
..."Sesederhana apapun itu jika di dalamnya tercipta kenyamanan maka aku tidak masalah, apalagi bersamamu. Ciptakan kesederhanaan yang terkesan glamour dengan tangan ajaibmu. Aku percaya, dari impianmu kita bisa mencapainya."...
...~Ran~...
Zara Pov
Tubuhku menggeliat ketika kudapati diriku telah terbangun dari tidur panjang di malam hari. Pandanganku terpusat pada sosok lelaki tampan bermata sipit yang tidur bersamaku sejak semalam, aku bangkit lalu tersenyum seraya mengelus surai coklatnya. Lalu Ku tapaki sendal ungu berbulu di sebelah ranjangku dan beranjak ke kamar mandi.
Melangkah perlahan kembali menuju ranjang dan duduk di tepian. Kupandangi wajah pulas itu sambil menggosok-gosok punggunku. Pegal. Semalam aku tak bisa berbuat apapun selain pasrah ketika lelaki yang ku tatap sekarang ini meminta haknya. Tanganku bergerak menyentuh wajahnya dan ku tepuk-tepuk perlahan.
"Kak, bangun." ucapku tepat di depan wajahnya.
Terdengar suara gumaman darinya akibat tepukan dan suaraku, hanya gumaman. Matanya masih terpejam erat. Ku tahu suamiku ini sedang lelah akibat perbuatannya sendiri tadi malam. Tapi hari sudah siang, dia harus bangun. Sekali lagi kutepuk-tepuk wajahnya hingga menimbulkan gerakan dari tubuhnya.
"Bangun yah kak, sudah siang." ucapku setelah menepuk-nepuk wajahnya yang kedua kali.
Begitu caraku dari dulu memanggil Kak Ran, belum ada perubahan bahkan setelah kami menikah. Sematan 'Kak' untuknya melekat kuat di kepalaku dan sangat sulit menggantinya.
Kulihat Kak Ran menggeliat tanda akan segera bangun. Dan tak lama setelahnya kelopak mata Kak Ran terbuka, ia tersenyum memandang wajahku. Aku setia menunggu sampai nyawanya yang setengah kembali sempurna. Sementara mata sipitnya menatapku penuh cinta dengan senyuman hangat khasnya, nah sekarang nyawanya sudah sempurna, hal itu tentu membuatku tersipu malu dan sepertinya pipiku memerah karena aku merasakan panas di area itu.
"Selamat pagi cintaku." ucapnya. Manis sekali ucapan itu hingga berhasil membuatku besar kepala.
Aku mengalihkan pandangan ke arah bantal di sebelah Kak Ran sebagai pelarianku dari tatapan manis yang menggoda itu, sungguh aku sangat malu tapi merasa besar kepala karena Kak Ran menyebut namaku dengan kata 'cinta'. Aku tersenyum.
"Selamat pagi." ucapku malu-malu.
Seakan tak peduli dengan rasa malu yang menyelimutiku, Kak Ran malah bangkit dari tidurnya lalu mencium bibirku sekilas. Aku mematung, seolah menjadi kebiasaan bagiku menerima sentuhannya tanpa menolak. Belum sempat ku perbaiki keterkejutanku dari ciuman tiba-tibanya, Kak Ran kembali menangkup wajahku. Dan saat itu juga kedua sisi yang terkena sentuhan tangannya terasa mengeras, jantungku berdegup.
"Ternyata kau sudah mandi, mengapa tak membangunkanku lalu kita mandi bersama?" tanyanya sembari menyampirkan anak rambut ke belakang telingaku.
Aku gelagapan, tak tahu harus menjawab apa. Jari telunjuknya menempel di bibirku yang bergerak hendak berucap.
"Sssssttt." cegahnya. Aku tertegun. "Aku akan menghukum istri kecilku ini karena telah melewatkan mandi bersama pagi ini denganku." lanjutnya diikuti senyum miring.
Oh tidak, sepertinya Aku terperangkap dalam rencanaku sendiri. Aku sengaja mandi duluan untuk menghindari mandi bersama dengannya, makanya tadi aku membiarkan dia tidur sampai mandiku selesai.
Kak Ran melepaskan jari telunjuknya kemudian menyambar bibirku dengan kecupan kecil yang terasa hangat. Dan lagi-lagi aku hanya mematung, pasrah. Hingga kecupan itu terasa semakin dalam, posisi bibirku masuk sepenuhnya ke dalam mulut Kak Ran. (Dan seterusnya :'D)
Pukul 14.32 di ruang tengah, aku duduk sambil kedua tanganku bersimpuh di atas meja. Memegang pensil Tombow sembari menggores-goreskannya di kertas membentuk sebuah gambar rumah sederhana, rumah impianku.
