
3 tahun kemudian
Kira menyeret kopernya menuju mobil alphard putih yang sedang parkir di depan pintu gerbang asrama. Hari ini dia telah menyelesaikan pendidikannya di sekolah khusus anak perempuan selama 3 tahun lamanya. Tak pernah pulang dan juga tak pernah mengetahui kabar keluarganya. Dan sekarang hari melepas rindu telah tiba.
Kira yakin jika sang pengemudi alphard putih itu adalah Noah. Sebab beberpa menit yang lalu ia menerima telpon dari lelaki itu melalui telpon asrama. Dengan seberkas senyum bahagia, Kira melambai ke arah mobil tersebut. Kaca mobil terlihat membuka memperlihatkan wajah tampan Noah yang semakin mendewasa.
"Kak Noah." Sapa Kira setelah ia sampai di sisi mobil itu.
Noah keluar dari mobil lalu segera memasukkan koper Kira ke dalam bagasi. Setelah itu Noah menatap gadis di hadapannya yang sekarang terlihat mendewasa dan tentunya sangat manis. Kira tumbuh dengan baik, bahkan gadis itu terlihat sangat sangat menawan.
"Asrama ini merawatmu dengan sangat baik yah. Kau terlihat tampak dewasa. Bagaimana kabarmu setelah 3 tahun terasingkan?" Noah terkekeh sejenak.
Kira menggigit bibir bawahnya seraya melayangkan pukulan kecil ke lengan lelaki itu. "Yah aku banyak belajar memaknai hidup di dalam asrama ini. Dan kabarku setelah 3 tahun terasingkan adalah sangat baik. Hanya saja aku sangat rindu pada keluargaku."
"Tentu kau pasti akan rindu. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menjemputmu hari ini. Ayo kita pulang." Ajak Noah yang seketika mengubah raut wajahnya.
Kira memerhatikan hal itu. Namun karema Noah telah beranjak dari hadapannya masuk ke dalam mobil. Akhirnya Kira memutuskan untuk segera ikut masuk. Sebelum benar-benar masuk, gadis itu berbalik menatap gedung asrama yang sangat berjasa padanya selama 3 tahun ini. Kemudian Kira mengangkat tangan seraya memberi hormat.
'Untuk tiga tahun yang berharga, terima kasih. Karena mu aku bisa menjadi seperti saat ini.'
Kira menarik napas lalu berbalik dan meninggalkan gerbang. Gadis itu melesat masuk ke dalam alphard.
...
8 jam berlalu akhirnya mereka sampai di perbatasan kota. Kira semakin mengembangkan senyumnya di tengah rasa lelah akibat jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.
Noah mengemudikan alphard putih itu ke kiri setelah perempatan pertama perbatasan. Kira mengernyit bingung.
"Untuk apa kita melintasi 'Peraduan Terakhir'?" Tanyanya seraya menatap Noah.
Peraduan tetakhir adalah nama pekuburan terkenal yang ada di kota itu.
"Untuk menyampaikan satu hal penting padamu." Jawab Noah getir.
Kira semakin mengernyit karena diselimuti kebingungan. Gadis itu memcoba menerka apa yang akan Noah utarakan dan apa hubungannya dengan pekuburan yang akan segera mereka lintasi.
"Mengenai apa? Apa ini sesuatu yang menyedihkan?" Tanya Kira.
"Lebih buruk dari hanya sekedar menyedihkan. Lebih tepatnya menyakitkan!" Jawab Noah tegas tapi dengan intonasi pelan.
Perlahan-lahan Kira menelan salivanya. Apa yang lebih menyakitkan dari kehilangan? Tapi jika ini adalah kabar kehilagan, siapa yang telah berpulang? Tidak mungkin ayah ataupun ibunya, mereka pasti baik-baik saja. Tidak mungkin pula Naura. Lalu siapa?
Mobil terlah berhenti di depan gerbang pemakaman 'Peraduan Terakhir.' Segera Noah melepaskan seatbeltnya lalu mengantar Kira masuk ke dalam pemakaman itu.
Begitu masuk suasana haru menyerang Noah. Mengingat kejadian 3 tahun lalu membuatnya seketika lemah. Kejadian yang tiba-tiba itu merenggut sosok yang baru saja menjadi keluarganya. Baru saja ia merasakan kehadiran adik laki-laki, Tuhan mengambilnya.
Noah menggenggam tangan Kira seraya berkata, "Kau akan tahu alasan mengapa kita kemari. Terus genggam tanganku, aku tidak ingin kau rapuh."
