsan giginya.
Amey menganggukkan kepalanya sembari mengacak rambut adiknya.
"Sayang aku mau liat kamu menangkap bebeknya dan menyembelihnya sendiri." Pinta Khardha dengan mengayunkan tangan suaminya.
"Apaaaa!" Kaget Dokter Hasan dengan permintaan istrinya.
Sebab dia belum pernah menyembelih hewan sebelumnya.
"Kamu itu ada-ada aja dek, masa suamimu disuruh menangkap dan menyembelih bebek sendiri." Amey menggelengkan kepalanya tidak menyangka sebelumnya dengan permintaan adiknya yang ingin mengerjai' suaminya sendiri.
"Dia sendiri yang bilang mau mengabulkan semua apa yang aku minta Kak." Kilah Khardha dengan mengedipkan matanya kepada suaminya." Iya kan Sayang." Khardha bergelayut manja dilengan suaminya." Kalau kamu gak mau melakukannya, aku juga gak bakal kasih jatah' buat kamu malam ini, karena inilah syarat yang aku berikan untukmu Sayang." Bisik Khardha ditelinga suaminya.
"Ok Sayang aku akan lakukan apa aja buat kamu." Lirihnya seraya mengulas senyum terpaksanya kearah kakak iparnya.
"Tuh kan kakak dengar sendiri suamiku bilang apa tadi." Khardha tersenyum penuh kemenangan karena suaminya selalu menuruti semua kemauannya.
"Baiklah kalau gitu ceritanya aku mau ganti baju dulu sebentar." Amey menutup pintu kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
"Kita tungguin di teras aja yuk Sayang!" Ajak Khardha dengan menarik tangan suaminya.
"Kamu gak lagi ngeprank aku kan Sayang?" Dokter Hasan menyentak tangan istrinya hingga menabrak dadanya.
"Yang penting kamu harus siap-siap aja Sayang karena ini bukan kemauan aku tapi baby yang ada disini." Khardha mengusap perutnya untuk memberikan alasan yang logis kepada suaminya.
"Ya udah kalau gitu, papah akan turutin apa aja kemauan kamu sayang." Ujarnya sembari mengelus-elus perut istrinya.
Khardha ingin sekali tertawa karena berhasil membuat suaminya percaya dengan apa yang dikatakannya. Dokter Hasan sendiri sebenarnya masih ragu dengan apa yang dikatakan istrinya, namun dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk memenuhi kemauan ngidam wanita yang sudah mengandung buah cintanya itu. Tidak berselang lama Amey datang menghampiri mereka.
"Yuk kita cari bebeknya ketempat tetangga yang dekat sini dulu ya." Amey berjalan mendahului pasangan suami istri itu.
"Kalau gak ada disini, ditempat Uwak Siah
banyak Kak." Khardha menyusul kakaknya untuk mensejajarkan langkahnya.
"Sayang tungguin aku sebentar ya, aku mau ambil masker sama sarung tangan dulu." Pintanya sembari menyentuh bahu istrinya lalu membalikkan badannya kembali kerumah mertuanya untuk mengambil perlengkapan alat pelindung dirinya.
"Cepeten ya Sayang nanti kita kesorean masaknya!" Seru Khardha mengingatkan suaminya.
Dokter Hasan menganggukkan kepalanya sembari menyatukan ibujari dan telunjuknya.
"Kenapa kamu tega menyuruh suamimu untuk melakukan hal yang tidak biasa dilakukannya dek, apa kamu gak mikirin gimana perasaannya? Aku aja dulu gak pernah menyuruh bapaknya Merlin untuk melakukan sesuatu yang gak sesuai dengan kemauannya." Ujar Amey menasehati adik bungsunya itu.
"Aku cuma mau mengujinya Kak, sebab dia sendiri yang bilang mau melakukan apapun untuk membahagiakanku." Kilah Khardha berusaha membela dirinya sendiri.
"Tapi ingat jangan sampai kamu menyesal jika suatu saat nanti dia akhirnya bosan dengan sikapmu ini." Ucap Amey menekankan kata-katanya.
Lima menit kemudian Dokter Hasan kembali dengan membawa apd nya. Khardha dan Amey langsung menghentikan pembicaraan serius mereka untuk menjaga perasaan laki-laki yang tengah jadi topik utama mereka itu.
"Pakai masker dulu Sayang." Dokter Hasan memakaikan masker untuk menutupi mulut dan hidung istrinya." Ini masker buat Kakak." Memberikan kepada kakak iparnya.
__ADS_1
Syukurlah dek kamu punya suami yang sangat perduli sama kamu, semoga pernikahan kalian selalu langgeng sampai kakek nenek nanti, dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua," Amey berdoa dalam hatinya.
