
Nb : Beberapa Chapter selanjutnya akan menceritakan kehidupan percintaan Saga.
Saga kembali ke apartemen yang telah ia beli sepulang dari Australia dua hari yang lalu. Ia memutuskan untuk tinggal terpisah dari Ibunya dengan alasan ingin hidup di kota dan mencari pekerjaan. Namun alasan itu bukanlah satu-satunya dorongan, melainkan ia ingin tinggal bersama adiknya di apartemen tersebut. Saga memiliki seorang adik perempuan bernama Tahira yang seumuran dengan Zara. Sebelum dirinya berangkat ke luar negeri untuk menempuh pendidikan, Saga menjalin hubungan dengan adiknya tersebut tanpa diketahui Ibunya.
Yah Saga dan Tahira sadar bahwa hubungan mereka salah, namun rasa yang ada pada keduanya tak bisa diabaikan. Saga mencintai adiknya layaknya seorang lelaki kepada wanita dan ternyata Tahira merasakan hal yang sama. Maka dari itu diam-diam mereka menjalin hubungan sebagai kekasih. Sepulang dari Australi, Saga meminta izin kepada Ibunya untuk membawa Tahira dengan alasan ingin menguliahkan adiknya di kota. Ibunya menyetujui. Sampai saat ini, tak ada satupun yang tahu mereka menjalin hubungan sebagai kekasih.
"Rara, aku telah bertemu Zara dikampusnya dan telah mendaftarkanmu disana. Tapi sekarang kau belum bisa masuk, karena kau harus menunggu untuk semester depan." ucap Saga pada adiknya yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Rara adalah panggilan kesayangan Saga untuk adiknya.
"Baiklah, aku akan bersabar menunggu. Oh iya, bagaimana kabar Zara? Apa dia baik?"
"Yah tentu." Saga tersenyum sambil berjalan menghampiri adiknya yang tengah duduk menonton.
"Ra, aku rindu." ucap Saga lirih sembari menarik adiknya kedalam pelukan.
"Aku juga rindu kak." balas Rara juga dengan suara lirih.
Perlahan Saga mulai merebahkan tubuh adiknya di sofa, lalu mulai mendaratkan satu kecupan pada bibir ranum gadis itu. Rara pun menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan Saga padanya. Karena sejatinya ia pun merasa nyaman dan juga terbuai pada sentuhan kakaknya.
Pikiran Saga melayang pada saat pertama kali ia mengajak adiknya tersebut berhubungan badan. Hari itu orang tua mereka berada di Jepang, dan hanya mereka berdua dirumah. Saga membujuk adiknya tersebut agar melakukan hal itu, awalnya Rara menolak mati-matian. Namun entah bagaimana Saga meluluhkan hati adiknya hingga pada akhirnya mereka pun melakukan hal itu.
"Biarkan aku melakukannya, lalu setelah ini aku berjanji akan selalu berada disisimu. Aku mencintaimu, Rara." ucap Saga saat itu dengan tatapan sendunya.
Rara memejamkan matanya dalam, lalu menghembuskan nafas panjang. Dua detik kemudian gadis itu mengangguk pelan tanda ia setuju.
"Tapi kak, sakit." ucap Rara lirih.
Saga tersenyum lalu mengelus rambut adiknya. "Hanya sedikit sakit, tahanlah."
Tanpa membuang masa lagi, Saga segera membaringkan tubuh ceking Rara di ranjang dengan Rara yang masih memejamkan matanya. Hal ini adalah pertama kali dilakukan oleh gadis itu, maka wajar jika banyak air mata yang terkuras.
Perlahan Saga menindih tubuh adiknya, lalu memberikan beberpa kecupan di daerah tertentu tubuh Rara. Setelah beberapa saat sebelum adegan inti, Saga mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu, lama. Hingga ciuman itu semakin dalam sembari ia melucuti satu persatu pakaian yang melekat ditubuh Rara. Setelah tak sehelai benangpun menutupi tubuh keduanya, Saga menatap penuh arti wajah adiknya yang cantik rupawan seperti meminta persetujuan untuk kedua kalinya, tak ada respon dari Rara membuat Saga berpikir bahwa diamnya Rara adalah tanda setuju.
Saga menggenggam kedua tangan Rara lalu mengambil posisi terbaik. "Tahanlah, ini sedikit sakit." ucap Saga lalu detik selanjutnya miliknya telah memasuki area milik Rara.
Gadis itu meringis, air matanya mengalir. "Kak, sakit."
__ADS_1
Genggaman tangan Rara mengencang, dan akhirnya gadis itu pasrah pada tubuhnya yang telah dikuasai oleh Saga.
Setelah hari itu, hubungan mereka semakin erat. Hingga akhirnya berujung pada perasaan yang saling merekat dan tak bisa melepaskan. Saga tak bisa lagi melepaskan Rara untuk siapapun, karena ia telah mencintai adiknya tersebut begitu dalam. Terlebih Rara, ia sudah mencintak kakaknya juga begitu dalam bahkan hal yang paling berharga pada dirinya pun telah ia lepaskan. Demi Saga.