__ADS_1
Kak Ran yang tadinya duduk di sofa, yang kutahu sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, tiba-tiba merosot turun ke sisi ku. Aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku, dan seketika rasa tegang menjalar ke seluruh tubuhku. Tanganku yang sedang berkutat di atas kertas, seketika berhenti akibat rasa tegang itu.
"Sedang menggambar apa?" tanya Kak Ran. Wajahnya menumpuh di bahuku dan hembusan nafasnya mengenai pipi kananku. Aku menelan saliva karena merasa semakin tegang.
"Rumah." jawabku berusaha menyembunyikan ketegangan.
"Rumah siapa?" tanyanya lagi.
"Rumah impianku." jawabku sambil memandangi kertas di hadapanku yang sudah terisi dengan coretan beraturan dari pensil.
"Indah sekali. Ternyata kau pandai menggambar yah." pujinya, lalu mengecup ceruk leherku sekilas.
Geram sekali rasanya harus merasakan ketegangan setiap Kak Ran melakukan ini padaku, sumpah jika dia bukan suami ku maka aku akan menendangnya keluar dari jendela apartemen berlantai 17 ini. Huuufffttt, Sabar dia suamiku.
"Terima kasih." hanya itu yang mampu ku katakan.
Akhirnya wajah Kak Ran menjauh dari pundakku. Rasanya lega sekali karena ketegangan yang menyelimutiku sejak tadi langsung menguap.
"Apa rumah ini nyata? Aku seperti pernah melihatnya." ungkapnya ketika mengambil kertas gambarku.
Aku mengangguk membenarkan. "Rumah ini berada di jalan setapak pinggiran kota, distrik Kalibara."
Hatiku tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Rumah orang? Apa-apaan Kak Ran ini? Tidakkah dia tahu jika rumah itu sudah dijual dan aku ingin membelinya sebab sampai sekarang belum juga laku.
"Rumah itu dalam proses penjualan dan sampai sekarang belum laku. Aku punya mimpi untuk membelinya dan ingin tinggal disana." kulemparkan senyuman terbaikku padanya sebagai embel-embel ucapanku.
Kak Ran menatap mataku lekat, wajah tampan yang dibingkai dengan rambut klimisnya nampak sempurna di mataku. Kemudian tangannya terangkat membelai kepalaku. Aku menunduk dan tersenyum setelah itu Kak Ran mendekat. Memelukku dengan hangat lalu berbisik.
"Kita akan membelinya."
Ada desiran angin yang terasa menghembus ke dalam dadaku, sejuk sekali. Aku bahagia mendengar bisikan itu. Lalu aku kembali mengingat mimpi ku beberapa waktu lalu. Berisi tentang kebahagiaan yang akan ku bangun di dalam rumah impianku itu, terlihat sederhana dari luar tapi ketika masuk dan hidup di dalamnya, kebahagiaan akan selalu dirasakan. Aku ingin membangun emperan surga disana, bersama dengan keluargaku. Dan mimpuku itu akan segera terwujud bersama Kak Ran. Hatiku merasa yakin setelah Kak Ran membisikkan kalimat itu. 'Kita akan membelinya.'
"Benarkah? Tapi rumah itu sangat sederhana." hal ini ku pertanyakan demi menabung keyakinan agar mencapai derajat hakkulyakin.
"Sesederhana apapun itu jika di dalamnya tercipta kenyamanan maka aku tidak masalah, apalagi bersamamu. Ciptakan kesederhanaan yang terkesan glamour dengan tangan ajaibmu. Aku percaya, dari impianmu kita bisa mencapainya."
Ketenangan membelai jiwaku disebebkan ungkapan dari mulut Kak Ran. Aku semakin yakin untuk membangun emperan surgaku di sana. Satu yang kuharapkan, semoga Tuhan menghendaki.
__ADS_1
"Mimpiku ketika menjadi penghuni rumah itu adalah membangun kebahagiaan layaknya kita berada di emperan surga yang di dalamnya dipenuhi kebahagiaan dan kenyamanan sehingga ketika kau merasa penat akibat bekerja keras di luar sana, akan sirna ketika langkah kakimu menapakinya." setelah mengucapkan kalimat itu aku menarik nafas, rongga hidungku di penuhi dengan aroma collonge dari tubuh Kak Ran.
"Kenapa hanya emperan surga bukan taman surga?" tanyanya kemudian.