"Aku gak biasa pakai masker, biar kalian aja yang pakai." Tolak Amey dengan halus." Yaudah yuk kita jalan lagi." Ajaknya sambil berjalan didepan mereka.
Sesampainya di rumah tetangganya yang banyak mempunyai peliharaan bebek dikandangnya Amey langsung memanggil pemiliknya.
"Mang Udin beli bebeknya satu yang besar!" Seru Amey dari balik pintu kandang bebek yang cukup besar itu.
"Iya pilih aja sendiri!" Sahut pemiliknya yang sedang memberi makanan untuk peliharaannya itu.
Mereka bertiga masuk kedalam kandang lalu memilih bebek yang akan mereka beli. Dokter Hasan berusaha menangkapnya dengan kemampuannya namun sayang bebeknya justru lari kesana kemari menghindarinya. Amey ingin sekali membantunya tapi selalu dicegah oleh Khardha, hingga Dokter Hasan jatuh terjerembab barulah bisa menangkapnya.
"Yeyy berhasil!" Seru Khardha berjingkrak kegirangan.
Amey menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah adik bungsunya itu. Setelah membayar bebek yang berhasil ditangkapnya itu Dokter Hasan langsung menghampiri istrinya.
"Udah puas liatin aku nangkep bebeknya Sayang, apa kamu mau ikut bermain sama bebek juga?" Geramnya sembari menatap tajam kearah istrinya.
"Puas banget Sayang, nanti aku kasih kamu jatah' double sekalian kita coba gaya yang berbeda." Khardha mengedipkan sebelah matanya.
Dia sengaja menggoda suaminya supaya tidak marah kepadanya.
"Beneran Sayang, kamu gak bohong kan?" Dokter Hasan memastikan pendengarannya karena tidak biasanya istrinya berkata seperti itu.
Khardha menganggukkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti. Setelah itu mereka bertiga kembali pulang kerumah lalu membawa bebeknya kebelakang untuk di sembelih.
"Gimana caranya menyembelihnya? Aku benar-benar gak ngerti Sayang." Bingungnya sembari menatap istrinya yang berdiri di sampingnya.
"Gini aja ya aku yang pegangin, kamu yang menyembelihnya, sebelumnya baca doa. Bismillahi Allahuakbar, baru kamu arahkan pisaunya ke leher bebeknya." Ujar Khardha menginstruksikan agar suaminya mengikuti kata-katanya.
"Ok Sayang aku udah ngerti." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya lalu mempraktekkan apa yang dikatakan istrinya.
Dia menahan nafasnya ketika melakukannya sehingga terlihat jelas ketegangan dari raut wajahnya. Semua yang ikut menyaksikannya juga ikut terbawa suasana yang menegangkan itu, hingga akhirnya Dokter Hasan berhasil mengeksekusinya dengan bantuan istrinya yang selalu menyemangatinya.
"Yeyy Om Dokter berhasil menyembelihnya!" Seru Merlin dan Aisya adiknya berjingkrak kegirangan.
"Selamat ya Sayang kamu udah berhasil, sekarang tinggal membedahnya, anggap aja kamu lagi mengoperasi pasienmu." Khardha menepuk bahu suaminya.
"Apaaaa!" Dokter Hasan kembali dibuat terkejut dengan permintaan istrinya.
"Sini biar aku aja yang melakukannya dek."
Amey langsung mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dilakukan Dokter Hasan sesuai permintaan istrinya. Khardha terlihat kesal dibuatnya namun dia juga tidak mau berdebat dengan kakaknya itu.
"Ada bala bantuan tuh Om, kami juga siap kok bantuin mencabuti bulunya." Ujar Merlin sembari melirik kearah Khardha yang cemberut mendengarnya.
"Syukurlah, makasih ya." Dokter Hasan tersenyum sangat bahagia mendapatkan pertolongan dari kakak ipar dan keponakan istrinya itu.
"Jangan senang dulu Sayang kamu masih ada tugas untuk bantuin aku bikin bumbunya sekalian bakar satenya." Khardha menarik tangan suaminya menuju dapur.
"Siap Sayang, apa sich yang gak buat kamu." Ujarnya sembari mengecup pipi istrinya.
Bersambung....
Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya.
Semoga amal ibadah kita semua di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.
Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui vote, like, komen, koin, dan rate bintang lima nya ya.
Dari kalian semua yang selalu setia mengikuti setiap episode dari novel ku ini.
Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit
__ADS_1
kalian semuanya.
Terimakasih salam sayang selalu dari author Khardha Love.