My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 40 : Kembali


__ADS_3

Mengapa harus ada rasa cinta diantara kami? Padahal kami sedarah. Sungguh aku membenci perasaan ini, namun diwaktu yang sama aku tak bisa abai. Rasanya aku telah tenggelam di dasar lautan begitu dalam hingga tak bisa lagi menggapai permukaan. Sungguh di dalam hatiku hanya ada satu nama, Kak Saga. Bila nanti harus ada yang lain, maka aku berharap Kak Saga tetap mencintaiku.


Tahira menatap langit pagi yang cerah berawan. Pikirannya tak lepas dari kejadian semalam dimana dirinya dan Saga kembali bersatu. Ia merasakan hatinya semakin mantap untuk terus mencintai Saga. Walau tak bisa dipungkiri ada rasa bersalah yang juga mengahantui. Rasa bersalah terhadap ibunya. Jika nanti hubungan mereka ditakdirkan untuk terbongkar, maka Tahira sangat berharap jika Saga bukanlah saudaranya.


Namun akan sangat mustahil bukan? Sekarang ia hanya ingin menjalani kehidupan bersama kakaknya tersebut, biarlah nanti keadaan yang mengubah jika memang mereka tak ditakdirkan bersama. Yang penting baginya saat ini adalah kasih sayang Saga yang mesti ia jaga agar tak menciptakan lubang di hati keduannya.


Sementara Tahira menikmati pagi yang indah di balkon, Saga justru sedang terlelap di atas ranjangnya. Beberapa detik kemudian ponselnya berdering, Zara Calling.


"Hmm." gumam Saga setelah mengangkat panggilan.


"Hei, apa kau masih tidur? Dasar tukang tidur! Ini sudah jam berapa?" gerutu gadis itu di seberang.


"Cerewet sekali, bahkan kau lebih cerewet dari pada Rara." balas Saga sembari mengerjapkan matanya lalu mengucek pelan.


"Sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu pagi ini. Aku menelfonmu hanya ingin memberitahu jika siang ini aku tidak bisa ke apartemenmu, aku ada kursus hari ini. Jadi jangan menjemputku, ok?" ucap Zara panjang lebar.


"Ya." jawab Saga singkat lalu langsung menutup panggilannya.


"Dasar cerewet!" ucap Saga sembari meletakkan posnelnya diatas nakas.


Matanya menatap sekeliling kamar mencari sosok gadis kesayangannya. Hingga pandangan matanya tertuju pada pintu kamar yang perlahan terbuka.


"Raaa." panggil Saga dengan sangat manja.


Tahira tersenyum tipis melihat kemanjaan pria kesayangannya yang terlihat masih bermuka bantal itu. Ia pun menghampiri Saga lalu duduk di pagakuannya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Saga.


"Bagaimana kabar Ibu, kak? Apa dia baik?" Tahira mengawali pembicaraan mereka.


Sebelum menjawab pertanyaan gadis itu, Saga terlebih dahulu menarik tengkuk Tahira lalu merebahkannya di leher.


"Aku belum menelfonnya sayang." jawab Saga yang sudah merasa lebih nyaman dengan posisinya saat ini.


Tahira memejamkan matanya lalu bernafas dalam lalu membuangnya perlahan. Ketika Tahira menghembuskan nafas, Saga merasa nyaman dan hangat pada bagian lehernya.


"Aku rindu Ibu, tolong hari ini Kakak tanyakan kabarnya." pinta Tahira.


Sebenarnya Tahira bisa sendiri menelfon ibunya jika ia mau, tapi ia merasa lebih sopan jika yang menelfon ibunya adalah Saga. Selain itu Tahira juga terlalu malas memegang ponsel. Bahkan ponselnya jarang di aktifkan, hanya pada saat-saat tertentu saja gadis itu memainkan benda kotak berlayar datar tersebut.


"Baiklah. Aku juga sepertinya rindu." Saga mengelus pundak Tahira.


"Oh ya, hari ini Zan tidak jadi datang." ucap Saga setelah hening beberapa detik.

__ADS_1


Zan adalah nama panggilan Zara bagi Tahira. Entah kenapa gadis itu lebih menyukai jika sepupu perempuannya dipanggil Zan.


"Loh kenapa? Padahal aku ingin bertemu." nada sedih terdengar dari gadis itu.


"Dia sedang sibuk, katanya lain kali." jawab Saga seadanya.


"Yasudah, bilang padanya aku menunggu." ucap Tahira lagi.


...*****...


Zara Pov


Lima hari yang lalu seharusnya aku mengunjungi aparteman Saga. Tapi karena kursus Bahasa Jepang yang ku ikuti membuatku tak sempat lagi kesana. Aku masuk kuliah dari pagi hingga sore hari, lalu aku melanjutkannya dengan kursus Bahasa Jepang menjelang malam dan berakhir sampai hampir larut tanpa pulang ke apartemen. Huh, bayangkan saja bagaimana lelahnya. Dan hari ini aku merasa bebas karena kuliah dan kursusku libur, alias weekend.


Hari ini aku berencana mengunjungi Saga dan Tahira tapi badanku terasa nyeri semua. Aku tahu ini disebabkan oleh kegiatanku kemarin. Makanya aku memutuskan untuk tidur saja. Disini, di atas ranjang milik Kak Ran. Enak sekali, rasanya tak ingin aku beranjak dari buaian lembut kasur ini. Walaupun terbuai telingaku tetap tajam menangkap suara-suara yang ada diluar kamar.


Aku mendengar suara pintu apartemen terbuka. Biar kutebak, itu pasti ART sewaan Kak Surya yang sudah bekerja beberapa hari yang lalu. Jujur aku tak pernah melihat ataupun bertemu langsung dengannya, bukan karena tidak mau tapi aku benar-benar sibuk.


