My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 58 : Akan ada yang Berubah


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa malam pun tiba. Di ruangan Zara hanya ada satu sofa, jadi Ran memutuskan untuk tinggal mejaga Zara dan mengusir tiga makhluk yang sedari tadi menemani mereka. Tahira sebenarnya tak setuju ketika Ran menyuruh mereka pergi tapi Saga membisikkan ke telinga Tahira agar tidak mengganggu kebersamaan Ran dan Zara. Akhirnya Tahira pasrah, padahal ia berencana untuk menjaga Zara sebagai rasa bersalah dan permintaan maafnya.


"Yasudah, kami pergi dulu. Jika ada apa-apa cepat hubungi Saga. Mengerti?" ucap Tahira sedikit ketus.


"Tanpa kau memberitahu, aku memang akan menghubungi Saga." jawab Ran yang sukses membuat Tahira berdecik kesal.


"Hmm." Tahira mengalihkan pandangannya.


"Hei, hei.. Sudahlah. Mari kita pulang." ucap Saga melerai keduanya.


Sekarang hubungan Ran dan Tahira terlihat seperti adik dan kakak yang tak pernah akur, mereka sering berdebat dan saling mengatai satu sama lain. Dan yang paling penting, mereka tak akan pernah menganggap pernikahan mereka terjadi walaupun ada bukti perceraian. Mereka sepakat untuk tidak membahas maupun mengingat kejadian itu.


"Baiklah kalian. Kami pergi dulu, jika kau butuh sesuatu maka cepat hubungi aku." pamit Saga.


Ran mengangguk pasti lalu Saga, Tahira dan Raka pun meninggalkan ruangan tersebut. Ran kembali duduk di kursi sebelah tempat tidur, ia memandangi wajah Zara yang sedang tertidur pulas. Tiga puluh menit yang lalu gadis itu terlelap akibat obat yang di berikan dokter tadi. Ran tersenyum dengan rasa syukur yang tak terkira. Ia merasa begitu beruntung bisa kembali menggenggam Zara.


Sekarang status mereka sama-sama yatim piatu, bahkan mereka sama-sama anak tunggal, dan itu artinya mereka tak lagi memiliki keluarga kecuali Saga. Maka dari itu Ran berjanji pada dirinya sendiri untuk merawat dan menghabiskan hidupnya yang bisa dibilang masih panjang bersama Zara. Dan untuk mempertegas hubungan mereka, Ran berencana ingin menikahi Zara segera. Ia tak ingin membuat gadis itu terombang-ambing, jadi mengikatnya dengan pernikahan adalah jalan yang paling baik untuk mereka tempuh. Walaupun sepertinya Zara akan menolak. Tapi Ran punya cara agar gadis itu akan menerima pernikahan mereka.


Dua lembar terakhir dari surat wasiat ayah Zara telah dibaca olehnya. Di dalam surat wasiat itu Ayah Zara mempertegas bahwa Ran harus menikahi Zara dan memegang perusahaannya. Dan pernyataan itu ditulis dengan tulisan tebal yang artinya mereka harus melakukan hal tersebut tanpa penolakan. Tentu saja Ran sangat setuju, karena sekarang ia hanya memiliki Zara sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.


Ran membaringkan tubuhnya di sofa lalu perlahan menutup matanya. Berharap hari esok keadaan Zara akan membaik dan mereka akan pulang bersama ke apartemen. Malam ini menjadi malam yang penuh arti bagi Ran. Setelah menemukan Zara, tak ada alasan lagi baginya untuk terus memelihara kesedihan di hatinya. Betapa bersyukur dan bahagia dirinya saat ini. Tak lama berselang, alam mimpi pun menyapa dirinya.


...*****...


Dua hari berlalu dan akhirnya Zara bisa kembali pulang ke apartemen Ran. Gadis itu begitu merindukan apartemen tersebut dan juga kamarnya. Zara memasuki kamar bernuansa ungu pastel tersebut. Memperhatikan setiap sudutnya yang tak berubah sama sekali. Zara menoleh ke arah Ran yang berjalan mengekor di belakangnya. Gadis itu melemparkan senyuman termanis yang pernah ia miliki. Ran terkesima.


"Apa maksud dari senyumanmu itu?" tanya Ran dan mulai melangkah mendekat ke arah Zara.


"Aku sangat berterima kasih karena kau mau menerima ku kembali, dan juga tak merubah tempat ini sedikitpun."


