My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 78 : Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Ran dan Tuan Kitora memerhatikan interaksi anak mereka yang terkesan begitu kaku. Namun keduanya tersenyum karena merasa hal itu wajar. Dalam hal perjodohan ini mereka mengharapkan yang terbaik pada keduanya. Itulah sebabnya Ran dan Tuan Kitora sengaja memantau apapun yang keduanya lakukan untuk menjaga agar Naura dan Ren tetap menjaga batas.


Sebisa mungkin mereka harus tetap bertemu untuk saling mengenal namun dalam ranah yang wajar. Sebagai orang tua tentulah Ran dan Tuan Kitora memahami watak dan kehidupan anak mereka.


"Aku sangat bangga pada putriku. Karena sedari dulu dia tidak pernah mengenal lelaki, juga berhubungan dengan sisapapun." Ucap Ran kepada Tuan Kitora.


Lelaki paruh baya yang merupakan Ayah Ren itu seketika mengembangkan senyum khasnya.


"Sesungguhnya ini yang membuatku tertarik menjadikan anak Tuan Amakusa sebagai calon menantu. Karena jujur saja, Ren juga tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Jadi kurasa mereka sangat cocok." Ucap Tuan Kitora.


"Harapanku kedepannya, semoge mereka benar-benar berjodoh. Sama seperti Ren yang berjiwa baik, aku ingin Putriku juga sebaik Ren agar mereka bisa bersanding. Sebagaimana yang kita ketahui, orang baik akan mendapatkan orang yang baik pula." Ran menatap lelaki paruh baya itu.


Tuan Kitora tampak mengangguk paham. "Anda benar Tuan Amakusa. Maka dari itu saya akan berusaha untuk menjaga Ren dengan baik. Jika boleh jujur, saya merasa Naura sudah sangat cocok untuk Ren."


"Semua hanya menunggu waktu Tuan Kitora. Putriku dan putramu, mereka yang akan memutuskan. Kita sebagai orang tua hanya bisa berusaha untuk kebaikan mereka." Ran tersenyum penuh makna.


Setelah itu tak ada lagi perbincangan yang berarti di antara mereka. Karena waktu telah menunjukkan pukul 18.05, Tuan Kitora dan Ren akhirnya pamit dari hadapan Ran dan Naura.


"Sampai jumpa lagi, Naura-san." Ucap Ren ketika berpamitan pada Naura.


"Sampai jumpa lagi." Kemudian Naura membalas lalu sedikit membungkukkan badannya.


Beberapa detik kemudian kedua lelaki berbeda umur itu akhirnya menghilang di balik pintu. Naura kembali duduk di sofa ruangan ayahnya. Sementara Ran beranjak merapikan barang-barangnya di meja untuk segera pulang.


"Ayo kita pulang, Okaasan sudah menunggu dengan memasak makanan kesukaan kita." Ucap Ran kemudian menatap putrinya.


Naura tersenyum lebar mendengar sang ayah mengatakan hal itu. Seketika bayangan Tamagoyaki memenuhi kepalanya. Yah, makanan rumahan khas Jepang itu adalah makanan kesukaannya bersama sang ayah. Tamagoyaki adalah makanan Jepang berupa dadar telur ayam yang diberi gula dan garam. Rasanya manis dan asin. Walau tinggal di Indonesia, mereka tetap bisa menikmati makanan Jepang. Karena Zara pandai memasak masakan Jepang dan hampir setiap hari tersedia di atas meja makan mereka.


Mereka pun meninggalkan kantor Amakusa Group ketika langit di luar telah gelap.


Beberapa menit berlalu, sebelum mereka benar-benar melesat pulang ke rumah, tentunya mereka mampir dahulu menjemput si bungsu Kirara di sekolahnya.


Gadis berusia 15 tahun itu sedang berdiri melipat kedua tangannya di depan gerbang sekolah. Lalu mulai bergerak dari pijakannya ketika melihat mobil sang Ayah menjemputnya. Kira menghampiri mobil lalu masuk.


"Maafkan Kira Otousan karena sudah merepotkan." Kata Kira ketika mobil sudah kembali melesat.


"Tidak sayang, Otousan tidak keberatan. Apa kau sangat lelah hari ini?" Sahut Ran ramah.

__ADS_1


Pikiran Kira seketika melayang pada kegiatannya tadi bersama Bara. Yah mereka menghabiskan waktu selama dua jam untuk berduaan di dalam satu kamar yang terkunci. Dan hal itu membuatnya merasa sangat lelah.


"Iya Otousan, aku sangat lelah." Ucapnya dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin.


Baginya menyembunyikan sesuatu dari sang ayah adalah kesulitan yang perlu ia waspadai. Sebab jika salah sedikit maka apa yang ia sembunyikan bisa-bisa terbongkar. Apalagi tentang kelakuannya dua hari ini. Kira tidak bisa membayangkan bagaimana ayahnya akan marah ketika tahu bibirnya telah disentuh oleh lelaki.


"Kalau begitu kau tidak usah mengikuti pelajaran tambahan." Ucap Ran khawatir.


"Ah, tidak begitu Otousan. Walaupun merasa lelah Kira tidak bisa meninggalkan kelas tambahan. Karena sebentar lagi Kira akan segera menghadapi ujian akhir." Turur gadis itu yang sebenarnya berbohong.


"Wah, Putri Otousan begitu bersemangat. Kalau begitu belajarlah dengan giat. Otousan akan memberimu hadiah jika kau bisa lulus dengan nilai yang bagus." Puji Ran.


"Terima kasih Otousan." Balas Kira dengan sedikit tersenyum.


