My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 25 : Nara Aizuko Genpo


__ADS_3

Dua hari berikutnya Zara lalui dengan sedikit terbayang kerinduan akan ibunya, tak jarang ia kembali menangis ketika mengingat wajah ibunya terakhir kali di pelabuhan. Ditambah lagi Ran memberitahu dirinya bahwa sang ibu sedang melakukan pengobatan akibat penyakit yang dideritanya, hal ini membuat Zara semakin bersedih. Entah penyakit apa yang diidap Tamara dan entah berapa lama dia akan tinggal di sana.


Saat inu Zara sedang duduk di depan cermin meja riasnya merapikan dasi dan kerah baju seragam sekolah. Yah, hari ini dan tiga hari kedepan ia akan melaksanakan ujian akhir. Gadis itu berharap kesedihannya tidak membuat semangat untuk menyelesaikan soal ujian menurun. Zara menatap cermin di hadapannya yang memantulkan cahaya dirinya. Seorang Zara yang sebentar lagi akan menyelesaikan sekolah menengah atas, dan bertekad untuk melanjutkan kuliah di sebuah universitas terkenal di kota itu.


"Baiklah, semangat!" Ujar Zara pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian menghela napas untuk menghilangkan rasa gugup.


Tak berapa lama menatap cermin, muncul seorang lelaki berwajah tampan dan berpakaian rapi sedang berdiri di belakangnya. Bayangannya terpantul di cermin, lalu ia perlahan melangkah maju ke arah Zara.


"Ganbatte (semangat)!" Ucapnya memeberi semangat.


Zara membalikkan badannya. "Terima kasih." Ucap Zara dengan senyum malu.


"Ayo kita berangkat!" Ran tersenyum sangat manis.


Zara yang melihat senyum itu seketika merasakan kehangatan di hatinya. Baru kali ini dirinya melihat senyum manis seperti itu, bahkan mungkin jika ia yang tersenyum tidak akan semanis itu. Zara mematung.


"Hei Chibi-chan, ayo berangkat!" Suara Ran menembus telinganya.


Zara tersadar. "Eh, iya."


Mereka akhirnya beranjak dari kamar menuju teras. Beberapa saat berselang mereka pun melesat meninggalkan rumah.


Kenapa pagi ini rasanya jantungku seperti berdebar dua kali lebih cepat yah? Kenapa pula ketika Kak Ran tersenyum aku jadi merasa nyaman dan hangat. Dan apa pula nama yang diberikannya untukku, Chibi-chan? Bukankah itu artinya imut? Astaga, manis sekali. Ucap Zara dalam hati sembari melirik ke arah Ran sekilas.


Dua puluh lima menit kemudian akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah Zara. Gadis itu bersiap untuk turun tanpa menoleh ke arah Ran. Melihat hal itu Ran spontan menarik tangannya.


"Hei!" Panggil Ran. Zara berbalik dengan satu tangannya hendak membuka pintu mobil.


"Kemarilah!" Perintah Ran.


Zara mendekat tanpa menaruh rasa curiga. Seketika sebuah ciuman mendarat di keningnya tanpa bisa dicegah. Gadis itu terkejut bukan main. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat.


'Apa ini? Kenapa dia menciumku?' Batin Zara dengan kening yang terasa panas.


Gadis itu memandang Ran. Zara berpikir sejenak, rasa nyaman perlahan merasuk ke dalan jiwanya. 'Jika dia memberiku kenyamanan seperti ini, bagaimana bisa aku hidup tanpanya?' Lagi-lagi Zara membatin. Kemudian ia tersadar dan menarik pandangannya dengan gugup. Ran tersenyum simpul.


"Selamat Berjuang! Semoga beruntung!" Ucap Ran yang diangguki oleh Zara.


Sebelum Zara keluar dari mobil ia berbalik lagi sejenak memandang Ran. "Hati-hati!" Ucapnya dengan senyum tipis lalu beranjak.



Setelah selesai ujian, Zara pun mengajak Faykah untuk rehat sejenak di kantin sembari membicarakan peristiwa malam itu, yang membuat Faykah terkejut ketika ada seorang lelaki yang mengangkat telfonnya. Mereka memilih duduk di kursi paling sudut kantin yang terlihat sepi agar lebih nyaman. Segelas milkshake telah menemani acara rehat mereka di jam istirahat kali itu.


Zara mengaduk sebentar milkshake kepunyaannya kemudian menyeruput dengan gaya elegan. Hal yang sama dilakukan oleh Faykah, tetapi gadis itu nampak tak melepas tatapan tajamnya pada Zara. Yang artinya ia sedang menunggu penjelasan dari sahabatnya itu. Zara yang merasa paham akhirnya berhenti menyesap milkshake, gadis itu mulai menjelaskan.


