My Lovely Cousin

My Lovely Cousin
Chapter 45 : Senyumanmu Membayangiku


__ADS_3

Satria Pov


Setelah lagu Memiliki Kehilangan itu telah selesai mengalun memenuhi telingaku, aku segera mematikannya. Sekarang pikiranku yang bermain. Lagi-lagi aku memikirkan Zara. Gadis itu membuatku setengah mati memikirkannya karena tak dapat memilikinya. Bagaimana aku bisa Move on jika dia terus bermain-main di kepalaku. Menyedihkan sekali hidupku, memilikinya saja belum dan itu sukses membuatku terluka. Padahal Zara adalah cinta pertamaku, dia orang pertama yang membuatku merasakan kekaguman.


Aku terus tenggelam dalam lamunanku memikirkan Zara hingga tanpa kusadari seorang penumpang duduk di sampingku. Dari bau parfum yang tercium di hidungku sepertinya orang ini adalah seorang wanita. Aku tak peduli, karena aku terlalu malas menoleh. Pandanganku hanya tertuju pada jalanan kota dari jendela bus.


"Aku sedang di perjalanan, Mommy."


Suara wanita di sebelahku terdengar sangat indah, mungkin dia adalah wanita yang lembut dan cantik. Ah, astaga pikiranku.


"Mmm permisi, kau menginjak earphone-ku." ucap gadis itu, lembut sekali.


Aku menoleh sekilas ke arahnya lalu beralih ke sepatuku. Sepertinya aku tidak sadar telah menginjak sesuatu karena terlalu larut dalam lamunan. Setelah aku mengangkat kaki ku, terdapat earphone berwarna putih tanpa kabel. Setelah ku ambil, ternyata benda itu sudah rusak.


"Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Akan aku ganti." ucapku meminta maaf padanya.


Bukannya terlihat marah gadis itu malah tersenyum menawan, astaga.


"Tidak apa. Buang saja." balasnya.


Aku merasa bersalah dan tidak terima jika gadis ini memaafkanku. Tentu benda yang kurusak itu sangat berharga bukan? Apalagi jika dilihat dari merknya sepertinya benda ini mahal.


"Tidak, tidak. Biar ku gantikan." ucapku.


"Sungguh tidak perlu, aku sendiri yang menjatuhkannya." balasnya lagi sembari terus tersenyum.


"Begini saja, kita turun di halte terdekat lalu pergi ke toko aksesoris ponsel." tawarku pada gadis itu.


"Tidak perlu." balsnya lagi.


Sungguh aku tidak suka ditolak.


"Tidak, jangan menolak. Aku mohon." bujukku.


Gadis itu tampak berpikir, aku memperhatikannya dengan intens. Oh tidak, aku terpukau. Gadis ini cantik dan juga begitu baik.


"Baiklah." jawabnya kemudian.


"Kalau begitu, mari kita turun." ajakku, karena kulihat bus telah berhenti di depan halte.


Aku pun membiarkannya berjalan terlebih dahulu. Setelah turun dari bus aku segera mengajaknya ke pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat stand aksesoris ponsel.


Setelah membeli persis seperti yang kurusak tadi, kami pun kembali ke halte. Beberapa menit menunggu, bus tak kunjung datang. Gadis itu terlihat cemas sambil terus melihat ponselnya.


"Ada apa?" tanya ku sedikit peduli.


Entah apa yang membuatku peduli pada gadis ini. Setelah menatapnya bermenit-menit tadi, susatu seketika merasuki ku.


Gadis itu berbalik dengan memasang senyum khasnya. Astaga, jantungku berdebar kencang. Pasalnya gadis ini terlihat cemas tadi, mengapa sekarang dia tersenyum.


"Mommy telah menunggu kedatanganku sejak lima belas menit yang lalu, dan sekarang aku belum datang juga. Aku takut Mommy akan khawatir." jawabnya masih dengan senyuman.


Ternyata itu kecemasannya, dan anehnya gadis ini masih bisa tersenyum.


"Rumah mu dimana?" tanyaku.

__ADS_1


"Royal Spring, blok A.1." jawabnya.


"Sekitar lima belas menit dari sini kan? Aku akan mencarikan taxi agar kau bisa pulang." aku segera melangkah untuk mencari taxi tanpa menunggu persetujuannya.


Gadis itu mencegahku dengan menarik tangan kananku. Aku menoleh dan melihatnya masih tersenyum.


"Tidak usah. Itu akan merepotkanmu." ucapnya lembut.


"Lalu apa yang harus kulakukan? Daripada Mommy mu cemas, lebih baik ku carikan taxi sekarang." ucapku tak habis pikir dengan gadis ini.


"Baiklah. Tapi, sebagai ucapan terima kasihku, ikutlah bersamaku ke rumah."


Hatiku benar-benar tidak bisa dikendalikan. Rasanya debaran jantungku ini hampir membuatku hilang nafas. Baru pertama kali aku diajak ke rumah seorang gadis. Seketika aku merasa gugup.


"Mmm,, bagaimana yah?"


"Tidak usah menolak. Ayolah, taxinya sudah datang."


Tanpa ku sadari taxi telah berhenti di hadapan kami. Ia segera menarik tanganku memasuki taxi berwarna putih itu. Kami duduk berdampingan sembari menatap ke arah depan. Aku benar-benar gugup.


"Namamu?" tanyanya memulai obrolan kami di taxi.


"Satria." jawabku spontan.


"Good name, panggil aku Aya."


Aku menundukkan kepalaku sejenak sebagai tanda penghormatanku atas perkenalan kami. Setelah sampai di depan rumah gadis itu kami pun turun lalu memasuki gerbang.


