My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 46 : Bagaimana denganku?


__ADS_3

Ketika sampai di mobil Zara segera menyandarkan kepalanya. Melihat itu Ran segera mengemudiakan mobilnya ke arah jalan raya.


"Apa sangat lelah?" tanya Ran.


"Yah." jawab Zara singkat.


"Kalau begitu kita langsung pulang saja." ucap Ran lagi.


"Aku ada kursus kak." jawab Zara malas.


"Sudah ku bilang kan kemarin, tidak usah kursus lagi." protes Ran.


Zara merengek manja. "Tapi kan, aku baru saja bergabung. Tidak mungkin berhenti begitu saja."


"Zaraa.." ucap Ran yang sukses membuat Zara merasa terintimidasi.


"Mm, baiklah." jawab Zara pasrah.


"Jangan sedih. Biar aku yang mengajarmu bahasa Jepang, paham?" ucap Ran melembut.


Zara mengangguk lemah, tubuhnya terasa sangat lelah hingga tenaga untuk menjawab pertanyaan Ran menghilang.


Sebenarnya, Ran tidak masalah jika Zara mengambil kelas kursus bahasa Jepangnya itu, namun ketika Ran tahu ternyata yang megajar di kelas Zara adalah seorang pria, Ran langsung memutuskan agar Zara tak mengikuti kelas itu lagi. Dan juga Zara akan selalu kelelahan jika pulang malam.


Ketika mereka sampai di apartemen waktu telah menunjukkan pukul 18.53. Ran segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya, bersamaan dengan itu Zara merebahkan tubuhnya di ranjang kamar miliknya.


Setelah selesai mandi, Ran beranjak ke kamar Zara untuk melihat apa yang sedang gadis itu lakukan. Pintu terbuka dan memperlihatkan Zara yang masih memakai kemeja putih dan rok berwarna hitam sedang berbaring. Gadis itu belum membersihkan dirinya. Ran menghela nafas dan menghampiri gadis itu.


"Kenapa belum mandi?" tanya Ran dengan suara yang lembut. Ia lalu duduk di samping Zara yang sedang berbaring.


"Aku.. Aku malas kak." jawab Zara lesu.


"Mandilah Chibi-chan. Badanmu pasti lengket kan?" bujuk Ran.


"Aku tahu badanku bau, pergilah! Kau menjengkelkan." balas Zara dengan ketus.


Ran terperanjat mendengar jawaban ketus Zara, sepertinya gadis ini sedang tampramen. Lalu Ran kembali mengingat sembari menghitung tanggal.


'Pantas saja moodnya sangat buruk. Ternyata ini akhir bulan. Mungkin dia sedang datang bulan.' ucap Ran dalam hati.


"Zara sayang, dengarkan kakak yah. Mandi sekarang dan setelah itu kita akan menonton film." bujuk Ran lagi.


"Mmmm, baiklah." jawab Zara malas.


Ia pun beranjak ke kamar mandi dengan langkah yang gontai. Ran tersenyum karena bujukannya sukses membuat Zara bergerak. Segera Ran beralih ke kamarnya untuk menyalakan laptop dan memilih film yang bagus untuk mereka tonton.


Zara pun selesai mandi dan tak mendapati Ran berada di kamarnya. Ia segera mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Beberapa saat kemudian Zara memutuskan untuk pergi ke kamar Ran menagih jajnjinya menonton film.


"Kak." panggil Zara dengan suara manjanya.


Ia pun langsung duduk di samping Ran yang saat itu sedang mengotak atik laptopnya. Lampu di kamar Ran telah padam dan hanya di sinari oleh sinar laptop.


"Mendekatlah, aku ingin merangkulmu. Film ini sangat sedih dan sepertinya kau akan menangis." ucap Ran dengan senyuman menggoda.


"Jangan bercanda!" ketus Zara dengan memandang wajah Ran dengan kesal.


"Kenapa marah-marah terus sih hah?" Ran menaraik Zara untuk mendekat dan merangkulnya.


Zara menghembuskan nafasnya pelan. Ia juga tidak tahu mengapa dirinya hari ini begitu tempramen. Zara bersandar di bahu Ran sembari membalas rangkulan lelaki itu. Beberapa menit berlalu mereka akhirnya menonton film dengan tenang. Malam pun semakin larut dan akhirnya film yang mereka tonton telah usai. Ran menutup laptop lalu beranjak ke ranjangnya diikuti Zara.


"Loh, apa kau mau tidur disini?" tanya Ran heran karena melihat Zara ikut berbaring di ranjangnya.


"He em." jawab Zara singkat.


"Yasudah. Sini biar kupeluk." ucap Ran.


Zara langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Ran agar dipeluk dari belakang. Gadis itu sedang berada di mode mellow sehingga gerakannya terkesan lamban dan manja.


"Ada apa?" tanya Ran sembari memainkan jari telunjuknya di telinga Zara.


Kebiasaan Ran ketika mereka tidur bersama adalah memainkan telinga gadis itu, entah kenapa ia menyukai hal itu yang membuat Zara terganggu. Tapi kali ini gadis itu tidak terganggu sama sekali. Pikirannya kosong.


