
Pagi itu cuca begitu cerah, mentari menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat. Burung-burung bernyanyi dengan merdu, langit nampak begitu menawan dengan hiasan awan. Namun berbeda halnya dengan Zara. Pagi itu walaupun cerah tetapi hatinya sedang kalut disebabkan oleh keberangkatan Ran beberapa jam yang lalu.
Gadis itu duduk termenung di taman kampusnya yang terlihat sepi. Ia menatap kosong ke arah air mancur yang ada di hadapannya. Setelah selesai menerima mata kuliah pertama, gadis itu memutuskan untuk menyendiri. Tak ada yang ia pikirkan kecuali Ran. Yah, sepupu sekaligus kekasihnya itu telah meninggalkan Indonesia beberapa jam yang lalu dan kembali menuju tanah kelahirannya di Tokyo. Zara mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan lelaki bermata sipit itu beberapa saat sebelum ia benar-benar hilang dari pandangannya.
Flash back on..
"Aku tahu ini berat, tapi aku harus melakukannya.." Ran berhenti sejenak untuk melihat raut wajah sepupunya itu.
Terlihat jelas senyum yang terulas di wajah Zara seketika memudar, entah karena ia tahu arah pembicaraan Ran atau hanya karena Ran akan meninggalkannya.
"Kita akhiri hubungan kita sampai disini.." lanjut Ran.
Deg.. Zara menelan salivanya yang terasa begitu pahit. Kalimat itu sunggu menohok hatinya. Seketika air matanya menetes, sekujur tubuhnya bergetar lemah. Benarkah yang ia dengar ini? Rasanya seperti impossibsle.
"Ta.. Tapi.. Kenapa kak?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku akan pergi, dan aku tak tahu kapan aku akan kembali." ucap Ran diikuti dengan senyum getir.
Sebenarnya Ran tak ingin hubungan mereka kandas, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain mengakhirinya. Sebab meninggalkan Zara dengan masih menjalin hubungan sama dengan menyiksa gadis itu. Dan Ran tidak ingin membuat gadis itu tersiksa menahan rindu untuknya yang tak tahu kapan akan kembali. Ran akan kembali ke Jepang dan ia tak tahu kapan pastinya ia akan kembali ke Indonesia.
"Tapi.. Tapi, kenapa harus mengakhiri?" tanya Zara yang masih bergetar berusaha menahan isakan tangisnya.
Ran mendekat lalu merapatkan tubuh gadis itu dalam rengkuhannya. Ran mengelus pucuk kepala Zara lalu menciumnya singkat.
"Karena kakak tidak tahu kapan kakak akan kembali. Bisa jadi kakak tak akan pernah kembali lagi."
__ADS_1
Pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Ran sungguh menciptakan rasa sesak didada Zara. Sakit dan sulit baginya untuk bernafas. Akhirnya gadis itu terengah-engah dalam rengkuhan Ran. Tangisnya pecah dan semakin kencang.
"Lalu.. Jika kau pergi.. Siapa yang akan menjagaku? Aku tak punya siapa-siapa lagi kakak." ucap Zara ditengah isakannya.
"Jangan khawatir, Surya akan mengurus mu. Nanti dia akan sering datang ke apartemen." ucap Ran berusaha tenang. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Zara namun apa boleh buat.
Zara melepaskan tautan tubuhnya, lalu menghapus air mata yang membanjiri pipinya.
"Baiklah. Aku akan berusaha menerima situasi ini, karena kau telah mengajariku untuk mengikhlaskan ibuku dan sekarang aku juga akan mengikhlaskan mu, tapi aku punya satu permintaan.." Zara menghentikan ucapannya.
Ran mengernyit. "Apa itu?"
"Wasurenaide..(jangan lupakan aku)" ucap Zara dengan senyuman getir menghiasi wajahnya.
Ran kembali merengkuh gadis itu dan sekarang dirinya meneteskan air mata.
"Tentu." jawab Ran.
Flsah back off..
Terdengar suara seorang lelaki memanggil nama Zara. Seketika lamunan gadis itu buyar. Zara menoleh ke arah sumber suara. Satria. Sosok yang tertangkap oleh pupil matanya. Zara tersenyum singkat lalu mempersilahkan Satria duduk di sisinya.
"Apa aku mengganggu?" Satria mengawali. Pria itu sebenarnya hanya iseng melewati taman lalu kemudian melihat sosok Zara yang duduk sendiri di taman dan akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri sahabatnya tersebut.
"Tentu saja tidak." jawab gadis itu dengan suara lemah.
__ADS_1
Satria baru saja memperhatikan wajah Zara yang terlihat pucat. Dalam benaknya mungkin gadis ini sedang sakit. Satria kemudian bertanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Zara mengangguk pelan.
Satria menatap dalam bola mata Zara. Lelaki itu tak percaya jika sahabatnya tersebut baik-baik saja. Karena siapapun yang melihat wajah pucat pasih itu pasti mereka akan menanyakan hal yang sama dengan yang dirinya tanyakan.
"Kenapa kau selalu saja sok kuat hah? Ayolah katakan pada sahabatmu ini, apa kau sedang sakit?" Satria mencoba membuat Zara mengakuinya.
"Satria.. Aku tidak apa-apa, sungguh." jawab Zara pelan.
Satria menajamkan tatapannya pada Zara, benar-benar menuntut agar gadis itu mengakui bahwa dirinya sedang ada apa-apa. Zara menunduk, tahu maksud dari tatapan tajam Satria.
"Maaf, tapi aku sebenarnya tak apa. Hanya saja aku sedang ingin sendiri."
Mendengar ucapan Zara membuat Satria seperti menyadari posisinya. Jika sahabatnya itu sedang ingin sendiri, mengapa dirinya harus mengganggu? Satria kemudian menarik pandangannya dari Zara lalu bangkit.
"Maaf Zara, aku tak bermaksud mengganggu ketenanganmu. Baiklah aku akan pergi. Oh iya, siapkan dirimu. Tiga hari lagi Aura akan menikah."
Zara mendongak, "Tentu."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menemuiku." ucap Satria kemudian berlalu.
Zara kembali ke posisi awal, duduk mengahadap ke air mancur taman lalu diam mengkhayal.
'Aku hanya belum bisa melupakan Ran, dan aku masih berharap pria yang kucintai itu akan kembali lagi. Karena dia sudah berjanji pada Ayah untuk menjagaku dan kuyakin Ran tak akan mengingkari janjinya itu. Aku yakin.' batin Zara yang kemudian disusul oleh setetes air mata.
__ADS_1