
Bocah berumur 4 tahun itu berlari dengan bahagianya mengitari taman dan berputar-putar diantara pohon sakura yang sedang berguguran. Seorang pria berumur 29 tahun tengah mengejar langkah terbirit putrinya itu, mereka sedang bermain kejar-kejaran di taman terdekat dari Villa sewaan. Gadis kecil itu tersenyum riang sembari terus berlari tanpa tahu bahwa sang ayah telah berada di hadapannya.
"Naura-chan, otousan mendapatkanmu!" ucap pria itu sambil menggendong tubuh anaknya.
"Otousan, kenapa kau selalu bisa menangkap ku? Aku sudah berlari sekencang mungkin agar aku tak terperangkap lagi. Huuufftt." gerutu gadis kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Karena.. Otousan mencintai Naura-chan. Jadi, kemanapun Naura-chan berlari Otousan pasti akan menemukan putri Otousan." ucap pria itu lagi.
Naura kecil masih saja mengerucutkan bibirnya karena tak terima dengan pernyataan sang ayah.
"Naura-chan marah hmm?" tanya sang Ayah.
"Ya." jawab Naura dengan polosnya.
"Baiklah, Otousan akan membelikan es krim untuk Naura-chan. Mau kan?" bujuk pria itu.
Seketika sorot mata gadis kecil itu berbinar seperti menampakkan cahaya bulan yang menerangi malam.
"Naura mau Otousan." jawab gadis kecil itu sumringah.
"Baiklah, ayo kita pergi ke kedai es krim di seberang sana."
Sambil menggendong Naura kecil, pria 29 tahun itu berjalan santai dengan langkah panjangnya. Setelah sampai di kedai es krim, Naura meminta kepada ayahnya untuk diturunkan dari gendongan.
"Kenapa?" tanya sang Ayah.
"Itu Otousan, ada Maesabara disana." gadis kecil itu menunjuk ke sebuah mobil sedan yang terparkir di pinggir jalan.
Pria itu menoleh ke arah yang ditunjuk Naura. Ternyata benar, ada Maesabara diasana bersama kedua orang tuanya. Maesabara adalah sepupu Naura, dia adalah lelaki kecil tampan yang merupakan anak dari Tahira dan Saga. Umurnya 5 tahun.
Maesabara dan kedua orang tuanya menghampiri Naura dan sang Ayah. Dengan senyum yang begitu terpancar, Naura menyapa paman dan Bibinya.
"Hai Naura sayang. Okaasan mu mana?" tanya Tahira sambil mengelus kepala gadis kecil itu.
"Okaasan sedang istirahat di rumah bibi." jawab Naura tanpa memudarkan senyumannya.
Sementara Maesabara diam-diam mengagumi senyum sepupunya itu. Dalam hati Maesa memuji kecantikan Naura.
"Ran, aku membawa sepasang pengantin baru. Mereka ikut bersma kami untuk bulan madu." ucap Saga pada pria 29 tahun yang ternyata adalah Ran.
"Ohya? Kenapa tidak kau antar saja mereka ke Villa, Zara ada di sana." balas Ran.
"Mereka keriduran saat perjalanan. Aku sangat heran melihat mereka, serasi sekali bahkan tidur pun mereka terlihat sangat kompak." saat Saga mengatakan hal itu tiba-tiba dua orang yang sedang dibicarakan tersebut menghampiri mereka.
"Kalian membicarakan kami yah?" sela Raka. Lelaki itu berjalan sambil menggandeng istrinya, Aurora.
__ADS_1
"Aisss, kau menyebalkan sekali. Kenapa kau turun?" gerutu Saga.
"Istriku ingin es krim kakak ipar!" jawab Raka dengan ketus.
Saga dan Raka memang seperti itu. Cara bicara mereka selalu bernada ketus, maklumlah lelaki, mereka punya cara berinteraksi tersendiri. Mereka tak pernah menunjukkan kepedulian mereka secara terang-terangan tetapi di dalam hati mereka masing-masing ada rasa kekeluargaan yang begitu erat.
"Ayo sayang, kita beli es krim dulu." ajak Raka pada Aurora sambil menunjukkan ekspresi mengejek pada Saga.
Mereka yang melihat hal tersebut sontak tertawa bahkan Naura yang bisa dibilang belum sepenuhnya mengerti percakapan juga ikut tertawa.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya meninggalkan kedai es krim menuju Villa yang di sewa oleh Ran.
"Okaasan, kami pulang." teriak Naura ketika mereka telah sampai di pintu. Gadis kecil itu langsung masuk untuk menemui ibunya.
Ran yang melihat tingkah putri kecilnya yang menggemaskan seketika tersenyum bahagia. Akhinya ia menuntun para tamu yang tak lain adalah Saga sekeluarga dan pengantin baru, Raka dan Aurora.
Tak lama mereka duduk di sofa, terdengar suara teriakan Naura dari dalam, tepatnya dari arah kamar utama yang ditempati oleh Ran dan Zara.
"Naura-chan, kenapa sayang?" tanya Ran yang sudah menghampiri putrinya.
