
Saran... Mending bacanya abis buka puasa deh..
Takut nanti puasanya batal hehe.. piss✌✌
Karena rasa cemburu yang melambung tinggi itu membuat Kira semakin bertekad untuk merebut Bara dari Naura. Ia merasa selalu saja hanya Naura yang disayangi oleh kedua orang tuanya. Apalagi ketika dirinya baru berbuat kesalahan pasti teguran terus berdengung di telinganya, baik itu dari Naura maupun orang tuanya. Hal itu membuat Kira berpikir jika dirinya memang anak yang tidak punya etitut baik.
Dulu ibu dan ayahnya selalu memberikan apa saja yang ia inginkan. Memanjakannya dengan berbagai mainan dan selalu menyayangi dirinya. Ketika ia mulai beranjak remaja, kasih sayang itu justru terasa menguap darinya dan beralih pada Naura. Itulah salah satu sebab ia selalu bersikap egois pada Naura, selain memang kakaknya itu baik hati.
Sekarang Kira sudah berdiri di halte sekitar sekolahnya menunggu lelaki yang kemarin sudah menjadi kekasihnya, Bara. Sambil termenung, gadis itu sesekali mendengus mengingat kekesalannya tadi pagi.
"Lihatlah nanti Kak Naura. Rasa sakit ini akan berbalik padamu yang merebut Okaasan dan Otousan dariku." Gumamnya disertai kilat serupa petir di matanya.
Tak lama kemudian mobil Bara berhenti tepat di depan halte tersebut. Gadis itu langsung saja beranjak masuk ke dalam mobil. Kemudian melesat ke suatu tempat.
"Kemana Kak Bara akan membawaku?" Tanya Kira mengawali percakapan mereka.
"Ke suatu tempat yang tentunya menyenangkan untuk menghabiskan waktu." Jawab Bara tersenyum menyeringai.
Kira bersorak kegirangan dalam hati. Seungguh kata menyenangkan itu selalu menggoda telinganya. Karena ia tahu semua yang menyenangkan itu adalah sesuatu yang dilarang oleh Ayahnya. Hingga selalu saja menimbulkan rasa penasaran dibenaknya dan menuntunnya untuk membunuh rasa penasaran tersebut dengan cara melakukannya.
"Apa yang akan kita lakukan di sana?" Tanya gadis itu lagi.
"Kau bisa lihat nanti ketika kita sudah sampai." Jawab Bara yang mengandung begitu banyak misteri.
Kira jadi penasaran kemana ia akan pergi hingga otaknya berkelana kesana kemari memikirkan apa yang akan terjadi nanti ketika ia tahu tempat itu. Dan tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak beraturan.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanab akhirnya mereka sampai pada sebuah ruko bertingkat 3. Kira jadi mengerutkan dahi.
"Apa kakak bercanda? Kenapa membawaku kesini?" Perotes Kira dengan alis yang menyatu.
Bara tertawa pelan sambil menatap mata gadis itu lalu memegang kepalanya. "Kau akan tahu alasan aku membawamu kesini. Ayo masuk."
Kira tertegun dengan seribu tanda tanya di kepalanya. Ia benar-benar merasa kebingungan. Mereka kahirnya turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam. Menaiki tangga hingga mereka sampai di lantai paling atas.
Mata Kira benar-benar terbelalak kaget ketika melihat isi di dalam ruko tersebut terutama di lantai tiga ini. Dari luar memang terlihat seperti ruko namun ketika sampai di lantai tiga tempatnya seolah ia menapaki dimensi lain.
Beberapa orang tampak sedang bercanda ria di dalam sana. Ada juga beberapa wanita yang terlihat menempel seperti lintah di tubuh seorang pria. Juga ada yang sedang menikmati minuman beralkohol di sudut ruangan. Dan yang paling parah adalah lelaki yang sedang mencumbu wanita yang ada di bawah tubuhnya. Kira seketika bergidik ngeri.
"Kenapa Kita kesini?" Tanyanya dengan wajah sedikit takut.
"Apa kau takut? Tenang saja. Kita akan bersenang-senang. Nanti kau akan terbiasa."
