
Zara menganggukkan kepalanya lalu mulai mengulas senyum seperti biasa agar tidak dicurigai oleh Saga dan Tahira.
"Darimana saja kalian hah? Aku mengelilingi apartemen ini seperti orang gila mencari kalian." ucap Zara dengan nada memprotes.
"Ah hahaha, kami baru saja kembali dari swalayan. Aku membeli beberapa bahan makanan." jawab Saga santai.
"Kenapa tidak memberi tahu hah?" Zara melipat kedua tangannya di dada.
"Dasar kau ini, sudah seperti pemilik apartemen ini saja! Apa kau lupa tadi kau sedang di kamar mandi." Saga menoyor jidat Zara.
"Ahh." pekik Zara.
Ran tertawa kecil melihat adegan Saga dan Zara. Sedikit terbersit rasa cemburu di hatinya. Sedangakan Tahira telah berlalu meninggalkan mereka menuju kulkas untuk menyimpan bahan makanan.
"Btw, soal kejadian tadi pagi. Aku minta maaf, dan terima kasih." ucap Zara setelah mengelus jidatnya yang telah di toyor Saga.
"Hmm tidak masalah. Aku sudah terbiasa." balas Saga.
Ran mengernyit. Apa maksud dari ucapan Saga berkata sudah biasa?
"Maksudmu?" tanya Ran tiba-tiba.
Saga menoleh ke arahnya lalu mengulas senyum tipis.
"Dia.. (Menunjuk Zara) dulu sering melakukan hal itu ketika berlibur ke rumahku." jawab Saga sambil memandang Zara dengan tatapan mengejek.
"Issh, dasar." Zara mencubit perut Saga.
"Oh, ternyata kalian dari dulu sangat dekat yah." ucap Ran datar.
Zara menoleh dan memperhatikan mimik wajah Ran lalu seketika Zara berada di 'mode pesawatnya' alias lambat loading. Ya, sepertinya lelaki itu sedang cemburu tapi Zara hanya tak acuh. Ran menatap Zara dengan wajah datar, lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja. Saga mengernyit.
"Ada apa dengannya?" tanya Saga.
"Mungkin dia sedang cemburu." ucap Zara tersenyum.
"Padaku?" Saga bertanya sambil menunjuk dirinya.
"Maybe." jawab Zara.
Mereka berdua saling menatap lalu terekeh bersama.
"Lucu sekali kekasihmu, apa dia tidak tahu jika kita bersahabat hah?" Saga menarik sebelah alisnya ke atas.
"Tentu saja tidak. Aku belum menceritakannya." jawab Zara dengan senyuman geli.
"Hahahaha, pergilah. Tenangkan dirinya. Dia pasti sangat marah." ucap Saga.
"Kau mengusirku?" tanya Zara dengan raut cemberut.
"Tidak seperti itu Zanzara. Aku khawatir dia akan mendiami mu. Jadi pergilah, dan rayu dia." Saga mencoba tidak terpancing emosi, gemas sekali rasanya berbicara dengan Zara ketika gadis itu sedang berada di 'mode pesawat.'
"Baiklah aku pergi." ucap Zara yang terdengar enggan.
Setelah melihat Zara menghilang Saga segera menghampiri Tahira yang sedang sibuk mengatur bahan makanan di kulkas.
"Ra, apa kau yakin akan memberitahu mereka?" tanya Saga.
__ADS_1
"Aku yakin. Lagi pula Kita tidak punya pilihan kak. Karena aku yakin sekali jika Zan melihat kita berciuman tadi malam dan pasti dia juga melihat pengaman habis pakai di kamar mandi." jawab Tahira dengan nada cemas.
"Yah kau benar. Ini salahku, maafkan aku." sesal Saga.
Mereka telah memperbincangkan masalah itu tadi ketika pergi ke swalayan karena Saga berdecak kesal dan memberitahu Tahira bahwa Zara menerobos masuk ke kamar mandinya. Seketika Tahira dibuat khawatir lalu terjadilah perdebatan di antara mereka yang pada akhirnya mau tidak mau mereka harus menempuh jalan itu, memberitahukan hubungan mereka kepada Ran dan Zara.
Disis lain, Zara sedang memeluk tubuh Ran dari belakang, pandanga Ran lurus ke depan menatap pemandangan langit dari balkon apartemen Saga. Lelaki itu tak bergerak sedikit pun untuk menanggapi Zara yang sedari tadi meminta maaf padanya.
"Gomen, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu." ucap Zara yang mulai putus asa.
Gadis itu lalu memutuskan untuk melepaskan pelukannya dan bernajak. Sedetik kemudian Ran menarik tangannya lalu lelaki itu langsung memeluk Zara.
Zara terkejut dan mulai mendengar debaran jantungnya dengan tempo cepat.