Kira mengangguk pelan walau tak paham sepenuhnya dengan situasi. Akhirnya mereka terus berjalan mengitari beberapa makam lama yang sudah diberi diding di sekitarnya.
Beberapa langkah kemudian mereka berhenti di sebuah makam dengan dinding bertehel hitam. Nisannya telihat sudah lusuh dan ditumbuhi rumput liar. Kira berjongkok. Sebuah firasat aneh mengalun di dadanya. Seperti kembali ke tiga tahun lalu saat ia baru beberapa hari beradaptasi di asrama.
Gadis itu menatap nisannya. Lalu dengan ragu ia menoleh ke arah Noah yang masih setia berdiri. Noah memberi isyarat agar gadis itu menyingkap rumput liar yang menutupi nama sang empunya pusara.
Kira kembali memusatkan pandangannya ke nisan itu. Lalu pelan-pelan menyingkap rumput liar dari arah kiri. Jantungnya mulai berdegup kencang saat huruf pertama telah nampak. Sudah jelas sosok yang terbersit di kepalanya. Tapi ia ingin menyaksikan betul kelengkapan nama yang tertera. Dengan jantung yang terasa berdebar tak karuan Kira terus menyingkap rumput liar itu. Dan akhirnya ia bisa membaca dengan jelas nama pemilik makam ini. Seketika jantungnya seolah hampir berhenti berdetak.
"Kak Bara." Gumamnya lemah.
Seperti ada sebuah peluru yang menghujani dadanya hingga menembus ke punggung. Kira berusaha bernapas dengan susah payah. Apa yang ia lihat adalah hal yang tak dapat ia percaya. Nisan itu bertuliskan nama sosok yang ia cintai 3 tahun lalu. Bahkan saat ini ia masih mencintai Bara. Sekali lagi Kira menatap tak percaya tulisan itu. Air mata mulai menetes menerobos sudut matanya.
Rast in Peace
Maesa Bara
21 Juli 2017
Suara isakan tangis gadis itu mengisi keheningan area pemakaman. Bara telah meninggal dunia 3 tahun yang lalu ketika dirinya masuk sekolah asrama. Tepat di hari ia menjatuhkan nampan makan siangnya.
__ADS_1
Gadis itu terduduk di tanah, kemudian menunduk meneteskan air mata ke batu nisan Bara. Noah ikut berjongkok seraya memeluk gadis itu. Kira butuh kekuatan.
"Bersabarlah, dia sudah tenang." Ucap Noah.
"Kak Bara sudah berjanji padaku akan menunggu agar kami bisa saling mencitai seperti dulu lagi. Tapi... tapi ternyata.. dia meninggalkanku lebih dulu." Ucap Kira terbata sembari terus menangis pilu.
"Ada masa dimana seseorang harus merelakan kepergian sosok yang dicintainya. Mungkin Tuhan menyayangi Bara hingga Dia mengambilnya lebih dulu." Noah menepuk-nepuk punggung gadis itu pelan.
"Adilkah cara ini? Dia bahkan tak mengucapkan selamat tinggal padaku." Isak Kira.
"Adil atau tidaknya, kita tak bisa mencegah. Kematian adalah takdir mutlak." Jawab Noah.
Kembali Kira menangis dalam pelukan Noah. Satu lagi hal menyakitkan dalam hidupnya setelah perpisahannya dengan Bara. Kini mereka benar-berpisah, berpisah dalam arti yang sesunghuhnya. Berpisah raga dan alam. Kira melepaskan pelukannya dari Noah. Gadis itu kemudian memeluk erat nisan Bara.
"Aku benar. Kau adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab. Seenaknya berjanji tak akan meninggalkan. Namun nyatanya, hari ini aku baru tahu jika kau telah terbaring dengan tenang di peraduan terakhirmu selama 3 tahun. Sekarang aku paham mengapa kau selalu muncul dalam mimpiku di malam hari. Kau ingin menyampaikan hal ini, aku saja yang terlalu bodoh hingga tak paham maknanya. Aku kehilangan seluruh rasa cintaku. Aku patah hati. Namun sejujurnya kau adalah jatuh cinta dan patah hati terindahku. Aku bahagia karena pernah mencintai dan dicintai oleh orang sepertimu." Kira menghapus air matanya.
"Apa kau tak pernah berpikir seberapa sakitnya ditinggal mati? Kau telah memberiku begitu banyak kenangan. Bibir ini adalah salah satu saksinya. Kau banyak menikmati rasa manis di bibir ini. Aku tak menyangka ciuman terakhir itu benar-benar menjadi ciuman terakhir bagi kita. Apa yang kau pikirkan, mengapa menyerah pada hidup?" Kira lalu berhenti memeluk nisan itu.