"Pertama, aku mau memberitahumu semua yang terjadi ketika kau telah memberiku ide buruk untuk memgerjai kedua lelaki itu." Zara mengawali.


"Oh ya, bagaimana hasilnya?" seketika Faykah terlihat antusias, rupa-rupanya ia belum tahu betapa menderitanya Zara mengeksekusi ide buruknya.


Sementara Zara terlihat sedang mengumpulkan kata-kata. Sebab akibat dari ide buruk itu, ia jadi harus mengalami pelecehan. Mata Zara tertuju pada Faykah. Ia sengaja menatap sahabatnya itu dengan tatapan membunuh. Faykah mengernyit sebab mulai merasakan keanehan dari sikap Zara.


"Hei, kau kenapa Zara?" Faykah bertanya dengan takut-takut.


Zara menghela napas sesaat, "Karenamu aku hampir saja diperkosa oleh Raka. Kau tahu apa yang diperbuat si mesum itu padaku? Dia memasukkan ku ke dalam kamar mandi dan nyaris menciumku. Lalu apa yang kulakukan? Aku pulang dalam keadaan gemetar seperti orang setres hari itu. Itu yang pertama." gadis itu menjeda dengan helaan napas lagi.


"Dan yang kedua adalah ketika aku.." Zara mengingat segala rentetan adegan yang dilakukannya bersama Ran, ia merasa hal itu tidak perlu diceritakan.


"Yang kedua tidak ada.. Lupakan saja! Intinya karenamu aku nyaris saja kehilangan kehormatan." tatapan Zara semakin tajam.


Faykah mengerjapkan matanya. "Wowwowowowowo.. Sabar nyonya, sabar! Kenapa kau jadi menyalahkanku seperti ini? Aku hanya memberimu ide. Salahmu karena kau mengeksekusinya." Faykah membela diri.

__ADS_1


"Astaga anak ini. Jika kau tidak memberiku ide, maka aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu." Ketus Zara.


"Iya sudah. Maafkan aku. Jangan marah ya. Aku juga tidak tahu jika kejadiannya akan seperti itu. Maafkan aku yah Zara yang manis." Faykah mengalah. Memang benar ini semua kesalahannya. Zara memberenggut sesaat untuk mengekspresikan kekesalannya.


"Dan selanjutnya aku ingin meluruskan perihal malam itu. Kak Ran menjawab panggilanmu dan berkata dia kekasihku. Sudah jelas kan, mulai sekarang segera lupakan masalah itu." ucap Zara lega namun tak bersemangat.


"Ooh seperti itu." Jawab Faykah singkat sambil mengangguk.


"Lalu apa sekarang?" Tanya Zara kemudian.


"Tapi apkah kau masih berpacaran dengan Raka?" Tanya Faykah lagi. Rasa penasaran gadis itu seolah tak pernah sirna.


"Tidak." jawab Zara datar.


"Mengapa?" Faykah menaikkan sebelah alisnya.


"Karena aku telah melaporkan Raka kenkepala sekolah setelah ia melakukan hal itu padaku." jawab Zara ketus, terlihat jelas jika ia benar-benar tidak ikhlas menyebut nama Raka.


Faykah tercengang, "Benarkah? Berani sekali kau. Dia kan keponakan kepala sekolah."


"Tentunya aku tidak sendiri." balas Zara sembari kembali mengaduk milkshakenya dengan sedotan.


"Lalu?" wajah Faykah semakin memancarkan rasa keingintahuan.


Zara kembali memberenggut, sebenarnya ia tidak suka membahas perihal kejadian itu tapi karena Faykah adalah sahabatnya, terpaksa ia meneruskan, "Aku meminta bantuan Kak Ran. Dan dengan cepat kasusnya diselesaikan."


"Apa yang terjadi pada Raka?" serang Faykah cepat.


"Aku tidak tahu. Dan tidak mau tahu." jawab Zara disertai dengusan.


Faykah menggeleng tak menyangka, "Benar-benar anak itu. Eh, tapi bagaimana sekarang hubunganmu dengan Kak Ran? Apa dia tidak pernah memarahimu lagi?" Tanya Faykah.


"Sudah apa? Perjelaslah kata-katamu!" desak Faykah.


"Sudah menjadi.. Menjadi.. Ba.. Baik." Zara terbata-bata.


"Benarkah?"


"Yah, benar."


"Jadi sekarang apa rencanamu?" Faykah akhirnya mengalihkan topik. Zara bernapas lega.


"Entahlah. Kau?"


"Setelah aku lulus dari sekolah ini, aku akan berkuliah di luar kota." ucap Fauykah lalu tersenyum simpul.


"Hah?" Zara sedikit tercengang.


