
15 tahun berlalu..
Impian menjadi orang tua adalah salah satu kebahagiaan yang ingin diwujudkan oleh pasangan Ran dan Zara. Mereka selalu berusaha dengan keras untuk bisa merealisasikan impian-impian itu. Dan sekarang mereka telah merasakan hal tersebut. Memiliki Naura dan anak kedua mereka Kirara.
Kelahiran putri kedua mereka itu menjadi akhir dari penantian anak selanjutnya. Karena Zara difonis tak bisa lagi memiliki keturunan akibat tumor pada rahimnya yang berakhir pada pengangkatan. Sedih sudah pasti menyelimuti hati mereka. Namun, rasa syukur atas kehadiran dua permaisuri cantik itu lebih besar sehingga perlahan kesedihan mereka menguap.
Hingga tahun-tahun berlalu begitu saja dan kedua permaisuri kecil mereka telah tumbuh menjadi Gadis remaja. Naura telah menginjak usia 19 tahun dan telah menjadi mahasiswa. Sedangkan Kirara berusia 15 tahun, dan masih berada di bangku sekolah menengah pertama kelas sembilan.
Ran dan Zara merawat kedua putri mereka dengan baik. Namun tak jarang kedua orang tua Naura dan Kirara itu terjebak dalam pola pengasuhan yang keliru. Contohnya pada saat mendidik Kirara, Ran cenderung memanjakannya yang berakibat pada pembentukan sifat Kirara yang ketergantungan dan egois. Semua hal harus sesuai dengan keinginannya.
Jika Kirara adalah gadis manja yang egosi maka berbeda halnya dengan Naura. Gadis belia berwajah cantik itu memiliki sifat yang bertolak belakang dengan sang Adik. Rendah hati dan cenderung mandiri telah menjadi kelebihan yang amat kental dari Naura.
Saking rendah hatinya gadis itu, selalu saja ia mengalah pada sang Adik dalam hal apapun. Bahkan untuk sesuatu yang paling Ia sukai. Contohnya, ketika sepupu mereka yang bernama Bara mampir dan membawa hadiah untuk Naura. Maka si gadis manja Kirara selalu meminta hadiah tersebut padahal benda itu dikhususkan untuk kakaknya.
Namun begitu Naura tak pernah kesal ataupun menyesal mempunyai adik seperti Kirara dikarenakan rasa sayang yang begitu besar. Karena baginya kebahagiaan Kirara lebih penting walau hal itu harus merugikannya. Sifat rendah hati itu ditanamkan pada Naura oleh kedua orang tuanya, namun tidak pada Kirara. Sehingga bentukan kedua gadis itu berbeda.
"Otousan. Hari ini aku mau berangkat ke sekolah bersama Kakak saja." Ucap Kirara dengan mulut yang masih penuh makanan.
Sontak Ran, Zara dan Naura memandangi gadis itu. Adab ketika makan adalah diam. Ran sudah mengajarkan hal itu pada kedua putrinya, namun tampaknya Kirara selalu menjadi pelanggar.
"Habiskan makananmu dulu Kira." Sahut Naura menasihati adiknya.
Kirara mengerucutkan bibir dan memutuskan untuk menghabiskan makanan dalam mulutnya dahulu.
"Kak Bara akan menjemputku dan pergi ke kempus bersama. Tidak masalah kan Otousan, okaasan?" Tanya Naura ketika mereka telah selesai sarapan.
Ran memandangi putrinya sambil tersenyum simpul. "Tidak masalah, yang penting jaga sikap yah."
"Baik otousan." Jawab Naura tanpa ada penambahan.
Sementara Kirara mendengus kesal dengan ucapan sang Ayah yang tertangkap sebagai celotehan tak penting di kepala kecilnya.
'Jaga sikap apa sih maksud otousan? Bukankah Kak Bara itu sepupu yah, kenapa harus bersikap sopan. Huh, kesal sekali jika harus menghormati lelaki itu.' Celetuknya dalam hati.
Jaga sikap yang dimaksud Ran tentu berbeda dengan yang tertangkap oleh Kirara. Ran mewanti anak gadisnya, Naura agar bersikap wajar pada Bara. Mengapa? Karena ia tahu akan jadi seperti apa jika Naura dan Bara dibiarkan bersikap bebas.
"Otousan pamit dulu." Ucap Ran yang kemudian mencium kening Zara, istrinya. Lalu beranjak mencium pucuk kepala kedua putrinya.
"Kira, ingat yah! Belajar dengan giat." Pesan Ran sebelum meninggalkan rumah.
"Iya Otousan." Jawab gadis itu malas.
Ran lalu mengelus lembut rambut Kirara kemudian beranjak.
"Kakak! Aku mau duduk di sebelah Kak Bara yah." Bisik Kirara pada sang Kakak.
"Loh kenapa?" Tanya Naura sambil mengernyit.
__ADS_1
"Aku mau dekat-dekat sama dia. Siapa tau Kak Bara bisa suka sama Kira." Bisiknya lagi sambil tersenyum menyeringai.