Rumahnya sangat besar seperti sebuah istana dengan ornamen khas eropa berwarna putih dengan canpuran warna gold. Kami berjalan menyusuri taman depan rumahnya lalu tak lama seorang wanita paruh baya muncul di hadapan kami. Aya segera berlari menghampiri Mommy-nya lalu memeluk wanita paruh baya tersebut dengan erat.


"I'm sorry mom. Tadi ada sedikit kendala di jalan." ucapnya dengan suara khas yang terdengar lembut.


"Mom, dia Satria. Aku baru bertemu dengannya tadi di bus." ucapnya sambil berjalan ke arahku bersama wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Mommy itu.


Aku tersadar dan kemudian menatap mereka sambil menundukkan kepalaku sejenak.


"Masuklah nak." ucap Mommy Aya.


Sekarang aku baru paham mengapa Aya begitu baik dan tutur katanya sangat lembut. Ternyata benar kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mommy Aya sangat lembut menjadi seorang Ibu, mungkin itulah sebabnya Aya juga bersifat seperti Mommy-nya.


"Maafkan aku bibi, tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa berlama-lama diluar karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dirumah." aku menolaknya dengan halus.


Bukan tanpa alasan, hanya saja masuk ke rumah orang yang baru beberapa jam yang lalu kukenal rasanya tidak sopan dan lagi aku harus ke perpustakaan pribadi ayahku untuk mengambil buku sebagai referensi ujian finalku.


"Sayang sekali. Baiklah, semoga urusanmu lancar. Kapan-kapan kemarilah bertamu." Mommy Aya terlihat kecewa, tapi aku benar-benar sedang sibuk. Jika saja aku sedang tidak final, maka dengan senang hati aku akan mengindahkan ajakannya.


"Terima kasih atas pengertiannya. Aku pergi dulu bibi, Aya." ucapku kemudian berlalu.


******


"Sepertinya dia lelaki yang sopan." ucap Mommy Aya.


"Benarkah Mommy? Apa Mommy menyukainya?" tanya Aya dengan antusias.


"Tentu saja. Mommy sangat menyukai lelaki yang sopan apalagi tutur katanya sangat lembut dan tidak membuat Mommy merasa tersinggung. Lain kali kau bawa lagi dia kemari." jawab Mommy Aya panjang lebar.

__ADS_1


"Tentu saja Mom." balas Aya tersenyum.


...*****...


Satria duduk di sebuah kursi yang terdapat di dalan perpustakaan pribadi ayahnya. Setelah puas membaca buku, akhirnya ia menatap benda yang kini tersimpan di atas mejanya.


Benda itu adalah earphone milik Aya yang tadi diinjaknya ketika di bus. Satira tersenyum.


"Bisakah kita bertemu lagi? Senyumanmu membayangiku." ucap Satria lirih.


Beberapa hari kemudian..


Satria tak lagi terbayang wajah Zara disebabkan oleh kehadiran Aya disisnya. Gadis itu adalah seorang mahasiswa semester 4 di kampus yang berbeda dengannya. Aya berumur lebih tua 2 tahun di atas Satria. Namun tidak membuat Satria menghentikan langkahnya untuk lebih dekat dengan Aya. Kennyaman telah dirasakan Satria ketika menghabiskan banyak waktu bersama Aya, apalagi Mommy Aya menyukai Satria.


Hari ini mereka berencana pergi ke perpustakaan pusat kota untuk membaca dan meminjam banyak buku. Walaupun di perpustakaan Ayah Satria banyak sekali buku tetapi tidak ada salahnya kan jika lelaki itu menemani Aya. Karena rencana mereka ke perpustakaan pusat kota adalah ide dari Aya agar mereka tak hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia.


Mereka bertemu di halte depan kampus Satria, karena kemarin mereka sudah berjanjian. Aya sengaja meminta Satria agar mereka bertemu di halte bus itu karena Aya ingin mengetahui keberadaan kampus Satria. Tak lama menunggu, Aya pun datang menghampiri Satria.


"Satria." panggil Aya.


Satria tersenyum ceria melihat gadis yang telah di kaguminya selama beberapa hari ini.


"Aya." balas Satria.


Mereka duduk di halte tersebut. Hanya ada mereka berdua.


"Ayo kita pergi sekarang." ajak Aya.


"Ayo. Tapi hari ini aku bawah mobil. Kita pergi dengan mobilku saja." ucap Satria.


"Baiklah." balas Aya.


Mereka beranjak dari halte tersebut menuju parkiran yang terletak di dalam kampus. Ketika berjalan bersama, seorang gadis menyapa mereka dengan ramah.


"Satria." sapa gadis itu.


Satria menatap gadis yang menyapanya dengan tatapan bersahabat.


"Zara. Sedang apa disini? Bukannya kau sudah pulang?" tanya Satria.


Lelaki itu walau sudah memiliki pengganti Zara, namun sikapnya kepada Zara tak berubah.


"Aku tadi kembali ke kelas karena journal ku ketinggalan. Oh iya, apa dia temanmu?" Zara menatap dengan ramah Aya yang sedang berdiri di sebelah Satria dengan senyum yang tak pernah pudar dari gadis manis itu.


"Iya, kenalkan dia Aya." Satria memperkenalkan Aya pada Zara.


Gadis manis itu segera melayangkan tangannya untuk menjabat tangan Zara, Zara membalas jabatan tangan tersebut.


"Zara."


"Aya."


Mereka pun akhirnya melepaskan jabatan tangan tersebut.


"Aku duluan. Aya, Satria." ucap Zara menundukkan sedikit kepalanya.

__ADS_1


"Sampai jumpa." ucap Satria dan Aya bersamaan.


"Sampai jumpa." jawab Zara kemudian berlalu.


__ADS_2