
Gadis itu duduk di ranjang dengan nafas terengah-engah akibat mimpi buruk yang membuatnya terbangun seperti orang kesurupan. Ran yang merasakan pergerakan Zara ikut terbangun dan merasa cemas. Ia mengelus lembut pundak gadis itu lalu mendekapnya.
"Tenanglah." pinta Ran.
Setelah beberapa menit akhirnya Zara terbebas dari rasa takut yang dialaminya barusan. Seperti yang pernah ia katakan, dekapan Ran adalah tempat terbaik untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Aku sudah lebih baik." ucap Zara dengan nada lemah.
Kini lelaki bermata sipit itu melepaskan pelukanya lalu menatap wajah Zara yang terlihat samar akibat lampu kamar yang sengaja dipadamkan.
"Apa kau ingin bercerita?" tanya Ran dengan nada pelan.
Zara menggigit bibir bawahnya sembari mengatur nafasnya yang sesekali terdengar sesak.
"Aku.. Aku melihat dalam mimpiku. Sa.. Saga.." Zara terbata lalu menghentikan ucapannya, ragu. Ketakutannya kembali melanda dirinya.
Melihat itu seolah membuat Ran paham akan situasi gadis kecil yang tengah ketakutan di sebelahnya. Ia pun kembali mengelus pundak Zara perlahan hingga gadis itu benar-benar tenang.
"Aku bermimpi Saga dan Tahira bermain api di dalam rumah mereka. Lalu ketika api itu membesar, entah bagaimana Kau dan aku ada disana lalu kita bermepat terbakar bersama di dalam rumah itu. Aku panik karena melihat semua kejadian itu, terasa samar tapi sangat menakutkan. Aku juga melihat bulan purnama setelah kebakaran itu. Kak, aku takut." ucap Zara yang kemudian menangis.
Ran langsung memeluk Zara erat seraya menyalurkan rasa tenang. Ran mencerna pernyataan tentang mimpi Zara tadi, tapi ia tak paham makna dari mimpi itu.
"Tenanglah! Itu mungkin hanya bunga tidur." ucap Ran seadanya, ia tak tahu lagi harus berkata apa.
Waktu menunjukkan pukul 04.35, menjelang subuh. Zara bersandar di kepala ranjang bersama Ran yang senantiasa menjaganya dan menenangkannya dari rasa takut.
"Kak, bagaimana jika mereka berdua saling mencintai?" ucap Zara tiba-tiba.
Ran mengernyit tak paham dengan apa yang sedang gadis itu katakan.
"Maksudku. Mereka menjalin hubungan terlarang.. Hubungan sedarah." jelas Zara.
Ran tersentak tak percaya dengan jalan pikiran Zara saat ini. Walaupun di negaranya hubungan seperti itu banyak terjadi namun rasanya sangat mustahil jika dalam keluarga mereka tersentuh hal itu.
"Jangan berpikir seperti itu, anggap saja mimpimu hanya bunga tidur." sanggah Ran.
"Sekarang aku malah tidak mempermasalahkan mimpi itu lagi." ucap Zara yang terdengar ambigu di telinga Ran.
"Maksudmu?" Ran mengernyit.
"Semalam aku membuka mata sedikit ketika kau mengambil kesempatan untuk nenciumku. Lalu aku beralih melihat mereka dan.. Mereka.. Berciuman." ucap Zara yang terdengar enggan menyebutkan kata terakhir.
"Benarkah?" Ran merasa tak percaya.
"Sebenarnya aku melihatnya diambang kesadaranku." seketika Zara juga merasa ragu.
"Semoga saja kau salah lihat." Ran menatap gadis itu.
"Aku harap begitu. Aku juga tidak ingin jika merkeka melakukan hal demikian." Zara menggelengkan kepalanya pelan seolah menepis pikirannya.
"Kembali lah beristirahat." Ran akhirnya merebahkan tubuhnya dikasur diikuti Zara.
...*****...
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 08.30 pagi, Zara buru-buru turun dari ranjang karena merasa sangat ingin membuang hajat. Ia berlari sempoyongan ke arah kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Namun pintunya terkunci, dan keinginannya untuk membuang hajat semakin meronta.