"Kenapa tidak melawan? Biasanya kau selalu menepis tanganku jika aku melakukan hal ini padamu?" tanya Ran yang sebenarnya tahu ada apa dengan gadis ini.


"Entahlah. Lakukan saja apa yang ingin kakak lakukan. Aku sedang malas melawan." jawab Zara.


"Kau yakin?" tanya Ran memastikan. Otak kelaki-lakiannya seketika terpancing.

__ADS_1


"Hmm." jawab Zara yang sudah menutup matanya.


Seketika Ran langsung menciumi leher Zara dengan possessif. Kesempatan emas, Zara membiarkannya melakukan apapun dan tidak akan disia-siakan olehnya. Ran menghentikan sejenak aksinya untuk melihat respon dari Zara, ternyata tidak ada respon hingga membuatnya kembali melanjutkan aksinya. Hingga terdengar suara ponsel berdering dan ponsel itu milik Ran. Segera ia bangkit dan mengambil ponselnya di atas nakas.


"Ada apa Saga?" tanya Ran setelah mengangkat panggilan yang ternyata dari Saga.


"Mmm baiklah. Lusa aku dan Zara akan berangkat." ucap Ran lagi lalu panggilan pun telah di akhiri.


"Ada apa?" tanya Zara yang tiba-tiba berbalik ke arah Ran.


"Bibi Yumna menyuruh kita untuk berkunjung. Ada acara keluarga nanti dan juga peringatan 70 hari kepergian ibumu." jawab Ran.


"Oh begitu. Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya Zara.


"Aku bilang pada Saga jika kita akan berangkat lusa." jawab Ran.


"Kenapa bukan besok?" tanya Zara.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di kantor agar jika aku pergi Surya tidak terlalu terbebani." jawab Ran.


"Baiklah."


Pagi telah menyingsing dan kehidupan mulai berjalan seperti hari-hari yang telah berlalu. Ran telah berangkat pagi-pagi sekali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sementara Zara hanya tinggal di apartemen karena hari ini dan satu bulan kedepan Zara sudah memasuki libur semester. Kemarin adalah hari terakhirnya melaksanakan ujian final di kampusnya.


Ia terus mondar mandir di dalam apartemen, sesekali ia berdiri di balkon. Merasa bosan, Zara akhirnya memilih duduk di depan televisi. Bukan untuk menonton melainkan memainkan poselnya. Ia melihat ada pesan grub SMA nya dulu. Terlihat sangat ramai, dan akhirnya Zara mengeceknya.


"Wah besok ada reuni." gumamnya.


Zara menggeser kursornya ke bawah dan membaca semua pesan tersebut.


Sore pun menyapa dan menampilkan Ran yang baru saja pulang dari kantor. Zara sedang menyiapkan makanan untuk Ran di dapur hingga lelaki itu menghampirinya.


"Besok kita berangkat pagi." ucap Ran.


"Kak, aku belum bisa pergi besok. Ada reuni dan aku harus menyelesaikan beberapa tugas kampus, nilaiku kurang." sambil tersenyum kecut.


"Hah, banarkah? Lalu bagaimana?"


"Kakak bisa pergi duluan. Aku akan pergi di hari setelahnya."


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendiri."


"Baiklah. Tapi berhati-hatilah. Jaga dirimu."


"Tentu."


...*****...


Keesokan harinya, Ran telah pergi meinggalkan kota menuju desa dimana bibi Yumna tinggal. Sedangkan Zara pergi ke kampus untuk memperbaiki nilainya pasa salah satu mata kuliah yang anjlok. Setelah selesai dari urusan perkampusan, ia segera berangkat ke hotel dimana acara reuni sekolahnya di adakan. Ia telah berjanjian dengan Faykah semalam dan akan bertemu di loby hotel.


"Fay.." panggil Zara.


Wanita itu berbalik dan menampilkan senyum bahagianya melihat Zara telah tiba setelah sekian lama ia menanti.


"Zara, aku rindu sekali." ucap Faykah sambil memeluk tubuh Zara.


"Aku juga." balas Zara.


Mereka pun masuk ke dalam hotel tepatnya di ballroom hotel tersebut. Sangat ramai disana. Reuni ini di rangkaikan dengan beberapa acara tahunan sekolahnya yang di laksanakan oleh Ikatan Alumni SMAnya dahulu jadi banyak sekali yang datang, bukan hanya teman sekelasnya saja.


"Hei lihatlah, siapa yang datang." ucap Faykah yang pandangannya mengarah pada dua lelaki tampan yang sedang menghampiri mereka.


Kedua lelaki tampan itu sukses membuat Zara terkejut. Pasalanya terakhir bertemu dengan mereka, salah satu lelaki itu berkata akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Dan kedua lelaki itu adalah Raka dan Akabir.


"Kalian." ucap Zara terkejut.


"Hai Zara. Bagaimana kabarmu?" sapa Raka.


"Baik." jawab Zara gugup.