Suasana apartemen yang hening membuat Saga leluasa melakukan hal yang ia inginkan pada Rara. Hasratnya tak bisa ia tahan lebih lama lagi, terlebih selama beberapa tahun ia meninggalkan Rara yang menimbulkan lubang di hatinya. Tanpa Rara, Saga merasa hampa. Maka dari itu, hari ini tak akan ia sia-siakan walaupun masih ada hari esok dan selanjutnya, tapi Saga benar-benar diambang batas.
"Untuk kedua kalinya, aku menginginkanmu." bisik Saga pada Rara.
Tak ada jawaban, Saga segera melakukan apa yang diperintahkan kepalanya. Ia tahu tanpa Rara berkatapun, pasti adiknya itu setuju hanya saja gadis itu malu untuk menjawab.
Akhirnya, untuk yang kedua kalinya Saga kembali menyalurkan hasratnya pada Rara yang berstatus adiknya. Mereka sadar hubungan mereka salah, namun sekali lagi perasaan itu tak bisa diabaikan. Semakin keduanya mengabaikan semakin kuat magnet menarik keduanya.
"Aaahhhh, kak Saga. Sakit." ucap Rara lirih.
"Maafkan aku, Ra. Aku sangat mencintaimu." Saga hanya bisa mengucapkan maaf pada adiknya tersebut.
...*****...
Sore hari, sesuai janji Saga datang ke apatremen Zara pukul 04.05. Zara mempersilahkan Saga masuk lalu menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu terlihat bahagia, entah apa sebabnya. Sedangkan Saga terlihat seperti memiliki beban namun berusaha disembunyikan. Hal itu ditangkap oleh Zara ketika Saga tersenyum dengan kegetiran yang menyertainya. Beberapa saat Zara meninggalkan lelaki itu untuk mengambikkanya minuman dan beberapa cemilan di dapur. Setelah itu ia kembali duduk di hadapan Saga.
"Tidak. Tidak sama sekali." jawab Saga dengan sebisa mungkin menutupi masalahnya.
Zara merasa aneh dengan jawaban Saga, yang ditangkap dari wajah lelaki itu adalah kegetiran namun mengapa ia menjawab dirinya baik-baik saja.
"Benarkah?" Zara kembali memastikan.
"Iya benar. Aku tidak ada masalah." kini Saga berusaha mengendalikan ekspresinya.
Zara melihat perubahan raut wajah lelaki itu, dan seketika ia ragu pada perkiraannya mengenai kegetiran Saga.
"Hmm seperti itu. Baiklah aku percaya." balas Zara dengan senyum simpul.
"Minumlah, kau pasti haus kan setelah mencari apartemen ini?" Zara kembali memulai setelah beberapa detik menghening.
"Ah, hahaha, iya kau benar aku sangat haus. Kau tahu, aku kesulitan mencari apartemen ini. Tadi aku berpikir, apakah Ran masih waras? Bisa-bisanya ia membeli apartemen di lantai paling atas. Bahkan tadi aku sempat putus asa karena ada banyak apartemen disini." Saga mulai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ya, aku juga tidak habis pikir. Tapi kau tahu, apartemen pilihannya ini sangat bagus. Aku suka."
"Kurasa apapun yang Ran lakukan, bagimu semuanya bagus. Right?" Saga mulai menggoda Zara lagi, seperti kebiasaannya dulu.
Lelaki itu sangat humoris, ia selalu saja membuat Zara tertawa bahkan menggoda gadis itu, itulah sebabnya Zara sangat menyukai Saga dengan gayanya yang lucu. Zara sering dibuat sakit perut akibat ulah sepupunya itu.
"Itu memang benar. Hahaha." Zara tertawa lepas.
"Dasar gadis yang telah dibutakan cinta. Apa hebatnya lelaki bermata sipit itu hah? Hahaha." Saga terkekeh sembari membayangkan wajah Ran.
"Ihh kau ini, selalu saja menghina kak Ran. Jelas saja dia lebih hebat darimu. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih?" ucap Zara asal.
"Hmm, pertanyaan itu sangat mengganggu kau tahu. Lebih baik tanyakan hal lain saja sebelum aku menggigitmu." Saga menampakkan wajah seramnya.
Kembali Zara dibuat terkekeh dengan tingkah laku sepupunya itu, Saga nampak seram namun juga tak bisa melepaskan raut lucu diwajahnya.
"Hahaha, baiklah tuan singa. Jangan gigit aku, aku tidak akan menanyakan hal itu lagi."
Keduanya sama-sama tertawa.
"Hmm, lalu bagaimana kabar Tahira? Apa dia ikut bersama mu?" tanya Zara setelah acara tertawa bersama mereka selesai.
Saga mengangguk pelan. "Iya, dia baik-baik saja. Dia sekarang di apartemen ku."
"Eh, kenapa tidak membawanya kemari?" Zara mengernyitkan dahinya.
"Eeh, anu.. Dia.. Kelelahan.. Jadi.. Tak bisa kemari.." jawab Saga seadanya.
Pikirannya melayang ketika mereka selesai melakukan hubungan badan tadi siang. Ia terlalu agresif hingga tak membiarkan Rara beristirahat. Dan alhasil, Rara tepar dan tak bisa melakukan apapun.
"Mm, kalau bagitu lain kali datanglah kemari bersamanya." tukas Zara.
"Tidak, tidak usah. Besok sepulang kuliah aku akan menjemputmu, dan kita ke apartemenku. Okay?"
"Okay, aku setuju."
__ADS_1