
"Sudah bangun?"
Suara itu mengejutkan Kira yang baru saja tersadar dari alam mimpi. Belum membuka mata, gadis itu berusaha mengumpulkan ruhnya sembari mengingat apa saja yang terjadi sebelum ia tertidur semalam.
Beberapa detik berlalu ingatannya pun perlahan kembali. Dia ingat jika semalaman tidur bersama Bara. Perlahan Kira mulai membuka mata. Tampak sebuah nakas yang di atasnya terdapat sebuah ponsel dan vas bunga. Lalu gadis itu baru menyadari jika sekarang posisinya tengah dipeluk oleh Bara dari belakang.
"Hm." Jawabnya dengan gumaman.
Bara membalikkan tubuh mungil gadis itu menghadap ke arahnya. Lalu mengecup bibirnya sekilas. Senyum hangat tak lupa ia sunggingkan untuk Kira sang kekasih hati yang amat ia sayangi.
"Sekarang baru pukul 06.00. Bangkitlah lalu pergi ke kamar sebelah, kemudian mandi. Aku khawatir Ayah akan kemari untuk membangunkanku." Ucap lelaki itu pelan.
Kira mengangguk paham lalu mulai bangkit dari pembaringannya. Namun sebelum ia benar-benar beranjak dari kamar Bara, lelaki itu menariknya hingga masuk ke dalam pelukan. Bara mengeratkan pelukannya seraya mengelus kepala gadis itu.
"Jangan pernah berubah, tetaplah di sisiku." Ucap Bara.
Kira mengangguk pelan lalu membalas pelukan lelaki itu. Masih begitu pagi dan Bara sudah bersikap seromantis itu. Kira senang, tapi masih terlalu malas untuk banyak berbicara. Langit-langit mulutnya masih terasa pahit.
Bara beralih menyandarkan gadis itu ke pintu dan semakin merapatkan tubuhnya. Kemudian ia menyatukan bibir mereka dalam waktu yang lama.
Beberapa menit berlalu kesadaran Kira mencuat, gadis itu segera saja mendorong pundak Bara agar menjauh.
"Kak sudah." Ucap Kira pelan.
"Maaf." Bara tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
Pukul 07.30, Saga, Bara, Ran, Zara, Naura dan Kira sudah berada di meja makan menikmati sarapan. Di atas meja besar berbentuk persegi panjang itu terdapat beberapa jenis makanan.
Di sela-sela kegiatan sarapan mereka, Ran memulai sebuah perbincangan.
"Jadi kapan tepatnya kau dan Issaura akan menikah?" Tanya Ran ditujukan pada Saga.
"Rencananya setelah proyek terakhir kita bersama Nara Group selesai. Itupun jika ada yang bisa menggantikan posisiku." Jawab Saga sambil mengunyah roti bakarnya.
"Kalau begitu kau bisa meminta putra Issaura untuk bergabung di devisimu, kudengar dia lulusan universitas swasta yang terkenal itu." Ran berusul.
"Maksudmu Noah? Hm, sepertinya bisa dipertimbangkan." Saga mengelus dagunya seraya berpikir.
Sementara yang lain hanya mendengarkan saja tanpa berniat menanggapi. Suara sendok berbenturan dengan piring mengisi suasana sarapan setelah itu. Sekitar 15 menit berlalu sarapan pun usai. Mereka beralih untuk duduk bersantai di taman belakang kediaman Saga.
Akhir pekan kali ini mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Saga saja. Sebab banyak sekali pembicaraan yang harus dibahas kali ini.
__ADS_1
Ran dan Saga begitu sibuk berbincang, sementara Naura dan Zara berlaih menyibukkan diri dengan berbagai tanaman hias milik Saga. Sebagai wanita dengan kecerdasan naturalis yang tinggi, tentunya mereka sangat tertarik dengan hal-hal berbau tanaman.
Mereka berempat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun Kira dan Bara malah kebingungan mau melakukan apa. Mereka berdua hanya duduk di kursi taman dengan lesu.
Tak lama keduanya saling menatap sekilas, rasa bosan terpancar dari raut wajah keduanya. Lalu Bara mulai berdiri dari tempatnya duduk. Otak lelaki itu baru saja menciptakan sebuah ide agar dia dan Kira bisa pergi bersama hari ini sebagai ganti hari kemarin yang tak kesampaian.
Melihat situasi rumah yang begitu membosankan bagi mereka membuat Bara berjalan melangkahkan kakinya menghampiri sang ayah dan pamannya. Apalagi jika bukan untuk meminta izin pergi.
"Ayah." Panggilnya.
Saga dan Ran menoleh bersamaan. Keduanya melempar senyum kepada lelaki muda itu.