"Kudengar kau berkuliah di Emperor Univercity, right?" tanya Raka dengan senyum berbinar.


"Ya, seperti itulah." jawab Zara yang terlihat masih gugup. Entah apa yang membuat gadis itu gugup ketika melihat Raka.


Ada dua kemungkinan, yang pertama karena Raka adalah mantannya dan orang yang hampir melecehkannya lalu yang kedua Raka adalah satu-satunya orang yang memberinya hadiah permintaan maaf di hari terakhir sekolah dan juga menyatakan perasaannya pada Zara.


"Faykah, kau juga kudengar sudah menikah." ucap Raka pada Faykah karena tak ingin membuat Zara semakin gugup.

__ADS_1


"Yah benar. Kau tidak perlu bertanya karena suamiku adalah rekan bisnis papamu." jawab Faykah ketus, ia tahu Raka hanya basa basi.


Raka hanya tersenyum tipis lalu kembali memandang Zara yang saat ini sedang menunduk. Kemudian Raka memberi isyarat kepada Akabir dan Faykah agar meninggalkan mereka berdua. Akhirnya kedua orang yang diusir oleh Raka tersebut beranjak.


"Zara, ada apa? Kenapa terus menunduk?" tanya Raka basa basi.


Zara menatap lelaki yang pernah menjadi kekasih terpaksanya itu. Penampilannya sekarang benar-benar berbeda dari 6 bulan yang lalu. Sekarang Raka terlihat lebih rapi dan tampan karena rambutnya disisir. Berbeda ketika merka bertemu terakhir kali, Raka justru seperti preman sekolah.


"Tidak, tidak apa." jawab Zara sambil tersenyum.


"Kalau begitu mari kita ke sudut sana. Aku ingin banyak berbicara denganmu, dan akan lebih nyaman jika duduk." ajak Raka yang langsung diangguki oleh Zara.


Setelah mereka duduk di sudut ruangan yang besar itu akhirnya Raka memulai obrolan mereka setelah beberapa saat hening.


"Bagaimana sekarang kehidupanmu?" tanya Raka yang menatap Zara dengan tatapan kagum.


"Berjalan dengan lancar." jawab Zara singkat.


Tak seantusias Raka, Zara justru merasa tidak nyaman karena baru bertemu kembali dengan Raka setelah kasus mereka di SMA dahulu. Gadis itu masih terbayang dengan perlakuan Raka di hari terakhir sekolah yang tiba-tiba berubah.


"Ku dengar ibumu telah tiada." Raka menghaluskan ucapannya demi menjaga perasaan Zara.


"Iya." jawab gadis itu, terlihat sedih.


"Maafkan aku."


"Tidak apa."


"Bisakah aku sedikit bercerita?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan.


"Tentu." jawab Zara.


"Kau tahu, sekarang aku kuliah di Australi. Disana sangat berbeda dengan disini, apalagi orang-orangnya. Ada banyak wanita cantik disana, dan jika dipikir-pikir akan sangat mudah mendapatkan kekasih. Tapi kau harus tahu, tak satupun dari mereka yang menarik perhatianku.." Raka menjeda curhatannya menunggu reaksi dari Zara.


"Lalu?" tanya Zara sedikit penasaran.


"Karena hanya ada satu gadis yang selalu mengisi pikiranku.. Yaitu.. Kau Zara."


Deg, jantung Zara seketika bereaksi seperti ingin keluar dari tempatnya. Matanya membeliak tak percaya.


"Kau pasti bercanda." tangkas Zara.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Raka.


Zara menatap kedua bola mata Raka dan tak mendapati raut bercanda disana.


"Maaf. Sepertinya aku harus pergi." Zara hendak beranjak namun Raka menahanya.


"Jangan pergi, aku.. Aku masih ingin berbicara denganmu." ucap Raka.


Zara kembali duduk di samping Raka. Kemudian lelaki itu tersenyum lalu melanjutkan ucapannya.


"Jika kau tak keberatan, maukah jika kita menjalin hubungan." Raka tampak gugup.


Zara terperanjat. Lelaki ini benar-benar serius dengan ucapannya ternyata.


"Maaf sebelumnya. Tapi, aku sudah memiliki kekasih." jawab Zara.


"Benarkah?" tanya Raka tak percaya.


"Ya."


"Si.. Siapa orangnya?" tanya Raka.


"Lelaki bermata sipit yang pernah datang bersamaku ketika kasus kita di selesaikan."


"Hah? Bukankah dia.. Dia saudaramu? Apa kau inses?" Raka terbelalak.


"Ahahaha, dasar kau ini. Dia sepupu ku bukan saudaraku."


"Ah sudahlah aku tidak peduli. Lalu bagaimana denganku? Aku sudah terlalu menyukaimu Zara?" lelaki itu menampakkan raut kegetiran.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa dengan perasaanmu karena aku sangat mencintai kak Ran."


"Ohh jadi namanya Ran, yah." Raka menunduk dan terlihat sangat kecewa.


"Maafkan aku."

__ADS_1


"Hmmm tidak masalah."


__ADS_2