Naura meneteskan air mata sambil menunjuk ke arah ranjang. Ran mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk putrinya. Seketika matanya terbelalak melihat Zara bersimpuh di lantai dengan tangan dan kepala yang tersampir di tepi ranjang. Wajahnya putih pucat, dan sepertinya wanita itu sedang pingsan.
Saga yang hendak menghampiri mereka dan tak tahu apa yang terjadi, langsung melangkahkan kakinya ke dalam. Namun baru saja ia menapaki 5 langkah, seketika kakinya terhenti.
"Siapkan mobil, ayo ke rumah sakit sekarang." ucap Ran tergesa-gesa.
Tahira dan yang lainnya sontak terkejut melihat situasi itu. Aurora meraih tubuh Naura untuk menenangkan gadis kecil yang tengah menangisi ibunya.
Untunglah Saga dalam keadaan siap jadi tak perlu menunggu lama mereka langsung melesat menuju rumah sakit.
Tahira, Raka, Aurora, Maesabara dan Naura tak dibiarkan ikut ke rumah sakit, jadi mereka hanya tinggal di villa menunggu kabar.
Di rumah sakit, sekitar 2 jam kemudian Ran sudah duduk di sisi ranjang rumah sakit yang di tempati oleh Zara. Pria itu tersenyum hangat sambil memandangi wajah Zara yang masih pucat.
"Kak aku kenapa?" Zara baru saja sadar setelah dua jam pingsan. Ia mendapati senyum hangat dari bibir Ran.
Seketika ingatan gadis itu melayang ke lima tahun yang lalu saat dirinya dinyatakan hamil oleh dokter. Saat itu Ran juga menampakkan senyum seperti itu, dan sekarang, apakah senyumannya itu sama maknanya dengan senyum yang ia pancarkan lima tahun lalu?
"Kau.. Hamil lagi." ucap Ran.
Degg,, jantung Zara berdebar dua kali lipat. Pantas saja ia merasakan gejala seperti ketika ia hamil Naura, ternyata ada embrio baru di dalam rahimnya.
"Ya Tuhan, benarkah? Ah, terima kasih." Zara bangkit seraya memeluk tubuh Ran.
"Umurnya 13 minggu." ucap Ran sambil membalas pelukan Zara.
__ADS_1
Saga yang menyaksikan keharuan tersebut ikut larut. Ia bahagia kedua sepupunya itu bisa kembali merasakan kebahagiaan memiliki anak untuk yang kedua kalinya. Dan keponakannya Naura akan segera memiliki adik.
Tapi seketika ia teringan pada istrinya sendiri, Tahira. Wanita yang telah ia cintai sepanjang hidupnya itu tak bisa lagi memiliki anak akibat tumor pada rahim yang dideritanya, sehingga rahim Tahira diangkat.
Sepulang dari rumah sakit, Ran, Zara dan Saga langsung menuju rumah. Mereka tak sabar menyampaikan kabar bahagia itu. Zara hamil lagi. Pasti si kecil Naura akan senang mendengar hal tersebut.
Dan benar saja, begitu mereka menyampaikan berita gembira tersebut, bocah berumur 4 tahun itu langsung memeluk dan menciumi perut rata sang ibu.
"Berarti Naura akan punya dede bayi, iya kan okaasan?" tanya gadis itu dengan tampang polosnya.
"Iya sayang. Naura-chan akan punya adik lagi." jawab Zara sambil mengelus pucuk kepala putrinya
"Yyeeeyyy asik." pekik gadis kecil itu kegirangan.
"Naura-chan mau punya adik laki-laki atau perempuan?" tanya Ran.
"Mmmm." gadis kecil itu tampak berpikir. "Laki-laki.. Naura mau adiknya laki-laki otousan." ucapnya sambil loncat-loncat kegirangan.
"Kenapa Naura-chan mau adik laki-laki?" tanya Ran lagi.
"Karena nanti jika Naura dan adik sudah besar, maka adik Naura yang laki-laki akan menjaga Naura." jawab gadis itu dengan polosnya.
"Hmm begitu, lalu jika adik Naura-chan lahir perempuan bagaimana?" sela Tahira yang juga ikut mendengar percakapan mereka.
Wajah gadis itu seketika murung, entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba Maesabara datang dan memegang tangan Naura. Para orang tua yang melihat hal itu terkejut.
"Bara! Kau sedang apa?" tanya Saga dengan tatapan tak biasa.
"Bara hanya ingin memberitahu Naura, Ayah. Jika nanti adik Naura lahir perempuan maka Bara yang akan menjadi kakak mereka dan menjaga mereka."
Para orang tua tertegun mendengar pernyataan anak lelaki berumur 5 tahun itu. Bisa-bisanya Maesabara berpikir seperti itu. Saga seketika was-was, sebagai seorang ayah tentunya ia khawatir melihat perkembangan anaknya itu. Apalagi ia pernah melakukan kesalahan di masa lalu kepada Tahira, menghamili gadis itu sebelum mereka menikah.
"Sepertinya mereka harus dijodohkan." ujar Saga.
Sontak Ran, Zara, Tahira, Raka dan Aurora menatap lelaki itu.
"Apa?" ujar mereka bersamaan.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1