"Astaga, aku sudah tidak tahan." sambil memegang perutnya.
Ia pun mulai berpikir bagaimana caranya keluar dari masalah tersebut. Lalu melintas di benaknya untuk pergi ke kamar mandi yang terdapat di kamar Saga.
"Baiklah, aku akan kesana." gumamnya.
Secepat kilat ia berlari menuju kamar Saga. Ketika ia melintasi dapur, Tahira menyapanya namun ia tak menggubris karena panggilan alam yang mendesak.
"He? Ada apa dengannya?" tanya Tahira seorang diri.
Ketika sampai di depan kamar Saga gadis itu mengetuk dengan cepat.
"Saga.. Saga.. Keluarlah!" teriaknya dengan tidak sabaran.
Setelah beberapa detik pintu kamar Saga terbuka lalu ia terkejut melihat Zara yang datang dengan wajah pucat dan terlihat seperti tergesa-gesa.
"Kau kenapa?" tanya Saga.
Gadis itu tak menjawab, ia langsung menerobos masuk dan membuat Saga heran.
"Hei, kau mau apa?" tanya Saga sedikit geram.
Zara berbalik sejenak lalu menatap penuh permohonan agar Saga tak murka.
"Aku pinjam kamar mandimu sebentar."
Saga kembali dibuat terkejut dengan ucapan gadis itu yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
...*****...
Zara kembali berlari setelah keluar dari kamar Saga. Gadis itu seperti orang yang sedang menemukan sebuah harta terpendam, namun wajahnya tidak bahagia melainkan gusar dibalut kecewa. Kakinya terus berlari kecil melintasi apartemen itu mencari-cari keberadaan Saga. Ingin sekali dirinya meninju wajah sepupunya itu. Kemudian ia mengingat jika tadi Tahira berada di dapur dan segera kakinya dilangkahkan ke dapur.
"Sial! Kemana mereka." umpat Zara yang merasa putus asa karena tak menemukan Tahira maupun Saga disana.
Ia duduk di depan pentri sembari meneguk segelas air putih. Tak lama Ran datang dan menyapanya.
"Hei, sedang apa?" tanya Ran, saat itu pandangannya melekat pada tangan Zara yang menggenggam kuat gelas kaca.
"Chibi-chan, apa kau baik?" tanya Ran lagi untuk mengetahui ada apa dengan gadis ini.
Zara beralih menatap Ran dengan penuh kekecewaan yang sebenarnya ditujukan untuk Saga.
"Kau pasti tidak percaya apa yang telah ku temukan di kamar mandi Saga." ucap gadis itu yang lagi-lagi terdengar ambigu.
"Maksudmu?" Ran mengernyit.
"Ini sulit sekali untuk dipercaya. Ada pengaman habis pakai disana." kini Zara menunjukkan ekspresi cemas.
"Apa? Benarkah?" tanya Ran yang nampak tak percaya.
"Kau meragukan ku?" Zara mulai tersulut emosi.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu maksudku. Coba kau terangkan asumsimu, aku akan mencoba menyimpulkan." balas Ran.
Zara menahan gejolak emosinya, lalu mengatur nafas.
"Aku merasa mereka terjebak dalam cinta yang salah. Semalam aku masih ragu setelah melihat mereka berciuman dalam keadaanku yang setengah sadar, tapi pengaman habis pakai itu meyakinkanku. Mereka telah.." Zara menghentikan ucapannya yang di awali dengan nada menggebu-gebu lalu seketika kekecewaan menyeruak ke dalam dadanya. Zara menutup matanya dalam.
"Jadi mereka inses?" tanya Ran yang berusaha menyimpulkan.
Zara tak menjawab, gadis itu hanya mendengus berkali-kali menahan rasa marah dan kecewanya. Pasalnya ia tak menyangka lelaki yang lebih tua darinya 6 tahun itu telah melakukan hal yang tidak wajar dan tercela dari sisi manapun dan dari kalangan apaun.
"Kemana mereka? Aku ingin sekali menemui Saga dan menampar wajah pria itu." ucap Zara yang tanpa sadar telah kehilangan kendali.
Melihat ekspresi wajah Zara yang tidak biasa membuat Ran terkejut, pasalnya gadis itu tak pernah semarah ini dan ditambah lagi wajahnya menggelap akibat amarah.