Suara pintu kamar terbuka membatku merasa bingung, seperti ada yang salah. Hei, kenapa ART itu masuk kesini? Apa yang ia lakukan? Karena aku merasa tak bisa bangkit, jadi yang kulakukan hanyalah membiarkannya saja. Lalu kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. Aduh, ART ini kenapa yah? Apa dia ingin membangunkanku? Astaga, baik sekali.


Eh tapi tunggu! Kenapa dia mengecup keningku? Siapa orang ini sebenarnya. Tenang Zara, tenang. Sepertinya aku mengenal wangi ini. Wangi maskulin dari parfum collonge milik seseorang. Yah tidak salah lagi, aku bisa pastikan karena aku sering sekali mencium bau ini kurang lebih selam setahun. Tunggu! Apa?


Dengan cepat aku membuka mataku dan seakan tak percaya dengan apa yang kulihat di hadapaku. Wajah tampan berkulit putih dan mata sipit. Kak Ran.


"Ohayou." ucap Kak Ran.


Aku merasa ini seperti tidak nyata. Tapi aku memeluknya dan mendengar suaranya. Ya Tuhan, jangan membuatku takut. Semoga ini benar-benar nyata.


"Ka,, kak Ran." panggilku dengan nada ragu.


Lelaki itu membalas pelukanku. "Ya, ini aku."


Air mataku mengalir tanpa kusadari hingga membasahi pipiku lalu jatuh ke jaket tebal Kak Ran.


"Apa ini nyata?" tanyaku lirih.


Aku merasakan gerakan tangannya yang lembut membelai rambutku. Sekarang aku percaya, ini nyata. Kak Ran benar-benar kembali.


"Tentu." ucap Kak Ran.


Aku menumpahkan seluruh kesedihanku yang tertahan selama kepergiannya saat itu juga.

__ADS_1


"Aku kembali untukmu." ucapnya lagi.


Kali ini aku tak tahu harus bagaimana lagi, semua perasaanku bercampur aduk. Aku merasa sedih karena mengingat kepergiannya tempo hari tapi aku juga bahagia sekaligus bingung akan kehadirannya kembali. Yokatta, Sepertinya takdir sedang berpihak padaku.


Aku melepaskan tautan tubuh kami dan menghapus air mata yang tersisa dipipiku. Kak Ran menatapku penuh arti. Aku menangkap dari sorot matanya yang sejuk, dia merindukanku.


"Aku merindukanmu." ucapnya yang membenarkan pikiranku.


"Aa, aku juga." balasku dengan meneteskan air mata untuk kedua kalinya.


Perasaan ini sulit sekali dikendalikan, aku tak bisa menahan air mataku. Dan kali ini bukan aku yang menghapusnya tetapi Kak Ran. Jari jemarinya menyentuh wajahku, kurasakan kelembutan darinya. Aku memejamkan mata dan tanpa ku perhitungkan bibirnya mendarat persis dibibirku. Kak Ran mengecup dengan pelan bibir atasku. Well, aku menikmatinya karena guaratan rasa rindu yang mendalam.


Ran Pov


Terbayar sudah rasa rindu yang menbuncah di dadaku. Setelah Otosan membaik, aku segera meminta izin untuk kembali ke Indonesia menjaga gadis kecil ini. Yah, aku bertanggung jawab atasnya. Baik jiwa maupun raganya bahkan aku bertanggung jawab untuk rasa cintanya padaku.


Sekarang ia menatapku penuh makna setelah kudaratkan kecupan pada bibirnya. Aku tahu gadis ini terluka ketika kepergianku. Terlihat jelas dari raut wajah yang ia pancarakan. Dulu aku tidak mencintainya seperti ini, tapi setelah aku meninggalkannya rasa itu berubah dan kian tampak. Tampak bahwa aku mencintainya sebagai adik, anak pamanku, dan kekasih.


"Kita mulai lagi dari awal. Zara, maukah kau kembali menjadi kekasihku?" kuucapkan itu padanya dengan penuh keyakinan.


"Tentu." jawab Zara.


Mendengarnya, membuat hatiku berbunga. Langsung saja ku raih tubuhnya dan ku dekap dengan lembut. Kali ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakannya. Apalagi ketika aku teringat Zara adalah gadis yang sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, membuatku semakin yakin memasang diri untuk menajdi pelindungnya. Aku akan menaunginya dalam kehangatan, dan menjadi rumah baginya berteduh. Karena aku mencintainya. Zanzara.


"Kau sakit kan?" tanyaku padanya setelah kulepaskan tautan tubuh kami.


"Tidak, aku hanya pegal saja." alasannya membuatku terkekeh.


Pegal saja katanya? Bukankah itu sama saja dengan sakit? Gadis ini, selalu saja membuatku gemas. Jika saja aku tidak mengingatnya sebagai tanggung jawabku, maka sudah lama aku merenggutnya. Untung saja ego ku masih bisa diredam.


"Jaa(kalau begitu), istirahatlah. Aku juga masih lelah." pintaku.


Kami pun mulai berbaring di ranjang milikku. Aku memeluknya dari belakang, agar ia merasa hangat. Benar, cuaca pagi ini begiti dingin dan aku melihat getaran dibibir Zara tadi yang menandakan bahwa kesayanganku ini sedang kedinginan. Untung saja aku datang, haha.


Setelah sekian lama, akhirnya tubuh mungil ini kupeluk juga. Dan akan selamanya kupeluk jika dia menjadi milikku. Semoga saja menjadi milikku.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2