
Dan pada akhirnya semua orang akan mengalami kematian. Baik muda maupun tua, sehat ataupun sakit. Zara tahu hari itu akan datang, hari dimana orang yang paling dicintainya pergi. Pergi untuk selamanya.
Satu lagi catatan kelam dalam hidup Zara, setelah kematian ayahnya tiga tahun yang lalu dan sekarang satu-satunya orang yang yang ia miliki. Ibu.
Sekarang apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia mengakhiri hidup? Tidak. Bukan itu yang Ibunya inginkan. Tapi jika terus hidup, bagaimana cara menjalani hidup tanpa semangat?
Setelah sepekan berlalu Ibunya dimakamkan, Zara kembali ke kota bersama Ran. Destinasi pertama mereka adalah rumah. Ketika melangkahkan kaki memasuki rumah yang penuh dengan kenangan itu, air mata Zara kembali menetes tanpa permisi. Segala kenangan akan Ibu dan Ayahnya menyeruak memenuhi dinding hatinya. Sekarang mereka telah tiada dan hanya menyisakan kenangan serta kerinduan yang tak akan pernah lagi terobati.
Zara memasuki kamar berukuran sedang yang berada di lantai satu. Kamar itu milik mendiang ibunya. Zara menghampiri ranjang yang merupakan tempat beristirahat ibunya ketika masih hidup. Ranjang itu tampak begitu menyedihkan karena telah tinggal sang pemilik. Lalu bagaimana dengan Zara yang merupakan harta terindah untuk ibunya? Yah gadis itu sekarang adalah yatim piatu. Menyedihkan bukan? Menatap seluruh sisi kamar, Zara menghapus air matanya. Lalu beranjak keluar.
Di ruang tamu Ran duduk dengan setia menunggu Zara. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan rumah itu dan takan pernah kembali. Sesuai dengan wasiat terakhir ibu Zara yang di titipkan pada Bibi Yumna, rumah itu akan dijual. Dan Zara akan tinggal bersama Ran dan menjadi tanggung jawab pria itu sepenuhnya. Zara menerima.
"Apa masih ada yang ingin kau lakukan? Atau mungkin ingin mengambil sesuatu?" tanya Ran memastikan, barangkali ada sesuatu yang hendak gadis itu bawah bersamanya sebagai kenangan.
"Tak ada." jawab Zara datar.
Sudah sepekan lamanya Ran melihat raut datar yang sungguh membuatnya menjadi begitu canggung untuk berbicara dengan gadis itu. Setelah kepergian ibunya, Zara banyak berubah. Gadis itu banyak diam dan tak pernah senyum. Bahkan tubuhnya mengurus dan hampir seperti tulang.
"Kalo begitu mari kita pergi." ucap Ran.
Malam hari di apartemen Ran. Mereka tengah duduk berdampingan di depan TV ditemani semangkuk es krim coklat. Ran terus memasukkan es krim itu kedalam mulutnya hingga tak tersisa, sementara Zara hanya terdiam seperti manekin. Ran menoleh pada Zara.
"Chibi-chan. Jika kau terus seperti ini, kehadiranku takkan berguna. Setidaknya, kau harus bersemangat untuk hidup demi masa depanmu." ucap Ran sambil menarik bahu gadis itu lalu menghadapkan ke arahnya.
__ADS_1
Tak menjawab, gadis itu hanya menunduk dalam. Masih terlihat dengan jelas guratan kesedihan di wajahnya dan nampaknya Ran harus bersabar menghadapi.
"Sampai kapan kau akan begini? Apa kau tak sayang pada ibumu? Jika kau sayang padanya, maka kau harus mengikhlaskan kepergiannya." Ran terus saja berucap agar gadis itu merespon. Namun nampaknya ia harus tetap bersabar, Ran mendengus.
Kalimat yang diucapkan Ran terdengar seperti sebuah tanda yang harus gadis itu pahami bahwa kepergian ibunya adalah takdir mutlak, dan ia harus ikhlas karena sejujurnya ia belum bisa menerima. Tapi, apa salahnya belajar untuk menerima bukan? Seketika Zara mendongakkan kepalanya dan menatap wajah putus asa Ran.
"Kakak." seru Zara.
Ran menoleh dengan cepat diikuti dengan bola mata yang membulat.
"Kau memanggilku?"
Zara mengangguk pelan.
"Katakan, apa yang kau inginkan?" kini suara Ran terdengar bersemangat.
Mendengar itu Ran langsung menautkan tubuhnya pada Zara dengan erat sehingga menimbulkan sensasi kehangatan pada jiwa keduanya.
"Aku percaya kau pasti bisa." Ran memberi semangat.
Beberapa saat telah berlalu dan mereka telah beranjak menuju kamar privasi Ran yang sekarang sudah menjadi milik Zara. Zara merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam.
"Istirahatlah! Kau pasti lelah." Ran menarik selimut lalu menutupi tubuh Zara.
__ADS_1
Sesaat mereka saling menatap. Mata gadis itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Ran menangkap isyarat itu yang seolah berkata jangan tinggalkan aku. Namun Ran merasa ragu dengan apa yang ditangkapnya lalu akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Butuh sesuatu?"
"Temani aku hingga terlelap." satu kalimat lolos dari bibir gadis itu.
Tak biasanya Zara meminta untuk ditemani karena yang Ran tahu, Zara adalah gadis kuat. Tapi dengan cepat Ran memahami bahwa gadis ini sedang kehilangan dan butuh seseorang untuk memberinya kekuatan agar bisa menghadapi kesedihannya.
"Baiklah." jawab Ran yang langsung saja duduk di tepi ranjang.
Ran menggengam kuat tangan mungil Zara yang terasa semakin kurus. Sedikit terkejut, Ran menatap kembali gadis itu. Wajahnya saat ini terlihat memilukan. Guratan hitam di bawah mata gadis itu nampak jelas. Bibir ranumnya pucat. Dan jika dilihat secara keseluruhan Zara sudah seperti manekin sungguhan.
Zara berusaha menenangkan dirinya dari kesedihan mendalam yang sedang merundungnya. Dengan kehangatan genggaman tangan Ran, akhirnya gadis itu bisa menutup matanya dan tenggelam dalam derai mimpi.
Menyadari hal itu Ran perlahan menarik tangannya, lalu mengecup sekilas pucuk kepala Zara.
"Tidurlah dengan tenang." bisiknya ditelinga Zara.
Ran beranjak menuju kamarnya hendak beristirahat. Ketika ia merebahkan tubuhnya di ranjang seketika penat yang mengikutinya sirna. Tak berapa lama, ponselnya berdering.
"Okaasan, doshite?" suara Ran terdengar melemah.
Seperti dihujam sebuah batu raksasa, Ran berusaha menenangkan dirinya setelah mendengar informasi dari ibunya diseberang telpon. Ayahnya sekarat.
__ADS_1
"Baiklah Okaasan, besok aku akan pulang." jawab Ran dengan suara bergetar.
Setelah menutup telpon Ran menarik nafas panjang lalu mengusap wajanya kasar.