My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 65 : No Ran No Life


__ADS_3

Sore hari Zara berkutat di dalam kamar Tahira dengan baju pengantin yang esok akan digunakannya. Tahira memaksa gadis itu untuk latihan menggunakan gaunnya agar di hari H besok Zara tidak merasa kaku. Tahira juga memake over wajah Zara secantik mungkin sebagaimana pengantin pada umumnya. Memang Zara terlihat begitu cantik namun hatinya gemuruh, alhasil Zara menekuk wajahnya yang telah dihiasi make up oleh Tahira. Zara grasak-grusuk tak karuan, menoleh ke sana-kemari seolah tak nyaman dengan pakaian itu.


"Zan tenang sedikit, antingmu belum terpasang." keluh Tahira yang sibuk memasukkan anting berlian ke lubang kecil di telinga Zara.


Zara menepis tangan Tahira yang terasa geli saat memegang telinganya. Tahira merasakan gelagat aneh Zara.


"Ada apa denganmu? Apa kau tidak senang akan menikah besok?" tanya Tahira dengan nada lembut.


"Aku merasa.. Dadaku sesak sekali." jawab Zara lirih.


"Apa kau memikirkan Kak Ran?" Tahira memgang pundak Zara.


Zara mengagguk disertai raut wajah sedih. Entah bagaimana perasaannya bisa semellow itu, rasa bersalah karena membuat Ran kecewa begitu kental menyeruak ke dalam jiwanya. Kehampaan juga ikut serta mengisi relung hatinya, dan satu kalimat terngiang di kepalanya, No Ran No Life.


Zara memegangi dadanya yang masih terasa sesak kemudian menatap Tahira seolah meminta bantuan. Tahira terhenyuk, apa yang harus ia lakukan untuk gadis sebaya yang ada di hadapannya saat ini? Tahira bingung, hanya ada satu cara untuk membantu Zara agar merasa lebih baik yaitu menghubungi Ran. Tapi Tahira tak bisa melakukan hal itu karena Ran melarangnya menghubungi lelaki itu telebih jika Zara yang meminta.


"Tolong telfon kak Ran untukku!" pinta Zara, kini air matanya menganak sungai di pipinya yang masih dihiasi make up.

__ADS_1


Tahira gelagapan, tak bisa mengiyakan dan tak bisa pula menolak. "Kak Ran tidak mengangkat panggilan dariku." ucap Tahira pelan.


Zara berdecik kesal, bagaimana bisa Ran melakukan hal itu padanya. Besok mereka akan menikah dan hari ini perasaannya seperti sedang dilanda badai akibat lelaki yang akan menikahinya besok tak memberi kabar. Walaupun ia sadar semua itu akibat kesalahannya, tapi ia merasa hal ini sudah melebihi kadar kesalahan yang ia buat. Ran sudah terlalu egosi. Sambil menghapus bekas air mata di pipinya Zara merebut ponsel Tahira yang sedang di genggamnya. Tahira tersentak.


"Eh Zan, apa yang kau lakukan?" Tahira berusaha merebut kembali ponsel miliknya yang direbut Zara.


Sementara Zara bergerak menghindari Tahira menuju ke arah balkon. Gadis itu mengunci pintu menuju balkon agar Tahira tak mengejarnya. Tahira menggedor-gerdor pintu balkon hingga menimbulkan suara yang sangat berisik.


Di balkon Zara mencari kontak Ran lalu menghubungi lelaki itu. Tak lama panggilan tersambung, Zara dengan cepat menghujani pertanyaan kepada Ran.


"Kakak, kau diamana? Mengapa kau melakukan hal ini padadaku? Kita akan menikah besok. Baiklah jika kau marah padaku, aku meminta maaf atas hal itu. Tapi bisakah kita bertemu? Aku merasa sangat bersalah. Apa kau benar-benar marah padaku? Kakak jawab aku." ucap Zara tanpa jeda.


"Istirahatlah." lalu panggilan pun terputus.