"Aku tahu kau akan kembali, dan tak ada alasan aku tak menerima mu. Itulah sebabnya aku tak mengubah apapun dari kamar ini. Selain aku bisa mengenangmu disini, aku juga yakin kau akan kembali. Dan hari itu sudah datang."


Mereka saling menatap dengan penuh kekaguman, betapa manisnya hidup yang saat ini mereka rasakan.


Ran menggiring gadis itu menuju cermin yang terletak di meja rias Zara. Menoleh dengan wajah kebingungan, Zara bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Ran membawa dirinya menuju cermin. Ran mengarahkan pandangan Zara untuk kembali menatap cermin, Zara pun berbalik.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku ingin kau kembali seperti dulu. Sudah saatnya kau berubah." jawab Ran.


Zara memperhatikan penampilannya. Benar saja, sekarang stylenya terlihat seperti setengah lelaki. Zara menunduk malu. Ran dengan cepat mengelus rambut gadis itu.


"Jadilah dirimu yang dulu." ucap Ran.


Zara menatap mata lelaki itu dari pantulan cermin seolah ingin memberitahu bahwa dirinya nyaman dengan style seperti itu. Ran memahami tatapan itu, tatapan penolakan. Dengan cepat Ran menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju.

__ADS_1


"Tapi ini sulit diubah." ucap Zara lirih.


"Sulit bukan berarti tidak bisa kan?" tepis Ran.


"Tapi aku suka sekali dengan gaya rambut seperti ini." lagi-lagi Zara menunduk.


Ran menghela nafas. "Aku tak menyuruhmu mengubah model rambut jika kau memang nyaman dengan model itu, hanya saja aku suka rambutmu panjang. Dan juga Kau hanya harus mengubah gayamu untuk sedikit anggun seperti kau yang dulu. Oke?" Ran tersenyum sembari mencium pucuk kepala gadis itu.


"Mm, baiklah. Antar aku ke salon." ucap Zara yang sukses membuat batin Ran berteriak kegirangan.


...*****...


Hari ini kantor terlihat begitu senggang. Segudang pekerjaan yang kemarin menyibukkan para karyawan akhirnya telah usai. Surya merasa bisa kembali bernafas lega akibat seluruh pekerjaan yang di berikan Ran padanya telah mencapai final. Dan sebentar lagi waktu makan siang akan segera tiba. Menatap ke arah jam dinding ruangannya, Surya berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan bernuansa putih itu.


"Selamat siang Pak Surya." sapa sekertarisnya.


"Selamat siang." jawab Surya dengan begitu ramah.


Ia melangkah menuju kantin yang terletak di lantai tiga. Hari ini adik lelakinya meminta untuk makan siang bersama, karena tak ingin merepotkan dirinya maka sang adik berkata akan datang menemuinya di kantor dan makan siang di sana. Surya menyetujui.


Sampailah ia di kantin lalu melangkah ke arah meja yang disana ternyata sudah duduk pemuda tampan dengan senyum manis yang selalu ia pancarkan. Adiknya itu berumur 19 tahun dan berkuliah di Emperor Univercity. Surya duduk tepat di hadapan pemuda itu.


"Sudah lama?" tanya Surya pada adiknya.


"Belum, sekitar 5 menit." jawab pemuda itu.


"Aku ingin sedikit bercerita."


Sejenak perbincangan mereka terhenti ketika pelayan datanga membawakan pesanan. Surya menatap makanan yang di pesankan adiknya tersebut. Fantastik. Adiknya ini begitu pengertian, dirinya baru saja duduk namun pesanan telah tersaji dan poin pentingnya adalah makanan yang dipesan adiknya merupakan makanan yang terlintas di benaknya ketika ia menuju kantin.


"Wow, sifatmu ternyata tidak pernah berubah. Kau pengetian sekali." puji Surya.


"Ah, tidak sperti itu. Kau bisa saja. Aku hanya tak ingin merepotkanmu." ujarnya rendah hati.


Surya tersenyum bangga karena bisa memiliki adik sebaik itu. "Kalau begitu sekarang cerita lah, Satria."


"Begini.." Satria mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu kemudian melanjutkan. "Ada gadis yang aku sukai. Dia lebih tua dua tahun dariku. Dia cantik dan juga berasal dari keluarga baik-baik. Aku pernah mampir ke rumahnya dan sepertinga Mommynya menyukaiku. Terakhir aku berkunjung ke sana, Mommynya memintaku untuk menikahi gadis itu. Lalu bagaimana pendapatmu?"


Surya tercengang mendengar penuturan adiknya. Ternyata selama mereka tak tinggal bersama banyak sekali yang dialami oleh pemuda itu.