"Seharusnya jelaskan dulu padaku ada apa antara kau dan Saga dimasa lalu agar aku tak salah sangka." ucap Ran lembut.
Zara mengangguk dalam pelukan lelaki bermata sipit itu. Kemudian Ran mengambil tangan Zara lalu melingkarkannya di perutnya. Setelah sempurna Ran kembali melingkarakan tangannya pada tubuh gadis itu, erat.
"Tolong jangan pernah mengkhianatiku, hontoni daisukidayo." ucap Ran dengan nada yang sangat lembut.
Hontoni dasukidayo. Kalimat itu tentu dipahami oleh Zara berkat kursus bahasa Jepang yang diikutinya selama lima hari belakangan.
"Watashi mo, hontoni daisukidayo." ucap Zara dengan nada ragu. Ragu jika ucapannya salah.
"Wah, kau belajar dengan giat rupanya." puji Ran.
"Aku masih ragu sebenarnya, apakah ucapanku benar atau tidak." Zara menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa malu.
Ran melepaskan tautan tubuh mereka lalu memandang lekat manik Zara yang terlihat dengan jelas bahwa gadis itu sedang menahan rasa malu.
Lalu tanpa disangka lelaki itu langsung saja mendaratkan bibirnya di bibir Zara. Gadis itu tersentak dan tiba-tiba membatu beberapa detik.
"Mmmm." gumam Zara lalu berusaha mendorong tubuh Ran.
Tapi lelaki itu tidak membiarkan Zara menolaknya, ia malah memperdalam ciuman mereka. Zara pasrah dan akhirnya memejamkan matanya, membiarkan dirinya larut dalam buaian Ran.
...******...
Sore hari mereka berempat berkumpul di balkon apartemen Saga. Di sana suasana begitu sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi. Burung-burung terbang dengan bebasanya mengalunkan suara merdu di langit. Dari balkon tersebut mereka bisa menikmati keindahan sunset yang sebentar lagi tiba. Mereka duduk melingkari meja bulat yang di atasnya terdapat coklat panas dan beberapa cemilan.
"Aku ingin memberutahukan kalian sesuatu." ucap Saga setelah menyeruput coklat panasnya, pria itu berniat memberitahukan hubungan mereka.
Ran dan Zara saling memandang sejenak lalu beralih pada Saga. Seketika Tahira dibuat gugup akibat belum sepenuhnya siap mengakui hubungan mereka. Namun tanpa Ran dan Zara ketahui Saga diam-diam menenangkan Tahira dengan memegang tangan gadis itu di bawah meja.
"Kau mau mengatakan apa?" tanya Zara menaikkan sebelah alisnya.
Kini giliran Tahira dan Saga yang saling memandang. Saga menganggukkan kepalanya pelan sebagai isyarat untuk Tahira agar gadis itu pasrah.
Ran dan Zara dibuat heran. Mereka kembali saling menatap dan bertanya dengan isyarat tanpa suara. Lalu mereka menjawab dengan gelengan, tanda tak paham. Lalu sedetik kemudian mata Zara terbelalak mengingat perdebatannya pagi tadi dengan Ran mengenai hubungan inses Saga dan Tahira. Zara mengerjapkan mata berulang kali yang membuat Ran seolah paham. Mereka kembali menatap Tahira dan Saga.
"Kalian berjanjilah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun dan jangan membenci kami." ucap Saga yang tampak terlihat serius sekaligus tegang.
Zara menelan salivanya pelan. Dirinya masih menerka arah pembicaraan Saga, berharap kenyataan buruk tidak keluar dari bibir sepupunya itu. Dan kenyataan buruk itu adalah hubungan sedarah mereka.
"Aku tahu ini akan membuat kalian kecewa, tapi kami pun tak paham bagaimana harusnya bersikap. Aku dan Rara.. Kami.. Kami.. Menjalin hubungan sedarah." ungkap Saga dengan nada berat.
Tahira langsung meneteskan air mata, malu atas apa yang telah terjadi. Saga langsung memeluk adiknya itu agar merasa tenang. Sementara Ran dan Zara terbelalak. Antara percaya dan tidak juga antara nyata dan tidak.
__ADS_1
"Kenapa asumsiku harus benar, Ya Tuhan." sesal Zara dalam hati.
Ran berdiri dan langsung saja menarik kerah baju Saga lalu memukuli pria yang sebaya dengannya itu hingga jatuh terpental ke lantai. Tampak sekali raut kekecewaan yang terpancar dari wajah Ran dan juga pandangannya menggelap tanda pria itu berada di puncak emosinya.
"Baka!" teriak Ran tepat di wajah Saga.
Saga hanya bisa menahan rasa sakit di wajahnya akibat pukulan Ran dan mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.