Zara meneteskan air mata lalu terduduk di lantai balkon, ia menggeletakkan ponsel Tahira di lantai. Dari sekian banyak kata yang diucapkannya, hanya satu kata yang Ran ucapkan untuk membalasnya. Rasanya sangat sesak, dadanya kembali merasakan nyeri seperti dihunus tombak.


...*****...

__ADS_1


Zara Pov


Lampu telah padam di kamar yang ku tempati tidur malam ini, namun mataku belum menunjukkan tanda-tanda akan terlelap. Aku masih memikirkan keadaan Kak Ran yang entah bagaimana sekarang. Terakhir aku menghubunginya tadi sore melalui ponsel Tahira, dia mengangkatnya namun hanya melontarkan satu kata. Dadaku tak berhenti merasakan sesak, sungguh saat ini aku merasa sangat hampa tanpa Kak Ran apalagi semua ini terjadi karena kesalahanku.


Masalah pernikahan ku besok tak terlalu terpikirkan olehku, pikiranku saat ini hanya berpusat pada Kak Ran. Suara-suara pertengkaran kami kemarin pagi masih terngiang jelas di benakku, ketika aku meninggalkan Kak Ran di apartemen tanpa menggubris ucapannya, itu pasti sangan menyakiti perasaan Kak Ran.


Aku rela menerima hukuman dari Kak Ran atas kesalahanku kemarin, karena aku mengira Kak Ran hanya akan mendiamiku untuk waktu yang tidak akan lama. Namun ternyata aku salah. Kak Ran mendiamiku, plus menyingkirkan ku dari hadapannya, plus tidak mengangkat panggilanku. Dan itu sukses menyayat perasaanku. Bayangkan saja, jika pada umumnya orang yang akan menikah esok hari malamnya akan tidur nyenyak dengan perasaan berdebar enak, maka beda hal nya denganku, besok aku akan menikah tetapi aku merasa begitu hampa tanpa kepastian dari Kak Ran.


Berkali-kali aku menyeka air mata yang menganak sungai dipipiku hingga menetes-netes di bantal. Hingga pukul 00.45 dini hari aku masih belum bisa masuk ke dalam mimpi walau hanya di ambangnya saja. Benar-benar aku merasa No Ran No Life, katakanlah perasaanku sangat lebay tapi rasanya memang seperti itu, Kak Ran adalah hidupku, tanpanya aku merasa tidak hidup. Hampa.


Aku berjanji jika esok hari tiba dan pernikahan telah usai, aku akan menghambur ke pelukan Kak Ran dan meminta maaf dengan permintaan maaf yang paripurna. Aku akan melakukan apapun demi bisa membuat Kak Ran tak marah lagi padaku.


Kembali mataku hatiku merasa sesak, kini nafasku terasa tersengal. Entah karena terlalu lama menangis atau apalah. Sekali aku menggumamkan nama Kak Ran, aku merasa satu pisau tertancap didadaku.


"Kak Ran." dua kali aku menggumamkan namanya, terasa dua pisau menancap didadaku.


"Kak Ran." tiga kali aku menggumamkan namanya dan sekali lagi, terasa tiga pisau sudah menancap didadaku.

__ADS_1


Hingga akhinya hatiku berkata, cukup. Yah, aku sudah tidak sanggup lagi. Hanya dengan menyebut namanya tak membuat hatiku lebih baik malah semakin sakit. Menyebut nama bukan obat terbaik bagiku untuk menghilangkan rasa sakit, aku perlu menyaksikan kehadiran sosok yang kusebutkan namanya itu di hadapanku dengan senyum indah yang terpatri di wajahnya. Dan sekarang, aku merasa pada puncak kesedihanku. No Ran No Life. Without Ran, I'm nothing.


Perlahan namun pasti mataku terpejam akibat rasa lelah yang timbul usai menangis. Ambang mimpi menyapaku akhinya. Dan kuputuskan untuk meninggalkan dunia nyata untuk terbang membentangkan sayapku di alam mimpi. Akan ku lepaskan perasaan sakitku untuk sementara, istirahat dari hal yang melelahkan itu perlu. Walau aku tahu esok rasa sakit itu akan kembali.


__ADS_2