"Apa gadis ini berbeda dari yang pernah kau ceritakan sebelumnya padaku?" tanya Surya sekedar memastikan. Kerena dulu Satria hanya menceritakan sosoknya saja tanpa menyebut nama gadis yang disukainya itu.


"Jelas berbeda. Dulu aku menyukai Zara tapi ternyata dia memiliki kekasih dan sekarang aku menyukai Aya." ujarnya sedikit malu.


"Apa? Siapa? Zara? Kau bilang Zara?" Surya terkejut mendengar nama Zara disebut.

__ADS_1


"Iya Zara. Kenapa? Apa kakak mengenalnya?" Satria mengernyit.


"Zara.. Dia anak bos Kakak yang sudah meninggal itu. Dan sekarang dia adalah kekasih sekaligus sepupu bos kakak yang sekarang." jelas Surya.


"A..apa? Bos kakak? Jadi, Ran itu bosmu? Astaga, mengapa rasanya dunia ini sempit sekali?" Satria menggaruk-garuk kepalanya.


'Lucu sekali, dulu Zara menyukaiku. Dan sekarang adikku sempat menyukai Zara. Kenapa hidup terlihat seperti main-main?' batin Surya.


"Lalu apa kau sudah bertanya pada ayah dan ibu?" lanjut Surya.


"Sudah. Mereka setuju. Bahkan ayah berkata akan memberikan sebagian propertinya padaku agar bisa menikahi Aya." Satria terlihat lesu.


"Lalu apa masalahmu? Jika ayah dan Ibu telah setuju mengapa kau masih terlihat bermasalah?"


"Sebenarnya aku belum mau menikah. Kau tahu kan aku masih kuliah. Aku baru saja masuk semester genap dan Aya sudah hampir selesai. Aku rasa kami tidak cocok. Aku masih belum bisa dikategorikan dewasa kak." bahsa Satria terdengar getir.


"Haha kau ini. Jika memang kau merasa belum mempuni, maka sampaikan lah pada orang tua gadis itu. Menurutku kau bisa memberi mereka kepastian dengan menunjukkan keseriusanmu terhadap perasaan yang kau miliki untuk gadis itu. Dan kau tentunya harus memantaskan dirimu." ucap Surya.


"Bukankah itu namanya menolak?"


"Aduh Satria, menolak berarti kau sama sakali tidak ingin menikahi gadis itu. Tapi jika menunda seperti yang ku jelaskan tadi artinya kau menerima permintaan itu hanya saja waktunya di ulur dengan alasan kau belum siap. Terdengar berbeda bukan? Menolak dan mengulur. Paham tidak?"


"Oh begitukah? Aku baru paham sekarang. Jadi aku harus berkata pada Mommy Aya bahwa aku belum siap, begitu?"


"Kurang lebih."


"Bagaimana jika dia kecewa?" tanya Satria lagi.


"Dia akan lebih kecewa jika tahu dirimu belum mampu tatapi menerimanya." jawab Surya.


"Kau benar. Baiklah aku akan menyampaikan semuanya." tutup Satria.


Akhirnya mereka melanjutkan makan siang yang langka itu. Karena setelah ini Satria akan langsung pergi ke rumah Aya dan menyampaikan uneg-unegnya.


"Terima kasih Kak. Kau memang terbaik. Lain kali aku akan mengajakmu makan siang lagi." ucap Satira seraya pamit.


"Tidak usah. Aku yang akan pulang ke rumah. Setelah bos ku kembali masuk, aku akan meminta cuti. Sampaikan salam rinduku pada Ayah dan Ibu." balas Surya.


Satria mengangguk lalu akhirnya pamit pergi. Satria dan Surya adalah kakak baradik yang begitu rukun. Hubungan mereka berbeda dari kakak beradik pada umumnya sebab mereka jarang berselisih. Surya menyayangi adiknya dan begitu pula sebaliknya. Tak jarang mereka saling memberi wejangan untuk masalah yang sedang mereka alami. Karena orang tua mereka mengajarkan kebaikan, maka mereka pun tercetak dengan baik. Baik perilaku maupun ucapan mereka, bisa dibilang sangat baik.


Setelah kepergian Satria akhirnya Surya kembali ke ruangannya. Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhir ia bekerja. Melihat Satria membuatnya seketika rindu pada keluarga kecilnya. Maka dari itu ia memutuskan akan segera resign dan mungkin akan bekerja di agensi ayahnya. Dan satu lagi, ia akan mencari pasangan hidup.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2