Gadis itu menatap tulisan nama Bara lalu menyentuhnya dengan sentuhan halus dari jemari lentiknya. "I adore you." Kemudian mencium nisan itu cukup lama.
Noah yang melihat hal itu mematung. Ada rasa cemburu yang hinggap di relung hatinya.
'Sebesar apa rasa cintamu padanya?'
"Selamat tinggal untuk selamanya. Aku mencintaimu sedalam samudera. Aku membencimu juga karena telah mengkhianati janji. Walau aku enggan menerima semua ini, aku tetap tak bisa mengubah takdir. Tenanglah di sana, aku akan selalu mendoakanmu." Ucap Kira untuk yang terakhir kalinya.
Ia pun bangkit dengan sisa tenaganya yang telah habis dilahap tangis. Kemudian beralih memegang tangan Noah. Dengan tatapan tak terbaca Noah menatap jari jemari gadis itu yang terselip di antara jari jemarinya.
"Ayo kita pulang." Ajak Kira dengan mata sembabnya. Lelaki itu mengangguk dan dengan segera ia melangkahkan kakinya meninggalkan makam Bara.
Noah menggandeng tangan Kira dengan arat. Seperti sebuah keberhasilan. Noah seolah-olah telah melakukan serah terima dengan Bara atas kepemilikan Kira. Karena sesungguhnya ia juga mencintai Kira.
....
Setelah kesedihan terbesarnya berlalu
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh semua anggota keluarga. Karena hari ini Naura telah menjadi istri dari seorang penerus tunggal dari Kitora's Kingdom.
Gadis yang saat ini telah menginjak usia 22 tahu itu terlihat sanagat bahagia bersanding dengan Ren di atas pelaminan indah itu. Pada akhirnya Naura memilih menjatuhkan hatinya pada Ren. Karena Ren memanglah lelaki terbaik pilihan ayahnya.
Tak dapat dipungkiri. Setelah mengenal lelaki itu Naura banyak menemukan hal baru. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk menikah. Menjadi seorang menantu dari pengusaha kaya, dan menjadi penerus dari perusahaan ayahnya. Naura tentu bahagia berkali-kali lipat. Ia dan Ren telah berencana menjadikan Amakusa Foundation dan Kitora's Kingdom menjadi satu. Mereka akan menyatukan dua perusahaan itu untuk menjadi kerajaan bisnis terbesar di kota itu.
Di sisi lain Kira beridiri berdampingan dengan Noah. Sepulang dari pemakaman Bara, Kira terlihat masih menyekam rasa sedihnya. Dari sorot matanya Noah bisa merasakan hal itu.
"Kira bagaimana menurutmu, jika aku mencintaimu apakah kau juga akan balas mencintaiku?" Sahut Noah tanpa basa basi.
Lelaki itu sudah tidak sabar sedari tiga tahun yang lalu ingin mengungkapkan perasaannya. Dan hari ini adalah waktu yang tepat menurutnya.
"Tidak akan." Jawab Kira sepontan.
"Mengapa?" Noah mengernyit.
"Karena Kak Noah adalah lelaki tua!" Jawab gadis itu dengan tatapan meremehkan.
"Apa? 26 tahun, aku tidak setua yang kau kira." Noah mengangkat bahunya.
"Intinya aku tidak mau." Balas Kira seraya meninggalkan lelaki itu.
Noah menyusul langkah Kira. Ia tak terima jika Kira menolaknya tanpa berpikir dahulu.
"Kira tolong pertimbangkan. Tidak kah kau merasa tertarik padaku bahkan setelah semua yang kita lewati. Apa kau tidak merasakan getaran? Ayolah, aku mencintaimu." Ucap Noah terus mengekori gadis itu.
Kira tak menyahut. Hingga posisi mereka telah berada di tempat sepi di luar lokasi acara pernikakan Naura. Noah tak tahan lagi, lelaki itu menarik Kira hinga langkahnya terhenti.
"Apa?" Tanya Kira santai.
"Please girl, i'm very love you." Noah memelas tak berdaya.
__ADS_1
"True?" Kira mengangkat sebelah alisnya.
"True. Aku sangat mencintaimu, anak kecil!" Ucap Noah menggebu.
Kira tertawa dengan sepasang mata yang menyipit. "Sudah kuduga."
"Apa?" Noah mengernyit.
"Aku sudah menduganya dari awal." Jelas Kira masih tertawa.
