My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 96 : Tanjoubu Omedeto


__ADS_3

Lima hari berlalu, seluruh aktivitas Kira kembali normal. Gadis itu telah pulih seusai transfusi darah lima hari yang lalu. Selama lima hari pemulihan gadis itu banyak menghabskan waktu untuk membaca buku, kadang ia juga menulis dalan sebuah journal.


Sekarang gadis itu mulai menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan rumah, seperti membantu Zara memasak, membersihkan dan menyiram tanaman. Libur panjang telah tiba dan tak ada kegiatan luar yang ingin ia lakukan. Selama berpisah dari Bara pun gadis itu cenderung menutup diri dari dunia luar.


Pagi hari yang cerah segera Kira melangkah menuju roaftop rumahnya yang berada di lantai tiga itu. Di atas sana langit masih redup, cahaya mentari belum menampakkan diri. Kira membebaskan dirinya untuk berlari menikmati udara pagi.


Di roaftop yang lumayan luas itu terdapat sebuah ayunan yang berposisi di tengah. Serta ditata dengan cantik menyerupai taman bunga. Yah, roaftop itu adalah impian Ran. 20 tahun yang lalu Ran dan Zara menyulap rumah sederhana itu menjadi rumah impian bak emperan surga.


Kira duduk sejenak di ayunan besi seraya matanya memandang ke arah tempat matahari terbit. Pemandangan kota yang dipenuhi embun menambah indah suasana sun rise pagi itu. Gadis itu mengulas senyum tipis di bibir ranumnya. Seolah menggambarkan sebuah kebahagiaan. Namun siapa yang tahu, di balik senyum itu ada rasa pekat yang terpendam.


Jantungnya berdegup tak karuan, rasa yang semakin hari semakin sulit untuk dihilangkan menyiksa batinnya sedemikian rupa. Mencengkram kehiupan pada gelapnya malam. Menciptakan suasana suram membelenggu.


"Kak Bara, aitakatta (aku ingin bertemu)." Gumamnya dengan setetes air mata yang jatuh.


Perasaannya semakin sakit ketika menyebut nama Bara. Segera gadis itu menepikan persoalan percintaannya. Rasa sesak itu perlahan mereda.


Kira menunduk sambil merenungkan masa depannya yang sebentar lagi akan ia jalani. Hari ini usianya genap 16 tahun. Pada usianya yang masih belia, Kira memiliki mimpi yang cukup sederhana. Menjadi gadis remaja cerdas sebagai bekal untuk mencerdaskan generasi setelahnya kelak. Dalam artian Kira mempunyai mimpi menjadi seorang pengajar.


Kemarin sang ayah telah mendaftarkan ia ke sebuah sekolah khusus anak perempuan yang aturannya wajib memasuki asrama. Kira sebenarnya tak terima, namun karena terlanjur lulus akhirnya ia pasrah. Semua ini karena ulah Naura. Andai saja Naura tak salah paham maka perjanjian mereka pasti berlaku. Sehingga Kira tidak perlu masuk sekolah asrama.


Di tengah ratapannya, suara langkah kaki terdengar medekat. Kira mengangkat kepalanya dan mendapati sang ayah telah duduk di sebelahnya. Dengan menyembunyikan emosi yang sedang ia rasakan, senyum tipis terpancar di bibirnya.


"Sedang apa?" Tanya Ran pada putri bungsunya itu.


"Menikmati sun rise." Jawab Kira.


"Hmm. Otanjoubu omedeto (selamat ulang tahun)." Ucap Ran lagi seraya menyodorkan sebuah kalung dengan leontin berbentuk hati.

__ADS_1


Kira terkejut senang, gadis itu segera mengambil kalung indah pemberian ayahnya.


"Otousan tidak tahu harus memberi apa pada anak gadis, tapi kata Noah kau menyukai kalung ini. Jadi kupikir kau akan senang dengan hadiahnya." Jelas Ran dengan tawa kecil sembari mengelus tengkuknya.