"Tenangkan dirimu. Bisa saja kita salah." Ran memegang kedua bahu Zara.
"Apa lagi yang salah?" tanya Zara ketus dan mulai menampakkan wajah dinginnya.
'Astaga, ternyata gadis ini punya sisi dingin juga. Aku sudah setahun bersamanya dan aku baru tahu dia memiliki emosi seperti ini. Menakutkan.' batin Ran.
Ran beralih pada tangan Zara yang menggenggam erat gelas kaca. Terlihat gelas itu hampir pecah. Benar-benar mengerikan. Ran segera melepaskan gelas kaca dari genggaman Zara lalu menyinpannya di pentri. Sedetik kemudian pria itu menggenggam tangan Zara kuat agar gadis itu sadar dan bisa mengendalikan dirinya.
"Tenanglah! Kita harus memastikan semuanya dengan bertanya kepada mereka agar tidak terkesan buruk sangka." ucap Ran.
Gadis itu mencerna ucapan Ran. Benar. Jangan sampai dirinya hanya berburuk sangaka saja. Zara akhirnya menahan segala emosi yang menyulutinya lalu mulai mengendalikan diri.
"Kau benar. Tapi bagaiamana jika asumsi ku benar?" tanya Zara.
"Jika asumsimu benar, maka kau harus menerima." jawab Ran terlihat begitu tenang.
"Apa?" tatapan tajam tertuju pada Ran.
Sebenarnya dalam benak Ran juga menerka permasalahan ini karena bisa jadi asumsi Zara benar. Tapi, ia berusaha sekuat tenaga untuk tenang di hadapan Zara. Karena jika mereka sama-sama menyemburkan api, maka hanya akan ada kebakaran dalam masalah ini. Jadi Ran berusaha menjadi air untuk memadamkan semburat api Zara.
"Apa yang kau rasakan ketika bersamaku?" tanya Ran yang membuat Zara mengernyit.
"Kenapa bertanya? Sudah jelas bukan, ketika aku bersamamu, aku merasa nyaman dan dicintai." jawab Zara ketus sekaligus merasa bingung dengan pertanyaan Ran.
"Mungkin saja Saga dan Tahira merasakan seperti yang kita rasakan, Aku dan kau yang saling mencintai dan memberi kehangatan. Hanya saja mereka salah tempat." jelas Ran masih dengan ekspresi tenang.
Zara baru paham maksud dari pertanyaan aneh Ran tadi. "Tapi ini tidak bisa dibiarkan kak, mereka akan dalam bahaya jika menjalin hubungan tidak wajar seperti itu." wajah Zara kembali cemas.
"Aku pernah mendengar bahwa hubungan inses akan berpengaruh pada keturunan mereka, dan juga mereka akan mengundang musibah bagi diri mereka dan juga orang-orang disekitar mereka." tambah Zara.
"Jangan berpikir terlalu jauh, kita masih berasumsi, belum terbukti. Yang paling penting sekarang adalah kita harus membuktikan kebenarannya terlebih dahulu. Jika kenyataannya memang seperti itu, maka kita hanya bisa pasrah. Tak ada yang bisa kita lakukan, mereka punya pilihan dan bebas menentukan hidup mereka." tukas Ran.
Zara memalingkan wajahnya ke arah ruang tengah, ia mulai memijit pelipisnya. Pusing.
"Bersikaplah seperti biasa ketika mereka kembali. Jaga emosimu, mengerti!" Ran menarik dagu gadis itu untuk menatapnya.
"Wakatta." jawab Zara mengangguk lesu.
Bukan tanpa alasan Ran menyuruh Zara bersikap tenang. Masalah ini adalah masalah yang sensitif jika salah langkah maka semuanya akan berantakan. Mungkin saja Saga dan Tahira akan membenci mereka jika mereka langsung menghakimi dan berkata kasar pada hubungan salah kakak beradik itu.
__ADS_1
Tak lama berselang pintu apartemen terdengar berbunyi tanda ada yang masuk. Setelahnya tampak Saga dan Tahira berjalan sejajar menuju dapur hendak menghampiri mereka.
"Ingat! Bersikaplah seperti biasa!" bisik Ran.