"So?" Noah menunggu.
"Yap, tak ada pilihan lain." Kira menghadapkan dirinya pada Noah seolah siap dihujani pelukan.
"Really?" Noah memastikan. Kira mengangguk. "Oh babe, please give me a hug."
Kira merentangkan tangannya. Sedetik kemudian tububnya masuk ke dalam pelukan hangat Noah. Kira tenggelam dalam tubuh kekar lelaki itu.
"Apa kau puas sekarang?" Tanya Kira.
"Sangat puas." Jawab Noah tanpa melepaskan pelukannya.
"Then?"
"Will u merry me?"
"Hum. I will."
Noah bersorak penuh kemenangan. Lelaki itu, saking senangnya ia beralih mengangkat tubub mungil Kira ke udara lalu memutar badannya. Kira memekik, gadis itu menggerutu.
"Kak Noah, kepalaku pusing. Hentikaaaan!"
"Tidak akan, cause i love you Kirara."
Di tengah kebahagiaan keduanya diam-diam Zara dan Ran mengintip. Betapa sulit pasangan berusia senja itu menahan tawa, pada akhirnya pecah juga akibat kelakuan Kira dan Noah.
"Lihatlah mereka, cepat tanda tangani propisal pernikahan mereka. Aku sudah tidak sabar kebanjiran cucu." Celetuk Zara.
Ran terkekeh, "Akan segera kutanda tangani nyonya. Jangan lupa, kita sebentar lagi juga akan memasuki babak baru. Memiliki cucu dan keriput ditelan waktu. Finally, kita telah menikah selama 23 tahun."
"Kau benar. Kita akan segera mengeriput. Kuharap kita tetap baik-baik saja sampai kepalaku dipenuhi uban." Zara memandang lelaki yang merupakan suaminya itu.
"Sampai salah satu dari kita bertemu kematian pun, aku berharap kita selalu baik-baik saja." Kini Ran mengelus pipi Zara.
"Kisah mereka bermula dari kita. Aku tak pernah membayangkan akan berada di posisi seperti ini. Menua denganmu bersama dua permaisuri kita. Menyaksikan Naura menikah dan mempertemukan Kira dengan calon pendamping hidupnya. Terima kasih untuk 23 tahun berharganya. Aku masih mencintaimu seperti 23 tahun yang lalu." Ungkap Zara.
Ran mulai berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. "Aku juga tidak pernah menyangka bisa mencintaimu 23 tahun lamanya. Ini semua adalah takdir Tuhan dan kita patut mensyukurinya. Aku sangat bersyukur karena telah dihadiahi ratu secantik dan seberharga dirimu serta dua permaisuri yang menjadi cahaya hati kita. Aku juga berterima kasih padamu yang selalu bersabar menghadapi sifat menjengkelkanku selama 23 tahun ini." Ran lalu memeluk Zara.
"Jika aku wafat lebih dulu darimu, tolong lupakan aku dan segala rasa sakit yang kutinggalkan untukmu." Ucap Zara di tengah pelukan mereka.
"Dan jika aku yang wafat lebih dulu, tolong lapangkan hatimu. Jangan meratapiku. Teruslah hidup dalam kebahagiaan. Karena ada atau tidak ada aku, kau harus tetap bahagia." Balas Ran.
Pada akhirnya semua kisah yang dimuali dari pertemuan mereka, kembali mengerucut pada kisah mereka pula. Karena pertemuan mereka di masa lalu menciptakan sebuah kisah yang lumayan panjang.
Ran dipertemukan dengan Zara untuk mengukir kisah Naura yang ditakdirkan untuk Ren serta kisah Kira yang ditinggal mati oleh Bara kemudian disatukan dengan Noah. Sekaligus mengungkap misteri jati diri Bara yang menjadi highlight dalam rumah tangga Saga dan Tahira.
Sekarang semua kisah itu menempuh jalan masing-masing. Mereka pun tentu akan menciptakan kisah yang lebih bermakna lagi di dalam rumah tangga mereka masing-masing.
Walau pada akhirnya Bara yang harus lebih dulu menghadapi takdir kematiannya. Kisahnya tak akan lagi menyisakan ratapan di hati Tahira dan Saga sebab kematian Bara menjadi alasan mereka kembali bersama.
Tahira dan Saga kembali mengucap janji suci. Yah kisah mereka cukup menyedihkan namun semua itu adalah takdir. Issaura memilih tetap menjadi istri Saga karena ternyata Tahira menerima kehadirannya dengan baik.
Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah memilikinya.
.......
__ADS_1
.......
...THE END...