
Keesokan harinya Ran terbangun dengan posisi masih memeluk tubuh Zara. Ia tersenyum sekilas lalu bangkit dan mencium kening Zara. Hari ini ia berencana untuk tidak masuk ke kantor karena ingin bersama Zara walaupun gadis itu menolak keberadaannya.
Setelah menghubungi Surya, Ran beranjak menuju kamar mandi. Di waktu yang sama Zara terbangun dengan keadaan yang masih kurang baik, kepalanya masih terasa pening dan hidungnya tersumbat.
"Aahh, sakit sekali." gumamnya sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Lima menit berlalu Ran keluar dari kamar mandi. Zara tercengan, ia baru ingat lelaki itu telah bersamanya sejak semalam. Ia mengalihkan pandangannya ke lain arah untuk menghindari tatapan Ran. Sementara Ran bergegas memakai pakaiannya kembali lalu menghampiri Zara di ranjang.
"Apa kau masih membenciku? Kenapa tidak ingin menatapku. Kau tahu, itu rasanya sakit sekali." ucap Ran yang mulai mendekatkan tubuhnya seraya memeluk Zara.
Zara terlihat enggan ketika Ran memeluknya, ia berusaha melepaskan dirinya tetapi kekurangan tenaga. "Menjauhlah." ucap Zara lirih.
"Ini yang kedua kalinya kau menolakku. Apa sebenci itukah sekarang kau padaku?" suara Ran melirih. Entah mengapa lelaki itu seperti terbawa suasana.
Zara hanya meneteskan air mata tak menjawab pertanyaan Ran. Rasanya sulit sekali baginya untuk berbicara apalagi sekarang kondisinya sedang kurang baik.
"Kita ke rumah sakit sekarang." ucap Ran.
Zara menggeleng. Lelaki itu hampir berang melihat sikap Zara, ia rasa semua ini tak pantas di lakukan gadis itu. Tetapi demi bisa kembali pada Zara, Ran akan melakukan apapun bahkan jika harus memohon sambil menangis darah sekalipun.
Ran tetap memeluk gadis kesayangannya itu sembari terus mengelus rambut Zara dengan lembut. Sepertinya mereka akan menempuh waktu yang sedikit panjang dalam posisi tersebut. Apalagi Zara tidak bisa melawan sehingga membuat Ran leluasa melakukan apa saja pada Zara.
"Kenapa kau meninggalkanku hm?" tanya Ran. Sebenarnya pertanyaan itu hanya sekedar basa basi saja, jelas saja Ran tahu alasan gadis itu pergi.
'Karena kau menjengkelkan.' batin Zara. Ia memang tidak menjawab pertanyaan Ran secarang langsung, namun batinnya terus berkicau.
"Aku merindukanmu." ucap Ran lagi, sekarang ia menyampirkan anak rambut Zara ke belakang telinganya.
'Tapi aku tidak merindukanmu.' batin Zara semakin ketus.
"Bahkan aku rela mencarimu sampai ke sudut kota." lanjut Ran.
'Siapa yang peduli.' Zara menutup matanya seperti enggan mendengar ucapan Ran.
"Kau tahu aku sangat rapuh." ucapan Ran kali ini di sertai kegetiran, karena setelah ini ia akan memberitahukan kepada Zara bahwa dirinya telah kehilangan kedua orang tua.
'Bohong, kemarin aku melihatmu baik-baik saja.'
"Setelah kau pergi meninggalkan ku, orang tuaku juga ikut pergi.' Ran meneteskan air mata.
__ADS_1
'Heh, cengeng sekali. Orang tuanya pulang saja sudah mengaku rapuh, padahal nasib ku lebih menyedihkan.' balasnya dalam hati. Zara tidak menangkap maksud dari ucapan Ran tadi.
"Otoosan dan okaasan mengalami kecelakaan pesawat." ucap Ran lalu terisak.
Degg, Zara terperanjat mendengan pengakuan Ran. Ternyata ia salah mengartikan ucapan lelaki itu. Zara merasa menyesal telah berkata buruk pada Ran walau ia mengucapkannya dalam hati.
"Sekarang aku hanya memilikimu, itupun jika kau bersedia kembali padaku." Ran berusaha menahan isakannya.
Sebenarnya Zara sangat kasihan mendengar curahan hati Ran, namun lagi-lagi ia terbayang peristiwa itu. Peristiwa yang membuatnya kehilangan sebagian besar kebahagiaan hidupnya, dimana Ran menikahi Tahira. Kemudian Zara segera melepaskan pelukan Ran secara paksa, Ran yang lemah karena menangis terkejut atas perlakuan Zara padanya.