"Kenapa kau tidak memikirkan perbuatanmu, baka! Jika bibi mengetahui hal ini maka bisa kupastikan kau telah menggalikan liang kubur untuknya." bentak Ran.
Tahira tersentak lalu seketika dadanya sesak mendengar ucapan Ran. Sakit. Itu yang dirasakannya. Melihat hal itu Zara langsung berinisiatif membawa Tahira pergi dari kedua lelaki itu. Zara tak peduli jika Saga harus kehilangan kesadaran di tangan Ran, karena memang lelaki itu pantas mendapatkannya. Itulah sebabnya ia tak mencegah Ran.
"Ayo, kita pergi." Zara langsung meraih tubuh Tahira yang bergetar hebat, gadis itu begitu ketakutan.
Setelah Zara dan Tahira berlalu Ran kembali menatap tajam ke arah Saga. Ia mencengkram kuat rahang kokoh milik Saga.
"Lihat aku! Cepaaat!" teriak Ran entah untuk keberapa kalinya.
Saga menatap enggan mata Ran, ada pancaran rasa bersalah di sana.
"Apa alasanmu melakukannya hah? Apakah kau tidak berpikir hal ini akan membawa kalian pada kebinasaan. Bahkan bukan hanya kalian tapi juga keluarga kita Saga. Sadarlah!" Ran menundukkan wajahnya akibat emosi yang bercampur aduk. Kecewa, marah.
Ran melepaskan cengkramannya lalu duduk di hadapan pria itu, menatapnya dengan penuh rasa kekecewaan. Saga memperbaiki posisinya, ia ikut duduk berhadapan dengan Ran.
"Tolong maafkan aku. Jika ini terjadi padamu maka mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama denganku." ucap Saga pelan.
"Tahira.. Setelah gadis itu beranjak remaja entah kenapa aku mulai tertarik padanya. Dia seperti magnet. Dan ketika kupandang kedua bola matanya, aku merasa dia bukan adikku. Hatiku lebih menerima jika dia kuanggap sebagai kekasih." lanjut Saga yang mulai terbayang awal mula mereka menjalin hubungan.
Ran mendengarkan tetapi belum bisa membuat kekecewaannya berkurang. Lelaki bermata sipit itu bergeming, pikirannya kosong.
"Sama seperti kau dan Zara, bedanya kami sedarah." ucap Saga lagi yang membuat Ran tersentak lalu teringat akan ucapannya pagi tadi dengan Zara.
"Apa yang kau rasakan ketika bersamaku?" tanya Ran yang membuat Zara mengernyit.
"Kenapa bertanya? Sudah jelas bukan, ketika aku bersamamu, aku merasa nyaman dan dicintai." jawab Zara ketus sekaligus merasa bingung dengan pertanyaan Ran.
"Mungkin saja Saga dan Tahira merasakan seperti yang kita rasakan, Aku dan kau yang saling mencintai dan memberi kehangatan. Hanya saja mereka salah tempat." jelas Ran masih dengan ekspresi tenang.
Setelah tersadar dari lamunannya, Ran melenggang pergi meninggalkan Saga tanpa kata. Saga masih diam sembari merenungi kejadian beberapa menit lalu.
Disisi lain Zara dan Tahira saling mendekap dengan Tahira yang menanis sesegukan. Gadis itu masih bermental kapas jadi dengan mudah menangis untuk hal yang menyayat hatinya seperti kejadian tadi.
"Tenanglah Tahira, kuatkan hatimu." bujuk Zara sambil mengelus pundak Tahira pelan.
"Zan, kau tau kan.. Hiks.. Hiks.. Bagamana rasanya dicintai.. Hiks.. Hiks.. Aku juga mencintai Kak Saga.. Dan.. Dan.. Entah kenapa rasa ini begitu berbeda. Aku merasa Kak Saga bukan saudaraku, itulah sebabnya aku berani mengambil resiko." ucap Tahira sesegukan.
Zara tercengang, tak percaya. Bagaimana bisa gadis ini mengatakan bahwa ia merasa seperti tidak bersaudara dengan Saga. Padahal sudah jelas mereka adalah anak dari bibi Yumna.
"Jangan berkata seperti itu." tangkas Zara.
Zara melepaskan tautan tubuh mereka.
"Jangan membenciku. Aku hanya punya satu teman, dan itu kau. Kau tahu kan aku introvert." pinta Tahira.
Zara mengangguk paham. Daripada Tahira bersedih seperti itu lebih baik Zara mengiyakan. Sebenarnya Zara sangat kecewa tapi rasa kasihan pada Tahira yang bermental kapas itu membuat kekecewaannya perlahan menguap.
'Mungkin memang mereka ditakdirkan seperti itu. Apa boleh buat. Lagi pula siapa yang akan membencinya?' ucap Zara dalam hati. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi, otaknya seketika buntu.
__ADS_1