Bara memegang tangan gadis itu lalu membawanya masuk. Mereka disambut oleh beberapa orang yang merupakan teman Bara, lalu diarahkan untuk duduk di sofa yang paling bagus diruangan itu.
"Apa dia kekasihmu, Bara?" Tanya salah satu wanita yang bergelayut manja pada salah satu teman lelaki Bara.
"Ya. Dia kekasihku." Jawab Bara dengan bangganya kemudian merangkul Kira.
Melihat situasi yang kurang bersahabat itu membuat Kira mau tidak mau harus cepat beradaptasi. Karena bagaimana pun ia harus menikmati apa yang disebut sebagai kebebasan. Walaupun semua ini terasa asing baginya. Minuman keras dan wanita seksi, sungguh dalam hidupnya baru pertama kali menemukan dua hal itu.
"Kau ingin bersenang-senang bukan? Inilah tempatnya. Kita bisa melakukan apapun disini tanpa harus khawatir ketahuan." Bisik Bara pada gadis itu.
Kira menatap Bara. Sebenarnya sekarang ia merasa nervous tapi berusaha untuk terlihat santai.
__ADS_1
"Baiklah. Lalu kita akan melakukan apa?" Tanya Kira.
Baru saja Bara mau menjawabnya seketika teriakan salah satu orang yang ada di dalam ruangan itu mengalihkan padangan mereka. Tak lama suara gitar dan alat musik lainnya terdengar memekakkan telinga Kira. Sementara yang lain malah bersorak sambil menikmati.
Kira tersentak karena baru pertama kali mendengar musik sekeras itu. Melihat hal itu membuat Bara tertawa mengejek. Ia tahu Kira belum terbiasa dan sepertinya kurang nyaman dengan hal itu. Membuat Bara akhirnya bangkit untuk mengajak Kira pergi dari sana.
"Ayo kita pergi dari sini."
Kira berdiri dengan satu tangannya yang digenggam oleh Bara. Gadis itu masih merasa bingung dan belum terbiasa.
Bara meboleh pada teman-temannya. "Aku ke kamar dulu. Kalian bersenang-senanglah." Mereka mengangguk sambil memberi jempol kepada Bara.
Kemudian Bara pun membawa Kira pergi dari tempat itu menuju ke sisi lain lantai tiga tersebut. Mereka berjalan semakin jauh ke dalam. Terdapat beberapa pintu yang merupakan ruangan khusus untuk beristirahat. Kira memerhatikan tempat tersebut yang sama sekali belum bisa ia simpulkan tempat untuk apa.
Bara membuka pintu lalu menarik Kira masuk ke dalam. Setelah masuk Bara kemudian mengunci pintu.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu aneh?" Tanya Bara yang merasa sedikit lucu dengan reaksi Kira.
Gadis itu menatap sesal ke arah Bara. Bukan ini yang ia bayangkan tadi.
"Tempat menyenangkan apa yang kau maksud dengan semua ini?"
"Apa kau terkejut?"
"Ya. Kau menjebak ku!"
"Tidak. Aku tidak menjebakmu. Inilah kesenangan. Kau hanya perlu terbiasa dengan semua ini."
"Kau marah hm?" Bara menyahut dagu gadis itu.
"Tidak." Jawab Kira ketus.
Bara terkekeh lalu kemudian beralih memeluk gadis itu dan mulai merayunya.
"Kira sayang." Panggil Bara. Lelaki itu lalu mengelus pundak Kira.
Sementara Kira merasa jantungnya berdebar kuat akibat elusan di punggungnya dan juga panggilan sayang Bara padanya.
"Kenapa?" Tanya Kira dengan suara yang dilembutkan. Gadis itu ternyata bisa luluh dengan mudah hanya karena dipanggil dengan sebutan sayang.
Bara menyeringai. "Jangan marah. Nanti cantikmu hilang loh."
"Hmm." Gumam Kira.
"Maaf yah. Besok-besok kita tidak akan kesini lagi."
"Hmm."