"Jangan berpura-pura rapuh di hadapanku, itu tidak perlu. Kau sekarang sudah punya istri, pulanglah. Dan ingat, aku membencimu!" ucap Zara yang berusaha bangkit dari ranjang.
Ran ingin menarik gadis itu lalu menjelaskan pada Zara tentang perceraiannya dengan Tahira. Namun seketika gadis itu tergeletak di lantai.
"Zara!" teriak Ran.
...*****...
Di ruang tamu keluarga Adijaya pagi itu Raka duduk bersantai dengan secangkir teh hangat di hadapannya. Kali ini ia tak bersama kedua orang tuannya melainkan besama Saudari kembar dan juga calon saudara iparnya, Tahira dan Saga.
"Aku dengar dari Ran, kau itu teman SMA nya Zara, yah?" tanya Saga dengan rasa penasarannya yang besar. Ia semangat sekali ingin mengorek kehidupan masa lalu calon saudara iparnya itu.
"Oh jadi berarti dulu kau dekat sekali dengan Zara kan?" Saga menaikkan sebelah alisnya seperti sedang menggoda Raka.
"Tentu saja. Bahkan kami pernah berpacaran, haha." Raka tertawa kecil mengingat masa itu.
"Hah, benarkah? Seorang Zara mau berpacaran dengan orang sepertimu? Tidak mungkin." Tahira menyela percakapan mereka.
"Hei jangan meremehkanku nona. Aku dulu adalah orang yang tampan, itulah sebabnya Zara bisa menjadi pacarku." Raka membela diri.
"Bullshit." ucap Saga sarkas.
Tahira menertawai saudara kembarnya itu. Raka hanya tersenyum, rasanya berbohong itu merugikan baginya.
"Kasihan sekali dirimu. Tapi apa kau benar menyukai Zara?" selidik Tahira, ia juga tak kalah semangat dari Saga untuk mengorek kehidupan masa lalu Raka.
"Kalian ini kenapa hah? Mengapa kalian terus menanyaiku tentang Zara?" keluh Raka yang mulai merasa di korek oleh mereka berdua.
"Jawab saja, apa susahnya sih?" sahut Saga.
__ADS_1
Raka mendesah, sedikit kesal memang. Tapi tidak apa lah, menurutnya bercerita tentang masa lalu mungkin sedikit bisa mengobati luka di hartinya mengingat Zara memang tak menyukai dirinya.
"Iya. Memang aku menyukai Zara. Apa kalian puas?" ketus Raka.
Mereka berdua tertawa renyah. "Lalu, apa pernah kau menyatakan perasaanmu padanya?" Tanya Tahira.
"Pernah." jawabnya singkat.
"Lalu?" Saga memancing Raka agar menceritakan kelanjutannya.
"Dia menolakku." jawab Raka lesu.
"Ppppfffttt, hahaha." Saga dan Tahira menertawakan Raka atas kegagalan lelaki itu mendapatkan Zara.
Dan tertawaan mereka sukses membuat Raka terejek.
"Awas saja kalian. Huh." Raka terlihat merajuk.
Setelah beberapa waktu berlalu mereka berbincang yang bisa dibilang lebih tepatnya menyudutkan Raka, akhirnya mereka menyudahi aktivitas mereka. Ruang tamu kembali hening, Tahira menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Tak lama berselang, ponsel Saga berdering.
"Halo Ran." sapa Saga.
Sontak Raka dan Tahira menoleh ke arah Saga.
"Apa? Kau sudah menemukannya? Baiklah kami akan segera kesana." ucap Saga dengan nada bersemangat. Lalu panggilan di akhiri.
"Ada apa Kak?" tanya Tahira.
"Zara.. Dia sudah ditemukan oleh Ran, tapi gadis itu sekarang berada di rumah sakit." jawab Saga terburu-buru.
Tahira dan Raka menatap Saga dengan tatapan bengong. Saga bangkit lalu mengernyitkan dahinya melihat kedua saudara kembari itu hanya diam seperti orang bodoh.
"Hei, kalian! Kenapa diam saja? Ayo kita pergi." ucap Saga sedikit keras.
Raka dan Tahira sontak tersadar. "Ah, iya." ucap mereka bersamaan.
Saga menggelengkan kepalanya melihat sikap mereka yang tak jauh berbeda.
"Dasar saudara kembar, bahkan kelakuan mereka pun kembar." gumam Saga.
__ADS_1
Kemudian mereka pun melesat menuju rumah sakit diamana Zara dirawat.