"Ada apa Bara?" Tanya Saga.
"Aku ada urusan mendadak di luar, bisakah aku pergi?" Tanya lelaki itu.
"Silahkan, tapi jangan pulang terlalu lama." Jawab Saga.
"Hum baiklah. Sekalian aku juga ingin memintakan Kira izin kepada paman Ran. Tadi dia bilang ada janji bersama teman-temannya untuk belajar bersama jadi sekalian saja aku mengantarkannya." Bara beralih menatap pamannya.
"Kalau begitu pergilah, dan jangan lupa untuk pulang bersamanya juga. Aku khawatir tidak bisa menjemputnya, bisa kan?"
"Akan kuusahakan paman." Ucap Bara.
Ibu dan anak yang sedang kompak mengembangkan hobinya itu seketika memanggil Kira saat melihatnya melintas.
Kira berhenti lalu menoleh pada keduanya. "Ada apa Okaasan, kak Naura?" Tanya gadis itu.
"Mau kemana sayang?" Tanya Zara.
"Oh, ini. Aku ada janji dengan teman-temanku okaasan. Aku akan diantar Kak Bara, sekalian." Jawab Kira.
"Memangnya kak Bara mau kemana?" Tanya Naura.
Mereka saling menatap lebih dulu lalu Bara memutuskan untuk menjawab pertanyaan Naura.
"Aku ada urusan sedikit di luar."
"Oh." Naura mengangguk dengan kedua tangan yang sedang memegang bunga matahari.
"Baiklah, hati-hati kalian berdua. Jangan pulang terlalu lama yah." Suara Zara mencairkan suasana.
__ADS_1
Kira dan Bara mengangguk serempak lalu beranjak dari hadapan keduanya. Naura tampak tidak suka dengan apa yang baru saja ia lihat. Wajahnya berangsur masam bersama dengan mata yang terus menatap kepergian Kira dan Bara.
"Kemana kita hari ini?" Tanya Kira setelah mereka melesat membelah jalan senggang di akhir pekan saat itu.
"Kita akan ke pantai." Jawab Bara dengan senyum khasnya.
"Pantai? Apa kakak yakin? Di akhir pekan seperti ini pantai pasti sangat ramai."
"Lalu kemana kita pergi?" Bara balik menanyakan destinasi mereka.
"Taman pinggir kota yang selalu sepi itu. Aku ingin melihat sesuatu di sana. Sudah lama aku tidak pergi, apa kakak bersedia?"
"Taman lagi? Jika kau ingin ke taman mengapa harus ke pinggiran kota, jaraknya terlalu jauh."
"Karena taman pinggiran kota yang satu ini berbeda kak. Kau akan mendapatkan kesenangan yang jauh berbeda dari taman pusat kota. Ayolah, hanya hari ini saja kita bisa ke sana."
"Baiklah, baik. Kita akan ke sana sekarang." Akhirnya Bara mengikuti keinginan Kira.
Perjalanan menuju taman pinggiran kota kurang lebih satu jam lima belas menit. Taman tersebut berada di ujung kota hampir memasuki perbatasan.
Kira menyandarkan tubuhnya untuk mendapatkan posisi nyaman. Karena perjalanan masih panjang. Gadis itu memijat pelipisnya. Sekilas Bara memerhatikan yang kemudian menimbulkan pertanyaan di benaknya.
"Sayang, apa kau sakit?" Tanya Bara.
"Sedikit. Kepalaku terasa pening. Tidak usah khawatir. Aku bisa beristirahat sebentar sebelum kita sampai di taman." Jawabnya.
"Kau ini, kenapa tidak bilang sejak tadi. Jika tahu kondisimu sedang kurang fit, aku tidak akan mengajakmu pergi." Bara tampak cemas.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja." Ucap Kira dengan suara yang mulai lirih.
Tak lama berselang kepala gadis itu tak lagi bersandar di sandaran kursinya melainkan terjatuh ke samping hingga membentur pintu mobil. Bara terkejut hingga lelaki itu spontan menepikan kendaraannya. Lalu memeriksa keadaan Kira.
"Kira, ada apa denganmu? Ya Tuhan, dasar gadis keras kepala. Kalau sakit bilang, jangan memendam. Aku tidak suka kau seperti ini. Akhh, kau membuatku cemas."
Bara mendesis setelah memperbaiki posisi tubub gadis itu. Dengan terpaksa lelaki itu memindahkan Kira ke kursi belakang dan membaringkannya di sana.
Bara kembali melesatkan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat. Rencana liburan mereka ke taman pinggiran kota menjadi batal seketika. Lelaki itu sangat cemas, jangan sampai terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....