Gadis itu kemudian jadi tertegun. Pujian sang ayah membuatnya terharu karena baru kali ini ia mendengar hal itu. Tapi Kira juga jadi merasa bersalah karena pujian itu tidak berguna, sebab apa yang ia lakukan hanya omong kosong.


'Maafkan Kira Otousan, demi kesenangan Kira membohongi kalian. Maaf..' ungkapnya dalam hati.


Sesaat setelahnya gadis itu membuang pikiran yang membuat hatinya tidak tenang dan kembali pada dirinya yang pembangkang. Walau merasa bersalah dia tidak berniat untuk menyelesaikan hubungannya dengan Bara. Karena jika boleh jujur, gadis itu mulai ketergantungan perasaan pada kekasihnya. Sikap Bara yang terkesan romantis itu membuatnya selalu merasa bahagia.


Dua puluh lima menit menempuh perjalanan akhinya mereka sampai di rumah. Naura segera turun disusul oleh Kira. Sementara sang Ayah memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


"Okaasan." Panggil Ran, Naura dan Kira secara serempak.


Zara yang sedang membalik Tamagoyaki seketika terkejut mendengar suara ketiga permata hatinya. Wanita itu berbalik lalu melayangkan senyuman selebar mungkin, menyambut tiga insan kesayangannya itu.


"Duduklah." Sahut Zara pada mereka bertiga seraya mengarahkan pandnagannya ke meja makan.


Dengan semangat ketiganya duduk di meja makan sambil menunggu Zara selesai memasak.


Setelah makanan sudah lengkap tersaji di atas meja, mereka pun mulai menyantapnya.


"Wah enak sekali." Sahut Kira bersemangat.


"Ya kau benar." Naura menimpali.


"Terima kasih, ini untuk Kira dan ini untuk Naura." Zara kemudian menyodorkan makanan kesukaan kedua putrinya. Kira dan Naura serempak menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Melihat itu membuat hati Ran menghangat. Keluarga kecil mereka terasa begitu membahagiakan. Hanya dengan masakan sederhan dan rumah sederhana seperti ini tak menyulitkan mereka untuk bisa merasakan kehangatan. Dan semua ini berawal dari impian Zara dulu.


Bagi Ran hidup sederhana adalah sebuah pilihan yang sangat indah. Walaupun dirinya seorang presdir bukan berarti dia harus hidup bergelimpangan harta. Supir pribadi, pelayan, rumah mewah bak istana pulau pribadi atau apapun itu. Semuanya tidaklah diinginkan hatinya. Karena cukup dengan kesederhanaan ini saja ia sudah merasa menjadi orang yang paling bahagia.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Di kediaman keluarga Tuan Kitora suasana terasa begitu hangat. Walau hanya bertiga, Tuan Kitora dan Istrinya serta Ren tetap bisa menikmati kebersamaan yang hanya terjadi 3 kali sepekan itu. Mereka duduk di ruang keluarga menikmati teh hangat.


"Bagaimana pendapatmu Ren mengenai putri Tuan Amakusa?" Tanya sang Ibu.


Ren tersenyum. "Aku menyukainya bu. Dia terlihat sangat baik, aku begitu terkesan."


"Apa itu artinya kau setuju dijodohkan?" Kali ini pertanyaan datang dari Tuan Kitora.


"Dengan senang hati, Ren setuju ayah." Jawab Ren.


Tuan Kitora dan istrinya saling memandang dengan senyuman yang merekah di bibir mereka. Tentu saja mereka bahagia dengan keputusan Ren.


"Kau memang anak yang pengertian Ren. Ibu sangat menyayangimu." Ucap wanita setengah baya berparas pribumi itu sambil memeluk Ren. Ren balas memeluk sang ibu.


"Aku juga menyayangi kalian berdua. Semua ini Ren lakukan sebagai rasa terima kasih karena telah merawat Ren dengan baik sampai sekarang." Sahut pemuda itu yang membuat Tuan Kitora ikut tersentuh.


"Nampaknya kau sudah dewasa. Berbahagialah nak, ayah sangat bangga padamu." Puji Tuan Kitora.


Ren tersenyum tipis. Semua yang ia lakukan tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan mereka untuk membesarkan dirinya. Terlebih pada sang ibu yang sudah bersusah payah melahirkan dirinya. Ren merasa dengan membahagiakan mereka adalah balasan yang paling baik walaupun tidak akan bisa membalas sepenuhnya perjuangan mereka.


Dan untuk masa lalunya yang sempat mengalami patah hati akibat kisah kasihnya yang tak sampai pada seorang gadis di masa SMA-nya, perlahan mulai ia lupakan seiring waktu. Karena ternyata, takdir hidupnya tidak dipertemukan dengan gadis yang ia cintai itu. Jangankan garis takdir yang tidak bersinggungan, pernyataan cinta pun tak sempat ia utarakan sampai mereka benar-benar berpisah.


Btw, Ren punya masa lalu pas SMA. Ada ceritanya sendiri kok tapi belum ku update. Jadi dia dulu itu ketua kelas yang jatuh cinta sama bendahara kelasnya pas SMA. Berawal dari kekesalannya dengan bendaharanya itu yang lama kelamaan bikin Ren jadi terbiasa dan akhirnya jatuh cinta. Tapi dua-duanya nggak ada yang mau menyet. Jadilah kisah kasih tak sampai. Padahal mereka sering bersama tapi ya gitulah. Takdir tidak mempertemukan. Kapan2 aku update deh, semoga ada yang mau baca😅😅


.


.


.


.


.

__ADS_1


***bersambung.......


jangan lupa like+komen😉😉***


__ADS_2