"Karena taman surga tak akan pernah di rasakan di dunia ini. Kita harus masuk ke dalam surga dahulu, tapi jika emperan surga, di dunia ini kita bisa merasakannya. Itu yang kupahami." jawabku.
Kak Ran tak bersuara lagi setelah itu, sepertinya dia sudah paham dengan konsep yang ingin kubangun. Yosh! Aku akan mempersiapkan diri sampai hari itu tiba, dimana aku menjadi penghuni emperan surgaku.
Matahari telah tenggelam dalam diam menampakkan rona malam yang indah. Malam punya banyak misteri, banyak orang sangat mengagumi malam karena pesonanya yang mampu melukiskan kenangan indah ke dalam dada.
Salah satunya yang ku rasakan saat ini. Aku berada di roaftop gedung apartemen bersama Kak Ran menikmati angin malam yang menyejukkan, menatap langit yang di hiasi bintang-bintang, serta di sajikan dengan makan malam sepsial yang sudah Kak Ran persiapkan untuk kencan kami.
Kau tahu, aku merasa bahagia berlipat ganda. Kak Ran selalu mampu mengukir kebahagiaan dalam jiwaku sehingga rasa sesak tersingkir sejenak. Malam ini terasa begitu romantis, ada lilin yang melingkar di sisi meja bundar yang kami gunakan. Dalam cahaya remang ini aku bisa merasakan degupan jantung ku yang tak normal. Aku juga bisa melihat senyuman indah dari bibir Kak Ran. Hatiku menghangat menyaksikan senyuman yang tak pernah pudar itu padahal angin malam berhembus begitu kencang hingga terasa dingin sampai ke tulang-tulang.
"Kau sepertinya kedinginan, Chibi-chan." ucap Kak Ran. Matanya menelisik tubuhku yang hanya dibalut dres selutut tanpa lengan.
Aku menggeleng. Tapi getaran akibat angin dingin yang menerpa kulit tipisku tak bisa berbohong. Aku memang kedinginan. Wajarlah, aku perempuan. Menyembunyikan sesuatu untuk mengharapkan kepekaan dari lelaki. Itu sifat mutlak.
Kak Ran bangkit dari kursinya lalu mendekat ke arahku. "Kita masuk." ajaknya sembari meraih pundakku, mengarahkan tubuhku untuk segera bangkit.
Aku bangkit lalu jatuh dalam rangkulannya. Kami berjalan meninggalkan roaftop menuju apartemen.
"Aku ingin di rumah impian kita nanti ada roaftopnya. Aku menyukai keindahan langit, dan aku ingin kita menikmatinya di emperan surga kita." tiba-tiba Kak Ran berucap.
Kami sedang berjalan di koridor menuju apartemen. Aku tertegun dengan ucapannya, rumah impianku diganti dengan rumah impian kita dan emperan surga ku di ganti dengan emperan surga kita. Apa ini artinya Kak Ran melibatkan dirinya pada impianku?
"Hmm, kita akan melakukannya." balasku setuju.
"Dan aku ingin ada ayunan di bagian tengah. Supaya nanti kita bisa duduk dan merasakan rileks ketika berayun-ayun." lanjutnya lagi.
Aku kira Kak Ran akan berhenti tadi, ternyata dia kembali melanjutkan. Aku mengangguk tanda aku setuju. Ayunan adalah salah satu benda yang ku sukai, dan Kak Ran ingin benda itu ada untuk menyempurnakan rumah impian kami. Sungguh pikiran Kak Ran sangat sinkron dengan semua impian yang ingin ku bangun di emperan surga kami.
"Lalu apa lagi yang Kakak inginkan?" tanya ku.
Langkah kami berhenti tepat di depan pintu apartemen. Kak Ran memegang kenop pintu tapi belum membukanya.
"Karena kita tak punya lagi orang tua, maka aku ingin kita bisa menjadi orang tua di dalam rumah impian kita." ucapnya. Setelah itu barulah pintu apartemen terbukan dan dia menggiringku masuk.
Aku terkejut pada keinginannya itu, sebenarnya Kak Ran ini apa sih? Kenapa dia terasa seperti malaikat bagiku. Ucapanya selalu membuatku tertegun dan kagum, terutama keinginannya yang terakhir ini, padahal aku belum berpikir kesana tapi dia sudah mengucapkannya.
__ADS_1
Entahlah, satu yang kuharapkan dari rumah impian yang akan kami bangun nanti. Semoga Tuhan berkehendak agar kami bisa mewujudkannya.