Naura semakin mengernyit mendengar pernyataan sang adik. 'Aneh-aneh saja.'
Sementara Zara telah meninggalkan mereka untuk membersihkan dapur.
Lima belas menit kemudian suara klakson mobil Bara sudah terdengar di luar sana. Dengan cepat Kira bangkit mendahului sang kakak menuju pagar. Gadis itu dengan tidak tahu dirinya mengambil posisi duduk di depan tepat di sebelah Bara sang pengemudi.
"Selamat pagi Kak Bara." Sapa Kira dengan menunjukkan senyum lebar yang menampakkan giginya yang putih.
Bara tampak kikuk dengan kelakuan adik sepupunya itu. Tapi tidak terlalu memikirkannya karena sudah terbiasa.
"Selamat pagi." Balas Bara dengan nada datar.
Lelaki itu menoleh ke belakang dimana Naura duduk. Memerhatikan wajah gadis itu sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Kak Bara jahat. Tadi saat aku menyapa, tidak tersenyum seperti itu." Protes gadis 15 tahun yang duduk di sebelah Bara.
Bara dan Naura tertegun mendengar protesan Kira. Mereka saling melempar pandangan.
"Em, tidak Kira. Tidak seperti itu." Sanggah Naura sambil menarik pandangannya dari Bara.
"Tidak. Tidak. Jangan berbohong, aku liat sendiri kok." Ketus Kira sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Bara menggelengkan kepala kemudian berbalik dan mulai menyalakan mesin mobil. Dalam hati ia merutuki sikap Kira yang menurutnya terlalu frontal dan terkesan membuat dirinya kesal.
'Memangnya kenapa jika aku tersenyum pada Naura? Apa salah jika tersenyum pada orang yang kita sayang? Dasar bocah aneh!' Ucap Bara dalam hati sambil menatap Kira sinis.
"Sudah sampai." Ucap Bara datar.
Kira melirik lelaki itu sekilas dan menangkap pandangan matanya. Gadis itu terpaku sambil mulai menoleh pada Bara.
'Kak Bara, kenapa tampan sekali?' Celetuk Kira dalam hati.
"Sudah sampai Kira!" Ucap Bara lagi dengan nada yang sedikit tinggi.
Kira tersadar dari lamunannya dan seketika gelagapan. "Iya. Iya." Ucapnya lalu melepaskan sabuk pengaman.
"Kakak aku pamit." Kira menoleh pada kakaknya Naura.
"Iya. Hati-hati, belajar yang benar." Balas Naura Sambil tersenyum.
Kedua gadis kakak beradik itu sama-sama turun dari mobil. Naura akan berganti duduk di depan menggantikan Kira yang akan segera masuk ke dalam sekolahnya.
"Ingat yah Kak, jangan macam-macam sama Kak Bara! Soalnya aku suka, mau aku jadikan pacar." Ucap Kira tiba-tiba di telinga sang kakak. Selepas mengucapkan hal itu dia pergi begitu saja.
"Eh?"
__ADS_1
Naura tentu tertegun mendengar ucapan adiknya. Dari mana gadis itu mendapat kosa kata pacar? Naura menggeleng pelan tak habis pikir.
"Ada-ada saja." Gumamnya yang kemudian beranjak masuk ke dalam mobil.
...*****...
"Apa kabar dengan tugas makalah filsafat mu? Sudah selesai kah?" Tanya Bara memulai percakapan diantara mereka.
Naura tersenyum canggung. Tugasnya baru selesai setengah.
"Belum." Jawabnya singkat.
"Apa tugas itu sulit? Mau ku bantu?" Tawar lelaki itu dengan nada yang terdengar tulus.
"Tidak. Tidak usah." Naura menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Bara lagi. Lelaki itu melembutkan suaranya.
"Aku tidak mau merepotkan kakak." Jawab Naura sambil tersenyum.
"Baiklah. Sepertinya aku lupa kalau gadis di sebelahku ini adalah gadis mandiri."
"Kakak bisa saja." Naura menuduk malu.
Mobil hitam merek ternama yang dikendarai oleh Bara itu pun akhirnya memasuki area parkir kampus khusus mobil. Naura melepaskan sabuk pengamannya.
"Terima kasih kak." Ucap gadis itu sebelum turun.
Bara menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa berterima kasih terus setiap kali kita berangkat bersama? Sudahlah, kau tidak perlu berterima kasih. Anggap saja ini adalah kewajibanku sebagai sepupu yang bertanggung jawab."
"Mm baiklah. Tapi, aku harus tetap berterima kasih." Gadis itu menunduk dengan rasa hormat.
Bagi Naura, Bara adalah sepupu sekaligus kakaknya. Jadi, sudah sepantasnya ia bersikap sopan dengan bertetima kasih kepada lelaki tersebut.
"Ya sudah. Ayo kita masuk." Bara akhirnya menyudahi percakapan mereka.
Keduanya pun berjalan menuju gedung utama kampus.
.
.
.
.
.
__ADS_1
***Bersambung........
jangan Lupa Like+Komen๐๐***