"Yah, setelah ini orang tuaku akan memperkenalkanku dengan seseorang yang merupakan penerus tunggal pengusaha kaya raya. Lalu aku akan dinikahkan dengannya." Faykah tampak menjelskan dengan santai.


"Apa? Menikah? Kau kan masih muda." Zara terkejut.


"Whatever. Aku bisa apa?"


"Apa kau bahagia?" Zara bertanya dengan mengernyit.


"Aku bahagia. Siapa yang tidak bahgia dijodohkan dengan pengusaha haha?" Ucap Faykah sembari terkekeh di akhir kalimatnya.


...


Setengah jam lamanya mereka menunggu sembari berbincang di depan gerbang mengenai banyak hal. Dan akhirnya Faykah lebih dulu beranjak meninggalkan sekolah. Sementara Zara memilih mengirim pesan kepada Ran.

__ADS_1


Kak, aku sudah pulang


Tak berapa lama gadia itu hendak beranjak namun tiba-tiba seseorang menghampirinya. Zara menoleh, ternyata orang itu adalah Raka. Seketika jantungnya berdebar sangat kencang.


"Hai Zara. Aku.. Aku ingin minta maaf soal sikapku tempo hari. Aku sungguh merasa bersalah. Maafkan aku." Ucap Raka yang membuat Zara tercengang.


'Aku kira anak mesum ini tidak punya rasa bersalah.' Celetuk Zara dalam hati.


"Ah, iya tidak masalah. Aku pergi dulu." gadis itu langsung pergi meninggalkan Raka karena tidak tahan berada di dekat lelaki itu. Jika bukan karena trauma Zara mungkin akan meladeninya dengan baik. Gadis itu terus berjalan dengan santai menuju rumahnya, di pertengahan jalan ia kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk rehat sejenak di sebuah bangku taman sekitar. Perjalanannya ke rumah masih panjang.


"Kenapa belakangan ini aku sering kelelahan?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tak lama seorang lelaki dewasa dengan setelan jas yang terlihat sangat rapi ikut duduk di sebelahnya sembari meletakkan ponselnya di telinga. Melihat itu Zara hanya terdiam. Tak lama berselang lelaki itu menutup telfonnya lalu menoleh ke arah Zara.


"Hai, sedang apa?" Tanya lelaki itu tiba-tiba.


Jika Zara tidak salah melihat, wajah lelaki ini sangat tampan dan kira-kira seumur Ran. Gadis itu membalas dengan senyum ramah. "Em hai, aku sedang.. Yah beristirahat."


"Oh seperti itu." lelaki itu ikut tersenyum. "Kalau begitu perkenalkan, Aku Nara." Ucap lelaki itu yang ternyata bernama Nara sembari menjulurkan tangannya.


Zara membalas. "Namaku Zara."


"Kau tinggal di mana?" Tanya Nara.


"Eh, sekitar sini. Sekitar satu kilo meter dari sini." Zara tidak tahu bagaimana cara menjelaskan letak rumahnya.


Nara mengangguk. Kemudian menatap gadis itu dari atas samapi bawah, ia terkejut ternyata Zara seorang siswi. "Kau sekolah dimana?" Tanya Nara lagi.


"Emperor High School." Jawab Zara singkat.


Mereka terlibat percakapan selama beberapa menit. Nara memperkenalkan dirinya dan memberitahu pada gadis itu jika ia sedang tersesat. Zara terkekeh.


"Aaammm, kalo begitu aku pergi dulu. Oh iya ini kartu namaku. Siapa tahu kau membutuhkan sesuatu, jangan segan untuk menghubungiku." Nara mengangsurkan sebuah kertas kecil.


Zara mengambil kartu nama tersebut sembari tersenyum. Lelaki itu bangkit lalu beranjak sambil melambaikan tamga. Setelah Nara beranjak Zara pun memutuskan untuk beranjak juga.


Setelah sampai di rumah, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang kemudian berguling-guling tak jelas untuk melepas rasa lelah. Lalu ia teringat dengan lelaki bernama Nara. Gadis itu merogoh saku baju seragam sekolahnya untuk mengambil kartu nama yang diberikan lelaki itu padanya.


Chief Executive Officer of Nara Group


Nara Aizuko Genpo


"Astaga, dia seorang CEO." Zara kembali meletakkan kartu nama tersebut lalu memutuskan untuk tidur.


...


Siang itu Ran sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen di ruang kerjanya. Lalu dari arah pintu Surya masuk untuk menemuinya.


"Bos, hari ini CEO Nara Group akan datang kemari." Ucap Surya.


"Bawa mereka ke ruang eksekutif." Perintah Ran.


"Baiklah." Jawab Surya kemudian berlalu.


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2