Kemudian Bara mengarahkan tangan gadis itu untuk balas memeluknya. Mereka saling berpelukan cukup lama. Hingga akhirnya Bara berada dalam ambang warasnya. Lelaki itu menyandarkan Kira ke pinggiran sofa lalu memosisikan tubuhnya seolah sedang berada di atas gadis itu.
"Kurasa ciuman akan menyenangkan hatimu." Cengir Bara sambil mengelus pipi gadis itu.
Kira hanya menunjukkan raut wajah yang tersipu malu. Pada dasarnya ia juga suka jika Bara melontarkan kalimat gombalan.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Bara pun menyahut bibir gadis itu. Kedua tangannya menggenggam tangan Kira. Perlahan penyatuan bibir mereka semakin dalam. Kira yang masih kaku dengan permainan berusaha mengimbangi Bara. Sementara lelaki itu terus bergerak memuaskan dirinya. Bara menerobos mulut gadis itu dengan lidahnya, menggelayutkannya kesana kemari, memainkan lidah Kira, dan saling bertukar saliva.
Kira baru merasakan sensasi seperti ini. Ia dibuat melayang dengan permainan Bara yang sungguh bergairah. Hati yang tadinya kesal berubah menjadi senang seiring dengan berpindahnya tangan Bara ke dada gadis itu. Awalnya Kira tidak menyadari tapi lama kelamaan ia merasa perih di bagian dadanya. Ketika sadar, Kira langsung menahan tangan Bara. Sejenak ciuman mereka terhenti.
"Ada apa?" Tanya Bara dengan napas yang terengah.
"Jangan lakukan." Ucap Kira memperingat.
Bara tidak menanggapi dan malah kembali melanjutkan aksinya. Mau tidak mau Kira juga kembali terlena. Ketika bibir mereka bersatu untuk kedua kalinya Bara kembali memegang bagian dada Kira. Gadis itu memberontak.
"Sakit." Pekiknya.
"Baiklah. Aku akan pelan-pelan."
Rupanya Bara cukup keterlaluan hingga tidak ingin melepaskan tangannya dari sana. Kira dengan tubuh yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh Bara hanya bisa pasrah. Akhirnya ia membiarkan saja lalu mulai kembali menikmati permainan. Hingga beberapa jam berlalu sore telah menyapa.
...*****...
Disisi lain, Naura kembali melihat lelaki yang kemarin sempat makan semeja dengannya di restaurant. Ia sedang berada di ruangan Ayahnya dengan duduk di sofa. Sekitar 25 menit yang lalu Paman Kitora dan anaknya kembali menemui mereka namun dalam rangka membahas bisnis tapi anaknya senagaja diikutkan untuk pendekatan.
Mereka hanya diam sambil sesekali bertemu pandang. Pemuda yang belum Naura ketahui namanya itu terlihat sangat mengagumkan. Tapi pikirannya malah tertuju pada sosok Bara.
Entah kenapa gadis itu seperti merindukan Bara. Ada perasaan khawatir yang terselip di hatinya jika Bara tidak lagi mengejar dirinya. Seketika ia jadi memikirkan ucapan Kira kemarin yang mengatakan ingin menjadikan Bara kekasih. Sebenarnya Naura tidak menanggapi hal itu dengan serius tapi terus terngiang di kepalanya.
Gadis itu berpikir apakah Kira bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tapi yang ia tahu Kira tidak akan senekat itu. Adiknya itu masih kecil dan tentu tidak akan tahu hal seperti itu. Naura berusaha meyakinkan diri.
Tak lama terdengar suara dari pemuda itu. Sepertinya ia sedang menyapa Naura.
"Namaku Ren Kitora. Kemarin kita tidak sempat berkenalan." Ucap pemudai itu yang ternyata bernama Ren Kitora.
Naura tertegun sejenak kemudian menatap Ren. "Ah, aku.. Naura Amakusa. Salam kenal." Gadis itu menunduk.
"Salam kenal." Balas Ren.
'Ternyata namanya Ren.' Batin Naura.
'Ternyata Naura yah namanya. Indah sekali.' Batin Ren.
Keduanya tersenyum canggung dan memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke lain arah.
.
.
.
.
.
***Bersambung.....
Jangan lupa like+komen😉😉***
__ADS_1