"Ya benar. Aku menyukai kalung ini. Arigatou otousan." Ucap Kira sembari memeluk Ran.


"Syukurlah." Balas Ran sembari ikut memeluk.


Pagi itu suasana hati Kira sedikit membaik setelah pemberian hadiah pertama oleh ayahnya sendiri. Tak bisa dipungkiri, ia begitu bahagia saat tahu sang ayah masih saja peduli padanya setelah semua pengkhianatan yang ia lakukan.


"Besok adalah jadwal masuk sekolah menengah atas, otousan berharap kau bisa menjalani 3 tahun ke depan dengan baik. Melihat performamu di sekolah lama, jujur saja otousan sangat takjub. Menjadi lulusan terbaik dengan nilai sempurna, bahkan kakakmu tak semenekjubkan itu. Jadi apapun impian Kira-chan, otousan doakan semoga tercapai. Otousan menyayangimu." Kemudian Ran mengecup sekilas kening gadis itu.


"Terima kasih otousan, Kira akan melakukan semuanya dengan benar. Aku janji tidak akan mengecewakanmu dan okaasan."



Di tengah kesibukannya merapikan kamar, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Zara muncul dengan senyum tipsi mengagumkan. Kira menghampiri ibunya itu.


"Bersiaplah, malam ini kita akan merayakan ulang tahunmu di Clover Pelace." Ujar Zara.


"Ap.. apa? Malam ini?" Tanya Kira gugup.


"Iya sayang, bersiaplah cepat." Kemudian Zara menghilang di balik pintu.


"Tapi okaasan..."


Kira mendengus pelan. Selain mengikuti ucapan sang ibu, apa lagi yang bisa ia lakukan? Akhirnya Kira beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.

__ADS_1


...


Menjelang petang gadis itu telah selesai berpakaian. Dress berwarna maron dengan panjang menutupi lutut dengan panjang lengan sampai siku telah melekat di tubuhnya. Cantik sebenarnya namun Kira merasa tetlalu dewasa dengan gaun itu. Untuk menggantinya tak sempat lagi sebab mobil telah siap di bawah.


Segera ia memakai kaliung pemberian sang ayah tadi. Setelah terpasang gadis itu langsung menyahut tas kecilnya dan berlalu meninggalkan kamar.


Di perjalanan Kira tampak beberapa kali menghela napas panjang. Ia gugup bukan main. Padahal hanya sebuah perayaan kecil namun hal itu lumayan mengusik pikirannya.


Sesampainya mereka di Clover Pelace, segera keluarga kecil itu melenggang masuk. Di dalam sana ternyata Saga dan keluarga pun sudah hadir. Mereka duduk di sebuah meja panjang dengan makanan yang sudah terhidang sempurna.


Noah dan Bara duduk bersebelahan, hal itu sontak memancing perhatian Kira. Ada Bara, namun matanya tak bisa menatap lelaki itu. Tanpa sadar kedua maniknya malah menatap ke arah Noah. Mereka saling melemparkan senyum hangat.


"Wah akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti ini, aku senang sekali." Ungkap Zara setelah mereka sampai di meja itu dan duduk.


"Benar, aku juga sangat senang. Bagaimana kabar kalian, sepertinya belakangan ini sibuk sekali yah." Sahut Issaura.


"Yah seperti itulah. Tapi untung saja hari ini kita bisa berkumpul, karena besok Kira akan masuk sekolah asrama. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya jadi kuputuskan untuk sekalian merayakannya." Jelas Zara.


Berbagai perbincangan terus mengalir setelahnya. Semua orang tampak begitu menikmati makan malam spesial ulang tahun Kira itu, kecuali satu orang yaitu Bara. Lelaki itu tampak tak berselera makan bahkan menyentuh sebuah dissert saja sangat enggan. Kira merasa tak tahan dengan air mata yang tiba-tiba saja menggenang. Gadis itu diterjang rasa sedih saat melihat Bara tidak menikmati acara.


"Aku permisi ke kamar mandi dulu." Sahut Kira kemudian berdiri.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2